“Maguru”-Semangat-Moderat : Warisan dari Beberapa Bagian Hidup Bung Karno




1.Pendahuluan

    Penulisan tentang gagasan, pemikiran, dan perjuangan Bung Karno terbilang cukup banyak. Setiap segi dan sisi kehidupannya telah memberikan inspirasi bagi para penulis sejarah untuk terus menguak , menganalisis, serta menyajikannya ke khalayak ramai. Tak dapat dipungkiri lagi tentang peran besar tokoh ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak akan pernah rakyat Indonesia melupakan sosok besar yang mengumandangkan proklamasi, memimpin perjuangan Revolusi Fisik, yang bahkan di masa mudanya sekalipun, ia telah merelakan kebebasannya untuk terkungkung di balik penjara. Bung Karno muda dan Bung Karno di hari tua hampir tak dapat dibedakan lagi karena saratnya perjuangan hingga akhir. Walau ia menutup usia di dalam pengucilan politik, setiap relung hati rakyat tak akan pernah menafikan kepantasannya menjadi seorang pahlawan.

    Dalam tulisan ini akan diungkapkan beberapa bagian hidup beliau yang “penting” untuk diketahui. Kedekatannya dengan Ernest Douwes Dekker “Danudhirja Setiabudhi”, pidatonya di hadapan Pengadilan Kolonial pada tahun 1930 yang membedah arti tentang imperialisme dan semangat berbangsa, dan di saat ia berbicara dalam sidang BPUPKI atau yang dikenal sebagai pidato Lahirnya Pancasila. Sukarno adalah tokoh yang amat terbuka pada semua pemikiran, bersemangat, modern dan yang tak kalah penting adalah dia memiliki kemajuan pemikiran sedemikian rupa sebagai pribadi Muslim Indonesia.

2.“Maguru” kepada Mentor-Mentor Handal

    “Saya telah dengan pemuda Sukarno. Umur saya semakin lanjut, dan bilamana datang saatnya saya mati, saya sampaikan pada tuan-tuan bahwa adalah kehendak saya supaya Sukarno yang menjadi pengganti saya. Anak muda ini akan menjadi ‘Juru Selamat dari rakyat Indonesia di masa yang akan datang’.”
    - Demikianlah Douwes Dekker yang telah berusia 50 tahun berpidato dalam rapat nasional Indische Partij.
   
    Bulan Juni 1926, keuangan Sukarno dan Inggit benar-benar terpuruk. Pilihan satu-satunya adalah menjadi guru di Ksatrian Instituut, sekolah yang dipimpin oleh Ernest Douwes Dekker, satu dari tiga serangkai pendiri Indische Partij. Tapi posisi yang lowong hanya guru matematika dan Sejarah. Sukarno galau : meski kuliah di Technische Hogeschool, ia lemah dalam berhitung. “Apa yang harus ku katakan kalau ternyata aku selalu gagal di matematika ?”. kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Douwes Dekker mendesak, “ Apa yang sebenarnya anda pikirkan bung ? Bisakah anda mengajar ?” Kepepet, Sukarno mengiyakan.”Apakah aku bisa mengajar ? Pasti aku bisa, tentu saja aku bisa.” Matematika juga ?. “Ya, matematika juga.” Mulai pekan itu juga Sukarno mengajar di Ksatrian. Seperti diduga, karirnya cuma beberapa bulan. Inspektur Pendidikan Belanda tak suka karena Sukarno lebih banyak “membakar” murid-muridnya ketimbang mengajar.
   
