Thursday, May 28, 2015

Dari Perang Salib Hingga VOC : Pengaruh Gejolak Internasional dan Hegemoni Ekonomi Barat (Bagian II / Tamat)

Klik untuk membaca bagian sebelumnya

1.MONOPOLI-Model Awal Ekonomi Barat di Nusantara

      Portugal menjadikan kemajuan Spanyol sebagai Motivasi pelayaran ke Asia dengan mengususung ambisi Gold,Gospel,Glory yang menugaskan bangsa ini untuk mampu membawa Kekayaan,Agama,dan Kejayaan menjadi nyata. Walaupun faktanya memang kecemburuan kepada Spanyol sebagai sebuah alasan mengapa Portugal merasa perlu untuk mewujudkan itu semua. Rempah-rempah menjadi sebuah Komoditi andalan yang dibutuhkan Eropa dalam pemenuhan keperluan kuliner dan pengobatan.


      Dengan dorongan ketiga Faktor itu mereka mulai melakukan perjalanan menyusuri pantai barat Afrika ke selatan lalu membelok ke pantai timur Afrika menuju ke utara. Di daerah Bab El-Mandeb mereka bertemu dengan pedagang-pedagang Islam yang telah lama melakukan perdagangan dengan kepulauan Indonesia,Persia dan Laut Merah.....Dengan semangat Perang Salib mereka tidak bisa mentolerir perdagangan ini....Bagi orang-orang Portugis raja-raja Asia yang tidak beragama Islam dapat menjadi kawan, namun tidak sedemikian halnya dengan raja-raja dan pedagang-pedagang yang beragama Islam.

    Motif ekonomi yang dibawa memang masih diisi oleh semangat keagamaan yang kental. Ini nampaknya mengapa bentuk Monopoli menjadi tujuan yang diidealkan oleh idealisme orang-orang Portugis kala itu. Monopoli memiliki sedikitnya dua arti yaitu : Monopoli adalah sistem pasar yang memiliki banyak pembeli namun hanya ada satu penjual atau Kontrol eksklusif kepada sesuatu (Wordweb Ver.2.6). Sistem ini dapat memberi keuntungan besar kepada pihak Portugis dalam mengantisipasi persaingan dengan bangsa dan pedagang lainnya atau dalam lingkup paranoid ialah Spanyol sendiri.

    Orang Portugis berhasil mendirikan kantor dagang di Goa (India). Di Goa Albuquerque mendengar khabar tentang Malaka yang sudah bercorak Islam dan menjadi pelabuhan transito yang ramai . Goa yang menjadi sebuah wilayah perdagangan dalam rute Klasik Cina-India berhasil dikuasai dari tangan Gujarat pada masa Aurangzeb. Nampaknya hal ini kurang memenuhi keinginan Portugis dalam mewujudkan Monopoli yang sebenarnya. Portugis ataupun Albuquerque sendiri mendambakan sebuah tempat yang dekat dengan penghasil rempah-rempah sendiri. Di Pelabuhan ini pedagang-pedagang Islam dari Arab dan Gujarat membawa bahan pakaian yang ditukar dengan hasil bumi kepulauan Nusantara . Untuk memenuhi ambisinya itu maka dikirimlah utusan guna mengikat hubungan awal. Suatu utusan dikirim Portugis Pada tahun 1509. Utusan Portugis yang bernama Lopez Squeira untuk mewakili Portugis dan memberi Surat-Surat Kepercayaan Kepada Sultan Mahmud Syah. Keinginan awal ialah sebagai pihak yang diperbolehkan mendirikan Loji di Malaka. Rakyat Malaka merasa tidak senang dengan kedatangan Portugis disana. Maka terjadilah perlawanan menciptakan peperangan besar. Awal mula dari kerusuhan ini diyakini akibat sikap tidak sopan dan sentimen agama yang ditunjukkan oleh Portugis dalam kunjungannya. Pertempuran yang sengit terjadi di Malaka dan Malaka memindahkan pusat pemerintahan ke Johor dan kemudian mundur lagi ke Johor Baharu. Monopoli yang dicita-citakan akhirnya berhasil di Malaka namun harus dibayar dengan hilangnya pedagang-pedagang Islam yang memilih untuk mencari tempat persinggahan lain. Pajak Lewat juga diterapkan oleh Alfonso setelah jatuhnya Malaka pada 1511 yang kelak memicu penyerbuan Aceh di bawah Iskandar Muda dan Trenggono Sabrang Lor dari Demak.

