Bangsa Barbar : Keterkaitan Xiongnu-Hun-Manchu

Xiongnu-Hun-Manchu



1.Pendahuluan

    Menemukan kisah Attila Pemimpin Bangsa Hun akan selalu dipenuhi oleh kisah-kisah “Horor” penyerbuan bangsa nomaden kepada wilayah yang cenderung telah mapan perdabannya. Kisah Attila ini, terkecuali bagi bangsa Hongaria yang menghormatinya, tak jauh beda dengan Jengiz Khan. Penyatuan suku-suku Nomaden di bawah Temujin, telah membawanya menjadi seorang Jengiz Khan. Hulagu Khan, penerus Jengiz Khan itu akan terus dikenang sebagai seorang penakluk yang masyhur sekaligus perampok yang beringas : Khilafah Abbasiyah yang dikenal sebagai pemerintahan Islam di zaman keemasan harus tunduk pada serbuan bangsa yang tidak lebih tinggi intelektual dan tekhniknya itu. Sejarah Nusantara juga mencatat sebuah invasi dari keturunan Jengiz Khan yang bernama Kubilai Khan, kisah ini mengawali kebangkitan Majapahit sebagai kerajaan dengan hegemoni yang cukup luas di kawasan kepulauan. Dalam penulisan ini tidak akan berpanjang lebar penjelasan mengenai kerusakan dan teror, arah penekanan adalah kepada relasi Xiongnu, Hun, dan Manchu yang memiliki beberapa keterkaitan yang menarik.

2.Bangsa Xiongnu Bukan “Negeri yang Ada di Tengah”
   
     Xiongnu adalah suku pertama yang membangun sebuah kekaisaran di luar perbatasan wilayah Asia Tengah dengan China, suku pertama yang mengeksploitasi cara hidup yang lebih luas yang relatif baru dalam sejarah umat manusia. Bangsa ini mulanya hidup di wilayah utara Sungai Kuning yang amat memesona, di daerah yang sekarang dikenal sebagai Ordos, di wilayah provinsi Mongolia Dalam, China. Mereka mungkin saja tak lebih daripada satu dari sekian banyak kekaisaran barbar yang menyusahkan dan keberadaannya tidak lama, yang berkembang di wilayah Asia Dalam, seandainya saja tak ada seorang yang kejam dan ganjil, sosok “proto-Attila”, yang bernama Motun (juga dieja Modun, orang-orang Mao-dun), yang kemunculannya pada 209 SM dicatat oleh sejarawan besar pertama China, Ssu-ma Chi’en. Motun diserahkan sebagai sandera untuk suku tetangga oleh ayahnya, Tumen (sebuah nama, yang kebetulan dalam bahasa Mongolia berarti “sepuluh ribu”, dalam sebuah unit khusus terdiri dari 10.000 prajurit : tampaknya orang Xiongnu menggunakan bahasa proto-Turkik yang serupa, sebelum sebelum kedua bahasa itu mulai berkembang secara terpisah). Ssu-ma Chi’en yang menulis catatan pada abad berikutnya, menceritakan kisah selanjutnya, yang menyimpang dari gayanya yang biasanya bersemangat, serius, dan menarik ; mungkin dengan beberapa epik dasar orang Xiongnu yang dinyanyikan para penyair untuk menjelaskan perkembangan kaum mereka. Tumen mendukung ahli waris takhta lain dan berharap Motun meninggal. Oleh karena itu ia menyerang suku tetangga tersebut, berharap Motun akan tewas terbunuh. Namun Motun melakukan penyelamatan diri yang dramatis, mencuri seekor kuda dan memacunya dengan kencang kembali ke ayahnya, yang menyambut kedatangannya dengan senyum pura-pura dan memberikan kepadanya pasukan, disesuaikan dengan statusnya. Ini kesempatan Motun melakukan balas dendam kepada ayahnya.

