Filsafat Sejarah dalam Tinjauan Perkembangan (Bagian II)

Klik untuk membaca bagian sebelumnya

1.Zaman Rasionalisme dan Pencerahan

Filosof Sejarah Kenamaan Era Rasionalisme-Pencerahan hingga Abad ke-19
    Pada zaman Rasionalisme dan Pencerahan, sebagaimana dipelopori Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis, Francis Bacon (1561-1626) dari Inggris, dan Baruch Spinoza (1632-1677) dari Belanda, banyak mempengaruhi historiografi abad 18. Terdapat tiga aliran yang berkembang pada zaman ini. Pertama, aliran radikal dipelopori oleh Voltaire, kedua, aliran moderat dipimpin oleh Montesquieu, dan ketiga, aliran sentimental yang dipelopori oleh J.J. Rousseau . Gibbon merupakan sejarawan pertama yang menggunakan eviden (dokumen) untuk pembuktian kebenaran sejarah. Essay on the manners and spirit of the Nation karya Voltaire (1697-1778) yang terbir pada tahun 1756. Buku ini merupakan sejarah umum yang membeberkan sumbangan bangsa-bangsa Timur dan Islam terhadap peradaban dunia dan Eropa; History of England from the Invasion of Julius Caesar to the Revolution of 1698 karya David Hume (1711-1776); dan The History of the Decline and Fall of the Roman Empire karya Edward Gibbon yang terbit pada tahun 1776. Sebetulnya semua aliran ini berkehendak membebaskan masa dari despotisme, tetapi jika Voltaire sangat intelektual dan tegas, sedangkan Rousseau emosional dalam pembebasan tersebut. Hal ini juga berbeda dengan di Prancis yang banyak diwarnai revolusioner, sedangkan di Inggris yang puas dengan perkembangan institusional dipelopori oleh David Hume. Hume percaya bahwa sejarah adalah catatan tentang perkembangan intelektual dan moral . Selain gayanya yang berbeda, akurasinya dalam penulisan yang didukung dengan bukti-bukti membuat karyanya menjadi penting dan ‘abadi’ dalam historiografi dunia. Meskipun ia tergolong sejarawaan rasionalis, namun dalam menulis tentang kemunculan agama Kristen di dunia Barat cukup obyektif, demikian pula mengenai sumbangan Islam pada peradaban dunia.

    Kemudian, pengikut Rousseau dari Jerman adalah Johann Gottfried Herder (1744-1803) yang merupakan filsuf sejarah dan menulis Ideas for the Philosophy of the History of Humanity, dan Ideas for the Philosophy of the History of Mankind, berada antara Rasionalisme dan Romantisisme. Heder percaya bahwa kemajuan sejarah itu tercapai berkat kerjasama antara faktor eksternal dan semangat (geist) yang subyektif. Setiap peradaban itu muncul, berkembang, dan menghilang mengikuti hukum alam tentang perkembangan. Untuk memberikan semacam konklusi mengenai perkembangan pendekatan ilmu sejarah sebelum abad 19, bahwa pada zaman tersebut dapat disimpulkan menurut Alexander Irwan dalam Kata pengantarnya terhadap terjemahan buku Immanuel Waalerstein, pendekatan sejarah tersebut bercampur aduk dengan narasi yang bersifat metafisis dan mitis.
“Ibaratnya Mahapatih Gajah Mada yang dikisahkan mempunyai berbagai kesaktian dan kekuatan fisik yang luar-bisaa; atau misalnya lagi Sultan Mataram yang mempunyai kemampuan supernatural untuk berhubungan dengan Nyai Loro Kidul; dan candi Sewu yang dikisahkan dibangun oleh Bandung Bondowoso untuk Roro Jonggrang dalam waktu satu malam .

2.Perkembangan Abad Ke-19

    Abad ke-19 ada yang mengatakan adalah sebagai abad ideologi, yang juga merupakan periode di mana filsafat sejarah, disiplin metafisika yang paling kaya warna, mampu berkembang sepenuhnya, dan membawa bersamanya seluruh hasil yang dipetik teori-teori besar tentang hakikat perkembangan sejarah dan nasib manusia. Sepintas akan tampak bahwa abad ke-19 berbeda dengan abad-abad sebelumnya, kurang merupakan abad kritik sosial dan politik yang menerima prinsip bahwa studi yang tepat bagi filsafat adalah manusia dan lebih tampak sebagai abad spekulasi yang tak kritis dan bahkan tak terbatas mengenai hakikat realitas terakhir. Istilah “ideologi” mengacu pada “sistem ide-ide tentang fenomena, terutama fenomena kehidupan sosial, cara berpikir khas suatu kelas atau individu” . Historiografi pada abad ke-19 ditandai dengan beberapa ciri yang cukup menonjol, antara lain: (1) penghargaan kembali pada Abad Pertengahan, (2) munculnya liberalisme, (3) munculnya filsafat sejarah (secara nyata dalam gagasan / paham), dan (4) nasionalisme.

