Sosialisme Islam : Semangat Universal Emansipatoris Melawan Penindasan (Bagian III / Tamat)

1.Sosialisme Pembenah Prototipe

    Dimensi Sosialisme Islam tidak hanya berhenti pada masalah penjajahan, pendidikan, atau sosial saja. Dalam konteks bernegara pun, Sosialisme Islam yang emansipatoris, seperti salah satunya dalam kajian Avram Abrahamian, juga dipakai oleh Ayatollah Ruhullah Khomeini sebagai pemimpin besar Revolusi Islam Iran pada 1979 yang telah menumbangkan Tirani Sekuler Syah Muhammad Reza dari dinasti Pahlevi. Pemikiran Khomeini mengonsepkan tentang masyarakat yang dibangun dalam dua kelas (Arab : Thabaqat, Persia : Tabageh) yaitu Penindas (Mustakbirin) dan Yang Ditindas (Mustadh’afin). Terminologi Mustakbirin identik dengan kelas atas (Persia : Tabageh E-Bala) yang meliputi penindas, pengeksploitasi, feodalis, kapitalis, para penghuni istana, koruptor, penikmat kemewahan, dan elit yang bermegah-magahan. Mustakbirin memiliki kecenderungan Syaitani (bersifat seperti Setan), ketidakadilan, tiranik, melanggar dan melawan ajaran Nabi Muhammad Saw. Dalam konteks Revolusi Iran, Mustakbirin adalah para pendukung Dinasti Pahlevi dan imperialisme Amerika Serikat. Sedangkan Mustadh’afin adalah kaum lemah, yang kelaparan, miskin, pengangguran, tak berpendidikan, tuna karya, dan tuna wisma, namun golongan ini mendukung perjuangan Islam, mengikuti jejak langkah Nabi, dan rela mati demi Revolusi Islam. Ini adalah konsep pemikiran Khomeini yang disebut sebagai “Dikotomis Antagonistik”.  Konsep tersebut ditujukan untuk mengusung nilai moral yang tinggi dalam merubah bentuk Tirani yang sangat korup dan despotik. Islam sebagai substansi utama yang tertinggi akan mengarahkan Revolusi kepada arah tujuan yang jelas dan transendensial. Akhlaqul Karimah merupakan batas-batas yang jelas dalam menggulirkan sebuah Revolusi. Terbukti, setelah Revolusi 1979, Iran disamping terkenal oleh perlawanannya pada dominasi negara-negara Barat juga dikenal amat maju dalam bidang IPTEK dan kesenian khas Islam.

    Sebagai penyeimbang, Revolusi komunis di Tiongkok adalah salah satu contoh pergolakan yang di dalamnya  terdapat Sosialisme sebagai salah satu komponen utama yang berkonflik. Revolusi ini termasuk sebuah ikon yang memperlihatkan bahwa apa yang ada dalam tatanan konsep sering tidak bersesuaian dengan tatanan riil. Pasalnya, korban yang jatuh bukan saja dari pihak oponen yaitu pendukung kaum nasionalis (Kuomintang), tapi juga dari para pendukung-pendukung komunis sesaat setelah kemenangan melawan Kuomintang. Periode kelam ini disebut sebagai masa “Revolusi Kebudayaan” (1966-1976) yang diawali oleh konflik internal Partai Komunis Tiongkok (PKT) di tingkat pusat antara Mao Zedong dengan Liu Shaoqi. Beijing kemudian mengutus Hong Weibing (Pengawal Merah) ke desa-desa untuk menghapuskan kebudayaan lama, seperti memilki buku-buku pengetahuan dari barat dan menjalankan keyakinan relijius. Hong Weibing pada tindakan selanjutnya sangat aktif dalam “mencari kambing hitam” (orang-orang kontra revolusi) dan ternyata memiliki tugas rahasia dari pemimpin tertinggi di Beijing yaitu Mao Zedong untuk mencari simpatisan Liu Shaoqi. Membersihkan aparat-aparat PKT di daerah yang mendukung Liu Shaoqi dianggap bagian terpenting dalam menjaga revolusi. Masa itu tidak ada lagi buku pelajaran yang diperbolehkan kecuali buku kecil merah berisi “kalimat mutiara” Mao Zedong yang berjudul Hong Baoshu (Buku Merah yang Sangat Berharga). Kejadian ini amat mengacaukan Tiongkok. Pengaruh dari propaganda Hong Weibing menjadikan anak-anak tidak lagi menghormati Orang Tuanya, pelecehan pada profesional (pejabat desa dan guru), dan akhirnya membawa sebuah masalah baru yaitu perpecahan di tubuh Hong Weibing sendiri tentang siapa yang paling loyal pada Mao Zedong. Dengan semangat menggebu, Hong Weibing menghancurkan hampir semua Gereja, Masjid, Kelenteng, Vihara dan tempat-tempat ibadah lainnya yang dianggap sebagai halangan utama dalam Revolusi. Kekacauan baru reda  setelah wafatnya Mao pada 9 September 1976.
 