    Portugis tidak berhenti sampai disitu saja dan kemudian melanjutkan perjalanan timur ketika mereka mendengar tentang Maluku. Maluku bukan lagi tempat transit tetapi memang merupakan penghasil rempah-rempah dan perjalanan ini dipimpin oleh D’Abreu. Dalam perkjalanannya ke Maluku ia singgah di Gresik dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Maluku, yaitu ke Pulau Banda. Banda adalah tempat pengumpulan rempah-rempah Maluku. Di Banda, Orang Portugis membeli Pala,Cengkeh, dan Fuli. Rempah-rempah ini ditukar dengan bahan pakaian di India. Saat akan kembali dari Maluku, kapal Portugis terdampar di Hitu yang sedang bermusuhan dengan Seram. Portugis memilih memihak pada Hitu dan kejadian itu menjadikan Ternate menginginkan Portugis untuk membangun benteng dan memperkuat pertahanan melawan Tidore dan Portugis menyetujui dengan syarat Monopoli rempah di Ternate. Lama-kelamaan Ternate baru menyadari kerugian dari persekutuan itu. Monopoli menjadikan mereka harus menjual semua hasil rempah hanya kepada Portugis semata dengan harga yang murah dan pengendalian harga berada di tangan Portugis. Hal seperti ini mungkin termasuk hal baru yang dialami oleh dunia perdagangan Nusantara terutama bagi para penguasa. Memang, sistem Monopoli pernah dilakukan oleh Kesultanan Aceh dibawah Sultan Iskandar Muda sebagai sebuah ajang preventif menghadapi Portugis yang mungkin saja mengincar Aceh untuk dikuasai. Tetapi Hegemoni asing masih menjadi persoalan apalagi jikalau raja harus kehilangan wibawanya di mata penjajah dan rakyatnya sendiri. Pendirian benteng di Maluku menjadi sebuah ikon jatuhnya wibawa takhta Ternate kepada Portugis.

Sistem monopoli yang diterapkan oleh Portugis tidak hanya pada tingkatan tertentu untuk menguasai perdagangan rempah di wilayah yang menghasilkannya seperti di Maluku langsung, tetapi dalam hal ini, terutama setelah Kematian Joao II, dan naiknya Manuel I Portugal, keinginan untuk menjadi penguasa dunia melalui perdagangan telah mengantarkan Portugis di Asia dan terkhusus Indonesia untuk memperkenalkan mata uang Portugis sejak 1515, di samping itu keberhasilan Portugis dibawah Manuel I dalam perdagangan rempah-rempah dan mengalahkan Venezia dalamperdagangan rempahnya Laut tengah, membawa pengaruh besar nama Manuel I Portugal sebagai “Raja Pedagang”, kebijakan Manuel ialah mewajibkan penggunaan Cruzado sebagai mata uang di wilayah Asia dan di Nusantara lebih dikenal sebagai uang Pasmat.

2.    Latar Terbentuknya VOC

    Sebelum melihat bagaimana Vrenigde Oost Indische Compagnie atau VOC menerapkan peraturan ekonomi di Nusantara atau lazim disebut sebagai Hindia Timur, sejarah terbentuknya VOC juga akan memberi sinyalmen bagaimana sebuah latar belakang terbentuknya VOC akan mengakibatkan suatu keputusan dalam pengambilan kebijakan VOC. Sejak membebaskan diri dari Penjajahan Spanyol, dalam tahun 1581 bangsa Belanda membentuk suatu Republik Belanda Serikat yang dinamakan De Republiek Der Vrenigde Nederlanden yang terdiri atas tujuh negara bagian. Setiap negara bagian memiliki penguasanya sendiri yang dilengkapi dengan dewan perwakilan masing-masing (Staten). Dalam zaman ini, Belanda belum memiliki raja, tapi pengaruh keluarga Oranje berfungsi sebagai alat pemersatu.

    Pendirian VOC ditetapkan berdasarkan persetujuan dari dewan rakyat yang disebut sebagai Staten Generaal. Bangsa Belanda mendapatkan banyak sekali kontribusi dari Venezia, Genoa, dan Portugal mengenai informasi dunia Timur. Peran Belanda jug sangat penting bagi pengangkutan barang-barang dagangan Portugis, tetapi di  masa jatuhnya Portugis ke tangan Spanyol pada akhir abad ke-16, semua peran Belanda diambil oleh Spanyol. Itulah yang menyebabkan Belanda merasa perlu untuk mengambil tindakan guna langkah mandiri dalam perdagangan. Pada 1595 diketahui kedatangan Cornelis De Houtman ke Banten dan memulai perdagangan atas nama negara bagian Amsterdam. Hal itu memicu wilayah lain seperti Zeeland dan lainnya untuk bersaing dengan Amsterdam. Persaingan di dalam wilayah Belanda tentunya membawa kerugian besar sehingga sebuah persekutuan harus dibentuk.