      Berencana membuat semua prajuritnya prajuritnya merasa bersalah karena membunuh raja, Motun melatih mereka untuk sepenuhnya patuh kepada dirinya. “Tembak ke manapun panahku mengarah !” perintahnya. “Siapa saja yang gagal melepaskan tembakan, akan dibunuh !” Kemudian ia membawa pasukannya berburu. Setiap binatang yang ia bidik menjadi sasaran pasukannya. Kemudian Motun membidik salah satu kuda terbaiknya. Kuda itu pun mati dalam hujan anak panah ; tetapi sebagian pasukannya ragu, dan kemudian dibunuh. Selanjutnya ia membidik istri kesayangannya. Dan perempuan itu pun tewas, begitu juga dengan pasukannya yang bimbang. Kemudian Motun membidik kuda terbaik milik ayahnya. Sekarang Motun tahu semua pasukannya bisa dipercaya. Akhirnya dalam sebuah ekspedisi perburuan ia menembakkan panahnya ke arah ayahnya dan setiap pengikutnya mengarahkan anak panah mereka ke arah yang sama dan menembak mati pemimpin suku itu, memenuhi tubuhnya dengan anak panah sehingga tidak ada ruang yang tersisa. Akhirnya saat itu Xiongnu memiliki pangkalan yang solid untuk membangun kekaisaran di padang rumput luas yang membentang 1000 kilometer ke arah utara Danau Baikal dan hampir 4000 kilometer ke arah barat menuju Laut Aral .

       Kemudian berdirilah kekuasaan bangsa barbar ini dengan Ivolga (terletak di bagian barat daya Ulan Ude) sebagai kotanya dengan perbentengan yang baik. Kerajaan ini juga mengendalikan lebih dari 30 kota-negara bertembok, elit-elit Xiongnu juga hidup dengan mewah di lembah-lembah Mongolia bagian utara dan Siberia bagian selatan, rumah-rumah rumah-rumah mereka memiliki pemanas dibawah lantai ala Romawi, dan pemerintahan sentralistik beserta perbudakan, upeti, atau sandera yang mengalir ke ibukota Motun di Ulan Bator bagian barat, tidak jauh dari ibukota peradaban Mongolia kuno beberapa abad selanjutnya; Karakorum. Birokrasi diutamakan untuk mempekerjakan para pejabat yang bisa menulis dalam bahasa China. Sejarawan China lainnya, Pan Ku, mencatat beberapa surat dari penguasa Xiongnu itu, yang salah satunya Motun mengusulkan pernikahan dengan ibu kaisar Han, Lu. Dengan mengaku sebagai seorang “duda-penguasa yang kesepian” ia menyampaikan keinginannya tersebut. Lu membalas surat itu dan membertahukan bahwa dirinya telah lanjut usia, dan mungkin Motun tekah salah mendengar kabar tentang dirinya. Penguasa Xiongnu itu mengirim utusan untuk meminta maaf, tapi Xiongnu tetap dianggap kasar dan biadab. Beberapa waktu kemudian dibangunlah Tembok Besar China.  Ssu-ma Chi’en menuliskan, “(Di dalam Tembok Besar China) tinggal orang-orang yang mengenakan pakaian dan korset, sedangkan di luar (Tembok Besar) adalah orang-orang barbar “. Sebagaimana kita tahu tujuan pendirian bagunan monumental China ini adalah untuk menghalau bangsa barbar.
   
      Sejak dahulu kala, diteruskan oleh para filusuf dan sejarawan yang bekerja untuk Dinasti Han, Negara Han dibayangkan terletak di “tengah-tengah dunia” adalah negara yang paling absah serta beradab di bawah langit, sedangkan negara atau kelompok etnik lain yang tinggal di luar wilayah kekuasaan Han termasuk yang “tidak beradab.” Gagasan dan paham ini disebut “Negeri yang Ada di Tengah”. Orang Xiongnu merupakan musuh orang-orang sinitik (berbahasa Han) yang sangat kuat pada zaman Qin dan Han. Salah satu keahlian andalan bangsa Xiongnu, seperti telah dikisahkan dalam cerita Motun dan Tumen, adalah dari berkuda dan memanah. Bangsa China memikirkan sesuatu yang baik guna membina perdamaian dengan kaum yang “tidak beradab” melalui pernikahan Motun dengan seorang anggota keluarga kerajaan, menurut pandangan seorang pejabat kepada kaisar China adalah untuk menjadikan Xiongnu perlahan-lahan masuk dalam kekuasaannya. Selama 150 tahun, bangsa Xiongnu masih belum dikalahkan oleh kemewahan pemberian China ataupun dengan pemberian para putri-putrinya. Akhirnya bangsa Han bosan dengan tuntutan Xiongnu dan mulai melakukan serangkaian serangan untuk mengalahkan mereka. Sebuah kebangkitan kembali bagi nasib baik bangsa Xiongnu yang berlangsung singkat pada abad pertama Masehi, yang diakhiri dengan pemisahan wilayah utara yang independen di kawasan Mongolia dan selatan yang bergabung dengan Han. Pada tahun 87 M, satu kelompok campuran berbagai suku lainnya menangkap pemimpin Xiongnu dan mengulitinya, membawa kulitnya sebagai trofi. Begitulah akhir bangsa yang “tidak ada di tengah.” Tapi apakah kemudian mereka dapat dikatakan hilang dan hancur ? Tidakkah pastinya mereka akan bergerak untuk mencari sumber-sumber kekayaan yang baru ?

