Dari Perang Salib Hingga VOC : Pengaruh Gejolak Internasional dan Hegemoni Ekonomi Barat (Bagian I)

1.Pendahuluan

        Perang Salib lebih dikenal dalam literatur barat sebagai Crusade merupakan perang yang selama ini diartikan sebagai perang antara pihak Kristen melawan Islam. Walaupun perlu adanya pelurusan kembali mengenai hal tersebut. Dimana kejadian besar yang masih menandai bagian-bagian dari sejarah Islam dan Kristen ataupun Arab dan Eropa ini mestinya dibenahi dan ditilik kembali mengenai pemeran-pemeran yang pro-aktif didalamnya.

    “Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099) mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen Timur yang berada di bawah kekuasaan Islam. Namun, diantara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibatkan diri pada perang itu.”(Yatim, 2006:85)

    Pada Periode I, Perang Salib menghasilkan kegemilangan bagi pihak Kristen Eropa. Dimana kekuasaan yang begitu besar didapatkan dari invasi awal serbuan ini. Tiga panglima paling masyhur ialah Godfrey, Bohemond, dan Raymond dengan membawa sebagian besar orang Prancis dan Normandia (Yatim, 2006:77). Dengan bantuan kaum Maronit dan Armenia mereka mampu menguasai Nicea dan Edessa (1097-1098) dan mendirikan kerajaan Latin I dengan mengangkat Baldwin I sebagai Raja. Antiokhia jatuh pada 1098 dan didirikanlah Kerajaan Latin II Timur dengan Bohemond sebagai raja. 15 Juli 1099 adalah tanggal paling berdarah kala itu dimana Pasukan Salib membantai hampir semua pemeluk Islam,Yahudi dan Komuni Kristen Timur yang menolak membantu Pasukan Salib pada Penaklukan Jerusalem waktu itu, Kerajaan Latin III berdiri di Jerusalem dengan penobatan Godfrey sebagai Raja. Akka (1104), Tripoli (1109), dan Tyre (1124) berturut-turut jatuh ke tangan Pasukan Salib dan tiga wiayah itu disebut Kerajaan Latin IV dibawah Raymond sebagai penguasanya, ia bergelar Raymond D’Tripoli. Selanjutnya kekuasaan kerajaan Katholik Latin berdiri di Jerusalem (Awwad, 2005:34)

    Perdagangan menjadi semakin pesat diantara dua kubu yang saling bertempur tersebut. Demikian juga khususnya bagi pihak Kristen yang menganggap bahwa tanah Leventiene (Syria dan Palestina) lebih menguntungkan secara ekonomis. Walaupun tidak begitu subur (khususnya wilayah Palestina) namun wilayah itu menjadi gerbang timur bagi barat dalam dunia perdagangan Laut Tengah. Komoditas yang tidak didapatkan di barat seperti Gading,Lada,Kurma,Kertas dan Kopi, terlebih lagi harus diakui bahwa Perang Salib juga memiliki salah satu faktor yaitu ekonomi yang menjadikan kaum Kristen jelata sedia berperang, telah membawa paradigma barat untuk tidak meninggalakan tanah itu . Acre, Jaffa dan Escalon menjadi ramai, dan pihak Eropa juga mengakui pentingnya pihak Islam bagi kelangsungan hidup ekonomi Eropa. Tapi hal itu hampir rusak oleh diangkatnya Guy D’Lusignan dari pihak Hawkish (Elang) yaitu ekstrimis Kristen yang menolak hubungan apapun dengan Islam, menjadi Raja Jerusalem pada 1186. Kaum Dovish (Merpati) menyayangkan sikap Guy yang keras dan berujung pada jatuhnya Jerusalem ke tangan Salahuddin Al-Ayyubi, Raja Syria-Mesir, pada Oktober 1187 M.

    Kisah Perang Salib tidak hanya ditutup pada kejatuhan Jerusalem kembali ke tangan Islam. Perang ini terus berlangsung secara Sporadis dan berkesinambungan. Kekalahan itu menyebabkan faktor Politik yang membawa Dinasti Ayyubiah keturunan Salahuddin naik takhta. Dibawah dinasti ini terjadi lagi peperangan melawan kekuatan Barat. Terutama sejak jatuhnya Jerusalem, Salahuddin harus menghadapi penyerbuan Richard III Inggris dan Philip II Augustus, namun Richard III memilih mundur tiga tahun sesudahnya. Dinasti Ayyubiah pernah sekali pada 1219 menyerahkan Jerusalem ke tangan Frederick II Barbarossa untuk menjadi barter atas kota Dimyat yang tengah diduduki Raja Sisilia itu di dalam serbuannya melawan Islam. Pada 1247 Jerusalem direbut kembali oleh Islam dibawah Al-Malik Al-Saleh yang direspons oleh barat dengan Perang Salib IV di bawah pimpinan Dinasti Orleans Prancis pimpinan Louis IX dan Pangeran Dareto. Dinasti Mamalik hadir sebagai penyelamat Islam dan mengusir tentara Salib pada 1290. Sebagai Dinasti Militer para prajurit budak asal Turki yang mengabdi pada Ayyubiah, Mamalik atau dikenal Mameluke sangat cemerlang dalam Dunia Militer.
“Pada 1296 Pasukan Sultan Beybarz dan Panglima Qutuz dengan dahsyatnya menaklukkan dua kekuatan musuh sekaligus. Pertama ialah jatuhnya Takhta Jerusalem di Acre dan sekaligus mengalahkan Pasukan Mongol dari Ilkhanate yang dipimpin oleh Kitbugha yang beragama Kristen.”(Shalabi, 2004:46)