    Menjadikan Sukarno sebagai guru di Ksatrian Instituut menurut Frans Gilsenaar dalam buku DD : Het Leven van E.F.E. Douwes Dekker, sebenarnya Cuma siasat. Dekker ingin mengajak Sukarno ikut pertemuan tanpa diganggu oleh Politieke Inlichtingen Dienst (PID), polisi rahasia kolonial Belanda. “Ini semacam kamuflase, mengingat Sukarno, dan Dekker adalah orang yang masuk pengintaian PID,” kata sejarawan Rushdy Hoesein. “Melalui sekolahnya, Dekker punya cara baru mengumpulkan banyak tokoh pergerakan.” Sukarno muda yang mengagumkan sejatinya sudah didengar oleh Douwes Dekker dari Semaun, Alimin, Soewardi Soerjaningrat, dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Kedekatan dengan Soekarno terjalin berkat Tjipto Mangoenkoesoemo. Pada 1922, ketika kuliah di Bandung, Sukarno terlibat diskusi dengan Tjipto Mangoenkoesoemo di Tegallega. Di rumah Tjipto, Sukarno berkenalan dengan Douwes Dekker dan Soewardi Soerjaningrat. Selain itu ada tokoh muda seperti Muhammad Natsir. Sebaliknya, Tjipto dan Dekker juga terpikat pada anak didik dan menantu Tjokroaminoto itu. Tak hanya terlibat diskusi, trioTjipto-Dekker-Suwardi mengajak terlibat dalam berbaga gerakan. Pada 12 November 1922, Sukarn0 Tjipto dan Dekker hadil dalam rapat di pondok Masonic, Vrijmetselaarweg untuk menghidupkan kembali Radicale Concentracie, semacam rapat terbuka. Ketika rapat Nationaal Indische Partij digelar di Bandung, 20 Januari 1923, Sukarno nekat naik mimbar meski belakangan dipaksa turun.

    Dekker dan Tjipto juga membuka jalan bagi Sukarno untuk bertemu dengan sejumlah tokoh lain, diantaranya J.E. Stokvis, tokoh Sosial-Demokrat yang pro-Indonesia di Volksraad. Maret 1923, menurut Bernhard Dahm, Sukarno ikut diskusi malam hari bersama Stokvis. Melalui Dekker pula, Sukarno mengenal D.M.g. Koch, wartawan dan juga juru bicara Indische Sociaal Democratic Vereeniging. Kepadanya Sukarno kerap bertandang ke rumahnya di Jl. Papandayan, Bandung, untuk meminjam buku-buku Marxisme dan Sosialisme serta mendengarkan lagu negro-Spriritual. Koch belakangan diangkat menjadi sekretaris Algemenee Studie Club, kelompok yang diketuai dan didirikan pada 29 November 1945. Klub studi ini, menurut Tjipto seperti ditulis Balfas, memiliki cara kerja seperti Indische Partij. Algemenee meluas dan punya banyak pengikut, termasuk anak muda Indonesia yang baru lulus sekolah di Belanda : Algemenee adalah cikal bakal Partai Nasional Indonesia.
   
    Perpisahan Sukarno dan Tjokro sedikit-banyak dipengaruhi Douwes Dekker. Dalam banyak diskusi, Dekker menganalisis Radicale Concentratie yang bubar lantaran polarisasi Islam dan komunis di organisasi itu. Sarekat disebut oleh Dekker telah bergeser dari Sosialisme menjadi pan-Islamisme. Sedangkan faksi komunis kian dekat ke Moskow. Sukarno memutus ikatan politiknya dengan Tjokro lantaran lebih terpikat kepada Indische Partij. Tjipto memang menanamkan sikap menjunjung tinggi persamaan ras pada Sukarno. Ia juga mengajak Bung Besar melawan kapitalisme dengan fokus perjuangan nasional. Tapi Dekker, menurut Frans Gilssenaar, mengisi nilai-nilai lain : mendorong Sukarno bergerak dengan pola pengorganisasian gerakan yang ketat serta “memoles” Sukarno agar punya wibawa menghadapi massa.
   
    Bertahun-tahun kemudian, dalam wawancaranya dengan George Kahin pada 1959 – diulanginya saat berpidato di depan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, 3 Desember 1966 – Sukarno menyebut Tjipto dan Dekker sebagai mentor,
    “Aku bersyukur bisa mereguk air Nasionalisme dari Tjipto Mangoenkoesoemo, dari Ernest Douwes Dekker. Aku bersyukur, dari merekalah aku mendapat pengajaran. Aku maguru pada Tjipto, Aku maguru pada Douwes Dekker, Setiabudi. Pada Soerjaningrat atau Ki Hajar Dewantara. Maguru artinya aku nglesot di bawah kakinya. Aku terima semua pikiran dan aliran. Semua menjadi simfoni bagiku.”