2.Sosialisme yang Meluruskan Miskonsepsi

Isu hukum Islam sering menjadi sebuah kontroversi yang marak bahkan di tengah umat Islam sendiri. Pandangan tentang kekejaman yang tak kenal welas asih adalah hal yang cukup lumrah saat ini saat menjelaskan tentang apa itu Islam. Dengan mengetahui substansi Sosialisme dalam Islam ini sebenarnya diketahui bahwa untuk menegakkan hukum Islam sendiri diperlukan keadilan yang Sosialistis harus dipenuhi. Tidak akan boleh ada “pengrusakan” atas nama keadilan. Allah berfirman, ”....dan janganlah kamu melakukan kerusakan setelah Allah memperbaikinya”.   Ayatollah Muhammad Shirazi, seorang Mujtahid Islam Iraq menjelaskan tentang hal ini :

“...Aturan Islam hanya bisa ditegakkan bila semua kebebasan telah ada bagi segenap masyarakat, dan semua memiliki kemampuan untuk memperoleh apa yang ia inginkan dalam bidang pengetahuan, kekayaan, posisi, dan sebagainya, untuk mencapai kehidupan yang sejahtera dan mulia, atas dasar kemampuan dan keahliannya.... Jika kondisinya – baik secara politik, sosial, dan ekonomi – tidak Islami, dan orang tidak mampu memperoleh pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang wajar, adilkah bila ia dijatuhi hukum potong tangan karena tindakan mencuri, sementara ia sendiri tidak bisa mencukupi kebutuhan wajarnya ? Bila seseorang tidak bisa memperoleh uang untuk menikah, adilkah bila ia dicambuk karena melakukan perzinaan ?.“ 

    Senada dengan pendapat Ayatollah Shirazi, Drs. Hafidz Abdurrahman, M.A., juga sependapat tentang masalah posisi keadilan Sosial di hadapan hukum Islam :
“...Misalnya, parapenguasa yang merampok kekayaan publik, kemudian pada saat yang sama ia memotong tangan pencuri, maka hukum potong tangan seperti ini tidak bisa disebut adil. Begitu juga ketika para penguasa membolehkan adanya partai-partai yang menyerukan ibadah dan menerbitkan buku-buku tsaqafah Islam, tetapi pada saat yang sama mereka tidak mebolehkan adanya partai-partai politik Islam. Tentu saja kebijakan seperti ini tidak bisa dianggap adil... Jadi keadilan bisa hadir bertahap di suatu tempat, tetapi substansi dan hukum-hukumnya tidak mungkin diterapkan secara bertahap.”

    Dalam sebuah kudeta yang dilancarkan oleh Militer dalam menggulingkan Perdana Menteri Iran pada 1954, tersebutlah sosok Jenderal Komunis, Fazlollah Zahedi yang didukung oleh CIA dan Inggris. Ia kemudian mempropagandakan sogan “Hancur bersama Allah, Bangkit bersama Komunisme” melalui pamflet-pamflet.   Ia tidak berhasil memaknai keadilan Allah dalam Islam yang telah melampaui paham komunisme.

    Keadilan harus diciptakan dengan pendalaman kontekstual dan tekstual. Revolusi Budaya di Cina dan Revolusi Bolshevik Rusia terbukti lebih banyak menghancurkan sendi-sendi kehidupan. Islam menenkankan pendekatan kontekstual-sosial-relijius yang mewujudkan emansipasi bukan distorsi. Inilah Sosialisme Islam.

Daftar Pustaka :

Abdurrahman, Hafidz, Khilafah Islam : Dalam Hadits Mutawattir bi Al-Ma’na, Bogor : Al-Azhar Press, 2003.

Al-Shirazi, Imam Muhammad, Islam Melindungi Hak-Hak Tahanan, Terj. Taufiqurrahman, Jakarta : Pustaka Zahra, 2004.

Brohi, A.K., “Konsepsi Sosialisme Islam” dalam Johim L. Esposito (Ed.), Donohue, John J., Islam dan Pembaruan Masalah-Masalah, Jakarta : CV Rajawali, 1984.

Djojoprayitno, Sudyono, P. K. I. Sibar contra Tan Malaka: pemberontakan 1926 & kambing hitam Tan Malaka, Jajasan Masa : 1926.

Fauziana, Diyah Rahma, Izzudin Irsam Mujib, Khomeini dan Revolusi Iran , Yogyakarta : Narasi, 2009.

Froese, Paul, “ Forced Secularization in Sovyet : Why an Atheistic Monopoly Failed”, dalam Jurnal For the Scientific Study of Religion, Vol. 43 No.1 (Mar., 2004).

Gondomono, Manusia dan Kebudayaan Han, Jakarta : Kompas, 2013.

Hegel, G.W.F., Filsafat Sejarah G.W.F. Hegel, Terj. Cuk Anan Wijaya, Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 2001.

http://filsafat.kompasiana.com/2009/11/09/teladan-egaliter-islam-23437.html (diakses 30/11/2014 19:22 WIB)

Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban, Jakarta : Paramadina, 1998.

Malaka, Tan, Aksi Massa , Jogjakarta : Narasi, 2013.

Marx, Karl,Kapital Sebuah Kritik Ekonomi Politik : Buku III, Proses Produksi Kapitalis Secara Menyeluruh, Terj. Oey Hay Djoen, Jakarta : Hasta Mitra Ultimus – Institute for Global Justice, 2007.

Nasihin, Sarekat Islam Mencari Ideologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2012.

Nasution, S., Sejarah Pendidikan Indonesia, Jakarta : Bumi Aksara, 2011.
ProgramHitam-Putih, Trans7, 26 Februari 2014.

Suseno, Franz Magnis, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Jakarta : Gramedia, 2005.

Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme, Jakarta : Bulan Bintang, 1954.

Comments