3.Penunggang Kuda-Pemanah : Indikasi Relasi Hun-Xiongnu
   
     Ada bagian pembahasan yang menarik jika mengkaji tentang bangsa Hun ini jika kita ingin melihat asal-usul kedatangannya. Dalam tinjauan kemiliteran, nama Attila (pemimpin Bangsa Hun) disetarakan dengan Jengiz Khan dan Tamerlan (Timur Lenk) yang hampir seluruh pasukannya terdiri atas prajurit berkuda.  Ammianus, seorang sejarawan Romawi menuliskan apa yang terjadi pada tahun 376 M menceritakan bagaimana kekcauan terjadi akibat “Ras manusia yang sampai saat ini tidak diketahui, muncul dari beberapa sudut dunia terpencil, menghancurkan dan merusak apa saja yang menghalangi mereka, seperti angin puyuh  yang turun dari pegunungan tinggi.” Saat itu wilayah kekaisaran Romawi dikacaukan oleh kedatangan bangsa Goth yang terdesak oleh bangsa asing. Mereka, para penyerang itu adalah pemanah berkuda yang bergerak berputar dalam perang, menunggang kuda dengan kencang, melingkar masuk melepaskan hujan anak panah sebelum berbelok menjauh menyelamatkan diri. Penyerang itu seperti terpaku pada kuda dan melekat pada sadel mereka – sehingga terlihat seperti senataurus (manusia setengah kuda) zaman kuno yang hidup kembali. Byzantium mencatatkan sebuah nama dari panglimanya, yakni Aspar dari Alan yang sempat memimpin sebuah ekspedisi melawan Attila pada 441 M.
   
       Dalam teori Joseph de Guignes, seorang Sinolog asal Prancis yang terlahir pada 1721 itu menjadi seorang penerjemah bahasa bangsa Asia di Perpustakaan Kerajaan di Paris, bahasa China adalah keahliannya. Dalam usia 29 tahun, De Guignes dipilih menjadi bagian dari kelompok Bangsawan Kerajaan di London – anggota termuda yang pernah ada, sekaligus orang asing. Ia menerima kehormatan ini dengan menunjukkan sebuah rancangan karya yang mana ia butuh lima tahun untuk mencetaknya menjadi buku, dan dua tahun tambahan untuk menyelesaikannya ; karyanya berjudul Historie generale des Huns, des Turcs des Mongol diterbitkan dalam lima seri antara tahun 1756 dan 1758. Salah satu aspek teorinya, menjadi dasar dan kemudian berkembang. Menurutnya, Attila dari suku Hun merupakan keturunan suku yang dikenal dengan sebutan “Hiong-Nu” atau Hsiung-Nu, yang mungkin sekarang dieja “Xiongnu.” Ia tidak menyajikan lagi tentang adanya kemungkinan lain tapi sangat meyakini bahwa Hun adalah Hsiung-nu. Dalam dialek Mongol, “Xiongnu” disebut “Hun-nu”, dengan pelafalan h seperti ch / kh, Khun artinya manusia. Khun kemudian menjadi Xiong yang artinya “Jahat”. –nu sendiri artinya “Budak”, sehingga secara keseluruhan artinya adalah “Budak Jahat” – menyamai kesan bangsa Hun selama ini beserta pemimpinnya, Attila.
   
      Jika kita hendak memutar kembali memori tentang bagaimana Motun melakukan pembalasan dendam dan menjebak ayahnya ke dalam maut, ada dua instrumen penting disana yakni “kuda” dan “panah.” Kisah perebutan kekuasaan suku ini menunjukkan kedekatan antara masyarakat Motun dengan kuda. Itulah alasan Motun menguji kesetiaan pasukannya dengan menjadikan kuda kesayangannya dan kuda lain yang menjadi kesayangan ayahnya sebagai target. Sebagaimana kelak juga diinsafi tentang bangsa lainnya, yakni Mongol, yang sangat mengandalkan elemen pasukan kuda dalam setiap invasinya, berasal dari kawasan yang sama dengan tempat kekusaan Xiongnu berdiri. Bukan tidak mungkin, keruntuhan kekuasaan Xiongnu telah membuat bangsa ini menyebar dan berkeliaran hingga jauh ke barat. Dalam prosesnya, mereka mengembangkan kemampuan berkuda dan kavaleri secara militer.