a.Leopold von Ranke (1795-1886)

    Harus kita tahu bahwasannya sejarah merupakan salah satu disiplin ilmu tertua, dan secara formal diajarkan di universitas-universitas Eropa mulai dari Oxford University hingga Gottingen, pada abad ke-17 dan 18 . Walaupun kemunculan ilmu sejarah (yang sesungguhnya) baru terasa di abad 19, bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan sosial lainnya. Di mana perkembangan ilmu sejarah diwarnai oleh konflik persaingan di antara para tokohnya. Diilhami oleh oleh karya Leopold von Ranke (1795-1886), para sejarawan mulai meninggalkan paradigma sejarah klasik yang telah lama dipraktekkan oleh sebagian besar sejarawan sejak abad delapan belas. Mereka mulai memusatkan perhatian pada pemaparan narasi-narasi peristiwa politik yang terutama didasarkan pada dokumen-dokumen resmi . Leopold von Ranke  dengan karyanya A Critique of Modern Historical Writers. Walaupun sebenarnya munculnya aliran sejarah kritis ini tidak sendiri karena zaman sebelumnya terdapat sederetan sejarawan lainnya seperti; Jean Bodin (1530-1596) terkenal dengan karyanya Method for Easily Understanding History, Jean Mabillon (1632-1707) menulis De Re Diplomatica, Berthold Gerg Nibhr (1776-1831) yang menulis Roman History. Akan tetapi nama Ranke, lebih setahap lebih dikenal dibanding lainnya. Sebagai penumbuh historiografi kritis dan modern, Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi (wie es eigentlich gewesen), sebab setiap periode sejarah itu akan dipengaruhi oleh semangat zamannya (Zeitgeist). Atau lebih ekstrim lagi penulisan sejarah pada waktu itu kebanyakan dengan penciptaan kisah-kisah yang dibayangkan atau dilebih-lebihkan sehingga bersifat retoris, karena kisah-kisah semacam itu hanya menyanjung-nyanjung pembaca maupun melayani tujuan-tujuan yang mendesak bagi para penguasa ataupun kelompok-kelompok yang berkuasa lainnya .

Betapa sukar mengabaikan kata-kata Ranke yang begitu kuat pengaruhnya tersebut, sebagaimana tercermin dalam tema-tema yang digunakannya “ilmu” dalam perjuangannya melawan “filsafat” ⎯ penekanannya pada eksistensi dunia nyata yang obyektif dan dapat diketahui, pada upaya pembuktian empirik, dan netralitas peneliti. Hal ini ibarat ilmu-ilmu lainnya, tidak harus terlebih dahulu menemukan datanya di dalam tulisan-tulisannya (perpustakaan, locus membaca), atau dalam proses-proses berpikirnya sendiri (studi, locus refleksi). Tetapi lebih baik di suatu tempat di mana data eksternal obyektif dapat dikumpulkan, disimpan, dikontrol dan dimanipulasi (laboratorium/arsip, locus riset. Menjelang akhir abad ke-19 kebenaran yang dikemukakan oleh Ranke mulai diragukan, sebab menulis sejarah sebagaimana yang terjadi dinilai bertentangan dengan psikologi. Sadar atau tidak, setiap orang yang menulis pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Fakta sejarah bukanlah batu bata yang tinggal dipasang saja, melainkan fakta yang dipilih dengan sengaja oleh sejarawan. Seperti dikemukakan oleh Carl L. Becker (1873-1945), pemujaan terhadap fakta hanyalah ilusi. Sementara itu James Harvey Robinson (1863-1936) mengatakan bahwa sejarah kritis kita hanya dapat menangkap “permukaan”, tidak dapat menangkap realitas di bawah dan tidak dapat memahami perilaku manusia. Atas dasar pemikiran itu maka muncul gagasan baru tentang perlunya “sejarah baru” atau “new perpective on historical writing”. Berbeda dengan historiografi modern yang dipelopori Ranke yang menekankan kritik, maka sejarah baru menekankan perlunya penggunaan ilmu-ilmu sosial, sekaligus mendekatkan kembali ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial, sehingga seringkali sejarah baru itu disebut sebagai “sejarah sosial”.