3.Semangat yang Menggugat

    18 Agustus 1930 Bung Karno beserta rekan-rekannya diadili di depan pengadilan kolonial di Bandung. Prosesnya berawal dari penangkapan Bung Karno tanggal 29 Desember 1929 di rumah Mr. Soejoedi di Yogyakarta. Ikut ditangkap pengurus PNI lainnya yaitu Gatot Mangkoepradja, Maskoen, dan Soepriadinata. Sejak penangkapan oleh pihak kolonial, Bung Karno ditahan di penjara Sukamiskin, Bandung, di dalam sel berukuran 1,5 x 2,5 meter selama 330 hari (terhitung sejak hari penangkapan sampai disidangkan) dan hanya diperbolehkan keluar sel 4 jam/hari. Pada waktu diadili inilah Bung Karno membacakan pidato pembelaan : “Indonesia Menggugat” yang terkenal dalam sejarah. Hakim kolonial yang mengetuai persidangan Bung Karno dan rekannya adalah Siegenbeck van Heukolom, sedangkan jaksa penuntutnya adalah R. Sumadisurja. Para pembela yang mendampingi Bung Karno dan rekan-rekannya adalah Mr. Sastromuljono, Mr. Sartono, Mr. Soejoedi, dan R. Idih Prawiradiputra.

    Pembelaannya itu, ia mulai dengan menjelaskan arti dari imperialisme. Pemerintah kolonial cukup berang dengan Bung Karno yang dianggap sebagai penyebar provokasi ke tengah masyarakat. Hakikatnya, apa yang diinginkan Sukarno adalah membuka mata rakyat tanah jajahan tentang arti sebenarnya menjadi rakyat jajahan. Manuver pertama Bung Karno ialah dengan berkata, “ Kami tidak pernah mengatakan, bahwa kapitalisme = bangsa asing, tidak pernah mengatakan bahwa imperialisme = pemerintah.” Ia menegaskan bahwa arti dari kapitalisme dan imperialisme merupakan arti yang sebenar-benarnya. Kapitalisme merupakan paham dan cara produksi yang memisahkan kaum buruh dengan alat-alat produksi sehingga terjadi nilai lebih kepada kaum majikan, bukan buruh. Kapitalisme menyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi kapital, dan industrieel reserve-armee (barisan penganggur) ; arahnya adalah kepada verelendung (memelaratkan kaum buruh). Sedangkan imperialisme sendiri juga sebuah paham yang mana pada arti sebenarnya bukan ditujukan kepada ambtenaar Belanda, bukan pemerintah, bukan “gezag” (kekuasaan), bukan badan apapun jua. Tapi imperialisme adalah nafsu untuk menguasai atau memengaruhi ekonomi bangsa lain. Bagi Bung Karno, “Selama ada ‘ekonomi bangsa’, selama ada ‘ekonomi negeri’, selama itu dunia melihat imperialisme.” Ia melanjutkan dengan memberikan contoh “Nafsu Garuda Rum” (pasukan Romawi) yang terbang kemana-mana untuk menaklukkan daerah mediterania.

    Untuk sebuah pembelaan di depan pengadilan , Bapak Bangsa kita ini bisa merumuskan tentang masalah kapitalisme yang mendunia, terutama masalah buruh. Tentang imperialisme pun, manuvernya cukup tajam sekali dengan mengembalikan makna yang gamblang tentang penjajahan sebagai “nafsu”, yang secara tidak langsung diakui oleh pemerintah kolonial dengan disidangkannya Bung Karno kala itu. Konsistensi ucapan Bung Karno tentang “nafsu” imperialisme, ia contohkan dengan menunjukkan kejadian saat Spanyol menduduki Belanda untuk bisa mengalahkan Inggris. Dan uniknya ia juga mencontohkan “Nafsu Kerajaan timur Sriwijaya menaklukkan negeri Semenanjung Malaka, menaklukkan Melayu, mempengaruhi rumah tangga negeri Kamboja atau Campa. Ia (imperialisme) kita dapatkan dalam nafsu Kerajaan Majapahit menaklukkan dan mempengaruhi semua kepulauan Indonesia, dari Bali sampai Kalimantan, dari Sumatera sampai Maluku.” Kekhawatiran akan disintegrasi yang pernah menghampiri Indonesia di era runtuhnya Orde Baru, lebih awal diungkapkan oleh Bung Karno ; ini menjelaskan pada kita bahwa “nafsu” (imperialisme) sedemikian itu bahkan bisa terjadi diantara sesama bangsa sendiri.

