Sunday, May 31, 2015

Tanah-Orang Madura : Mengingat Kembali Peran Pulau Madura dan Masyarakatnya dalam Sejarah Nusantara

    Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang besar dan memiliki keragaman etnis beserta coraknya masing-masing. Dari Pulau Sumatera “Svarnadvipa”, Pulau Jawa yang menjadi pusat pemerintahan, Pulau Bali dengan pariwisatanya, Nusa Tenggara Barat dan Timur yang indah, Papua yang eksotis, Kepulauan Maluku yang heterogen, Pulau Sulawesi yang kental akan adatnya, dan Kalimantan yang sangat kaya. Etnis-etnis pun sangat beragam yang menyebar di wilayah-wilayah itu, mulsi dari Melayu, Batak, Jawa, Sunda, Osing, Bali, Sasak, Timor, Papua, Dayak dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan semuanya. Salah satu yang unik adalah Madura, sebuah nama bagi pulau ; Pulau Madura dan juga etnis ; Suku Madura. Suku Madura lebih sering menyebut diri mereka sebagai Oreng Madhură (terdengar seperti : Madureh) yang artinya Orang Madura. Beberapa etnis lainnya menyebut dirinya seperti Urang Awak (Suku Minang), atau Wong Kito Galo (Palembang), tapi orang Madura menyebutkan daerah asalnya, Pulau Madura, dalam menyebutkan identitas etnisnya. Ini memiliki arti bahwa masyarakat Madura mempunyai “rasa memiliki” pada daerah asalnya. Apa yang melatarbelakangi hal ini sebenarnya adalah nilai strategis Madura dan masyarakat di dalamnya yang ternyata dalam sejarah Nusantara (sebelum adanya konsep Indonesia), telah terbukti peranannya dibutuhkan oleh pihak diluar identitas Madura.

    Sejarawan Belanda, Dr. H. Kern berpendapat bahwa dahulu Pulau Madura merupakan sebuah wilayah yang bersatu dengan Pulau Jawa apabila didasarkan Kitab Negarakertagama, yang ditulis pada 1365 M oleh Mpu Prapanca. Kemudian terjadilah sebuah letusan gunung berapi disertai gempa yang menciptakan Selat Madura saat ini, sayangnya tidak disebutkan tahun kejadiannya dengan jelas. Zainalfatah menyebut kejadian itu terjadi pada 929 M di Jawa terjadi letusan gunung berapi. Nampaknya Zainalfatah merujuk pada kejadian perpindahan ibukota Mataram Kuno pada 929 M akibat letusan gunung berapi. Pendapat ini masih perlu dianalisis lagi mengingat letusan itu terjadi di daerah Jawa Tengah. Jelasnya Prof. Dr. A.G. Vreede dan R. Djojoadinegara dalam buku Handleiding tot de Beofening Van De Madoeresch taal, menceritakan informasi dari sebuah Lontar beraksara Arab tentang adanya (bentuk) awal pemerintahan di Pulau Madura. Dalam kisah tersebut dikatakan bahwa raja pertama di Madura adalah Raden Saghara yang merupakan anak dari Puri Bendhoro Ghung yang masih keturunan dari Jawa. Sualiman Sadik meyakini bahwa kerajaan di Jawa yang menjadi asal Raden Saghara adalah Kalingga. Sekalipun kedua tokoh ini cenderung imajinatif karena keduanya kemudian dikisahkan mengalami Moksa / menghilang secara ghaib, setidaknya sudah ada panjelasan awal mengenai pemerintahan dan asal-usul identirtas Madura.

