Monday, June 1, 2015

Kota Ilmu di Timur: Keterbukaan Islam dan Peran Dunia Intelektual Krsiten Syriac-Nestorian pada Era Abbasiyah (Bagian I)

1.Pendahuluan

    Beberapa tragedi (baca : Terorisme) yang baru-baru ini terjadi, saat nama Islam selalu diidentikkan kepadanya, merupakan bahan kontemplasi yang tidak boleh hanya diratapi saja. Tatkala nilai luhur Islam dipertaruhkan dalam kejadian itu, masih banyak kaum Muslimin yang belum tahu bahwa Islam adalah esensi bagi kemajuan dan perkembangan Ilmu Pengetahuan di masa silam yang kini warisan itu tetap bisa dimanfaatkan. Untuk menafikan segala serangan demi serangan dari identitas lain pada kesucian agama ini, nampaknya agak sulit jika kemauan untuk melihat masa lalu itu dianggap sebagai tindakan sia-sia. Kesan keterbelakangan pada subjek Sejarah adalah fakta yang dapat ditemukan dimana-mana, bahkan di bangku-bangku sekolah hingga media massa elektronik, ini benar-benar sebuah kemunduran. Sejarah seringkali hanya dilihat pada satu kata :”Dahulu”. Subjek-subjek lain diluar Sejarah diyakini amat dekat dengan kata “Sekarang”, seolah menunjukkan kemajuan berdasarkan pemahaman sepihak yang dangkal. Seakan-akan ilmu ini (Sejarah) tidak memiliki sifat futuristik dan visioner. Seharusnya pandangan yang paling mendalam harus dilakukan secara diskursus agar tak ada kelalaian terhadap aspek kausalitas (sebab-akibat) yang dipelajari dalam Sejarah dan menjadi hukum mendasar di alam semesta ini ; inilah ilmu Sejarah dan kegunaannya.

    Pandangan bahwa realitas itu selalu identik dengan keilmuan eksak, sekalipun tidak salah, namun harus dilengkapi. Sejarah bukan saja berusaha mencari jawaban atas realitas yang ada dengan cara menghitung. Tetapi bukan juga ilmu ini melakukan tindakan imajiner semata. Sejarah memiliki peran untuk memunculkan studi dengan tahapan-tahapan yang ilmiah : heuristik, verifikasi, interpreasi, kritik, dan baru merujuk pada penulisan (historiografi). Inilah diskursus dalam ilmu Sejarah itu yang bisa menguak suatu proses dari proses sebelumnya.realitas masa kini sekalipun berbeda dengan masa silam , tetap saja memiliki hubungan. Apakah mungkin eksistensi realitas kini adalah materi yang berdiri tanpa menjadi “akibat” dari suatu “sebab” ? Semuanya pasti berhubungan. Ilmu ini mewakilkan segala kebutuhan atas pengetahuan tentang apa saja di masa lalu. Saat kejatuhan peradaban Islam terjadi dan terus berlangsung hingga kini, minimalnya Sejarah dapat menjadi motivasi atas kebangkitan yang sedang diusahakan, maksimalnya pendalaman kesejarahan bisa mewujudkan semua cita-cita itu melalui kebijaksanaan yang bisa dipetik didalamnya. Karena tindakan ke depan memerlukan pengetahuan tentang apa yang menyebabkan sesuatu itu hilang dan tidak dimiliki di masa ini. Inilah yang dibutuhkan saat berada di titik nadir peradaban yang memilukan bagi umat terbesar di dunia ini (Islam).

    Lalu, bagaimana kemajuan Islam dalam bidang ilmu pengetahuan itu bisa terjadi ?. Pada bagian pertama ini akan dikaji sebuah langkah yang pernah diambil oleh dinasti terbesar dalam sejarah Islam klasik. Suatu langkah yang membuktikan toleransi Islam beserta pengaruhnya yang amat positif. Hubungan Islam-Kristen Nestorian, bukan saja terbilang asing di masa kini bagi Umat Islam kebanyakan, di masa lalu pun hubungan ini begitu unik. Tatkala kaum Kristen Nestorian yang dikenal kurang memiliki hubungan yang akur dengan pihak seagamanya, yakni Kaum Ortodoks Yunani, Islam sekalipun kepercayaan yang terbilang lebih jauh lagi bagi keimanan Nestorian dapat menggali potensi yang besar dari para pemeluknya dalam ranah intelektual dan penuh toleransi. Abbasiyah telah membuka gerbang untuk munculnya para ilmuwan Islam yang nantinya akan amat berguna bagi Eropa setelah lepas dari masa kegelapan. Para pemikir-pemikir Islam terbesar tersebut mengambil sebuah manfaat dari apa yang telah diusahakan oleh para khalifah Abbasiyah dengan bantuan tokoh-tokoh Kristen Syriac-Nestorian.