      Salah satu gagasan yang kian penting dalam pidatonya itu adalah tentang kekuasaan semangat. Dengan penuh keberanian ia menuliskan, “ Siapa bisa merantai suatu bangsa, kalau semangatnya tak mau dirantai ? Siapa bisa membinasakan suatu bangsa jika semangatnya tak mau dibinasakan ?” Sebelum itu ia mengutip Kitab Bhagavad Gita yang berbunyi, “Ketahuilah senjata tiada menyinggung hidup, Api tiada membakar, tiada air membasahi, tiada hangus oleh angun yang panas...” Semangat yang berkuasa sedemikian bagi Bung Karno dapat mengalahkan “empat syaraf pembentuk imperialisme” yaitu ; 1) Divide et Impera, 2) Memundurkan rakyat jajahan, 3) Kepercayaan superioritas Kulit Putih, dan 4) Muslihat tentang kepentingan penjajah yang seolah juga kepentingan rakyat jajahan. Dalam masalah Divide et Impera yang terbentuk dari gagasan “Verdeel Ewn Heers” (Pecahkanlah, nanti kamu bisa memerintahnya), Sukarno menjawabnya dengan berkata, “ ....kami pun tak sia-sia berguru di dalam pertapaan Sang Hyang Merdeka yang mewejangkan kepada kami saktinya “ bersatu kita teguh, bercerai kita jatuh !.” Politik pecah belah itu dilengkapi oleh penanaman sifat mudah menyerah. Bung Karno mengungkapkan,”......maka rakyat kami dibikin rakyat yang “hidup kecil” dan “nrimo”, rendah pengethuannya, lembek kemauannya, sedikit nafsu-nafsunya, padam kegagahannya, - rakyat “kambing” yang bodoh dan mati energinya ! “ Sifat mudah menerima cercaan itu ditolak Bung Karno sekalipun ia mengakui bahwa butuh perjuangan yang keras untuk melawannya, “ Kami mencoba memberantas penyakit ini dengan lebih banyak mengadakan pendidikan rakyat, menyokong sekolah-sekolah rakyat, mengurangi buta huruf di kalangan rakyat.” Usaha memajukan pendidkan tersebut akan mampu memotong syaraf imperialisme selanjutnya ; mitos superioritas Kulit Putih. “Herankah tuan-tuan, kalau melihat PNI membongkar-bongkar kebohongan kata, bahwa dunia Timur akan menjadi biadab sama sekali, kalau tidak ada dunia Barat ? Tidak,... bagi kami tidaklah syak wasangka lagi bahwa inferioritet (kerendahan) dan kebodohan kami itu bukanlah inferioritet dan kebodohan yang memang sifat hakikat asli bangsa kulit berwarna, tetapi hanya inferioritet dan kebodohan yang terbikin dan terinjeksi belaka......” ungkap Sukarno sembari menjelaskan bahwa PNI akan melawan asumsi  itu dengan meyakinkan rakyat tentang kemampuan “percaya dan bekerja untuk diri sendiri” sebagai syarat politik “self-help.” Tentang syaraf yang terakhir (keempat), Bung Karno membeberkan, “ Tak benarlah ajaran kaum imperialisme  bahwa kedua pihak (penjajah dan yang terjajah- pen) mempunyai persamaan kepentingan, dan oleh karenanya, tak benarlah pula ajarannya, bahwa sebab itu, jajahan harus selamanya bersatu dengan “negeri induk” ....” Pemerintah kolonial telah tau bahwa sosok seperti Bung Karno tidak mudah menjadi korban putar lidah ala imperialisme, karena hingga kini pun rakyat Indonesia akan selalu sadar bahwa kepentingan asing tak lebih hanya jadi kepentingan pihak asing belaka, tidak ada “kepentingan bersama” yang dapat dijadikan alih-alih dalam alasan apapun untuk pihak penjajah / kolonial di masa itu ataupun untuk pihak asing di masa sekarang atas rakyat dan tanah Indonesia.

