Monday, June 1, 2015

Filsafat Sejarah dalam Tinjauan Perkembangan (Bagian I)

Jangan sampai terjadi salah kaprah antara "Sejarah Filsafat" dan "Filsafat Sejarah"
1.Pendahuluan

    Sungguh disayangkan bila para mahasiswa Jurusan Sejarah dan Pendidikan Sejarah tidak bisa membedakan apa yang dimaksud dengan “Filsafat Sejarah” dan “Sejarah Filsafat.” Filsafat Sejarah merupakan subjek kajian yang kurang begitu populer (masih elitis). Oleh karena itu, bisa dipahami bila jumlah buku Filsafat Sejarah amat sedikit, apalagi yang berbahasa Indonesia.  Dalam sebuah kesempatan lalu, penulis bertemu dengan beberapa mahasiswa dan berdiskusi sejenak tentang subjek tersebut. Beberapa diantaranya beropini bahwa, “Sejarah adalah filsafat dan filsafat adalah sejarah.” Ungkapan rancu tersebut memaksa penulis untuk memberikan sedikit kajian terhadap subjek ini. Sekalipun memang dapat diakui tentang peran sejarah pada timbulnya aliran filsafat dan filsafat dalam perkembangannya dapat dilihat melalui sisi kesejarahan, bukan berarti kedua bidang itu dapat secara sederhana disamakan dengan pukul rata dengan menafikan entitas keunikan masing-masing, sekalipun juga tak bisa menafikan hubungan antara keduanya. Melihat perkembangan dari Historiografi sebagai hasil dari Filsafat Sejarah adalah cara terbaik untuk bisa mencapai pengertian yang baik tentang subjek kajian ini.

2.Hakikat Filsafat Sejarah

    Filsafat sejarah merupakan sebuah kontemplasi mendalam tentang sejarah. Berpikir adalah satu hal yang pasti kita lakukan sendiri tanpa bantuan, dalam sensasi, kognisi dan intelek manusia, dalam insting dan kemauan manusia, sejauh mereka adalah manusia terdapat sebuah elemen pikiran. Dalam sejarah, berpikir adalah tindakan mensubdornasikan data realitas yang kemudian berlaku sebagai pembimbing dan landasan bagi sejarawan. Di sisi lain, filsafat menghasilkan ide-idenya sendiri dari spekulasi tanpa merujuk kepada data-data. Jika filsafat mendekati sejarah dengan ide-ide, bisa dikatakan bahwa filsafat akan memperlakukan sejarah sebagai materi kasarnya dan tidak meninggalkannya begitu saja, tetapi membentuknya sesuai dengan ide-ide itu dan kemudian mengkonstruknya secara a priori. Tetapi karena sejarah dianggap bisa memahami peristiwa dan tindakan sebagai suatu peristiwa dan tindakan semata maka semakin faktua sejarah itu.

3.Masa Awal Era Yunani

    Permasalahan utama dari filsafat sejarah adalah gagasan atau landasan pemikiran dari penulisan sejarah (historiografi) yang dilakukan oleh para penulis yang terkadang di setiap zaman dapat berbeda-beda. Penulisan tentang masa lampau manusia dapat dikatakan berawal di Yunani sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Pada waktu itu penulisan sejarah atau historiografi masih merupakan perpaduan antara ilmu kedokteran dan ilmu hukum. Dari ilmu kedokteran misalnya, historiografi Yunani mendapat pengaruh untuk mencari sebab musabab dari suatu kondisi atau kasus. Dalam menjelaskan sebab-musabab itu dilakukan melalui suatu argumentasi yang lazim dilakukan oleh ilmu hukum (retorika), seperti dilakukan seorang jaksa penuntut untuk membuktikan kesalahan terdakwa dan pengacara yang berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah. Ungkapan retorika seperti itu tidak semata-mata untuk membuktikan kebenaran, tetapi juga menciptakan makna atas kebenaran itu.

    Dalam masalah sejarah penulisan sejarah (historiografi), para pakar sejarah umumnya melihat kepada historiografi Eropa karena dari wilayah inilah bermula munculnya tradisi penulisan sejarah, khususnya sejarah sebagai kajian ilmiah. Namun jika ditelusuri lebih jauh lagi, embrio lahirnya ilmu sejarah bisa ditarik dalam sejarah historiografi Eropa, yang akan dilihat sebagai gejala terikat oleh waktu (time bound) dan terikat pula oleh kebudayaan (culture bound) pada zamannya, walaupun sejarah Mesir jauh lebih tua (4.000 S.M), namun karena orang Mesir tidak menulis ilmu sejarah, realitas tersebut tidak memperkuat pendapat Mesir sebagai pertama lahirnya ilmu sejarah.

    Di Yunani tradisi penulisan itu sudah dimulai yang disusun dalam bentuk puisi, misalnya karya Homer, yaitu Illiad-Odessy yang menceritakan kehancuran kerajaan Troya tahun 1200 SM. Meskipun karya ini bertolak dari suatu kenyataan masa lampau, namun budaya zaman yang hidup waktu itu telah membuat karya lebih menyerupai mitologi daripada karya sejarah. Banyak aspek supernatural dipergunakan sebagai dasar penjelasannya mengenai sebab-musabab terjadinya suatu peristiwa. Syair Iliad menceritakan tentang perang Yunani dengan Troya tahun 1200 SM. Sedangkan syair Odyssey menceritakan tentang petualangan Odysseus setelah jatuhnya kota Troya. Sebenarnya karya ini lebih merupakan legenda dan mitos dari pada karya sejarah yang sesungguhnya.

    Penulis sejarah Yunani yang terkenal adalah Herodotus (198-117 SM), Thucydides (456-396 SM), dan Polybius (198-117). Heorodotus menulis karyanya yang berjudul History of the Persian Wars (Sejarah Perang-perang Persia, 500-479 SM), ia melihatnya perang ini sebagai bentrokan antar dua peradaban yang berbeda yaitu Yunani dan Persia. Meskipun dia menganggap bahwa Persia sebagai bangsa “barbar” yang dibencinya, namun Herodotus mencoba bersikap obyektif untuk menghargai bangsa Persia. Di sinilah kejernihan hati sejarawan Herodotus di samping ia berusaha keras untuk melakukan inkuiri secara kritis dan memberi penjelasan-penjelasan yang naturalistik serta tidak banyak menunjukkan adanya “campur tangan” para dewa sebagaimana penulis sebelumnya Homerus, sehingga Herodotus layak mendapat julukan sebagai “Bapak Sejarah” bahkan sebagai “Bapak Antropologi”.

    Lain halnya dengan Thucydides yang menulis tentang The Peloponnesian War (Perang Peloponesia, 431-404 SM), merupakan perang saudara antara dua polis yakni Athena dan Sparta. Tulisan tersebut bertahan lama bahkan menjadi standar yang diikuti dalam penulisan sejarah lama. Ia dianggap sebagai sejarawan dalam arti yang sebenarnya karena ia mencoba mencari sebab dari peristiwa-peristiwa sejarah . Begitu juga Polybius, meskipun ia orang Yunani, tetapi ia banyak dibesarkan di Roma. Polybius lebih dikenal sebagai penulis yang mengkaji tentang perpindahan kekuasaan dari tangan Yunani ke Romawi. Ia dikenal selain itu karena dalam mengembangkan metode kritis dalam penulisan sejarah. Seperti halnya Thucydides, ia juga melihat sejarah itu pragmatis, “sejarah adalah filsafat yang mengajar melalui contoh” atau philosophy teaching by example . Karena ia tinggal di dua tempat, ia begitu menyadari waktu itu betapa saling ketergantungan antar dua bangsa tersebut antara Yunani dan Romawi.Dua contoh karya Herodotus dan Thucydides, dapat didefinisikan di sini bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lampau manusia atau masa lalu manusia. Meskipun Herodotus dan Thucydides sudah mengawali penulisan sejarah berdasarkan sumber data, akan tetapi cara pembuktian para sejarawan Yunani waktu itu pada dasarnya tidak menggunakan bukti (evidensi) seperti dokumen yang menjadi baku dalam metode sejarah masa kini. Dokumen dalam arti naskah-naskah lebih banyak digeluti oleh para ahli naskah atau filolog, yang membanding-bandingkan dua dokumen atau lebih untuk mencari mana yang otentik (asli) dan mana yang tidak otentik (cara kerja ini kemudian dikenal dengan sebutan “kritik ekstern”). Tradisi sejarawan seperti yang dilakukan para sejarawan Yunani itu berlangsung sampai sekitar abad ke-18.

4.Zaman Romawi

    Tradisi Yunani itu kemudian dijadikan model oleh para sejarawan Romawi, antara lain oleh Polybius (orang Yunani yang dibesarkan di Roma). Historiografi Romawi pada mulanya masih menggunakan bahasa Yunani, baru kemudian memakai bahasa Latin, tetapi tulisan sejarah Yunani tetap menjadi model. Polybius banyak menulis tentang masa akhir Yunani sampai awal berdirinya Romawi. Julius Caesar adalah seorang jenderal yang kemudian menjadi kaisar, menulis Commentaries on Gallic War, yang merupakan memoir tentang suku Gallia, dan civil War yang merupakan penjelasan mengenai sebab-musabab terjadinya perang Gallia, Begitu pula tentang adat-istiadat suku tersebut.

    Sallustius (86-34 SM), terkenal dengan monografinya berjudul History of Rome, Conspiracy of Catilinr, Jugurthine War. Sallustius terkenal dengan monografi dan biografinya. Bentuk karya yang disebut terakhir sekaligus menjadi salah satu penulisan sejarah era Romawi. Ia menulis history of Rome, Conspiracy of Catiline, Jugurtbine War. Analisanya dinilai cukup netral, namun sayangnyaa ceroboh dalam masalah kronologi dan geografi sehingga mengurangi nilai karyanya itu. Livius (59 SM-17 M), sebagai narator yang sering mengorbankan kebenaran demi retorika. Livius merupakan salah satu contoh penulis yang hampir sepenuhnya menggunakan model Yunani. Dalam pembuktiannya ia lebih banyak mengemukakan retorika sehingga mengorbankan kebenaran sejarah. Karyanya tentang berdirinya kota Roma merupakan campuran antara data factual dan fantasi. Sedangkan Tacitus (55-120 SM), menulis tentang Annals Histories, dan Germania. Bobot tulisannya dapat diibaratkan di tengah-tengah antara Livius yang retoris dan Polybius yang cenderung faktual sejarah. Tacitus menulis Annals, Histories, dan Germania. Karyanya itu merupakan paduan antara karya Livius yang cenderung pada retorika dan Polybius yang cenderung pada sejarah. Ia tercatat sebagai orang pertama yang melukiskan sebab moral runtuhnya kekaisaran Romawi.

5.Abad Kegelapan

    Tradisi Yunani yang dilanjutkan oleh Romawi itu kemudian terhenti oleh kemenangan Kristen di Eropa. Kebudayaan Yunani-Romawi yang bertumpu kepada kekuatan akal dianggap sebagai hasil setan karenanya harus ditolak dan digantikan dengan kebudayaan Kristen yang bertumpu pada agama dan supernatural. Menurut pandangan yang disebut terakhir, sejarah tidak bisa dipisahkan dari teologi atau agama. Sebagai contoh dalam periodisasi atau pembabakan sejarah disesuaikan dengan ajaran yang ada pada kitab Injil (Perjanjian Baru). Sebagai contoh adalah skema periodisasi yang dibuat Augustine:

---0------- 1 -----0------2-------0------ 3------0----------4------0-----------5-----0-----6--------------0--------
--Adam-------------Nuh--------Ibrahim----------Daud-------------Babylonia----------Yesus-----kedatangan Yesus kedua

    The City of God adalah karya Augustine (ca. 354-430 M) yang merupakan filsafat sejarah Kristen yang cukup berpengaruh, khususnya pada abad pertengahan yang sering dikenal dengan sebutan “Abad Kegelapan” (The Dark Ages) yang melahirkan struktur masyarakat feudal di Eropa. Menurut pandangan Kristen orang harus memilih antara Tuhan dan setan. Orang yang terlibat dalam sejarah suci akan dimenangkan oleh Tuhan. Pada masa ini pusat penulisan sejarah terdapat di gereja dan Negara dengan pendeta dan raja sebagai pelaku utama. Tinjauan kritis dan netral yang didukung oleh data-data faktual tidak terlihat pada zaman Kristen di Abad Pertengahan ini. Karya-karya yang lahir pada abad-abad ini antara lain: Chronographia karya Sextus Julius Africanus (ca. 180-250 M) yang mengungkapkan bahwa dunia diciptakan Tuhan pada 5499 SM; Seven Books Against the Pagan karya Paulus Orosius (ca. 380-420 M) murid Augustine, yang menguangkapkan pembelaannya atas peradaban Kristen yang dituduh sebagai penyebab runtuhnya Romawi (Barat) pada abad ke-5 M. Dalam karyanya itu itu Orosius mengatakan bahwa keruntuhan paganisme sudah menjadi kehendak Tuhan, karena orang-orang kafir itu akan runtuh.

    Beberapa penulis lainnya seperti Africanus (tahun 180-250 M), yang karyanya Chronographia mengisahkan tentang “penciptaan” yang mengambil dari Yahudi, Yunani, dan Romawi. Eusebius (260-340 M), menulis Chronicle dan Chruch History yang memisahkan antara kelompok sacred, yaitu Yahudi dan dan Kristen, dan profane, yaitu pagan atau infidel. Kemudian Orosius (380-420 M), dikenal sebagai menulis Seven Books Against the Pagans, merupakan pembelaan atas peradaban Kristen yang dituduh menyebabkan runtuhnya Romawi. Menurutnya runtuhnya Romawi, memang sudah kehendak Tuhan . sebagai murid Augustine, Orosius menguangkapkan pembelaannya atas peradaban Kristen yang dituduh sebagai penyebab runtuhnya Romawi (Barat) pada abad ke-5 M. Dalam karyanya itu itu Orosius mengatakan bahwa keruntuhan paganisme sudah menjadi kehendak Tuhan, karena orang-orang kafir itu akan runtuh.