2.Pembahasan

    Tidak dapat disangkal bahwa kebesaran Islam dan tersebarnya pesan luhur di dalamnya tidak akan terjadi tanpa adanya pembukan wilayah-wilayah melalui ekspansi militer (Arab : Futuhat). Salah seorang pemimpin Islam yang mampu mewujudkan itu adalah Sayyidina Umar Bin Khattab. Tahun 635 M, Damaskus Ibukota Syam jatuh ke tangan Islam dan setahun kemudian pasukan islam berhasil mengalahkan pasukan Imperium Byzantium (Romawi Timur) di Yarmuk, menandai kejatuhan seluruh negeri Syam yang kemudian harus dilepaskan oleh Byzantium. Tidak berhenti disitu saja, Al-Qadissiyah (Kadessia), suatu kota dekat wilayah Al-Hirah, di Irak jatuh pada tahun 637 M dan dari sana serangan dilanjutkan ke Al-Madain (pada masa pra-Islam disebut kota Ctesiphon / Tisfun), Ibukota Imperium Persia Sassania, yang dapat dikuasai pada tahun yang sama. Masa-masa itu adalah penanda yang baru yang memeperlihatkan kejatuhan dua imperium besar yang dulunya saling berebut pengaruh (antara Byzatium dan Persia) di Timur Tengah, telah diruntuhkan dominasinya dalam waktu yang berdekatan. Byzantium ataupun Persia Sassania adalah dua Imperium yang tidak saja memiliki sumber daya besar dari tanah koloninya namun juga terbilang paling maju di zamannya dalam hal intelektual. Hingga amat wajar apabila setelah menguasai wilayah-wilayah keduanya, Islam berinteraksi dengan sebuah peradaban yang jauh lebih besar dan maju serta menimbulkan hubungan yang saling mempengaruhi dalam bidang-bidang tertentu. Dominasi yang terwujud dan dimiliki oleh Islam di kemuadian hari telah membawa suatu corak kehidupan yang baru. Bahasa Arab, pada awalnya tidak pernah menduduki posisi yang begitu penting akhirnya menjadi bahasa resmi pemerintahan menggantikan bahasa Yunani dan Persia.

    Kekhalifahan dinasti Abbasiyah yang didirikan pada tahun 750 M, setelah menumbangkan dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus, ialah contoh dari kemampuan Islam berkonsolidasi dengan elemen-elemen yang kompleks pada Revolusi Abbasiyah : didapatnya dukungan dari Muslim non-Arab (terutama etnis Persia) dan juga kaum non-Muslim. Dinasti Umayyah amat terkenal dengan corak Arab-Sentris, sedangkan kaum Muslimin non-Arab (disebut Mawali) mereka (pemerintah Umayyah) tempatkan sebagai warga kelas dua, keterlambatan respons Umayyah terhadap semakin bertambahnya kaum Mawali akhirnya mengantar keruntuhan dinasti monarkhi Islam Pertama itu. Tidaklah heran setelah terjadi Revolusi Abbasiyah dibawah Khalifah Abu Abbas Al-Saffah, intensitas koneksi dunia Islam terhadap kelimuan pra-Islam, dalam kasus ini adalah Yunani yang paling besar disamping keilmuan Persia, Hebrew, dan Hindu, bisa terbina cukup baik melalui penerjemahan ke dalam bahasa Arab, yang diprogramkan oleh para Khalifah Abbasiyah.

    Islam dibawah kendali para Khalifah Abbasiyah telah membuktikan dirinya sebagai agama yang mampu mensistesiskan antara kebutuhan intelektual dan agama sekaligus. Sebelum kemunculan Islam, tulisan para ahli dari madzhab Alexandria (pra-Kristen), yang merupakan tempat bertemunya arus Helenik (Yunani-Pen), Yahudi, Babilonia, dan Mesir, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani (Syriac) dan tradisi ini berpindah ke Antiokia. Dari sana, dibawa lebih jauh ke timur ke kota-kota seperti Nisibis dan Edessa. Situasi ini, yang membawa pengaruh besar jika melihat peradaban Islam (yang datang-Pen) berikutnya. Dibandingkan dengan masa Umayyah, hanya didapati seorang figur langka seperti Khalid Ibnu Yazid yang mulai meneguhkan minatnya pada ilmu pra-Islam. Pada saat zaman Umayyah itu, masih jarang buku berbahasa Yunani dan Syriac yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

    Kampanye penerjemahan di Baghdad di bawah kepemimpinan para Khalifah Abbasiyah kemudian secara mapan dilakukan di Bait Al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan-Pen), Baghdad. Manuskrip-manuskrip yang tersimpan berasal dari berbagai bahasa. Masa-masa awal penerjemahan sepertinya dititikberatkan kepada manuskrip berbahasa Pahlavi (Persia) ke bahasa Arab. Untuk buku buku Yunani, tercatat buku Aristoteles yang berjudul Physics adalah yang pertama diterjemahkan ke bahasa Arab selama masa kekuasaan Harun Al-Rasyid. Meskipun demikian, Sejarawan Al-Masudi mengatakan kalau buku Euclid diterjemahkan selama masa kekuasaan Al-Mansur (Khalifah ke-2), tampaknya versi terjemahan sebalumnya dari Elements dilakukan selama masa berkuasanya Harun Al-Rasyid oleh ahli matematika bernama Al-Hajjaj Ibnu Matar, dibawah pengawasan Wazir (Perdana Menteri) bernama Khalid Ibnu Barmak.

    Anak lelaki Harun Al-Rasyid yaitu Al-Makmun melanjutkan kampanye penerjemahan yang dirintis oleh ayahnya. Khalifah yang satu ini (Al-Makmun) amat dikenal karena keintelektualannya dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan serta jasa-jasanya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Nampaknya dengan kerja keras Al-Makmun pada masa pemerintahannya itu, Bait Al-Hikmah telah mapan dan menyimpan banyak terjemahan sehingga menjadi perpustakaan besar di masanya. Suatu kisah yang amat terkenal ialah saat Al-Makmun bermimpi bertemu filsuf Aristoteles yang menjelaskan kepada sang Khalifah bahwa kebaikan adalah : “yang baik menurut pikiran kita”, “yang baik menurut aturan agama”, dan, “apapun yang baik menurut orang banyak”. Totalitas Al-Makmun yang telah terkonsep secara jelas melalui kisah ini, bahwa tujuan pembangunan intelektualitas melalui penerjemahan adalah untuk kemaslahatan umum dan bukan terbatas pada kebutuhan kaum Muslimin saja.Beberapa ahli memang mengakui bahwa awalnya kegiatan penerjemahan ini ditujukan untuk perdebatan teologi mengenai kosmologi. Tentu saja dipertanyakan mengapa tiba-tiba perhatian pemimpin Islam tercurah pada ilmu-ilmu dan filsafat pra-Islam, hingga para Khalifah membangun dan mendanai sejumlah besar pusat penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab, terutama ialah di Bait Al-Hikmah. Mungkin jawaban yang paling tepat yang bisa diberikan atas pertanyaan penting ini adalah bahwa saat akan memasuki era tersebut, kaum Muslim melakukan kontak dengan otoritas-otoritas keagamaan Yahudi dan Kristen yang berusaha mempertahankan ajaran-ajaran keimanan mereka. Mereka juga menyerang ajaran Islam dengan menggunakan argumen-argumen yang diambil dari logika dan filsafat Aristotelian yang belum dikenal kaum Muslim. Akan tetapi Al-Makmun mengambil inisiatif yang cukup tepat dengan memberdayakan orang-orang Kristen Nestorian dalam penerjemahan karya-karya Yunani.