    Sebagaimana kita tahu bahwa Bung Karno adalah “pelahap” semua jenis buku-buku penegatahuan terutama filsafat, politik, ekonomi, sejarah dan lainnya. Barangsiapa yang membaca karangan-karangan Soekarno tentu akan mengakui gagasan, orisinalitas, kekuatan pikiran, kekayaan bahan pustaka, serta penguasaan tata dunia. ini cukup menjadikan alasan manakala ia lantas tampil bukan hanya sebagai pemimpin gerakan yang piawai berpidato, akan tetapi juga memukau sebagai penulis di berbagai media. Wajar saja apabila ia dapat memadukan pemikiran-pemikiran dalam berbagai sumber untuk  bisa merumuskan perjuangan Indonesia ke arah yang benar. Ibarat sebuah “ramalan,” apa yang diungkapkan founding father kita ini, bisa menjadi cerminan tentang semangat masa kini yang kian “luntur” entah dengan beberapa dalih dan alasan yang berusaha menutupi kelemahan generasi masa kini tantang kelupaannya pada sejarah dan bangsa. Saat ini ada yang berkata “untuk kemajuan”, maka segala sisi ke-Indonesiaan digantikan ke-Baratan, ada pula yang tak segan menjilat-jilati keunggulan asing, menghamba pada cara pandang hidupnya, dan bahkan menyembah pada budayanya karena merasa yang ada dalam bangsa Indonesia yang katanya “tak patut dibanggakan.” Sekadar untuk pengingat, Bung Karno pernah meramalkan dalam pidatonya ini, mengenai imperialisme Jepang yang kemudian terbukti 12 tahun sesudahnya,

    “ Nama “kampiunnya bangsa-bangsa Asia yang diperbudak,” nama itu adalah suatu barang bohong, suatu barang dusta, suatu impian kosong bagi nasionalis-nasionalis kolot, yang mengira bahwa Jepanglah yang akan membentak imperialisme Barat dengan dengungan suara : “Berhenti !”. Bukan membentak “berhenti !” tetapi dia sendirilah yang ikut menjadi hantu yang mengancam keselamatan negeri Tiongkok, dia (Jepang-pen) sendirilah yang nanti di dalam pergulatan mahahebat dengan belorong-belorong imperialisme Amerika dan Inggris ikut membahayakan keamanan dan keselamatan negeri-negeri sekeliling Lautan Teduh, dia sendirilah salah satu belorong yang nanti akan perang tanding di dalam Perang Pasifik.”

    Seharusnya ini semua menjadi pembelajaran keteladanan atas kesiagaan bangsa Indonesia di masa kini. Semangat yang diajarkan oleh Bung Karno akan menjadi stimulan, selain di saat yang sama semangat itu akan membawa diri kita mampu “menggugat” kebohongan dari berbagai “kepentingan” pihak-pihak yang sedang menggerogoti dan yang akan “mengincar” bangsa kita di masa yang akan datang. Hal ini tidak pula kemudian menjadikan alasan untuk mencurigai secara keterlaluan beberapa hal yang berasal dari luar, karena Bung Karno telah mencontohkan bahwa ternyata nafsu untuk saling menguasai juga bisa timbul dari dalam diri bangsa sendiri.

4.Moderat dalam Ber-Paham

    Bung Karno, 1 Juni 1945. Ketika Bung Karno menjelaskan, seraya membujuk, perlunya Indonesia mempunyai sebuah Weltanschauung, sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan, ia sebenarnya sedang meniti buih untuk selamat sampai ke seberang. Sebab itu, jika ditelaah benar, pidato “Lahirnya Pancasila” yang terkenal itu mengandung beberapa kontradiksi – yang sebenarnya menunjukkan bahwa Bung Karno sedang mencoba mengatasi pelbagai hal yang bertentangan yang dihadapi Indonesia. Kontradiksi yang paling menonjol justru pada masalah Weltanschauung itu. Sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan atau sebuah “dasar filsafat” (Bung Karno menyebutnya philosophische grondslag) yang melandasi persatuan bangsa adalah sebuah fondasi, perekat, dan sekaligus payung. Disini tersirat kecenderugan untuk memandangnya sebagai sesuatu yang harus kukuh dan sempurna – sebuah kecenderungan yang makin mengeras di masa Orde Baru, yang menganggap Pancasila itu “sakti”. Jika benar demikian halnya, ia tak bisa diubah. Tapi timbul persoalan ; bagaimana pandangan ini memungkinkan sebuah kehidupan politik yang, seperti dikatakan Bung Karno sendiri, niscaya mengandung “perjuangan paham” ?.