Kegemilangan Islam tiada berhenti disitu saja. 1300-an M, dalam perang Kozovo Sultan Murad I dari Dinasti Utsmani berhasil mengalahkan raja Balkan, Lazar dan merebut Adrianopolis. Ketangguhan Utsmani tidak perlu ditanyakan dimana sebelumnya mereka juga mempreteli wilayah Kekaisaran Romawi Timur di Antiokia dan Busra. Kesultanan Utsmani menjadi  tantangan pasti pihak Barat bahkan menutup riwayat Kekaisaran Romawi Timur dengan takluknya Konstantinopel pada  1453 M. Dinasti terakhir Romawi Timur, Palaiologos mengungsi ke Pulau Kreta dengan penerus politik semu, Mikhail IX Palaeologos.(Crowley, 2007:78)
 
    Mengingat sejarah pada bagian ini sangat penting dikaji ialah justru karena kekalahan ini akan menjadi kisah awal bagaimana pihak Kristen barat menjadi sangat berhasrat pada timur. Penting rasanya mengkaji mengenai Perang Salib yang monumental ini. Dapat dipastikan bahwa tidak adanya Perang Salib pastinya tidak akan adanya “Kunjungan” Imperialisme Barat pada Asia dan khususnya Indonesia. Perang Salib memberi andil besar dalam membangun kesadaran pihak “Hawkish” abad pertengahan (secara khusus ialah Spanyol dan Portugis) yang secara berkala menggelorakan negeri Eropa lainnya. Setelah jatuhnya Konstantinopel, Kristen Barat sebelumnya juga didera perpecahan oleh munculnya Protestan pada awal 1400 M. Kristen Barat dibawah Vatican akhirnya sadar akan pentingnya kebangkitan kembali dari kekalahan-kekalahan diatas itu. Setelah takluknya Konstantinopel maka Paus vatican tidak lagi mengarakan mata pedangnya kepada Turki ataupun Jerusalem lagi dan lebih memilih “memusnahkan” Islam di Barat, tepatnya Andalusia/Spanyol. Raja-Raja Eropa sadar  bahwa Islam akan sulit dibungkam di Timur Tengah, maka Pasukan Salib baru ahirnya dibentuk sejak 1470-an, mereka memakai propaganda “Reconquista” (Penaklukan Kembali) yang  didengungkan oleh Paus Vatican dan menyebut Pasukannya sebagai ”Conquistador” (Penakluk).

    Reconquista membawa semangat baru bagi pihak Kristen Eropa. Terlebih lagi dibawah Paus Alexander VI ang berasal dari keluarga bangsawan Borgia asal Spanyol. Dengan kekuasaannya itu Paus yang memiliki kedekatan dengan Keluarga Aragon mampu memicu semangat Reconquista yang akhirnya menjatuhkan kekuasaan Islam terakhir di Granada. Taifa (Negeri Kecil) Granada jatuh pada 1492 oleh serbuan Pasukan gabungan Castilia dan Aragon dibawah Raja Ferdinand dan Ratu Isabela. Hal itu memicu iri hati Raja Joao II Portugal mengingat Ferdinand dan Isabela mendapatkan gelar “Los Reyes Cotolicos”(Raja seluruh Umat Katholik) dari Paus. Joao sendiri berasal dari keturunan bangsawan yang taat pada Paus. Pendahulunya, Henry II Navigatore dikenal karena usaha Reconquistanya menaklukkan Taifa Algavre dan Mertola bersama Panglima Gil Ayrez Moniz. Joao II semakin geram dengan suksesnya Columbus yang disokong Aragon dan Castile. Dengan bermodal penemuan jalur baru Tanjung Harapan oleh Bartholomew Diaz, Joao II membawa Reconquista yang awalnya endemi di Eropa menjadi Pandemi dunia. Jalur tersebut menjadi awalnya didudukinya Goa di India dan akhirnya jatuhnya Malaka pada 1511 dibawah Alfonso D’Albuqueque. Persaingan dua Kerajaan Katholik, Portugis dan Spanyol (Penggabungan Castile dan Aragon) secara nyata akan menunjukkan wajah ekonomi Eropa.

Klik untuk bagian selanjutnya

Comments