Soeharto, Seorang Manusia-Pemimpin : Orde Baru, Sebuah Rezim (Bag. V / Habis)




7. Catatan-Catatan Berdarah Orde Baru

      Nama seorang Soeharto yang memulai masa kekuasaanya dengan tindakan tegas sebagai seorang penindak kaum komunis terus diingat sebagai cacat. Tidak berhenti disitu, di masa kekuasaan setelah itupun ada beberapa kejadian yang dianggap mencederai Hak Asasi Manusia serta ditimpakan sebagai pertanggungjawaban Soeharto. Di bawah ini adalah sekilas tentang data-data mengenai hal tersebut :



8. Penutup

      Seorang manusia biasa, ya, ia adalah Soeharto atau Pak Harto yang membangun rezim Orde Baru. Bank Dunia mencatatkan pada tahun 1997 dengan perkiraannya bahwa paling tidak 20-30% dana pengembangan Indonesia lebih dari dua dekade ini telah digelapkan oleh ‘pribadi’ dan untuk keuntungan politik. Setahun setelah itu, Indonesia terguncang oleh krisis moneter. Kerusuhan-kerusuhan mengguncang Ibukota dimana massa rakyat yang marah menargetkan sektor bisnis milik Tionghoa. Sempat terjadi tindasan secara senjata, namun demonstrasi yang dimotori para mahasiswa kian besar. ‘Pak’ Harto memilih ‘mengalah’ kepada anak-anak bangsa dan mengumumkan pengunduran diri pada tanggal 21 Mei 1998. Soeharto tak akan lekang dalam zaman serta berbagai kontroversinya. Terkadang ia dianggap pemimpin hingga panggilan ‘Pak’ tak sebatas rasa hormat semata. Ia juga tak jarang dianggap diktator. Kini, kita harus menentukan sikap atas diri kita sendiri. Astana Giri Bangun memang menjadi peristirahatan terakhir bagi ‘Bapak Pembangunan’ Indonesia itu, tetapi Reformasi harus terus terjaga dan tidak terlelap di tangan-tangan yang sering mengacungkan kemarahan pada Rezim Orde Baru namun belum secara maksimal menunjukkan hasil signifikan bagi bangsa ini. Dua tahun lagi sejak kini, 2016, adalah dua dekade pasca euforia demokrasi Reformasi. Banggakah kita atas capaian yang ada ? Atau malah yang terbina kini belum sebaik masa Orde Baru. 

Sumber 

Adam, Asvi Warman. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak. 2007.

Cahyono, Heru. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari ’74. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1998.

Cahyono, Heru. Peranan Ulama Dalam Golkar 1971-1980, Dari Pemilu Sampai Malari. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. 1992.

Files, Detikcom, Hari-Hari Terakhir : Jejak Soeharto Setelah Lengser, Jakarta : Media Kita, 2008.

Hasibuan, Imran dkk. Hariman & Malari, Gelombang Aksi Mahasiswa Menetang Modal Asing. Jakarta: Q-Communication. 2011.

Hisyam, Muhamad. Krisis Masa Kini Dan Orde Baru, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 2003.

Nawawie, Koesrin, Diktat Kuliah Pancasila, Palembang : Fak. Hukum Universitas Muhammadiyah Palembang, 2013.

Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi. 2010.

Tim Narasi, The Mass Killer of The Twentieth Century, Yogyakarta : Narasi, 2006.

Tim, 30 Tahun Indonesia Merdeka Jilid 1, Jakarta : PT. Citra Lamtoro Gung Persada, 1975.

Artikel koran

Harian Kompas 12 Januari 1947, No.165, Thn. Ke-IX

Harian Kompas 16 Januari 1947, No.168, Thn. Ke-IX

http://sejarah.kompasiana.com/2012/01/16/15-januari-1974-sebuah-tragedi-431445.html

http://www.scribd.com/doc/45659945/Peristiwa-15-Januari-1974 ditulis oleh Peter Kasenda, diakses pada 7 Januari 2012, pukul 8.40


Comments