Palembang dan Aspek Internasionalnya : Menilik Otentisitas Keberadaan Pusat Sriwijaya


    Sebagai ibukota provinsi Sumatera Selatan, Palembang apabila ditinjau dari segi historisnya dapat dikatakan sebagai “Kota yang Beruntung.” Sejarah yang panjang membuatnya memiliki peninggalan-peninggalan sejarah, situs-situs bersejarah, ataupun tempat rekreasi bersejarah. Beberapa prasasti seperti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu dan Boom Baru ditemukan di kota ini. Beberapa situs penting seperti situs Karanganyar yang mengindikasikan kemajuan irigasi di zaman Sriwijaya, situs Candi Gede Ing Suro dengan aspek peninggalan lintas zaman sejak zaman Budha hingga datangnya Bangsawan Demak yaitu Ki Gede Ing Suro yang menyebaran Islam, situs Bukit Seguntang, Beringin Jungut, dan Candi Angsoko ; semuanya melambangkan keamapanan peradaban dari masa ke masa di kota ini. Bahkan museum-museum seperti museum Sriwijaya yang berdiri di atas situs Karanganyar, Museum Balaputeradewa di KM. 5 yang juga memamerkan peninggalan seperti tekstil Palembang disamping memiliki Corner khusus yang dibuat dengan kerjasama antara pemerintah Palembang dan Kerajaan Malaka-Malaysia- mengingat sosok Prameswara (pendiri Malaka) sangat erat hubungannya dengan Palembang, ditambah lagi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang di belakangnya terdapat Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) guna mengabadikan kejadian Pertempuran Lima Hari Lima Malam di masa Revolusi Fisik. Dalam sejarahnya yang gemilang ini, apabila beberapa tahun lalu diadakan perhelatan sekelas SEA Games dan ISoG (Islamic Solidarity Games) yang bertaraf internasional, sebenarnya bukanlah hal baru. Palembang di masa lalu telah menjadi kota yang tenar untuk mancanegara, inilah yang dapat menjawab polemik popular tentang lokasi pusat Sriwijaya yang selalu dipertanyakan.

    Aspek internasional kota Pelambang dapat dirujuk kepada berita Tiongkok. Pada tahun 671 M I-Tsing mendarat di daerah ibukota kerajaan Shih-Li-Fo-Tshih (Sriwijaya) dan menetap selama beberapa tahun untuk mempelajari kitab suci agama Budha dan bahasa Sansekerta. Ia berangkat dengan kapal orang Ta-Shih (Arab) dan Posse (Persia). Sumber Tiongkok lainnya menyebutkan bahwa pada 717 M sebanyak 35 kapal Posse juga dating ke kerajaan Shih-Li-Fo-Tshih. Jelaslah telah ada hubungan diplomatik antara kerajaan Sriwijaya dengan Tiongkok dan Timur Tengah. Sebagaimana dalam sumber Arab abad ke-8 M, ditemukan surat-surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Muawiyah (661 M) dan kepada Kalifah Umar Bin Abdul Aziz (m. 717-720 M), dalam sebuah kitab yang ditulis oleh AL-Jahizh (783-869 M). Penguasa Sriwijaya dalam tulisan Arab disebut sebagai “Maharaja (dari) Pulau-Pulau.” Sriwijaya disebut dalam sumber Arab sebagai Sribuza.

    Dengan mengambil tinjauan dari pihak asing didapatlah fakta tentang aspek internasional Palembang. Ada keunikan dalam masalah ini, yaitu usia berita I-Tsing lebih awal dibandingkan dengan tahun prasasti Kedukan Bukit (682/683 M). Sekalipun demikian ini bukanlah hal kontradiktif. Bambang Budi Utomo meyakini prasasti ini adalah yang tertua dalam sejarah kerajaan Sriwijaya. Dengan berita I-Tsing yang lebih awal itu, prasasti Kedukan Bukit menjadi penguat informasi I-Tsing. Berarti berdirinya Kedukan Bukit menandakan keberadaan Sriwijaya yang telah mapan lebih awal. Ini juga tercermin dalam prasasti Talang Tuo yang datang selanjutnya. Prasasti Talang Tuo menceritakan tentang pendirian taman Sriksetra. Taman ini berisi tanaman-tanaman yang berguna untuk umum. Nampaknya prasasti ini dibuat untuk memperingati pembuatan sebuah bangunan penanda. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebuah peradaban akan menandai puncak kejayaannya dengan membuat bangunan-bangunan monumental.