    Perpecahan di tubuh Gereja Kristen Timur sebelum lahirnya Islam menyebabkan pembagian internal yang memisahkan kaum Kristen Syriac (termasuk Nestorian, yakni pengikut St. Nestorius Patriarkh Konstantinopel (berkuasa 429-431 M) yang ajarannya dianggap sesat / heresy) dari kaum Monifisit yang berbahasa Yunani dan memaksa mereka (Nestorian) membagun madzhab sendiri serta pusat pembelajarannya, sekaligus  mengembangkan bahasa Suryani (Syriac). Itu dimaksudkan agar bisa independen dari gereja Alexandria dan Byzantium yang menggunakan bahasa Yunani.  Pada masa awal pembangunan intelektual Abbasiyah itu, peran tokoh-tokoh Kristen Nestorian, salah satunya seperti Hunayn Ibnu Ishaq (808-873 M), seorang dokter dan anak apoteker dari Hira-Iraq, begitu penting dalam menerjemahkan banyak karya-karya Yunani terutama tulisan Galen. Hunayn juga berperan dalam menerjemahkan karya-karya medis dari Hippocrates, revisi terjemahan karya Euclid Elements, De Materia Medica tulisan Dioscorides yang menjadi dasar Farmakologi Islam nantinya. Bersama putranya, Ishaq Ibnu Hunayn, dan keponakannya yang bernama Hubaish, Hunayn berhasil menyelesaikan penerjemahan Almagest dan Tetrabiblos karya Ptolemeus. Ia juga sempat menulis bukunya sendiri dalam bidang kedokteran yaitu Question of Medicine yang ia selesaikan bersama Hubaish, sedangkan buku On The Properties of Nutrition ia buat berdasarkan karya-karya Galen. Meskipun Hunayn tidak membuat kontribusi otentik pada bidang kedokteran layaknya Ibnu Sina, tulisan-tulisannya yang bertopik medis serta terjemahan-terjemahannya dijadikan dasar bagi pendidikan dokter-dokter berbahasa Arab. Sekalipun ia seorang Nestorian, ia ahli bahasa Yunani, ia juga pandai berbahasa Arab dan Syriac.

    Nama lainnya ialah Qusta Ibnu Luqa (820-912 M) yang lahir di dekat Heliopolis, Syria. Dia adalah seorang Kristen Syria yang fasih berbahasa Yunani disamping bahasa Syriac dan Arab. Qusta yang pergi untuk bekerja di Baghdad sebagai dokter dan penerjemah, juga sempat menulis seumlah buku. Ia terkenal ahli dalam bidang filsafat, logika, astronomi, geometri, aritmatika, dan musik. Buku-buku yang pernah ia terjemah antara lain Mechanics karya Hero, Arithmetica tulisan Diophantus. Buku yang pernah ia tulis seperti On Difference Between the Spirit and The Soul pernah diterjemah oleh John of Seville, darinya kemudian menjadi acuan bagi Albertus Magnus dan Roger Bacon. Qusta dapat dibilang cukup tertarik dengan masalh sihir, sehingga juga ditemukan karya atas namanya yakni Epistle Concerning Incarnation dan Adjuration and Amulets. Dalam masalah sihir, Qusta pernah menceritakan kisah tentang ‘seorang bangsawan besar negeri kita’, yang percaya bahwa ada seorang penyihir yang membuatnya impoten. Qusta menyarankan kepada bangsawan itu  untuk menggosok badannya sampai ke bawah dengan empedu gagak yang dicampur wijen, meyakinkan si bangsawan (obat-Pen) itu adalah zat perangsang, dan membangkitkan rasa percaya dirinya bahwa ia sanggup menaklukkan penyakit imajinernya itu, dan mendapatkan kembali keperkasaan seksualnya.

    Kemampuan orang-orang Kristen Syriac, seperti telah dijelaskan sebelumnya, dimulai tatkala penduduk Kristen berbahasa Syriac ini memisahkan diri dari Patriarkhat Kristen yang berbahasa Yunani. Sebuah tempat yang kemudian menjadi pusat intelektual mereka adalah Sekolah Teologi Edessa yang kemudian ditutup oleh Kaisar Zeno pada 489 M. Setelah itu berpindahlah pusat intelektual Kristen Syriac ke Nisibis – kota yang kemudian direbut oleh Persia dari Byzantium. Kaum ini selanjutnya melakukan migrasi ke wilayah timur dan banyak yang menetap di Ibukota Imperium Persia Sassania, Kota Jundi Shapour. Di Persia sendiri telah lama berdiri Akademi Jundi Shapour yang didirikan oleh Koshru (Kaisar) Shapour I (berkuasa 241 SM-72 M), dan para akademisi Kristen Syriac dari kelompok Nestorian banyak mengajarkan filsafat Yunani, ilmu kedokteran, dan sains dalam tradisi Syriac. Inilah yang membuat mereka tetap memiliki kemampuan dalam bahasa Yunani sekalipun mereka bertutur Syriac dalam kesehariannya.