      Dengan dukungan pemerintah masing-masing, dan intervensi Keluarga Oranje (Pengeran Mauritz), pada tanggal 20 Maret 1602 Staten Genaraal memerintahkan surat izin (Octrooi) pada sebuah perusahaan yang dinamakan Vreinigde Oostindische Compagnie (Serikat Perusahaan Perdagangan di Asia Timur). Ooctrooi tersebut berlaku selama 21 tahun dan dapat diperbaharui seterusnya.Dengan berdirinya VOC  dan independensi-independensinya dapat dilihat hal ini adalah sebuah usaha guna memnuhi kebutuhan VOC dengan adanya hak-hak khusus seperti memiliki kewenangan dalam membuat perjanjian dengan penguasa pribumi dan berperan sebagai representasi Raja Belanda, mencetak uang,memiliki angkatan Perang dan menyatakan perang. Diyakini menjadi andil utama bagi VOC untuk dapat bertahan di wilayah seberang. Posisi swasta yang dimilikinya menjadikan VOC harus mampu berdiri tanpa bantuan dari pihak Negara induk.

3.    VOC dan Kesuksesannya

    VOC mampu menggulingkan kekuasaan dan hegemoni Portugis yang lebih lama bercokol dapat disebabkan oleh “Kecerdasan” dalam melihat potensi ekonomi dari kebutuhan Politik. VOC dapat menjadikan kebutuhan politis yang disebabkan oleh kedatangan Portugis. Tindakan awal VOC seperti merebut Malaka dari tangan Portugis dan secara berkala menghapuskan dominasi Portugis di Ternate-Tidore, Banda dan Ambon yang ditujukan untuk mewujudkan direbutnya Monpoli rempah-rempah dari tangan Portugis. Sistem VOC ini dikenal sebagai sistem Kemitraan atau Partnership dengan raja-raja lokal.
“Sampai sekitar pertengahan abad ke-16 kemitraan itu berhasil dibangun karena para penguasa lokal membutuhkan VOC untuk memerangi Portugis. Hal ini disebabkan adanya kepentingan bersama dalam menghadapi Portugis, walau pada pihak VOC ada ttambahan kepentingan dagang sedangkan pada pihak Penguasa lokal praktis unsur ekonomi itu tidak ada.” Setelah usaha itu berhasil, tidak ubahnya VOC menjadi pengganti Portugis itu sendiri dengan beberapa “Inovasi” dalam kebijakan-kebijakan yang diterapkannya.

4.    Kebijakan Fiskal,Verplichte Leverantie, Ekstirpasi dan masalah keuangan VOC

    Sebagai langkah awal setelah kesuksesan menghapus dominasi Portugis (walau Portugis sendiri masih sedikit berkuasa di Timor), maka hal pertama yang dilakukan oleh VOC ialah mengenalkan uang hasil cetakan VOC sebagai pengganti uang Pasmat Portugis. Uang memang menjadi lambang legalitas kekuasaan sebuah otoritas pada perdagangan dimana dahulu kala di Eropa dan Asia mengenal uang Dirham milik Persia dan uang Dinar Romawi. Seperti halnya kasus Dirham dan Dinar yang masih dipakai hingga masa khalifah Abbasiyah di masa Islam, uang Pasmat tidak langsung hilang tetapi berangsur-angsur diganti oleh uang VOC. Kesulitan VOC sama sulitnya dengan penghapusan penggunaan Bahasa Portugis yang lebih awal populer di kalangan Pribumi. VOC mencetaknya sejak 1602.