    Dalam catatan sejarah yang lebih pasti, Pulau Madura dalam sejarahnya memang menjadi bagian tak terlepaskan dari Pulau Jawa. Madura adalah Vassal atau kerajaan bawahan dari otoritas politik Jawa. Dalam Prasasti Sang Hyang Swadharma yang dikeluarkan oleh Raja Kertanegara dari Singasari, bertanggal 31 Oktober 1269 , dikisahkan mengenai pejabat istana yang bernama Bhanyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja telah dipindahkan ke Sumenep di Madura Timur untuk menjadi seorang Adipati (Bupati) karena Raja Kertanegara merasa tidak percaya dengannya. Perlu dicatat bahwa dalam tatanan pemerintahan Singasari kala itu terdapat empat tingkatan jabatan yang lebih rendah daripada jabatan Adipati yaitu Pati(h), Demang, Tumenggung , dan Rangga. Peran Arya Wiraraja sangatlah besar dalam mengarsiteki pembentukan Kerajaan Majapahit. Dari sarannya kemudian Raden Wijaya mampu mendapat izin Jayakatwang yang telah membunuh Kertanegara mertua Raden Wijaya, untuk membuka hutan Trik (Tarik) sebagai cikal-bakal Kerajaan yang akan menjadi Imperium di Nusantara itu. Kitab Pararaton menceritakan waktu itu orang Madura-lah yang membabat / membuka alas (Duk makitinaruka dening Madura) dan menandai awal penemuan nama “Majapahit” (Kasub yan wonten wohing Maja dahat apahit rasanipun singgih ka ingaran ing Majapahit). Hutan Tarik pun menjadi sebuah tempat bernama Majapahit yang mulai ramai, Raden Wijaya kemudian membangun keraton. Arya Wiraraja adalah inisiator yang membawa orang Madura untuk mendirikan Majapahit yang kelak akan besar namanya. Orang-orang Madura ini tidak langsung kembali setelah membuka Hutan Tarik, namun mereka tinggal untuk dilatih perang oleh Raden Wijaya. Jadi, cikal-bakal angkatan perang Majapahit awalnya diisi oleh jajaran orang Madura. Peran orang Madura juga sangat dibutuhkan tatkala melakukan penyebuan terhadap Jayakatwang dan pengusiran tentara Mongol. Kitab Pararaton menceritakan rasa hutang budi yang amat besar dalam diri Raden Wijaya sehingga ia berjani untuk membagi tanah Jawa menjadi dua dan separuhnya untuk Arya Wiraraja.

    Setelah melihat peran besar orang Madura dalam meletakkan batu pendirian Kerajaan Majapahit yang masyhur, ternyata masih ada beberapa peran besar lagi yang patut dicatatkan dalam sejarah. Seperti contohnya ialah di masa-masa awal Islam, Madura adalah sebuah wilayah yang memiliki kerajaan-kerajaan semi-independen dibawah pengaruh Demak. Seperti saat Pamekasan yang dipimpin oleh Ronggosukowati di masa pemerintahannya, Pamekasan harus menghadapi invasi Kerajaan Bali. Invasi ini dipercayai karena Madura pernah membantu Demak saat menyerbu Kerajaan Blambangan Hindu yang dianggap oleh pihak Bali sebagai nenek moyangnya. Disamping itu kita mendapatkan pertanyaan yang lebih besar lagi, mengapa Bali tidak langsung menyerbu Jawa / Demak apabila ditilik dari kedekatan geografis keduanya (antara wilayah ujung Jawa di Blambangan dengan Bali). Nampaknya Kerajaan Bali menilai Madura sebagai sebuah Entrepot penting sebelum menguasai wilayah-wilayah lainnya di pesisir Jawa. Menurut A. Sulaiman Sadik, penyerbuan Bali juga terjadi di seluruh wilayah lainnya di Madura. Di Pamekasan, pasukan Bali sempat menyerbu kedalam wilayah kota Pamekasan melalui aliran dari muara sungai. Tempat dimana pasukan Bali itu menambatkan (bahasa Madura : Acangcang) Jung-Jung (kapal) nya itu kini disebut sebagai Desa Jhungcangcang. Pasukan Bali langsung disambut oleh balatentara Pamekasan. Kemenangan pun berpihak pada kerajaan Pamekasan, sisa-sisa pasukan Bali melarikan diri dan selebihnya dan yang meminta penghidupan kepada masyarakat sekitar. Hingga kini masih ada keturunan pasukan Bali yang hidup di kawasan Jhungcangcang. Dengan kegagalan invasi Bali di Madura, bahkan kekalahan serupa juga terjadi di Sumenep (dikenal sebagai Perang Ghirpapas), menunjukkan peran Pulau Madura sebagai daerah penyangga bagi geopolitik dalam hal ini adalah Jawa.

