Tuesday, June 4, 2013

Beban Sejarah Partai Komunis Indonesia : Tragedi “Madiun Affairs” Bag. I


1. Pendahuluan 

      Sejarah Peristiwa G30S PKI- Masih lekat dalam ingatan rakyat Indonesia dan harus selalu di ingat bangsa Indonesia dalam perjalanan sejarahnya. Tujuh belas tahun sebelum itu, kita pasti akan mengingat sebuah bagian sejarah yang terjadi di Madiun tahun 1948. Pada saat itu hingga era Orde Lama peristiwa ini dinamakan Peristiwa Madiun (Madiun Affairs), dan tidak pernah disebut sebagai pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Baru di era Orde Baru peristiwa ini mulai dinamakan pemberontakan PKI. Bersamaan dengan itu terjadi penculikan tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Madiun, baik itu tokoh sipil maupun militer di pemerintahan ataupun tokoh-tokoh masyarakat dan agama. Masih ada kontroversi mengenai peristiwa ini. Sejumlah pihak merasa tuduhan bahwa PKI yang mendalangi peristiwa ini sebetulnya adalah rekayasa pemerintah Orde Baru (dan sebagian pelaku Orde Lama).

      Di awal konflik Madiun, pemerintah Belanda berpura-pura menawarkan bantuan untuk menumpas pemberontakan tersebut, namun tawaran itu jelas ditolak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pimpinan militer Indonesia bahkan memperhitungkan, Belanda akan segera memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan serangan total terhadap kekuatan bersenjata Republik Indonesia. Memang kelompok kiri termasuk Amir Syarifuddin Harahap, tengah membangun kekuatan untuk menghadapi Pemerintah RI, yang dituduh telah cenderung berpihak kepada AS.

2. Memanasnya Politik Internal dan Propaganda pada Pihak Militer


      Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, muncul berbagai organisasi yang membina kader-kader mereka, termasuk golongan kiri dan golongan sosialis. Selain tergabung dalam Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), Partai Sosialis Indonesia (PSI) juga terdapat kelompok-kelompok kiri lain, antara lain Kelompok Diskusi Patuk, yang diprakarsai oleh Dayno, yang tinggal di Patuk, Yogyakarta. Yang ikut dalam kelompok diskusi ini tidak hanya dari kalangan sipil seperti D.N. Aidit, Syam Kamaruzzaman, dll., melainkan kemudian juga dari kalangan militer dan bahkan beberapa komandan brigade, antara lain Kolonel Joko Suyono, Letkol Sudiarto (Komandan Brigade III, Divisi III), Letkol Soeharto (Komandan Brigade X, Divisi III). Kemudian juga menjadi Komandan Wehrkreis III, dan menjadi Presiden RI), Letkol Dahlan, Kapten Suparjo, Kapten Abdul Latief dan Kapten Untung Samsuri.

      Pada bulan Mei 1948 bersama Suripno, Wakil Indonesia di Praha, Musso, kembali dari Moskow, Rusia. Tanggal 11 Agustus, Musso tiba di Yogyakarta dan segera menempati kembali posisi di pimpinan Partai Komunis Indonesia. Banyak politisi sosialis dan komandan pasukan bergabung dengan Musso, antara lain Mr. Amir Sjarifuddin Harahap, dr. Setiajid, kelompok diskusi Patuk, dll. Berawal dari kegagalan perundingan Renville, kabinet Amir Sjarifuddin akhirnya jatuh. Di luar pemerintahan, akhirnya Amir membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR) pada 28 Juni 1948 dengan menggaet gerakan-gerakan kiri yang didominasi oleh orang PSI kubu Amir, Partai Buruh, SOBSI dan tentu saja PKI. Dalam keadaan frustasi atas nasib karier politiknya, Amir Sjarifuddin merasa penting untuk mencari pihak yang dapat melambungkan kembali namanya di panggung politik nasional. 

      Mosi tidak percaya kepada Amir yang dikeluarkan pada tanggal 23 Januari 1948, ikut menyebabkan para pendukung dan kader-kader komunis untuk berontak. Terjadilah aksi-aksi brutal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Provokasi-provokasi itu turut menyebabkan beberapa akibat. Salah satunya ialah yang menyebabkan tertpengaruhnya Kesatuan TNI ALRI yang berada di daerah pertempuran PP IV B (Meliputi Wilayah Garis Depan Klego, Karanggede dan juga garis belakang di Gemolong-Sumberlawang dan Gundi), kesatuan ini mundur ke Garis Belakang di daerah pertahanan kedua. Daerah daerah meliputi Sumberlawang, Gemolong dan Gundi diduduki oleh TNI ALRI dan TNI AD dari Resimen 24 Front Demak-Purwodadi. Kesatuan TNI ALRI itu turut memanaskan situasi dengan demonstrasi menggunakan pakaian compang-camping sambil menenteng senjata modern selama perayaan Pekan Olah Raga Nasional di Stadion Sriwredari. Tanggal 13 Agustus 1948, pasukan ALRI yang dipimpin oleh Mayor Sutarno (pro-Komunis) melakukan penyerangan kepada Kesatuan Siliwangi yang hijrah, serbuan ini dipukul mundur oleh pasukan Siliwangi sehingga pasukan ALRI itu melarikan diri dan hanya menguasai sebelah utara Kota Solo ; Mayor Sutarno menebus peperangan ini dengan nyawanya. 

Klik untuk membaca bagian berikutnya

Author : Sapta Anugrah, Co-Author : Arafah Pramasto.