    Sejak tahun 1600-an, VOC mengeluarkan kebijakan untuk menambah isi kas negara dengan menetapkan peraturan verplichte leverentie (kewajiban menyerahkan hasil bumi pada VOC), contingenten (pajak hasil bumi, pembatasan jumlah tanaman rempah-rempah agar harganya tinggi), dan  ekstirpasi merupakan usaha VOC dalam menebang dan me numpas pohon-pohon cengkeh dan pala dalam membatasi produksi. (Katoppo, 1984:30) Verplichte Leverantie dapat dicontohkan dari sebuah kasus yang menyebabkan pemberontakan Pattimura. . Penyerahan wajib (Verplichte Leverantie) mewajibkan rakyat Indonesia di tiap-tiap daerah untuk menyerahkan hasil bumi berupa lada, kayu, beras, kapas, kapas, nila, dan gula kepada VOC dan masih dilakukan hingga posisi VOC digantikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Di Maluku sendiri terdapat bentuk Leverantie lain yaitu bahan bangunan yang dianggap memberatkan dan peraturan ini dihapus di masa Rafless yang menyebabkan rakyat Maluku lebih berkenan dengan Inggris ketimbang Belanda.VOC mewajibkan negeri-negeri tertentu di Ambon dan Uliase untuk menyediakan bahan-bahan bangunan dan bahan perbaikan kapalnya. Bahan-bahan itu ditebang di Seram dan dangkut ke Ambon oleh negeri-negeri itu . Itu adalah salah satu bentuk penerapannya. Ekstirpasi yang diterapkan oleh Belanda bertujuan agar negeri-negeri tertentu membatasi produksi Cengkih ataupun Pala yang dikhawatirkan akan dijual kepada pihak lain selain VOC dan banyaknya produksi akan menjatuhkan harga dua komoditi tersebut. Kebijakan itu menyebabkan tragedi lain seperti ekspedisi Hongi yang merugikan Maluku.

“Ekspedisi yang terdiri atas Kora-Kora (Kapal Perang) milik masing-masing negeri di kepulauan Ambon-Uliase, dimaksudkan untuk mengawasi Pulau-Pulau Seram,Buru,Manipa dan laian-lain yang dilarang menghasilkan cengkih. Setiap pohon cengkih di pulau-pulau tersbut ditebang oleh serdadu-serdadu VOC yang diangkut aramada Kora-Kora tersebut. Selam berlangsungnya ekspedisi itu, banyak pemuda negeri yang menjadi pendayung Kora-Kora meninggal karena kekurangan makanan,atau dibunuh musuh.” Sedangkan Contingenten secara luas dilakukan di Nusantara di masa itu.

5.Penutup

    Seperti asumsi dominan bahwa gaya hidup para pegawai-pegawai VOC yang menyebakan kebangkrutan VOC didasarkan kepada korupsi-korupsi yang terjadi dikarenakan sistem rekrut pegawai VOC berasal dari para pedagang dan bukan bersifat tetap atau Pegawai Temporer. Hal tersebut mungkin bisa saja menjadi alasan kejatuhan VOC tetapi perlu diketahui pula bahwa permasalahan yang lebih fundametal ialah Modal yang mampu menopang kelangsungan hidup dari serikat dagang ini.
“Serikat perusahaan dagang itu dikelola oleh sebuah badan (Bewindhebbers) yang berjumlah 70 orang yang mewakili perusahaan-perusahaan lokal yang ada sebelumnya. Para manajer tersebut memilih 17 orang yang menjadi direksi (Heeren XVII ). Modal perusahaan disetor oleh setiap anggota pengurus perusahaan-perusahaan lokal ditambah dengan saham yang dapat dibeli oleh siapa saja (Partiesipaten). Sampai VOC dibubarkan pad 1799, modal dasar yang pertama itu tidak pernah ditambah sehingga tambahan modal hanya bergantung pada penjualan saham.”(Poesponegoro & Notosusanto, 2010:29)
Inilah yang menjadi permasalahan fundamental sedangkan VOC tidak jarang harus meghadapi pemberontakan-pemeberontakan lokal yang tidak ada dalam anggaran. Walaupun keberhasilan selalu didapatkan seusai konflik dengan pribumi, namun korupsi selalu menggerogoti dan membunuh VOC samasekali.


Sumber

Awwad, Sami, One City Three Religions,2005,Jerusalem :St.Joseph Press.

Buckler, Mckay Hill, The History of Western Society,1985,London : Cambridge University Press.

Crowley, Roger, 1453 : Detik-Detik Jatuhnya Constantinople, 2007,Jogjakarta : Mizan.

Katoppo, E., Nuku : Sultan Sedul Jehad Mohammad El-Mabus, 1984, Jakarta :Penerbit Sinar Harapan.

Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia
III,1990,Ceatakan Keenam,Jakarta : Balai Pustaka.

Poesponegoro & Notosusanto, Marwati Djoened,Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV,1990,Cetakan Keempat Edisi Pemutakhiran,Jakarta : Balai Pustaka.

Yatim, Prof.Dr. Badri,dkk, Sejarah Peradaban Islam, 2006, Grasindo, Jakarta.

Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah.