Soeharto, Seorang Manusia-Pemimpin : Orde Baru, Sebuah Rezim (Bag. III)



   Klik untuk membaca bagian sebelumnya

5. Kemakmuran dan Kesenjangan : Fakta Perekonomian Masa Orde Baru

      Pada permulaan Orde Baru, program pemerintahan berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha pengendalian tingkat inflasi, penyelamatan keuangan Negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Tindakan pemerintah tersebut dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukan tingkat inflasi kurang lebih 650% setahun. Hal itu menjadi penyebab dari kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan oleh pemerintah. Arah dan kebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintahan Orde Baru diarahkan pada pembangunan disegala bidang. Pelaksanaan pembangunan Orde Baru bertumpuh kepada program yang dikenal dengan sebutan Trilogi Pembangunan, yaitu sebagai berikut :


  • Pemerataan pembangunan dan hasil – hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
  • Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
  • Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.



      Pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25 -30 tahun) dilakukan Orde Baru secara periodik 5 tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Pembangunan yang dimaksud sebagai berikut :

a.       Pelita I

      Dilaksanakan mulai 1 April 1969 sampai 31 Maret 1974. Tujuan Pelita I adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakan dasar – dasar bagi pembangunan dalam tahap – tahap berikutnya. Sasaran yang hedak dicapai ialah pangan, sandang, papan, perluasan lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan rohani. Pelita lebih menekankan pada pembangunan bidang pertanian. Pada Pelita ini terjadi peristiwa Malari akibat banyaknya Produk Jepang.

b.      Pelita II

      Dilaksanakan mulai 1 April 1974. Sasaran utama Pelita II yaitu tersedianya pangan, sandang, perumahan, sarana dan prasarana, mensejahterakan rakyat, dan memperluas kesempatan kerja.

c.       Pelita III

      Pelita III dimulai pada 1 April 1979 sampai 31 Maret 1984. Palita III menekankan pada Trilogi Pembangunan dengan tekanan pada asas pemerataan, yaitu :


  1. Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak (pangan, sandang , dan papan.
  2. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
  3. Pemerataan pembagian pendapatan dan pemerataan kesempatan kerja.
  4. Pemerataan kesempatan berusaha dan kesmpatan berpartisipasi dalam pembangunan.
  5. Pemerataan penyebar pembangunan di seluruh wilayah tahan air dan pemerataan memperoleh keadilan.


d.      Pelita IV

      Pelita IV dilaksanakan pada tanggal 1 April 1984 – 31 Maret 1989. Pada Pelita ini pemerintah lebih mentitikberatkan sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat mengahsilkan mesin industry sendiri.

e.       Pelita V

      Pelita V dilaksanakan mulai 1 April 1989 hingga 31 Maret 1994. Pada Pelita ini pemerintah menitikberatkan pada sektor pertanian dan industri.

f.       Pelita VI

      Pelita VI dilaksanakan pada tangal 1 April 1994 sampai dengan 31 Maret 1999. Pada Pelita ini pemerintah masih menitikberatkan pembangunan pada sektor ekonomi yang kaitannya dengan industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatkan kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya.

      Pada awal masa pemerintahan orde baru, Indonesia berada pada keadaan ekonomi yang sangat buruk. Zaman Orde Lama yang sangat fokus pada manifesto politiknya meninggalkan masalah ekonomi pada masa orde baru, akibatnya terjadi inflasi besar-besaran, hutang yang menumpuk dimana-mana dan banyak masalah lainnya. Saat ini, akan sangat ‘tabu’ membicarakan apa (baca : Kemelaratan) yang pernah terjadi di masa Orde Lama, mengingat salah satu tokohnya adalah ‘Bapak Bangsa yang mendeklarasikan kemerdekaan RI.’ Berbagai konsentrasi yang mestinya diarahkan untuk perekonomian Indonesia yang maju, seperti halnya bidang Industri, cenderung bergulir lambat karena pergolakan politik yang disebabkan oleh kebijakan-kebijakan sejak 1959-1965, apalagi kondisi ekonomi yang sedemikian carut-marut.

      Tak dapat dipungkiri, Orde Baru melihat Industrialisasi sebagai fenomena modernisasi yang perlu diusahakan. Industrialisai ditandai oleh pemikiran ekonomi rasional. Pemikiran ini mengarah pada kapitalisasi. Industrialisasi dapat pula dilihas sebagai budaya. Dalam proses ini dibangun masyarakat yang dari suatu pola agrasis tardisional menuju masyarakat industri. Adanya perubahan pola prilaku yang ‘lama’ ke yang ‘baru’  dengan bercirikan masyarakat industri modern diantaranya rasionalitas, meningkatkan pendapatan perkapital masyarakat de bebagai daerah, khususnya di kawasan industri, meningkat kan kebutuhan masyarakat yang memanfaatkan hasil – hasil industri, baik pangan, sandang, dan papan. Dampak positif dari industrialisasi antara lain : tercapainya efesiensi dan efektifitas kerja. Sedangkan dampak negatif  yang ditimbulkan adalah kesenjangan ekonomi dan sosial yang di tandai kemiskinan, munculnya patologi sosial seperti kenakalan remaja dan kriminalitas.

      Sebagai sebuah negara agraris, Orde Baru turut membuat usaha pembaruan bidang pertanian. Kebijakan modernisasi pertanian di Indonesia pada Orde Baru dikenal dengan sebutan ‘Revolusi Hijau.’ Revolusi ini bertujuan mengubah petani – petani yang lama (Peasant) menjadi petani – petani gaya baru (farmers). Revolusi hijau memoderenisasikan pertanian gaya untuk memenuhi industrialisasi ekonomi nasional. Perubahan ini dilakukan melalui usaha intensifikasi pertanian dengan programnya yang dikenal dengan nama panca usaha tani yaitu pemilihan bibit unggul, pengolahan tanah yang baik, pemupukan, itrigasi dan pemberantasan hama.

      Revolusi membawa dampak positif terhadap sektor lapangan pekerjaan, baik bagi petani, maupun para buruh pertanian. Namun seiring dengan berkembangnya individualisme hak atas tanah dan komersialisasi produksi pertanian ternyata mengakibatkan perubahan dalam stuktur sosial di pedesaan dan pola hubungan antarlapisan petani di desa. Dampak lain yang ditimbulkan adaalh kesenjangan ekonomi. Hal ini terjadi karena pengalihan hak milik atas tanah melalui jual beli.

Klik untuk membaca bagian selanjutnya

Comments