Thursday, June 11, 2015

Festival Sriwijaya dalam Semangat Persatuan



 

  
    Hari ini (11/06/15) merupakan hari pertama penyelenggaraan Festival Sriwijaya, yang rencananya akan digelar hingga tanggal 14 Juni 2015. Festival ini rencananya akan diisi dengan tarian kolosal, Gelar Budaya, Permainan Rakyat, Festival Lampion, Parade Dulmuluk, Parade Musik Batanghari Sembilan,  Pertunjukan Kuda Lumping, dan hiburan lainnya. Tim Prosesss yang datang ke Taman Wisata Budaya Kerajaan Sriwijaya (dahulu Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya) pada pukul 14.40 WIB menyaksikan kesibukan-kesibukan persiapan dalam perayaan festival tahunan tersebut. Ketika pertama kali memasuki pintu gerbang, pengunjung akan disambut oleh patung Arca Budha sebagai salah satu koleksi Museum Sriwijaya. Patung itu sengaja dipamerkan untuk mengingatkan kembali masyarakat tentang betapa besarnya pengaruh kerajaan Sriwijaya yang bercorak Budha. Tidak jauh dari pintu masuk tersebut, pertunjukan Gamelan yang dimainkan oleh beberapa anak usia belasan tahun akan sejenak menghibur para pengunjung yang tiba.

    Pada bagian dalam telah dipersiapkan beberapa tempat dimana kegiatan akan dilaksanakan untuk acara pembukaan, pagelaran musik, dan tari. Stan-stan dari instansi pemerintah terjejer dengan rapi seperti diantaranya adalah  Dinas Koperasi dan UKM serta  BP3MD Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Didapati juga beberapa stan milik pihak swasta, sebut saja Bank BCA, Indomaret, dan Adira Finance. Stan yang cukup menarik adalah milik Keraton Kesultanan Palembang Darussalam, tim menyaksikan langsung persiapan yang dilakukan oleh Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin dalam partisipasinya di festival ini. Stan tersebut menyajikan beberapa lukisan Sultan-Sultan Palembang, koleksi senjata tradisional (tombak dan Keris), kain songket, dan teks / manuskrip kuno. Keris Palembang yang terkenal cukup indah tentu akan menarik hati para pengunjung, tapi perlu diketahui bahwa diantara keris-keris yang dipamerkan terdapat sebuah keris yang paling unik dan memiliki luk lebih dari 100 buah. Dalam perbincangan yang singkat dengan Sultan, ia menyatakan tentang pentingnya menjaga nilai kearifan lokal Palembang di masa kini.

    Jelasnya kemeriahan yang akan disaksikan oleh pengunjung tidak semata hiburan tanpa makna. Kerajaan Sriwijaya adalah inspirasi kebudayaan atas kebesarannya di masa lampau.  Situs Karanganyar sebagai lokasi yang dipilih untuk acara ini, mempunyai arti lebih mendalam karena inilah salah satu bukti kebesaran peradaban nenek moyang kita. Mengunduh makna sejarah di masa kini bisa dilakukan dengan perhelatan besar yang bersifat komunal ; mengadakan festival atau peringatan, namun untuk memperkuat dan mempertahankan kesejatian sejarah, kita harus “merayakannya” setiap waktu, karena sejarah butuh diingat dan dimaknai. Seperti pertunjukan Gamelan khas Jawa yang disebutkan di atas, Sriwijaya pun telah lama berhubungan dengan pulau Jawa ; Balaputeradewa salah satu rajanya berasal dari Wangsa Syailendra di Jawa. Kebersatuan, keharmonisan, dan kerukunan dalam hubungan lintas wilayah-budaya di Nusantara, demikianlah arti terpenting Festival Sriwijaya untuk mengenang kemegahan kerajaan yang menjadi prototipe kesatuan Indonesia. 


(Sapta Anugrah / Arafah pramasto)


Stan milik BP3MD

Pertunjukan Gamelan

Keris Asli Palembang yang memiliki luk lebih dari 100

Beberapa koleksi keris di etalase stan Keraton Kesultanan Palembang

Dekorasi lampion

Lukisan sultan-sultan Palembang

Arca Budha di bagian Pintu Masuk yang akan menyambut pengunjung

Stan milik Keraton Kesultanan Palembang