4.Nurhaci Penemu Aksara Manchu
   
      Berbeda dengan bangsa Hun yang masih ada dalam konteks wacana mengenai hubungannya dengan bangsa Xiongnu, suku Manchu yang kini masih bisa ditemui mencatatkan bahwa mereka termasuk keturunan bangsa Xiongnu. Dalam perspektif suku Manchu nenek moyang mereka adalah bangsa Jurchen yang termasuk ke dalam ras proto-Turki. Bersama suku-suku di China Utara lainnya, mereka adalah keturunan bangsa Xiongnu yang semenjak zaman sebelum Masehi telah emrampoki dan mengancam perbatasan utara China, sehingga kaisar Shih Huang Di, sebagaimana diatas, mendirikan Tembok Besar untuk menahan serbuan mereka.

      Suku Xiongnu terus berselisih paham dan berulang kali menyerbu wilayah China, sampai akhirnya dikalahkan oleh kaisar Wu dari Han. Mereka yang menetap di wilayah timur laut kemudian berkembag menjadi beberapa suku, diantaranya suku Tungus yang menghuni beberapa tepat di China utara sejak abad ke-3 Masehi. Ketika suku Jurchen yang berasal dari suku Tungus tersebut bermigrasi ke Manchuria yang begitu luas dan beriklim kejam, mereka terbagi menjadi tiga kelompok besar yakni :

a.Kelompok Jianzhou, adalah konfederasi dari lima suku Jurchen yang tinggal di utara sungai Yalu,yaitu suku Sungai Suksuhu, Hunehe, Wanggiya, Donggo, dan Jacen.

b.Kelompok Haixi, yang wilayahnya meliputi provinsi Jilin, Heilongjiang, Liaoning dan Mongolia Dalam, didominasi oleh suku Yahenara dan Ulanara.

c.Suku Liar, yakni suku nomaden yang mata pencahariannya adalah berburu dan menacari ikan.

      Tokoh penting dalam sejarah Manchu adalah Nurhaci (1559-1626) pada suku Sungai Suksushu yang mengklaim dirinya sebagai keturunan Mongke Temur, kepala suku Jurchen yang hidup 200 tahun sebelumnya. Di masanya, bangsa Manchu masih menyebut identitas bangsa Jurchen. Nurhaci sendiri berasal dari keluarga Aisin Gioro (Marga Emas).Dengan kekayaan dan pengaruh yang ia miliki, ia membentuk Pasukan Panji-Panji atau Pasukan Delapan Bendera. Pasukan inilah yang digunakan Nurhaci ketika masa hidupnya untuk merebut kekuasaan Ming sejak 1618-1626. Pada saat yang sama, dinasti Ming sedang mengalami penurunan akibat pertempuran melawan Jepang yang membawa kelaparan, disertai bencana alam dan menyusul pula pemberontakan petani. Pengganti Nurhaci, Huangtaiji, menamai dinastinya sebagai dinasti Qing, yang efektif memerintah seluruh China setelah membereskan semua unsur Ming yang tersisa pada 1644 M. Huangtaaiji mengganti nama Jurchen menjadi “Manchu” ; dipercaya ini berasal dari nama Budha Manjushri (Budha kebijaksanaan dan pengetahuan) yang dinisbahkan pada kepercayaan bahwa Nurhaci adalah reinkarnasi dari Budha Manjushri.

