Sosialisme Islam : Semangat Universal Emansipatoris Melawan Penindasan (Bagian I)

    Kata “Sosialisme” terkadang akan sering menimbulkan sebuah stigma tentang ke-kiri-an. Sosialisme juga amat dekat dengan komunisme – suatu paham yang memiliki cela dalam sejarah Indonesia – dimana paham ini masih banyak diingat oleh kebanyakan rakyat Indonesia karena usaha pengkhianatannya. Belum lagi substansi materialisme yang dipakai oleh kaum komunis untuk mengantitesiskan ketuhanan – sesuatu yang bertolakbelakang dengan asas NKRI. Asumsi ini dapat timbul akibat kesalahan tafsir ataupun keterbatasan dalam membaca tentang Sosialisme tersebut.

    Bagaimanapun, komunisme telah menjadi cabang dari Sosialisme. Sosialisme adalah sebuah paham tentang sistem masyarakat dan ekonomi yang ditandai dengan kepemilikan alat-alat produksi dan manajemen ekonomi. Agaknya belum bisa secara tepat apabila Karl Marx disebut sebagai pencetus dari Sosialisme. Karena di Eropa, sebelum Marx merumuskan ide tentang Sosialisme secara ilmiah, pada masa Rennaisance telah ada ide Sosialisme seperti yang diusung oleh Marquis de Condercet, Rosseau, dan Diderot. Pandangan Sosialisme di masa itu berusaha membawa masyarakat menumbangkan elit Feodal dan Rezim Tiranik.

    Metode Marx tentang teori sosial, melihat bahwa susunan masyarakat pada zaman manapun secara fundamental ditentukan oleh metode-metode produksi dan distribusi kekayaan. Berbagai lembaga serta gagasan yang ada dalam measyarakat pada dasarnya berfungsi untuk mempertahankan kepentingan kelas yang memiliki atau mengontrol alat-alat produksi atau bentuk-bentuk utama kekayaan. Dengan demikian kelompok atau kelas pemodal inilah yang menguasai struktur sosial untuk kepentingannya.  Disamping itu, secara filsafat sejarah yang diyakini oleh kaum Marxis (pengikut paham Karl Marx), yang memandang perubahan masyarakat yang ditentukan oleh konflik ekonomi , antara kepentingan ekonomi kelas yang memerintah dan kelas yang diperintah.  Hal ini berbeda dengan pendapat filsafat sejarah lainnya, seperti oleh Hegel, yang menekankan konflik gagasan.

    Gagasan Sosialisme memang dapat melahirkan berbagai cabang, yang bukan saja hanya merujuk kepada komunisme. Sebagai contoh ialah H.O.S. Cokroaminoto yang memiliki peran dalam merumuskan tentang “Sosialisme Islam”. Ia pernah mengungkapkan tentang hal ini :

“Jikalau kita menyebutkan Sosialisme itu satu peraturan tentang urusan harta benda (Economisch Stelsel), maka tiadalah kita maksudkan bahwa Sosialisme itu tidak juga mempelajarkan ajaran-ajaran agama dan falsafah (Wijsgeering). Sebaliknya : tiap-tiap macam Sosialisme adalah berdasar kepada asas-asas Falasifah atau asas-asas agama, sedangkan Sosialisme yang wajib dituntut dan dilakukan oleh umat Islam itu bukannya Sosialisme yang lain, melainkan Sosialisme yang berdasar kepada asas-asas Islam belaka.”

    Nasihin menjelaskan bahwa landasan Sosialisme yang diusung oleh Cokroaminoto sebagai Sosialisme Islam berasal dari ayat Al-Quran yaitu, “ Kaanan Nasu Ummatan Wahidatan”,  yang artinya : “Peri Kemanusiaan adalah menjadi satu persatuan.”  Kata “Islam” (Setelah Sosialisme) merupakan kata benda substantif, tentunya tidak dapat diturunkan menjadi kata sifat / Adjective yang menyifati kata “Sosialisme”.   Sosialisme Islam pada intinya bukan sekadar pandangan materialistik semata. Berbeda halnya ketika Sosialisme itu ditinjau sebagai sebuah konsep keadilan bagi kehidupan manusia. Dalam konsep inilah, kata “Sosialisme” dapat digabungkan dengan kata “Islam”.  Sosialisme Islam mewujudkan pandangan Universalisme Islam yang penuh kaidah emansipatoris yang menjadi tugas bagi para pemeluknya.

    Islam sejak awal datangnya bersama sosok Rasulullah Saw telah lama mengusung ide itu di dalam kitab suci Umat Islam. Dalam Islam, keadilan memiliki antitesis yang nyata berupa bentuk Tirani. Dalam Marxisme terdapat misi perjuangan kelas proletar melawan kaum kapitalis. Islam lebih jauh memerintahkan untuk memerangi Tirani, tidak sebatas polarisasi secara Materialistik yaitu Proletar-Kapitalis. Sebagai contoh adalah dalam ayat suci Al-Quran yang berbunyi :”...Hendaklah kamu semua hanya menyembah kepada Allah, dan meninggalkan Tirani (Thaghut)...”

    Nurcholis Madjid mencontohkan tentang segi emansipatoris Islam dalam kisah Nabi Musa AS. Ia berpendapat :
“Kejadian fisik yang melambangkan pembebasan dan emansipasi dalam kisah Musa ialah keberhasilan gerakan keluar Mesir secara besar-besaran (Eksodus) dan kegagalan Fir’awn untuk meghalangi. Maka Eksodus (Arab : Al-Khuruj) menjadi lambang pembebasan manusia dari perbudakan dan penindasan.....Secara khusus kaum yang tertindas itu disebut sebagai “Mereka yang dibuat lemah” atau “Mereka yang diperlemah” (alladzina ustudl’ifu dalam bentuk kata kerja, al-mustadl’afin dalam bentuk kata sifat pasif (Arab : Maf’ul, Passive Participle) ).”
 
    Dalam kisah Musa AS itu terlihat sebuah contoh Sosialisme Islam yang di dalamnya terdapat kisah perjuangan kelas, yang kita tahu bahwa pada masa itu Bani Israil diperbudak oleh bangsa asli Mesir yaitu bangsa Qibthi / Kopt. Dalam kisah Eksodus itu, Allah SWT bahkan menjanjikan tanah Kanaan untuk Bani Israil guna membangun peradaban yang sendenter, namun selama itu mereka harus mematuhi hukum Allah dengan lurus seperti dalam QS Al-Baqarah : 93. Di dalam kisah itu, jelas didapatkan tentang berkah Allah dalam segi materi yaitu “Tanah” atau wilayah bagi Bani Israil, tetapi esensi pada ketaatan tetap menjadi substansi di dalamnya. Inilah ganjaran yang diberikan oleh Allah kepada Bani Israil dibawah Musa AS untuk mematuhi perintah Eksodus yaitu keluar dari tekanan dan kedzaliman. Ini mengingatkan kita tentang kisah Hijrah di zaman Rasulullah Saw. Aspek relijius lainnya ialah saat Musa mendapatkan wahyu di Sinai, dan Allah menugaskannya untuk menyeru kepada Fir’awn ke jalan monoteistik.  Karena Fir’awn disebut-Nya sebagai Tirani (thagha, melakukan : tughyan, berperilaku sebagai : thaghut). Manusia perlu menyadari hal ini sebagai sebuah renungan tentang adanya sebuah kekuatan yang tak terjamah di dalam jangkauan penginderaan, dapat disederhanakan sebagai contoh ialah apakah manusia mampu menggambarkan secara visualbentuk dari emosi (perasaan) yang mereka rasakan ?

Comments