b.George Wilhelm Friederich Hegel (1770-1831)

    Abad 19 selain melahirkan Leopold von Ranke yang juga dianggap sebagai bapak Sejarah science, juga melahirkan banyak pemikir-pemikir sejarah (filsafat sejarah) yang berpengaruh pada perkembangan teori dan metode sejarah pada tahun-tahun berikutnya. Misalnya: George Wilhelm Friederich Hegel (1770-1831) yang menulis buku Philosophy of History. Dalam bukunya itu ia berpendapat bahwa sejarah itu maju dengan cara dialeksis. Diawali dengan tesis yang mendapat perlawanan dari satu kekuatan yang disebut anti-tesis. Dari pertarungannya itu melahirkan sintesis sebagai tujuan akhir. Pada gilirannya nanti sintesis ini akan berubah menjadi tesis baru, yang kemudian berproses sampai menghasilkan sintesa baru dan begitulah seterusnya. Hegel mengatakan bahwa tiap filsafat adalah zamannya yang tersimpul dalam buah pikiran atau pandangan filsafat.  Menurut Hegel, sejarah adalah perkembangan Roh dalam waktu, sedangkan alam adalah perkembangan ide dalam ruang. Jika kita memahami kalimat di atas, tentu kita akan memahami filsafat sejarah Hegel. Sistem menyeluruh Hegel dibangun diatas tiga unsur utama (the great triad): Ide-Alam- Roh. Ide dalam dirinya sendiri adalah sesuatu yang terus berkembang, dinamika realitas dari dan yang berdiri dibalik layar- atau sebelum-dunia. Antitesis dari ide yang berada di luar dirinya, yaitu Ruang, adalah Alam. Alam terus berkembang, setelah mengalami taraf perkembangan kehidupan mineral dan tumbuhan kedalam diri manusia. Dan dalam diri manusia terdapat kesadaran yang membuat ide menjadi sadar akan dirinya sendiri. Kesadaran diri ini oleh Hegel disebut Roh, sedangkan antitesis ide dan Alam dan perkembangan dari kesadaran ini adalah sejarah. Seluruh proses dunia adalah suatu perkembangan roh. Sesuai dengan hukum dialektika roh meningkatkan diri tahap demi tahap kepada yang mutlak. Sesuai dengan perkembangan roh ini, maka filsafat Hegel disusun dalam tiga tahap yaitu:


  • Tahap ketika Roh berada dalam keadaan “ada dalam dirinya sendiri”.
  • Tahap ketika roh berada dalam keadaan “berada dengan dirinya sendiri”, berada dengan “yang lain”(roh disini keluar dari dirinya sendiri yang menjadikan dirinya “di luar” dirinya dalam bentuk alam, yang terikat oleh ruang dan waktu)
  • Tahap ketika roh kembali kepada dirinya sendiri, yakni kembali dan berada diluar dirinya sehingga roh berada dalam keadaan “dalam dirinya dan bagi dirinya sendiri”.


    Dalam bukunya The Philosophy of History, Hegel mengatakan bahwa esensi dari Roh adalah kebebasan, maka kebebasan adalah tujuan dari sejarah. Sejarah baginya merupakan gerak kearah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Hegel kemudian merumuskan perkembangan historis roh, yang terbagi dalam tiga tahap:Pertama, Timur. Kedua, Yunani dan Romawi dan Ketiga, Jerman.Pembagian ini didasarkan atas Trias Hegel yakni : roh objektif, roh subjektif dan roh mutlak. Dalam dunia Timur, roh belum sadar diri, manusia masih dalam keadaan alami sedangkan roh berkarya dan menyusun dalam objektifitas (seperti hukum alam). Dalam dunia Yunani-Romawi timbullah subjektifitas, roh menempatkan diri di luar dan berhadapan dengan apa yang secara objektif ada. Akan tetapi roh subjektif kurang memahami kenyataan objektif. Baru dengan munculnya roh mutlak didalam dunia Germania terjadi perukunan antara yang subjektif dan yang objektif.