      Sebagaimana dalam klaimnya bahwa Manchu adalah keturunan Xiongnu, ada sedikit kesamaan dengan apa yang yang pernah terjadi dalam sejarah Bangsa Hun – yang disinyalir sebagai keturunan Xiongnu lainnya. Kesamaan itu adalah pada masalah tulisan. Bangsa Hun tidak menulis, dan menyebabkan mereka tidak memiliki bukti tertulis dari bahasa mereka. Semua bukti tertulis berasal dari pihak luar, tidak satupun menggunakan bahasa Hun. Bangsa Xiongnu adalah penutur bahasa proto-Turki, sebagaimana Jurchen yang menjadi pendahulu Manchu. Telah disebutkan diatas bahwa bahasa Mongol nampaknya berkembang terpisah di kemudian hari dari bahasa proto-Turkik. Bangsa Manchu baru memiliki aksaranya sendiri setelah pada tahun 1599, Nurhaci memerintahkan dua orang penerjemahnya, Erdeni dan Gegai untuk menyusun sebuah tulisan bangsa Manchuria. Berdasarkan adaptasi abjad Mongolia, mereka menyusun sebuah sistem penulisan Manchuria. Tulisan Manchuria memiliki tiga karakteristik unik, yaitu :
   
a.Ditulis dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.

b.Hampir mirip dengan huruf Arab, masing-masing huruf/aksara Manchu memiliki bentuk di awal, di tengah, dan di akhir.

c.Angka-angkanya menggunakan angka Mongolia.

     Kondisi antara bangsa Hun dan Manchu memang berbeda. Bangsa Manchu kemungkinan besar bukan “tidak mengenal tulisan”, mereka telah lama hidup dan bertetangga dengan orang Han dan Mongol dengan kemungkinan besar memiliki pengetahuan huruf-huruf dua bangsa tetangganya, sehingga dengan dibuatnya aksara yang diolah oleh dua penerjemah Nurhaci itu juga diadopsi dari abjad Mongol, berarti Nurhaci bukan “memperkenalkan tulisan pertama kali” kepada bangsanya, tetapi lebih pada “membuat aksara yang khusus untuk Manchu”. Bangsa Hun kelihatannya lebih terbelakang dan benar-benar mengalami kondisi nirlekha (tak ada tulisan). Akan tetapi kita akan dapatkan dua kecenderungan yaitu Hun yang sama sekali tidak kenal tulisan dan orang Manchu yang belum memiliki tulisan khasnya itu.

     Indikasi keterkaitan Xiongnu-Hun-Manchu lainnya dapat dilihat dari berita awal kebangkitan Xiongnu dibawah Motun yang erat dengan bentuk kebudayaan berkuda dan memanah sebagaimana halnya bangsa Hun yang memiliki aspek identik yang sama. Dalam tinjauan bahasa Mongol, “Xiongnu” berbunyi “(K)Hun-nu”, yang mengindikasikan adanya penyebutan nama “Hun” secara linguistik – Mongol adalah wilayah yang dulunya menjadi tempat hidup bangsa Xiongnu. Disamping itu bangsa Xiongnu diakui sebagai pendahulu / moyang di dalam aspek kesejarahan bangsa Manchu. Xiongnu juga dianggap “tidak beradab” sebagaimana China memberikan kesan ini dalam catatan Ssu-ma Chi’en, Ammianus juga mengganggap hal yang sama kepada bangsa Hun sebagai barbar perusak, dan yang paling unik malah menimpa Nurhaci, karena selama melakukan kegiatan surat-menyurat dengan pemerintahan Ming, nama Nurhaci yang dituliskan oleh utusan Ming menggunakan huruf awal “budak” padahal seharusnya ialah “gigih”, ini benar-benar menyinggung Nurhaci dan bangsa Manchu. Hun yang katanya “liar” itu ternyata mampu mengguncang peradaban Eropa yang telah mapan. Xiongnu adalah bukan bangsa yang mudah ditaklukkan oleh “negeri yang ada di tengah”. Penerus Xiongnu, Manchu, dapat memerintah “negeri yang di tengah” dan “beradab” selama 267 tahun (1644-1911) dibawah dinasti Aisin Gioro. Meski kisah beberapa bangsa ini erat dengan terminologi “barbar”, ketenaran mereka tak akan dilupakan dalam sejarah.

(Author : Arafah Pramasto, Co : Sapta Anugrah)

Sumber

Freely, John, Istanbul Kota Kekaisaran, Jakarta : Pustaka Alvabet, 2012.

Gondomono, Manusia dan Kebudayaan Han, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2013.

Man, John, Attila Raja Barbar Momok Romawi, Jakarta : Pustaka Alvabet, 2012.

Palit, D.K., Sari-Sari Pengetahuan Militer, Terj. Maj. R.A. Prawiraatmadja dan Maj. S. Sasraprawira, Djakarta : Penerbitan Buku Ketentaraan, 1953.

Wicaksono, Michael, Dinasti Manchu : Awal Kebangkitan (1616-1735), Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2011.

Comments