Madura – Palembang : Motivasi dalam Wacana Penggalian Hubungan Sejarah Antar Wilayah (Bagian I)

1.Pendahuluan

    Madura amat terkenal dengang khazanah Sejarah Lisan yang tersebar dan cukup terwariskan kepada generasi selanjutnya. Tetapi kini seiring perkembangan zaman, amat dikit sekali pewarisan Sejarah Lisan diberikan kepada generasi mudanya. Dengan berkembangnya tradisi kesejarahan yang diambil dari sumber tertulis, sebagaimana lebih diyakini nilai otentisitasnya, tidak menjadikan Madura kekurangan catatan atas eksistensinya di dalam kesejarahan. Ini dapat dibuktikan dengan adanya catatan mengenai hubungan Madura dengan wilayah lainnya.

    Sekalipun penulisan ini bertujuan untuk menguak tentang sedikit hubungan antara Madura dan Palembang, kelak akan didapat beberapa tindakan yang bisa diimplementasikan guna peningkatan wisata kesejarahan yang ada di Madura. Perlu diketahui kiranya nilai dan warisan sejarah dapat dijadikan sebuah aset penting di masa kini yang memungkinkan terjadinnya kegitan pariwisata ataupun penelitian secara ilmiah. Hubungan yang terbina dalam konteks kesejarahan itu dapat digali lebih jauh mengingat bahwa pemerintah di setiap daerah memiliki institusi-institusi yang bergerak di bidang kesejarahan, sebut saja Museum dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

    Maka, untuk menangguangi hilangnya warisan kesejarahan Madura dapat dilakukan dengan mencari dan menyajikan catatan-catatan tertulis dari seluruh wilayah yang bisa diusahakan dan natinya akan memperkuat kesejarahan yang diwariskan secara lisan. Sedangkan hubungan kesejarahan antar-wilayah dapat memperjelas eksistensi Madura dalam lingkup geopolitik yang lebih luas lagi. Maka judul yang diambil penulis ialah sebagai Motivasi awal tentang penggalian hubungan antar-wilayah dengan Madura dengan Palembang. Jika telah dapat ditemukan keberadaan hubungan dan keterkaitan dengan wilayah yang lebih jauh, motivasi ini dapat mengembangkan penguakan hubungan sejarah dengan mengambil wilayah yang lebih dekat terlebih dahulu hingga tercipta pengetahuan secara holistik tentang eksistensi kesejarahan Madura.
Pada bagian akhir, penulis ingin menyumbangkan pemikiran tentang pengembangan Museum Mandhilaras. Sekalipun bersifat “Wacana” secara keseluruhan penulisan ini, tetapi aspek visioner dalam memandang bidang kesejarahan tidak boleh dinafikan untuk kemajuan Kabupaten Pamekasan.

2.Madura dalam Geopolitik Majapahit

    Pulau Madura adalah sebuah pulau yang terbilang menarik karena peranannya yang tidak pernah lepas dari sebuah bentang geopolitik di dekatnya : Jawa. Tidak sedikit dapat ditemukan dalam bukti sejarah tentang peranan pulau ini dalam bagian-bagian besar fase kesejarahan di Nusantara. Sebut saja dalam sebuah prasasti yakni Sang Hyang Swadharma yang dikeluarkan oleh Raja Kertanegara pada 31 Oktober 1269 yang berisi pemindahan seorang Adipati bernama Bhanyak Wide (Arya Wiraraja) ke wilayah Sumenep di Madura Timur. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa hal ini karena sang Raja tidak mempercayai loyalitasnya dan segera memindahkan pejabat itu ke Sungeneb.  Ini mungkin mengindikasikan “Pengasingan Politik” yang cukup unik terhadap seorang pejabat pemerintahan, atau bisa dibilang sebuah mutasi kepegawaian di masa kini. Pemindahan Arya Wiraraja sebenarnya akan memberikan sebuah kontribusi besar untuk pulau Jawa. Tanpa disangka-sangka, saat Kertanegara terbunuh oleh pengkhianatan Jayakatwang, Raden Wijaya melarikan diri ke Sumenep dan disana ia mendapatkan usulan dari Arya Wiraraja, seorang yang telah diasingkan oleh mertuanya, untuk segera kembali dan mengabdi kepada Jayakatwang. Setelah melalui sebuah diskusi, dan Jayakatwang sedikit merasa kurang percaya kepada Raden Wijaya, akhirnya Hutan Tarik diperbolehkan untuk dibuka menjadi sebuah tempat yang bernama Majapahit.

    Pembukaan dan pembangunan Majapahit dilakukan oleh orang-orang Madura yang kemudian tidak segera kembali untuk dilatih sebagai prajurit dibawah kendali Raden Wijaya, sesuai dengan kesepkatan dengan Arya Wiraraja sebagai seorang yang menyertakan orang-orang Madura bersama Raden Wijaya itu. Sebuah persekongkolan cerdas yang dikenal dalam sejarah ialah saat Pasukan Mongol datang dibawah panglimanya yang bernama Shih Pi datang untuk menghukum Raja Jawa yang telah memotong telinga utusan Mongol. Karena pasukan Mongol tidak mengetahui perubahan politik di Jawa saat itu, mereka mempercayai ucapan Raden Wijaya bahwa, “Raja Kertanegara kini sudah mengusai kediri dan berkedudukan di Kediri”, suatu cara cerdas untuk menambah jumlah prajurit yang akan menghukum Jayakatwang. Setelah berhasil menawan Jayakatwang (kemudian dihukum di Ujung Galuh hingga wafatnya) dan memboyong putri-putrinya, dua kongsi tentara yang menang ini mengadakan pesta yang besar di dalam Keraton. Saat itulah para petinggi Mongol dan pasukannya dijebak oleh Raden Wijaya. Prajurit Majapahit mendapatkan keuntungan dengan menyerang lawan yang sedang mabuk sehingga jumlah korban pasukan Mongol amat besar selain ada lagi yang melarikan diri. Majapahit dirancang dalam “satu meja” di Madura.  Penting sekali untuk mengetahui bagaimana Majapahit yang bisa dibilang sebagai “Negara Kesatuan” atau prototipe awal Indonesia di Nusantara kala itu dirancang di Madura. Karena kajian penulisan ini adalah menunjukan kesamaan dan hubungan secara kontekstual kesejarahan dengan Palembang, maka kita akan mendapatkan sebuah fakta unik sebagai konsekuensi dari perancangan Majapahit di Madura.

3. Arya Menak Senoyo : Bangsawan Majapahit-Palembang Pendiri Keraton Proppo

    Palembang di masa lalu dikenal dalam skala internasional dan mendahului Majapahit sebagai bentuk negara kesatuan. Pada tahun 671 M I-Tsing mendarat di daerah ibukota kerajaan Shih-Li-Fo-Tshih (Sriwijaya)dan menetap selama beberapa tahun untuk mempelajari kitab suci agama Budha dan bahasa Sansekerta.Ia berangkat dengan kapal orang Ta-Shih (Arab) dan Posse (Persia).  Sumber Tiongkok lainnya menyebutkan bahwa pada 717 M sebanyak 35 kapal Posse juga datang ke kerajaan Shih-Li-Fo-Tshih.  Jelaslah telah ada hubungan diplomatik antara kerajaan Sriwijaya dengan Tiongkok dan Timur Tengah.Sebagaimana dalam sumber Arab abad ke-8 M, ditemukan surat-surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Muawiyah (661 M) dan kepada Kalifah Umar Bin Abdul Aziz (m. 717-720 M), dalam sebuah kitab yang ditulis oleh AL-Jahizh (783-869 M).  Penguasa Sriwijaya dalam tulisan Arab disebut sebagai “Maharaja (dari) Pulau-Pulau.”  Sriwijaya disebut dalam sumber Arab sebagai Sribuza.

    Saat terjadi keruntuhan Sriwijaya pada abad ke-14 M, kekuasaan Majapahit nampaknya telah tertancap di bumi Sriwijaya itu. Seorang penguasa yang juga dikenal dalam sumber Madura bernama Arya Damar atau Ario Damar disebutkan sebagai pemimpin vassal Majapahit di Palembang.  Ario Damar merupakan putera dari Bhre Wirabhumi (putra dari selir Raja Hayam Wuruk), ipar dari Raja Wikramawardhana (melalui pernikahan dengan Ratu Dewi Kusumawardhani). Ia adalah ayah dari Arya Menak Senoyo, seorang pendiri Keraton Proppo (Parupuk). Dalam versi Madura dikisahkan tentang pengangkatan Arya Damar sebagai Raja Muda / Viceroy Majapahit di Palembang (sebagai cara Wikramawardhana untuk menghibur Bhre Wirabhumi) dan dianugerahi seorang selir Wikramawardhana (asal Campa) saat selir itu hamil. Sebelumnya, Aya Damar telah memiliki istri bernama Hendang Sasmitopuro, ibu dari Arya Menak Senoyo. Puteri asal Campa yang bernama Dewi Kian itu lalu melahirkan anak dari Wikramawardhana yang bernama Raden Hasan, dan ia melahirkan anak dari Arya Damar bernama Raden Husin. Setelah dewasa, ketiganya berangkat ke tanah Jawa. Radin Hasan kemudian berangkat ke Majapahit dan digelari nama “Raden Patah” serta mendapatkan tanah di Bintoro sesuai perintah Wikramawardhana. Raden Husin dijadikan kepala kepangeranan Keraton oleh Wikramawardana dengan gelar “Raden Tandaterung”. Arya Menak Senoyo meneruskan perjalanan ke Madegghan, Sampang.