    Peraturan tentang loyalitas dan birokrai bisa didapatan dari prasasti Telaga Batu, tanpa angka tahun, namun kebanyakan diyakini sezaman dengan prasasti Kedukan Bukit. Tidak adanya angka tahun dalam Telaga Batu mengindikasikan, berdasarkan perkiraan kesamaan waktu dengan prasasti Kedukan Bukit, karena sebenarnya bentuk birokrasi dan kesetiaan serta loyalitas dalam pemerintahan-seperti yang tercantum dalam Telaga Batu- telah ada dianut sejak lama oleh rakyatnya. Sekali lagi telah terlihat bagaimana kerajaan ini telah begitu mapan di masa itu. Ditinjau dari lokasi penemuan tiga prasasti ini (Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Telaga Batu), dimana ketiganya dianggap sebagai prasasti “kunci” peradaban Sriwijaya, didapatkan juga gambaran tentang luas daerah pusat kerajaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Buki ditemukan di kaki Bukit Seguntang, di bagian timurnya adalah tempat ditemukannya prasasti Telaga Batu ; Daerah Kampung 2 Ilir belakang kompleks PT. Pusri. Pada bagian barat lautnya ditemukan prasasti Talang Tuo ; di daerah Kecamatan Talang Kelapa. Kawasan-kawasan itu menggabarkan lingkaran kota Palembang kala itu-sebagai puat Sriwijaya-meliputi 400.61 km2.

    Melihat prospek kerajaan Sriwijaya yang mampu membangun hubungan diplomtik dengan Tiongkok dan Timur Tengah maka kita juga harus melihat bagaimana eksistensi Sriwijaya dalam kancah regional yang lebih kecil, contohnya di kawaan Asia Tenggara. Salah satu prasasti Sriwijaya, Prasasti Ligor (775 M), ditemukan di kawasan Semenanjung Melayu, didalamnya disebutkan sebuah Jabatan yaitu Bhupati, yang juga ditemukan dalam prasasti Telaga Batu. Kemungkinan kuat ialah kawasan ini berada dibawah protektorat Sriwijaya. Apabila dilihat dari segi bahasa yang dipakai, yaitu bahasa Sansekerta, dimana kebanyakan untuk prasasti Sriwijaya yang ditemukan di daerah Sumatera Selatan berbahasa Melayu Kuno menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya menghormati independensi wilayah protektoratnya. Demikian juga telah diketahui berita I-Tsing yang pernah belajar bahasa Sansekerta di Sriwijaya. Perlu dimengerti kiranya bahwa bahasa Sansekerta adalah bahasa yang banyak dituturkan oleh Kasta tertinggi Kaum Brahmana Hindu (sesuai dengan kepercayaan bahwa bahasa ini adalah bahasa para Dewa). Bahasa ini lumrah ditemukan dalam prasasti-prasasti di Jawa. Di luar Asia Tenggara, Sriwijaya memiliki sumber asing seperti Prasasti Nalanda (860 M) yang berada di Bihar, India. Dalam Prasasti berbahasa Sansekerta tersebut menyebutkan bahwa Raja Dewapaladewa dari kerajaan Colamandala (Coromandel) memenuhi permintaan Raja Balaputradewa “Sri Maharaj Svarnadvipa” untuk dibuatkan sebuah asrama bagi para Bhiksu. Sriwijaya menunjukkan sebuah model negara adidaya, memiliki bahasa resmi, dan memiliki hubungan international yang kuat.

    Hubungan antara kerajaan Sriwijaya dan Cola kemudian memburuk. Berdasarkan informasi dari  Museum Sriwijaya, memburuknya hubungan ini disebabkan oleh peraturan pajak yang tinggi yang diterapkan oleh kerajaan Sriwijaya kepada para pedagang Tamil. Raja Cola saat itu, Rajendra Coladewa yang merasa sebagai pelindung para pedagang Tamil merespon Sriwijaya dengan serangan militer pada 1025 M. Alterntif lain dari alasan penyerangan ini adalah misi ekspansi ke wilayah-wilayah Asia Tenggara yang memang direncanakan oleh raja Cola itu. Berdasarkan prasasti Tanjore di daerah Tamil Nadu, berangka tahun 1030 M yang memuat catatan tentang wilayah-wilayah yang diserang oleh Rajendra coladewa seperti : Sriwijaya, Malaiyur (Jambi), Ilangosagam (Langkasuka), Ilamuridesam (Lamuri), dan lainnya. Penyerangan ini dipercaya sebagai penyebab melemahnya kerajaan Sriwijaya.