Hunayn Ibn Ishaq
    Sebelum Abbasiyah berkuasa, masih belum ada inisiatif penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Akademi Jundi Shapour yang selanjutnya dikelola oleh orang-orang Kristen, bahkan hingga masa Abbasiyah, telah menelurkan para dokter-dokter Kristen selain Hunayn dan Qusta, sebut saja guru dari Hunayn yaitu Yuhanna Ibnu Masawayh (lahir 777 M), seorang pemeluk Kristen dari aliran Assyria, sebagai murid dari dokter Kristen lainnya yakni Jabril Ibnu Bukhtishu, Ibnu Masawayh selain menerjemahkan karya-karya medis Yunani ke dalam bahasa Arab dan Syriac, ia terkenal sangat ahli dalam masalah penyakit demam, pusing, penyakit mata yang ia buat dalam monograf berbahasa Arab. Setelah itu para mahasiswa dan akademisi tersedot ke Baghdad dari seluruh penjuru negeri Islam pasca proses penerjemahan di masa Al-Makmun di Bait Al-Hikmah. Saat Baghdad berubah menjadi pusat perpindahan ilmu dunia (terutama Yunani), Akademi Jundi Shapour dalam bayang-bayangnya dan secara perlahan mulai tidak didengar. Sebagaimana dikutip oleh Murtadha Muthahari, Jurji Zaydan berkata,

Qusta Ibn Luqa
“........Terlepas dari para tabib / dokter Kristiani yang melayani para Khalifah (Abbasiyah-Pen) dalam penerjemahan dan pengobatan, beberapa Ilmuwan Muslim juga beranjak ke Baghdad. Akan tetapi secara keseluruhan, ilmuwan besar yang bermukim di Baghdad mayoritas Krsitiani yang datang dari Irak dan seluruh penjuru negeri untuk diperbantukan di instansi para Khalifah. Ilmuwan Islam biasanya muncul di luar Baghdad, terutama ketika kerajaan-kerajaan kecil Islam bermunculan dan para rajanya, dengan mengikuti para khalifah, berusaha menyebarkan ilmu dan adab serta memanggil para ilmuwan ke pusat-pusat pemerintahan mereka seperti Kairo, Ghazni, Damaskus, Nishapur, Estakhr, dan lain-lain. Hasilnya muncullah Al-Razi dari Rey, Ibn Sina dari Bukhara, Biruni dari Birun (Sand), Ibn Jalil Ahli Botani, Ibn Bajah Sang Filsuf, Ibn Zuhreh seorang dokter dan keluarganya, Ibn Rusyd seorang Filsuf, serta Ibn Rumiah Ahli Botani dari Andalus.”

    Murtadha Muthahari kembali memberikan pendapatnya, “Pada mulanya, ketika ilmu-ilmu luar diterjemah dan dinukil, mayoritas ilmuwan terdiri dari ilmuwan Kristen, terutama kaum Kristen Suryani (Syriac-Pen). Akan tetapi, kaum Muslimin mengambil alih secara perlahan”. Yang tidak kalah penting untuk dicatatkan adalah apresiasi positif dari para khalifah Abbasiyah terhadap kerja keras ilmuwan Kristen itu. Sebagaimana catatan seorang sejarawan, Ibn Khallikan menjelaskan tentang masa tua Hunayn Ibnu Ishaq,

“Dia pergi ke tempat pemandian setiap hari setelah berkuda dan menyiramkan air ke badannya. Dia  lalu keluar berbalutkan gaun, dan setelah menyeruput secangkir anggur dengan camilan biskuit, dia akan berbaring sampai berkeringat. Kadang-kadang dia jatuh terlelap. Lalu dia bangun, membakar pafum untuk mengasapi tubuhnya, kemudian menyantap makan malam yang dibawanya masuk. Makan malamnya biasanya terdiri atas burung dara yang besar berlemak yang direbus dalam kaldu berikut setengah kilo irisan roti. Setelah meminum kuahnya dan memakan daging juga rotinya, dia akan jatuh tertidur. Saat bangun ia akan meminum 4 ralts (sekitar dua liter) anggur tua. Jika di ingin buah-buahan segar, dia bisa mengambil beberapa apel dan buah quince Syria. Itulah kebiasaannya hingga akhir hidupnya.”

Klik untuk bagian selanjutnya