    Selanjutnya pada abad ke-17, tepatnya pada 27 April 1624, Daghregister (catatan harian) yang ditulis oleh Juru  Tulis VOC mengabarkan bahwa Cornelis Van Maseyck mendengar kabar dari Demak tentang rencana Mataram yang akan menyerang Surabaya. Pada periode ini angin politik telah menjadikan Mataram Islam mulai menggantikan kekuasaan Pajang dan Demak. Sultan Agung Hanyorokusumo yang memerintah Mataram saat itu tengah menyiapkan sebuah kesultanan besar namun ia menghadapi kenyataan bahwa ia harus menaklukkan daerah-daerah pesisir yang saat itu memiliki kedaulatan. Di Madura-salah satu wilayah yang diincar Mataram- terdapat beberapa kerajaan seperti Arosbaya, Blega, Madhegghan, Pacangan, Pamekasan, dan Sumenep. Kerajaan-kerajaan Madura dipimpin oleh keturunan-keturunan Majapahit, contohnya ialah Ronnggosukowati sebagai keturunan dari Raja Wikramawardhana.

     Di masa Majapahit mereka disebut sebagai Kametowa (Raja Muda), namun setelah runtuhnya Majapahit dan di bawah pengaruh Demak, para penguasa Madura disebut Rato (Raja). Mataram yang merasa sebagai negeri “pengganti” atas kejayaan Majapahit, atas dasar pergantian politik dari Majapahit-Demak-Pajang hingga kekuasaan jatuh ke tangan Sutowijoyo- nenek moyang Sultan Agung. Mataram tidak mengakui kedaulatan wilayah pesisir, termasuk di Madura. Dalam Serat Kondho disebutkan gelar bagi para penguasa Madura sebagai Adipati. Gelar ini terakhir kali disandang oleh penguasa Madura pada masa Singasari. Dalam Daghregister  dilaporkan bahwa perang antara Madura dan Mataram dimulai, dengan pendaratan pasukan Mataram, pada 1 Juli 1624. Menurut surat Tumenggung Baurekso di Kendal, Mataram merasa optimis dalam perang ini. Tentara Madura sendiri kala itu berada di bawah komando persatuan Pangeran Emmas yang menjadi Rato di Arosbaya.. Sebanyak 2000 prajurit Madura yang awalnya sudah kocar-kacir, dengan gagah berani kembali menyerbu pasukan Mataram sebagaimana disebutkan dalam Daghregister tertanggal 22 Agustus. Sebanyak 17 pembesar pasukan Mataram terbunuh, termasuk Adipati Sujanapura, seorang panglima Mataram. Tewasnya Sujanapura ditanggapi dengan pengiriman panglima Mataram lainnya, Panglima Juru Kiting yang terkenal itu.