      Pemikiran Hegel mengarahkan kita pada pemahaman bahwa sejarah merupakan pergerakan penuh tujuan atas cita-cita Tuhan untuk kemanusiaan. Hegel pun memahami bahwa sejarah memang merupakan meja pembantaian dimana kesengsaraan, kematian, ketidakadilan dan kejahatan menjadi bagian dari panggung dunia. Namun filsafat sejarah merupakan teodisi atau usaha untuk membenarkan Tuhan dan mensucikan Tuhan atas tuduhan bahwa Tuhan membiarkan kejahatan berkuasa di dunia. Dia menunjukkan anggapan yang salah tentang sejarah di sebabkan karena mereka hanya melihat permukaanya saja, tetapi mereka tidak melihat aspek laten serta potensial dalam sejarah yaitu jiwa absolut dan esensi jiwa yaitu kebebasan. Hegel dalam bukunya Philosophy of History mengembangkan sebuah teori yang didasarkan pada pandangan bahwa Negara merupakan realitas kemajuan pikiran kearah kesatuan dengan nalar. Ia melihat Negara sebagai kesatuan wujud dari kebebasan objektif dan nafsu subjektif adalah organisasi rasional dari sebuah kebebasan yang sebenarnya berubah-ubah dan sewenang-wenang jika dibiarkan pada tingkah laku individu. Filsafat sejarah bagi Hegel representasinya yang nyata terlihat dalam bentuk- bentuk kekuasaan dalam Negara. lebih lajut dalam pengantar bukunya Philosophy of History ia menulis :

    “Negara adalah ide tentang roh didalam perwujudan lahir kehendak manusia dankebebasanya. Maka bagi Negara, perubahan dalam aspek sejarah tidak dapat membatalkan pemberian itu sendiri dan berbagai tahap yang berkesinambungan dengan ide mewujudkan diri mereka di dalamnya sebagai prinsip-prinsip politik yang jelas”
   
    Hegel menunjukkan bahwa hakekat manusia dimasukkan dan diwujudkan dalam kehidupan negara-bangsa. Menurutnya, negara-bangsa merupakan totalitas organik (kesatuan organik) yang mencakup pemerintahan dan institusi lain yang ada dalam negara termasuk keseluruhan budayanya. Hegel juga menyatakan bahwa totalitas dari budaya bangsa dan pemerintahannya merupakan individu sejati.“Individu sejarah dunia adalah negara-bangsa”, maksudnya negara merupakan individu dalam sejarah dunia.

c.Heinrich Karl Marx (1818-1883)

    Heinrich Karl Marx (1818-1883) memakai dialektika Hegel, dengan proletariat sebagai sarana pembebasan manusia. Pengaruh filsafat sejarah Hegel ini antara lain nampak pada karya Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man yang terbit pertama kali pada tahun 1992. Dalam karyanya itu Fukuyama menginterpretasikan perkembangan masyarakat dunia (masa kontemporer) didorong oleh dua faktor, yaitu (1) perkembangan ekonomi yang didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan (2) keinginan untuk diakui, dihargai, dan persamaan hak. Kedua faktor inilah yang sering digugat oleh sistem komunis yang dapat dinilai sebagai kekuatan anti-tesis yang kemudian menghasilkan tujuan akhir sejarah manusia, yaitu masyarakat kapitalis dengan sistem politik demokrasi liberalnya. Karl Marx dipandang sebagai salah seorang penganut kecenderungan sosial dalam menginterpretasikan sejarah. Dengan mengambil satu kausa saja, yaitu sistem ekonomi yang berkembang dalam suatu masyarakat, ia berupaya menginterpretasikan berbagai sistem kehidupan lainnya yang berkembang dalam masyarakat itu dan hubungan semuanya dengan produksi serta perkembangan deterministis yang diakibatkannya ke arah suatu perkembangan kebudayaan manusia tertentu.

    Interpretasi materialistis terhadap sejarah ini, menurut para penganutnya, merupakan ungkapan teoretis satu-satunya tentang proses historis dan hukum-hukum umumnya. Meski demikian, Engels dan Marx sering menekankan bahwa hendaknya kita tidak memandang pemahaman materialistis terhadap sejarah sebagai metode filsafat sosial dan interpretasi terhadap proses historis dalam semua dimensi dan liku-likunya, tapi hendaknya teori materialisme historis semakin dikembangkan dan diperkaya, bersama-sama dengan perkembangan sejarah sendiri, dan pengetahuan kita tentang gejala-gejala sosial kita perdalam. Mengenai hal ini, ujar Engels, "Pemahaman kita terhadap sejarah, pertama-tama, adalah pengantar jalan ke arah pengkajian dan bukannya merupakan landasan untuk membangun seperti menurut kaum Hegelis. Jadi, merupakan kewajiban kita untuk mulai mengkaji kembali seluruh sejarah".