Sebelumnya di daerah itu telah berdiri banyak kerajaan bawahan Majapahit yang didirikan oleh penerus Arya Lembu Peteng yang juga masih putra dari Wikramawardhana dari selir bernama Dwarawati. Saat itu seorang putera Arya Lembu Peteng yakni Arya Mengo sedang membangun sebuah tempat yang nantinya menjadi Kraton Pamellingan. Arya Menak Senoyo juga ingin mendirikan sebuah tempat baru berupa Keraton, maka dari itu ia pilih tempat di barat Pamellingan yang nantinya disebut sebagai Keraton Proppo.   Arya Menak Senoyo yang dikisahkan menikah dengan seorang perre’ (peri kayangan ) bernama Nyi Tunjung Bulan dan memiliki anak bernama Arya Timbul, dan Arya Timbul memiliki putra bernama Arya Kedut yang memperanakkan Arya Pojok. Arya Pojok kemudian menikahi Nyi  Ageng Budho, anak wanita dari Aryo Pratikel, seorang pemeluk Budha dan anak bungsu dari Arya Menger Kametowa Madegghan yang menandai bersatunya keturunan Arya Lembu Petteng dan keturunan Arya Damar. Dari perkawinan Arya Pojok ini lahrilah Arya Dhemmang Palakaran. Penuturan kisah ini amat penting karena perkawinan ini yang akan menurunkan raja-raja di Madura.

    Sejauh ini timbul beberapa pertanyaan yang akan begitu mengena kepada penuturan rangakaian kisah diatas. Pertama ialah mengapa Arya Menak Senoyo memilih untuk berangkat ke Madegghan ?. Bisa terjawab secara sementara ialah dimungkinkan saat itu segala aspek birokrasi yang tertata dari kerajaan Majapahit telah begitu baik sehingga seluruh teritori berada dalam satu hubungan komunikasi yang baik pula. Namun, mengapa Arya Menak Senoyo milih Madegghan padahal ia telah mengetahui bahwa disana para duapupunya  dari garis Wikramawardhana telah berkuasa di Madura ? Hubungan sebelum kejadian pada masa akhir kerajaan Majapahit ini terjadi masih terlihat samar, dan memungkinkan bahwa tragedi Perang Paregreg telah mengalihkan perhatian umum tentang keaadaan “Manca Negara” anatara Jawa dan wilayah lainnya.

    Nampaknya harus ada penarikan rentang waktu yang sedikit “dimajukan” untuk melihat kecenderungan yang sama dan bisa saja terjadi. Pada tahun 1831, laskar-laskar daerah di setiap kerajaan yang dibawahi Belanda di Madura (untuk keperluan Verplichte Leverantie komoditas pertanian dari Panembahan di Madura kepada Belanda), dimapankan menjadi Korps Barisan Madura, dan mereka “berjasa besar” (bagi pemerintah Kolonial dan politik Divide et Impera) dalam memerangi bangsanya sendiri di Jambi pada 1831, Minangkabau 1836, Bali 1844, Aceh 1873, Lombok 1894, dan tempat-tempat lainnya sampai abad ke-20 demi kepentingan Belanda.  Kelihatannya hal itu bukanlah suatu yang baru sebagaimana pada abad-abad sebelumnya di era Majapahit. Telah diungkapkan bagaimana orang-orang Madura menjadi pendiri Majapahit yang dibawa olh Raden Wijaya dan kemudian dilatih sebagai tentara, dan pastinya juga ikut dalam penyerangan kepada Jayakatwang dan pengusiran terhadap tentara Mongol. Kepopuleran orang Madura dalam catatan sejarah Majapahit tampaknya juga menunjang nilai penting wilayah ini, seperti tokoh Jokotole dan ayah angkatnya yakni Mpu Kelleng (pandai besi yang terkenal) yang pernah diundang oleh Raja Wikramawardhana untuk membenahi Pintu Gerbang Keraton Majapahit; suatu kebanggaan besar di masa itu.