    Lemahnya kerajaan Sriwijaya itu ternyata belum menyebabkan kerajaan Sriwijaya hancur sama sekali. Eksistensi kerajaan ini masih juga disebutkan dalam berita Tiongkok dalam Buku Sejarah Dinasti Song disebukanlah negeri San-Fo-Tsi / San-Bo-Tsai atau Sriwijaya yang beribukota di Chan-Pi  (diperkirakan “Jambi”), dimana dalam negeri itu terdapat banyak tempat yang berawalan Pu-  atau Po-. Tetapi kemudian disebutkan lagi bahwa pada tahun 1079 M Sriwijaya dan Jambi mengirim utusan ke Tiongkok, kemudian pada 1082 M hanya Jambi yang memiliki hubungan resmi dengan Tiongkok. Informasi ini dapat digarisbawahi bahwa pasca penyerbuan Cola, Jambi menjadi ibukota Sriwijaya. Pengiriman utusan pada 1079 M ke Tiongkok lebih menunjukkan bentuk protektorat Sriwijaya yang masih hidup, karena Jambi yang menjadi Ibukota Sriwijaya disebutkan setelah nama Sriwijaya itupun dapat dilihat dari Prasasti Tanjore yang menyebut nama Jambi sebagai Malaiyur setelah Sriwijaya. Ini semua dapat diartikan Sriwijaya yang melemah berpindah ke Jambi yang dulu sudah menjadi daerah protektorat bawahannya lalu Jambi melepaskan diri dari kerajaan Sriwijaya kira-kira setelah 1079 M. karena pada 1082 M hanya Jambi yang memiliki hubungan resmi dengan Tiongkok.

    Apabila kita memperhatikan rentetan kejadian dai kerajaan Sriwijaya kita akan menemukan fakta bahwa memang Palembang yang menjadi pusat bagi kerajaan Sriwijaya. Apabila dihitung dari usia prasasti-prasasti yang diemukan di Palembang, kita ambil dari prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 M hingga 1025 M disaat penyerbuan kerajaan Cola ke Sriwijaya, berarti Palembang sebagai pusat Sriwijaya bertahan selama 342 tahun. Itupun apabila benar Sriwijaya memulai Marwuat Vanua atau mendirikan fundamen kekuasaan pada 683 M, sedangkan berita I-Tsing jauh lebih tua tentang Shih-Li-Fo-Tshih. Disisi lain ialah jika benar Sriwijaya langsung memindahkan pusat kekuasaannya ke Jambi pada 1025 M. Sedangkan Jambi sebagai ibukota Sriwijaya dihitung sejak 1025 M hingga 1079 M ialah 54 tahun, apabila lepasnya Jambi pada 1082 M ialah 57 tahun Jambi menjadi ibukota Sriwijaya.

    Berita Tiongkok dari Chou-Kou-Fei dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta apada 1178 M, disebukan lagi nama San-Fo-Tsi yang sudah tidak sekaya dahulu karena kekurangan hasil alam, baranng-barang dagangannya yang mahal, tidak sekaya Tashih (Arab) dan Cho-Po (Jawa). Memungkinkan sekali apa yang terdapat dalam berita ini dikarenakan daerah bawahan Sriwijaya, sama seperti Jambi, banyak melepaskan diri. Perbandingan Sriwijaya dengan Tashih (Arab) dan Cho-Po (Jawa) masih menunjukkan bahwa dalam Ling-Wai-Tai-Ta , Sriwijaya masih diingat sebagai wilayah yang dahulunya besar. Nampaknya penyebutan Tashih (Arab) sebagai pembanding adalah merujuk pada Sriwijaya yang belum melemah yang sebelumnya sangat dekat dengan orang Timur Tengah, sebagaimana I-Tsing menyaksikan hubungan antara keduanya. Tidaklah mungkin perbandingan ini merujuk kepada Sriwijaya yang melemah dan pindah ke Jambi.