    Kesultanan Mataram sebenarnya harus menebus kemenangannya dengan begitu mahal. Dalam persiapan awal penyerbuan Madura, Daghregister tanggal 1 Mei menyebutkan bahwa Kadipaten Kendal ditugaskan untuk mengirim semua laki-laki guna dilatih sebagai prajurit Mataram. Adipati Pragola yang memimpin Kadipaten Pati juga mendapatkan tugas yang sama dari Sultan. Untungnya Juru Kiting yang terkenal sakti itu mampu membawakan kemenangan kepada Mataram. Arosbaya yang pertama kali ditaklukkan setelah dengan kuatnya dipertahankan oleh Pangeran Emmas. Penguasa Arosbaya itu akhirnya melarikan diri ke Kediri. Penguasa Blega yang menyerah akhirnya ditangkap namun kemudian dibunuh di tengah jalan saat digiring ke Mataram, tepatnya di sebuah tempat yang bernama Jurang Jerro. Raden Praseno dari Sampang kemudian menyerah yang kelak dijadikan wakil Mataram sebagai Cakranengrat I. Berdasarkan Daghregister 15 September  dikabarkan bahwa Sultan Agung harus mengerahkan 80.000 prajurit yang diangkut oleh kapal-kapal, bahkan Mataram sampai kehabisan kapal untuk membawa komoditi beras ke Batavia. Kejadian ini terlihat dalam Daghregister tanggal 12 Oktober yang meyebutkan bahwa dua kerajaan yang paling sulit dikuasai adalah Pamekasan dan Sumenep. Penyerbuan ke wilayah Madura Timur memeang tidak disebutkan dalam Serat Kondho dan Babad Mataram. Sekalipun sedemikian memang dua sumber Mataram ini memang masih harus dipertanyakan otentisitas dan objektifitasnya. Sebagai contoh ialah dalam Serat Kondho disebutkan jumlah pasukan Madura sebanyak 100.000 , padahal dalam Daghregister tertanggal 22 Agustus, pasukan Madura yang kocar-kacir sebanyak 2000 orang, dengan kemungkinan jumlah awal prajurit Madura sekitar 10.000-25.000 orang. Hal tersebut (jumlah 100.000 orang), sangat tidak mungkin mengingat Madura bukanlah kesultanan besar seperti Mataram. Werdisastro dalam Bhabhad Songennep  memperkirakan perang terakhir invasi Mataram terjadi di Madura Timur. Zainalfatah juga meyakini bahwa Pamekasan yang menolak menyerah pada Mataram akhirnya dibawah Ronggosukowati memilih Perang Puputan bersama seluruh punggawa Istana karena kekuatan yang tidak sebanding dengan Mataram.

    Rangkaian sejarah yang telah diuraikan di atas bukanlah sebuah wacana untuk mengungkit kembali tentang apa yang telah terjadi, terutama tentang perang Mataram-Madura yang bisa dibilang cukup menyakitkan. Tapi yang perlu diteladani atau minimal diusahakan adalah bagaimana caranya bisa membuat sejarah masa lalu sebagai “Masa Depan”-sesuai dengan motto Historia Vitae Magistra (Sejarah menciptakan kebijaksanaan)-. Dalam masa-masa berikutnya, saat itu di Hindia Belanda, semua mata menjadi saksi bagaimana Thabrani, seorang putra Pamekasan yang menjadi pelopor Sumpah Pemuda. Di zaman revolusi pun sejarah telah melihat putra Madura lainnya, Marsda Anumerta Abdul Halim Perdana Kusuma, terlahir di Sampang, ia gugur saat ditugaskan untuk membeli persenjataan dari Thailand. Bersama rekannya, Marsma Iswahyudi ia membela NKRI di front Sumatera. Dalam bangkai pesawat jenisi Anderson yang ditemukan, hanya jasadnya yang ada, sedangkan Iswahyudi sendiri tidak diketahui kemana rimbanya. Ataupun seperti Wardiman, putra Pamekasan yang mampu membina karir hingga ke tingkat Menteri Pendidikan masa Orde Baru.

Sumber

Hadiwidjojo, R. Sunarto, Pamong Praja dan Sewindu Pembangunan Desa 1950-1960, Pamekasan : t.p., 1959.

Kasdi, Amiruddin, Memahami Sejarah, Surabaya : UNESA University Press, 2001.

Majalah Arkeologi edisi VII, 1989

Sadik, A. Sulaiman, Sangkolan, Pamekasan : Dinas P dan K Kabupaten Pamekasan, 2006.

Werdisastro, R., Babad Songennep, Sumenep :t.p., 1914.

www.lontarmadura.com diakses 14/April/2014

www.tokohindonesia.com  diakses 26/April/2014

Zainalfatah, R., Cara Pamarentaan e Polo Madhura ban Lo-Polo Sakobangnga, Pamekasan : t.p., 1951.

Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah.