Sosialisme Islam : Semangat Universal Emansipatoris Melawan Penindasan (Bagian II)

1.Refleksi Sosialisme Islam Beradab

    Sosialisme Islam pada hakikatnya dilandaskan kepada Al-Quran dan Hadits. Seperti halnya Cokroaminoto yang mendamaikan keduanya yang didasari oleh semangat memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan untuk keberlangsungan hidup sesama sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk Allah. Keterkaitan di dalamnya tercermin dalam ajaran Islam yang percaya pada eskatologi (pengetahuan tentang hidup setelah mati), keadilan hidup adalah bagian dari Sosialisme dalam Islam yang berhubungan dengan pertanggungjawabannya di hari akhir nanti. Keterkaitan dengan hidup yang baik dan balasan yang setimpal atas kebaikan di dunia. Bentuk Sosialisme sedemikian itu telah dicontohkan penngejawantahannya oleh Rasulullah Saw. Nasihin menjelaskan tentang pergaulan hidup manusia bersama (Sociale Hervormer) dalam tindakan Islam sebagai berikut :

    “...Tentang persamaan, sejak lama Umat Islam diperintahkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad , sekali tiap             hari Jumat, melaksanakan shalat Jumat secara bersama-sama tanpa membedakan derajat satu dan                 lainnya.....Tentang persaudaraan, Nabi jga telah mencontohkan bahwa dalam setiap selesai shalat, setiap             Muslim tentunya saling berjabat tangan yang menandakan sebuah bentuk saling bermaafan satu dengan lainnya.             Persaudaraan terus dibangun, setiap kali sesama Muslim bertemu, yaitu dengan mengucap salam, yang                 menandakan saling mendoakan untuk keselamatan bagi sekalian umat Islam tersebut. Nilai-nilai persaudaraan             yang terbangun demikian inilah, ketika berakumulasi secara luas dan besar hingga hilangnya batas-batas                 negara atau teritorial (dunia)...Berkaitan dengan nilai-nilai ekonomi, atau asas kedermawanan Umat Islam,             Nabi Muhammad juga mencontohkan dengan perilakunya, sebagaimana diterangkan dalam Al-Quran bahwa Umat                 Islam diwajibkan (bukan hanya kebajikan, melainkan keharusan yang tidak dapat ditinggalkan) untuk                 bersedekah atau berzakat (Nasihin, 2012: 156-157).”

    Memang harus diakui bahwa Sosialisme merupakan bagian dari perkembangan pemikiran barat. Ia tumbuh dari pesatnya perdagangan akibat Revolusi Industri yang menyebar melalui semangat imperialisme barat dengan sistem merkantilisme para kapitalis. Setelah itu, paham ini menjadi amat menarik bagi kalangan Bumiputera dalam melakukan resistensi terhadap kolonialisme Belanda.

    Cokroaminoto yang menyetujui gagasan Sosialisme Islam tersebut kemudian menciptakan pemisahan antara ide ini (Sosialisme Islam) dengan Sosialisme ala kaum Marxis :
    “ Peraturan Sovyet di Rusland (Rusia-Pen), yang sudah nyata tidak sekali-kali mengindahkan kemerdekaan manusia,         dalam masa yang akhir-akhir ini kerapkali meunjukkan tabiatnya yang imperialistis, menindas segala keyakinan yang         tidak bersamaan dengan keyakinannya ; tabiat yang serupa itu bukan sekali-kali tabiat Sosialistisyang kita         harapkan. Sifat yang demikian itu tidak kurang dan tidak lebih dari sifatnya barang yang “Busuk”.......Pada zaman         sekarang, dengan hal-ihwal seperti adanya sekarang, tiadalah orang cakap membangun kerajaan secara Sosialistis         untuk kesenangan dan keselamatan umum, sebagai yang dulu sudah didirikan oleh Khalifah Islam Sayyidina Umar R.D.A         Satu kerajaan (Staat) secara Sosialistis Islam yang demikian ini tiadalah orang dapat mendirikannya, kalau segenap     pergaulan hidup bersama lebih dulu dibersihkan dan dimajukannya cita-cita keadaban dan kesopanan, sedang cita-cita     politik, sosial, moral, industri, ekonomi, semuanya harus berasal perikeutamaan belaka(Tjokroaminoto, 1954:82-83)         .”

    Umar bin Khattab yang dijadikan model ideal itu memang amat tepat dalam membentuk asumsi awal tentang Sosialisme Islam yang sebenarnya. Khalifah ke-3 umat Islam ini telah membuktikan pemerintahan yang adil, jujur, dan tegas bersamaan dalam kepribadian yang bersahaja dan merakyat. Ia tidak memimpin sebuah negara yang berbentuk republik seperti masa kini namun belum tentu politisi masa kini bisa menirunya.

    Salah satu riwayat menceritakan bagaimana Umar pernah menerima seorang rakyat Mesir yang melaporkan tentang tindakan kekerasan yang dilakukan oleh putra Gubernur Mesir. Orang itu mendapatkan cambukan dari putra sang Gubernur tanpa alasan yang jelas saat menunggang kuda. Karena takut akan tersiar kabar ke khalayak luas, Gubernur Mesir malah memenjarakan orang itu. Mendengar kisah itu, dengan kebijakan Umar, ia meminta Sang Gubernur dan putranya untuk datang di waktu musim Haji. Pada saatnya tiba, Sang Gubernur dan putranya dibawa ke khalayak umum. Umar memanggil rakyat kecil itu dan memperbolehkan ia untuk membalas cambukan putra Gubernur dan ayahnya. Umar menganggap bahwa sang Gubernur telah melakukan dua kedzaliman yaitu menutupi kesalahan anaknya dan menimpakan kesusahan pada orang lain karena kesalahan anaknya sendiri. Sang rakyat kecil itu membalas cambukan pada putra Gubernur namun tidak mencambuk Gubernur, karena baginya sudah cukup untuk membalas orang yang menyakitinya. Inilah keteladanan yang di dalamnya ada semangat Sosialistis itu tadi. Kini setelah beberapa abad setelah itu, di sebuah negara berbentuk republik : Indonesia, masih saja ada ketidakadilan seperti yang dialami oleh seorang anak bernama Dayan Ahmadi pada tahun 2014 ini. Dayan yang masih duduk di kelas 1 SD itu harus kehilangan pengelihatannya (mata kanan) karena Bullying oleh kakak kelasnya. Dalam pengakuan yang diberikan oleh sang paman, keluarga Dayan yang sempat melapor pada kepolisian setempat malah ditolak dengan alasan yang sulit dan khas birokrasi njlimet.   Refleksi ini perlu direnungkan dengan pemikiran yang bersih.

    Cokroaminoto dalam pendapatnya itu juga yakin bahwa tidak ada yang mampu mendirikan sebuah kepemimpinan ala Umar itu tanpa “dimajukannya cita-cita keadaban dan kesopanan. Di dalam sejarah tercatat bahwa kebangkitan komunisme pada masa Perang Sipil Rusia, telah menewaskan banyak agamawan terutama yang berasal dari Gereja Ortodoks Rusia yang disertai dengan penistaan Gereja – sekalipun kemudian tidak diakui secara resmi oleh pihak militer Tentara Merah Bolshevik (Komunis).

2.Semangat Universal Melawan Penindasan di Berbagai Bidang

    Setelah mengetahui bagaimana Sosialisme Islam memiliki akar pemikiran dan telah direfeleksikan secara empiris, kita bisa melihat bahwa tujuan dari polanya adalah untuk menentang penindasan secara universal. Kini ada sebuah contoh dari hasil pemikiran tokoh Komunis Indonesia yang ternyata malah sangat mendukung pemikiran Sosialisme Islam sekalipun ia tidak pernah mengungkapkannya. Dialah Tan Malaka, seorang pengikut Komunis beraliran Troskis. Tan Malaka dengan amat jelas menyindir kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang menganggap bahwa di tanah jajahan (Hindia) tidak perlu diusahakan berdirinya sebuah Universitas. Pemerinah Belanda menganggap bahwa pendirian Universitas belum tentu bisa menjamin tersedianya “Buruh Terpelajar” (Pegawai Murah Pribumi). Ini diungkapkannya dalam buku Aksi Massa yang ditulis pada 1926.
Dengan memperhitungkan anggaran pendidikan perguruan-perguruan / sekolah di Hindia Belanda pada tahun 1919, didapatkan data bahwa pemerintah kolonial menyediakan f 12,5 juta untuk 55 juta anak-anak pribumi Hindia Belanda, sedangkan untuk tahun 1923 dianggarkan sekitar f 34.452.000. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata untuk setiap anak pribumi dikeluarkan dana sekitar f 30 sen, sama artinya 1/7 dari dana perseorang anak di Filipina (dalam perbandingan). Ia menambahkan dalam kajiannya tentang fakta sosial yang berhubungan dengan tindakan Tiranik dari imperialisme Belanda yang kapitalistis :
    “ Selain dari proses pengeringan (eksploitasi – Pen) ini, pertentangan sosial dipertajam oleh perbedaan bangsa dan     apa saja yang bersangkutan dengan hal itu. Kaum kapitalis berbahasa lain dari rakyat (jajahan-Pen) dan pemerintah         bukan pemerintah rakyat. Kaum kapitalis dan pemerintah memeluk agama lin, mempunyai kesusilaan dan kebiasaan lain,     serta ideologinya berbeda dengan rakyat....Oleh karena itulah bangsa Belanda yang katanya “sopan” kerap kali         mengeluarkan kata-kata yang kotor terhadap bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia tidak akan menyukai pemerintah         Belanda. Sebagaimana Filipina yang tak langsung merasakan kekuasaan Gubernur Jenderal Amerika dan boleh dikatakan         tidak mendapat kesusahan dari pembesar-pembesar Amerika, masih saja terus mereka menuntut kemerdekaannya,             demikianlah juga bangsa Indonesia selatan akan tetap menagih kemerdekaan yang mutlak dan seluas-luasny    (Malaka,2013: 60-61).”

    Pendapat dari Tan Malaka itu juga diperkuat oleh Prof. Dr. S. Nasution, M.A., dalam bukunya yaitu Sejarah Pendidikan Indonesia. Ia menuliskan :
    “ Kesempatan belajar bagi anak Indonesiatidak sebaik anak bangsa lain. Pada 1930 anak Belanda mendapat             kesempatanseratus kali lebih baik untuk memasuki sekolah tinkat M.U.L.O., seribu kali banyak harapan memasuki             sekolah tingkat menengah atas dibanding dengan anak Indonesia. Anak Cina juga diberi kesempatan yang lebih             menguntungkan yakni 15 kali lebih benyak harapan memasuki sekolah rendah berbahasa Belanda, 10 kali lebih besar         harapan belajar di M.U.L.O. dan 35 kali lebih banyak kesempatan dterima di sekolah tinggi menengah atas daripada         anak Indonesia.”

    Memang seharusnya Sosialisme pastinya juga menjelaskan tentang perjuangan rakyat, maka hal-hal yang berkaitan dengannya juga akan mengikuti arah langkah yang mana perjuangan itu akan ditujukan,  salah satunya ialah tentang pendidikan. Tidaklah selalu hal ini harus sebatas masalah kelas sosial dan masalah kapital. Nasution juga menyebutkan tentang keterbatasan tujuan sekolah pribumi  dimana peranan sekolah untuk menghasilkan pegawai sebagai faktor penting.  Bukan untuk melakukan pencerdasan pada putra-putri pribumi, inilah yang benar-benar disebut sebagai pengeringanoleh pemerintah kolonial.

    Tan Malaka dalam tulisannya itu bahkan mengkaji masalah agama - sekalipun tidak mengkaji pada masalah tatanan iman – sebagai bagian dari konstruksi sosial masa itu. Di sisi lain, Nasution memperkuat pandangan Tan Malaka tentang bagaimana keadilan yang Sosialistis itu tidak akan mencederai seseorang karena kelas, ras, dan budayanya.Pada akhirnya dapat  disimpulkan sejauh ini, bahwa Sosialisme Islam akan menetapkan laju resistensi terhadap penindasan yang Tiranik dalam bentuk apapun. Kisah Musa yang telah dipaparkan sebalumnya juga memiliki aspek mengenai identitas keimanan, kebangsaan (Israil), dan kemerdekaan.

Comments