    Sedangkan pada zaman Kristen Pertengahan, terdapat beberapa nama seperti; Marcus Aurelius Casiodorus (480-570), Procopius (500-565), Gregory atau Bishop Tours (538-594), dan Venerable Bede (672-735). Di antara nama-nama tersebut, Bede yang menulis Ecclesiastical History of the English People, yang mengisahkan terbentuknya kebudayaan Anglo-Saxon. Ia menulis penuh hati-hati dalam menulis hal-hal yang ajaib, lebih sistematis, dan menggunakan banyak sumber, sehingga sejarahnya terkesan lebih obyektif.

6. Zaman Rennaisance, Reformasi, dan Kontra-Reformasi

    Sejalan dengan semakin pulihnya keamanan dan perdagangan di Eropa, sekaligus sebagai pertanda berakhirnya Abad Pertengahan pada abad ke-15, untuk memasuki era Renaissance. Pada era ini semangat paga dan kebudayaan klasik Yunani-Romawi menjadi model. Corak penulisan sejarah pun kembali mengalami perubahan. Pembuktian kebenaran sejarah tidak lagi bersandar pada wahyu melainkan pada akal, teologi yang dogmatis diganti dengan ilmu. Hal ini antara lain tercermin dari karya Lorenzo Valla (1407-1457) yang menulis The History of Ferdinand I of Aragon, The History of Ferdinand I of Aragon, yang berupaya membuktikan bahwa berita kaisar Konstantinus (memerintah 305-337) telah memberikan hak politik kepada paus adalah tidak palsu. Meskipun kebenaran yang dikemukakannya juga dapat disangkal oleh yang lain, namun keberaniannya dalam melakukan kritik merupakan satu langkah yang maju waktu itu.

    Dekonstruksi terhadap historiografi Abad Pertengahan berlanjut pada masa “Reformasi”. Hal ini antara lain tercermin dari karya lacich Illyricus (1520-1575), Magdeburg Centuries yang merupakan sejarah polemik. Dalam bukunya itu ia banyak menyerang institusi kepausan dari segi hukum dan konstitusi. Buku ini banyak dikecam oleh gerakan “kontra Reformasi” yang berupaya menegakkan kembali kewibawaan gereja Katholik yang dinilai telah dirusak oleh gerakan Reformasi. Cardinal Caesar Baronius (1538-1607) misalnya menulis buku Ecclesistical Annals yang merupakan jawaban langsung terhadap tuduhan dari buku Magdeburg Centuries. Tulisannya itu jelas merupakan karya yang memihak dan apologetis, yang banyak mengalihkan isu yang penting ke isu sekunder yang tidak relevan. Meskipun demikian nilai buku itu cukup tinggi, terutama dalam penggunaan sumber datanya.
   
    Berbeda dengan tulisan-tulisan pada zaman Renaissance yang melihat semangat pagan dan kebudayaan klasik Yunani-Romawi sebagai model, di mana teologi tidak lagi menjadi fokus kajian. Namun demikian berbeda dengan zaman modern, karena dalam Renaissance masih tinggi unsur “melihat kebelakang”, sedangkan modern “melihat kedepan” . Beberapa penulis di antaranya; Lorenzo Valla (1407-1457), Guicciardini yang menulis tentang History of Florence yang merupakan sejarah politik yang rasional. Kemudian pada zaman Reformasi diwakili oleh sejarawan Vlacich Illyricus (1520-1575), (1506-1556), dan Heinrich Bullinger (1504-1575). Di antara tiga penulis tersebut Bullinger-lah yang lebih dikenal melalui tulisannya History of the Reformation, seorang warga Swiss pengikut Zwingli, sekalipun bersifat apologetis, tetapi tulisannya disusun secara rapi dan menggunakan banyak sumber, menempatkan dia lebih jujur dan dapat dipercaya.

Author : Arafah Pramasto, Co : Sapta Anugrah

Sumber

Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999.

Muhsin Z., Mumuh, “Filsafat Sejarah Kritik”, (Paper disusun untuk bahan ajar kuliah Filsafat Sejarah I Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandung, 2007)

Pradjoko, Didik, dkk., “Modul I Sejarah Indonesia : Hibah Modul Pengajaran : Content Development Tema B1”, (Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi (PHK-I) Universitas Indonesia, 2008)

Tim, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan : Pendidikan Disiplin Ilmu, Bandung : PT. Imperial Bhakti Utama, 2011.

Klik untuk bagian selanjutnya