    Bukti lainnya menunjukan bahwa Palembang merupakan pusat Sriwijaya ialah informasi dari Ma Huan yang berasal dari Dinasti Ming abad ke-15 M yang menyertai ekspedisi Cheng Ho ke Palembang. Dalam buku catatannya yang terkenal, Ying Yai Sheng Lan ia menyebut wilayah Palembang sebagai San-Fo- Ji, perubahan dari nama San-Bo-Tsai atau San-Fo-Tsi kemudian lebih spesifik lagi ia menyebut tempat yang bernama Po-Lin-Fong, sesuai dengan berita dimasa Dinasti Song ; dimana dalam negeri itu terdapat banyak tempat yang berawalan Pu-  atau Po-. Po-Lin-Fong adalah perubahan dari Palembang ; nama ini merujuk pada bahasa Melayu yaitu tempat dimana air sungai sering merembes ke daratan (Lembang), dan kondisi ini masih terjadi pada era 1990-an saat 52,24 % wilayah kota Palembang masih sering kebanjiran. Dalam Mao Kun (peta pelayaran) Ma Huan dan Cheng Ho  ditemuan sebuah tempat yang disebut sebagai Jiu-Jiang atau “Pelabuhan Tua” di kawasan Palembang. Penyebutan Jiu-Jiang atau “Pelabuhan Tua”  ini menunjukkan pengetahuan yang amat familiar bagi orang Tiongkok tentang wilayah Palembang sejak dahulu kala yang merujuk pada hubungan yang telah terbina dengan kerajaan Sriwijaya sejak zaman I-Tsing. Ma Huan menjelaskan untuk masuk ke kota melalui Jiu-Jiang untuk menuju ibukota, para pedagang harus merapatkan kapalnya di tepi laut, (lalu) memakai kapal kecil, dengan itu mereka akan mencapai ibukota. Apa yang dijelaskan oleh Ma Huan sama seperti rute masuk Sungai Musi melalui Muara Sungsang.

    Dari sumber-sumber asing ini kita dapat memastikan bahwa pengugatan Palembang sebagai pusat Sriwijaya haruslah ditinjau lagi. Tidaklah mungkin apabila sudah didasarkan pada informasi asing yang memperkuat keberadaan pusat Sriwijaya di Palembang masih dikritisi demi kepentingan politik semata. Palembang dan aspek intenasionalnya adalah bukt pengakuan atas eksistensi Sriwijaya di dalamnya.

Sumber

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung ; Mizan, 1994.

De Casparis, J.C., Prasasti Indonesia : Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Bandung : Masa Baru, 1956.

Hall, Kenneth R., “Economic History of Early Southeast Asia.” Dalam The Cambridge History of Southeas Asia Vol.I From Early Times to c. 1500, Cambridge : Cambridge University Press, 1999.

Meglio, Rita R., “Arab Trade with Indonesia and Malaya Peninsula.” Dalam Richard D.S. (Ed.),Papers on Islamic History II , Islamic and Trade of Asia : A Calloqium , Bruno Cassier, Oxford : University of Pennsylvania Press, 1970.

Mills, J.V.G.,Ma Huan : Ying Yai Sheng Lan. The Overall Survei of the Ocean’s Shore, Cambridge : Cambridge University Press, 1970.

Notosusanto, Nugroho, Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia III : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam, Jakarta :Balai Pustaka, 1993.

Soan Nio, Oei, Beberapa Catatan Tentang W.P. Groeneveldt : Historical Notes in Indonesia and Malay Compiled from Chinese Sources, Jakarta : Panitia Penyusunan Buku Standard Sejarah Nasional Indonesia, t.t.

Statistik Pemerintah Kotamadya Palembang, 1990.

Tibett, G.R., Early Moslem Traders in Souteast Asia, dalam JMBRAS 30 (1), 1957. Hlm. 1

Utomo, Bambang Budi, Cheng Ho : His Cultural Diplomacy in Palembang,Palembang : Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

www.bhakti-yoga-meditation.com diakses 13-Juni-2014/15:24

Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah.

Comments