    Namun kesediaan untuk mengembangkan teori itu dari pihak pengasasnya tidaklah sama sekali memperkecil kecenderungan deterministis yang berlebih-lebihan dalam menginterpretasikan sejarah dan kecenderungan yang bercorak tunggal dalam interpretasi ini. Sebab konsepsi materialistis tentang sejarah ditegakkan di atas landasan prinsip tunggal yang pasti, yaitu sistem-sistem produksi; kebutuhan-kebutuhan kehidupan material dan tuntutan penyesuaian perjalanan sosial, politik, dan spiritual pada kehidupan secara umum. Dalam pandangan teori historis ini sarana-sarana dan sistem-sistem produksi adalah realitas satu-satunya, sebab seluruh dorongan psikologis dalam gerak sejarah dari dalam ditopang oleh kondisi-kondisi material. Oleh karena itu sejarah manusia, menurut mereka, tidak lain adalah sejarah perjuangan kelas di semua tempat. Dalam teori materialistis murni demikian ini, yang berpendapat bahwa “produksi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik manusia adalah realitas satu-satunya dalam sejarah”, tidak akan ada tempat bagi ketuhanan dalam kcdudukannya sebagai pembuat sejarah atau pemeliharanya. Malah kehendak manusia sendiri sirna di hadapan logika determinisme tegar ini. Jadi, manusia tidak mempunyai harapan untuk bergerak di luar kerangka perkembangan sejarah yang terbatas seperti ini, seperti halnya menurut interpretasi mereka yang becrorak tunggal, yang mencampuradukkan antara alam kenyataan yang sejarah seperti apa adanya dan alam nilai yang sejarah seperti semestinya serta keinginan untuk membebaskan kelas-kelas yang tertindas yang erat kaitannya dengan hal itu. Namun interpretasi tunggal demikian ini, yang sikapnya dalam menginterpretasikan sejarah ditegakkan di atas suatu prinsip tertentu seperti ras, lingkungan, sistem ekonomi, atau lain-lainnya, pada zaman modern  sekarang tidak mempunyai nilai filosofis besar lagi setelah tampak gamblang bagi banyak pemikir bahwa masalah historis begitu saling berjalin, kompleks, dan bertautan dan bersamanya gugurlah interpretasi mana pun yang didasarkan pada satu prinsip dalam menginterpretasikan berbagai peristiwa. Sebab dalam hal ini ada berbagai peristiwa yang tidak bisa diinterpretasikan karena peristiwa-peristiwa itu terjadi hanya karena kebetulan belaka dan tidak memiliki kausa-kausa historis yang riil. Selain itu ada berbagai peristiwa yang bertentangan dengan semua ramalan para sejarawan dan analogi-analogi logika mereka tentang sejarah, karena sejarah pertama-tama adalah bidang kebebasan manusia.

Author : Arafah Pramasto, Co : Sapta Anugrah

Sumber
Aiken, Henry D., Abad Ideologi, Kant, Fichte, Hegel, Schopenhauer, Comte, Mill, Spencer, Marx, Mach, Nietzsche, Kierkegaard, Bentang : Yogyakarta, 2002.

Burke, Peter, “Sejarah” dalam Kuper, Adam & Kuper (ed), Jesica, (ed)  Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Diterjemahkan Oleh Haris Munandar dkk, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.

G.W.F. Hegel, Filsafat Sejarah, terj. Cuk Ananta Wijaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2007.

G.W.F. Hegel, Keimanan dan Pengetahuan, terj. Affandy, Yogyakarta: IRCiSoD,2002.

Gielbert, F. (1977) “Reflection on the history of the proffesor of history” dalam F. Gilbert History: Choice and Commitment, Cambridge, MA.K. Bertens, Filsuf-Filsuf Besar Tentang Manusia, Jakarta: PT. Gramedia,1988.

Kuntowijoyo,Pengantar Ilmu Sejarah, Edisi Ketiga, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999.

Wallerstein, Immanuel, Lintas Batas Ilmu Sosial, Alih Bahasa: Oscar, Yogyakarta: LkiS, 1997.

Zubaedi, Filsafat Barat, Yogjakarta: Ar-ruzz Media Group, 2007.

Comments