4.Terbinanya Hubungan Dagang Hingga Masa Kehadiran Pihak Asing

    Dalam kisah rakyat dan tutur Madura juga masih didapati kehadiran hubungan Palembang dan Madura di bidang perdagangan. Dalam kisah Bhangsacara dan Ragapatmi , saat keduanya telah terbunuh oleh pengkhianatan Bhangsapati, rombongan perahu dagang Raja Sumenep menemukan kedua jasad bangsawan Plakaran (Sampang) itu bersinar di Pulau Mandhangel, sehingga mereka menguburkannya sebelum berangkat berdagang. Setelah kembali dari bergdagang tiga bulan kemudian, rombongan itu mendapat untung besar dan mengabarkan kepada raja Sumenep bahwa hal itu karena mereka menguburkan jasad dua orang bangsawan (dilihat dari busana yang dipakainya) di Pulau Mandhangel. Tempat tujuan rombongan itu berdagang adalah Palembang.

    Dari berbagai contoh keterikatan kesejarahan yang telah diuraikan diatas, telah dimengerti mengenai beberapa kecenderungan berupa kesamaan dan tidak jarang secara nyata ditemukan hubungan antara kedua wilayah yang terbentang jauh dalam konteks jarak dan bisa dibilang berbeda tentang peranannya dalam dua kondisi geopolitik terpisah. Madura sangat erat dengan kondisi politik di Jawa dan Palembang berperan dalam dinamika politik Melayu. Tidak dapat disangkal dengan adanya penyebaran hegemoni Majapahit di Nusantara-lah yang menimbulkan keduanya memiliki kecenderungan untuk “dekat” dan berhubungan. Selain hubungan itu diperkuat saat masuknya Islam, kekuasaan Mataram membuat wilayah ini termasuk sebagai wilayah yang dikuasai secara politis dalam pemerintahan Jawa. Palembang pernah merasakan perang melawan VOC dan Madura menjadi wilayah yang diserahkan kepada VOC oleh Mataram (salah satunya ialah dengan adanya peninggalan benteng Kalimo’ok di  Kalianget Sumenep  ) dan berlanjut di masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. VOC juga sempat melakukan monopoli lada dan timah di Palembang. Sekalipun demikian, kongsi dagang ini harus bangkrut pada 31 Desember 1799 karena korupsi serta kekalahan hegemoni lautan melawan Inggris.

    Palembang jatuh ke tangan pemerintah Hindia Belanda pasca peperangan antara Hindia Belanda melawan Sultan Mahmud Badaruddin II yang diasingkan ke Batavia pada 8 Juli 1821 (pada Maret 1822 ia dipindahkan ke Ternate). Pangeran Prabu Anom diangkat menjadi bawahan (boneka) Belanda oleh de Kock. Namun demikian, Kesultanan Palembang resmi dihapus pada 9 Agustus 1825, yang ditandai dengan seluruh wilayah kekuasaannya di bawah pemerintah Hindia Belanda.  Sekalipun menghadapi perubahan politik yang begitu drastis, rentang waktu 1824-1864 dikenal sebagai masa kemajuan Palembang karena pada tahun 1824 merupakan awal munculnya perdagangan bebas yang ditandai dengan berakhirnya monopoli Kesultanan pada masalah perdagangan.  Terdapat satu hal yang unik di masa ini, yakni pemberlakuan imunisasi anak-anak di bawah umur lima tahun  oleh pemerintah Kolonial dan bertambahnya jumlah migrasi dari berbagai wilayah ke Palembang yang salah satunya berasal dari Madura.  Dalam Encyclopaedie van Nederlandsche Indie tahun 1913 juga dikemukakan bahwa secara historis hubungan dagang Palembang memang begitu luas termasuk dengan Madura.   Maka pada 1834 sebagaimana dicatatkan tentang bahan impor dari wilayah Jawa dan Madura berupa kain Jawa, Belanda, Bengalis, dan bahan makanan.  Dua dekade selanjutnya, nilai ekspor komoditi Palembang ke Jawa dan Madura pada 1854 ialah f.531.364 sebagai yang tertinggi dibandingkan wilayah Bangka, Cina, dan kawasan Nusantara lainnya.  Keberadaan orang-orang Madura perantau yang sering ditemukan sekarang bukanlah hal yang baru dan telah berlangsung sekian lama. Falsafah orang Madura dalam bekerja, sama seperti dengan umumnya suku-suku di Nusantara. Mengambil sesuatu dari alam untuk diolah, sekeadar untuk memenuhi kebutuhan dasar dan bertahan hidup. Tidak berlebih-lebihan. Namun jikalau bertahan di Madura tidak dapat mencukupi kebutuhan atau ingin mencari pengalaman hidup maka cara yang ditempuh adalah bekerja di luar Madura.  Pengungkaan kesejarahan yang sedemikian ini dirasa penting untuk kiranya dapat diketahui oleh setiap daerah dimanapun di Kepulauan Indonesia bahwa konsep “Kesatuan” telah ada semenjak dahulu, dan Kesatuan itu telah menjadi kenyataan di masa kini sebagai suatu hal yang harus dilindungi.


Klik untuk bagian selanjutnya

Comments