       Kata Bung Karno, tak ada sebuah negara yang hidup yang tak mengandung “kawah Candradimuka” yang “mendidih” dimana berbagai “faham” beradu di dalam badan perwakilannya. Tak ada sebuah negara yang dinamis “kalau tidak ada perjuangan faham di dalamnya”. Ketika Bung Karno menyebut kalimat ini, ketika ia mengakui bahwa sebuah negara mau tak mau mengandung “perjuangan sehebat-hebatnya” di dalam persoalan “faham”, ia menatap ke sebuah arah : ia ingin membuat tenteram kalangan politik Islam. Ia menganjurkan agar “pihak Islam” menerima berdirinya sebuah negara yang “satu buat semua, semua buat satu”. Ia menolak egoisme agama. Tapi ia juga membuka diri kepada kemungkinan ini : bisa saja suatu saat nanti hukum yang ditegakkan di Indonesia adalah hukum Islam – jika “utusan-utusan Islam” menduduki “Sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat.”

    Disini tampak, perjuangan ke arah hegemoni diakui sebagai sesuatu yang wajar dan sah. Tapi dengan demikian, Weltanschauung yang durumuskan sebenarnya bukan fondasi yang kedap, pejal, sudah final dan kekal, hingga meniadakan kemungkinan suatu “faham” menerobosnya dan mengambil alih posisi “filsafat dasar” itu. Dengan kata lain, Pancasila bukan sesuatu yang “sakti”. Pancasila tidak pernah sakti, justru itu ia menjadi berarti. Ada tiga kesalahan besar Orde Baru dalam memandang kelima “prinsip” itu. Yang pertama adalah membuat Pancasila hampir-hampir keramat. Yang kedua, membuat Pancasila bagian dari bahasa, bahkan simbol eksklusif, si berkuasa. Yang ketiga, mendukung Pancasila dengan ancaman kekerasan. Pancasila lahir dari jerih payah sejarah, dan - seperti halnya hasil bumi – menawarkan sesuatu yang tetap bisa diolah lebih lanjut. Ia tak “ready-for-use”. Ia tak menampik tafsir yang kreatif. Ia membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, sebab tiap doktrin akan digugat perkembangan sejarah dan sebab itu Bung Karno mengakui : tak ada teori revolusi yang  “ready-for-use”.

    Yang juga tampak dalam keterbukaan untuk kreativitas itu adalah sifatnya yang tak bisa mutlak. Tiap “sila” mau tak mau harus diimbangi oleh sila yang lain : bangsa ini tak akan bisa hanya menjalankan sila keberagamaan (“Ketuhanan Yang Maha Esa”) tanpa diimbangi sila kesatuan bangsa (“Kebangsaan Indonesia”), dan sebaliknya. Kita tak akan patut dan tak akan bisa bila kita ingin menerapkan sila nasionalisme tanpa diimbangi perikemanusiaan, dan begitulah seterusnya.
   
    NB : Pada bagian penutup ini, penulis tidak bermaksud, tidak pula menganggap bahwa Pancasila tidak berharga. Sebaliknya, penulis mengharapkan sebuah kesadaran konstruktif yang berasal dari pengalaman sejarah Indonesia yakni di saat Orde Baru yang “menyulap” Pancasila menjadi  sebuah “Senjata Sakti”, yang begitu mudahnya merumuskan “Represif untuk Preventif.” Pancasila di masa rezim Orde Baru telah menjadi instrumen yang disalahgunakan untuk menentang kebebasan dan kemanusiaan. Disamping itu kita menemui fakta bahwa kian banyak orang-orang dari paham tertentu yang seringkali “mendominasi kebenaran” dengan meyakinkan bahwa pahamnya tersebut “YANG PALING BENAR”. Padahal telah dijelaskan bagaimana Bung Karno memandang Pancasila sebagai ideologi dasar negara dalam kemoderatan yang didasarkan rasionalitas-kesadaran akan adanya “kompetisi” antar-faham yang juga memungkinkan terjadinya “perubahan-perubahan” corak perpolitikan.


Sumber

Mohamad, Goenawan, Tokoh + Pokok, Jakarta : Tempo & Grafiti, 2011.

Setiadi, Purwanto, Yandhrie Arvian (Ed.), Douwes Dekker : Sang Inspirator Revolusi, Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2012.

Tono, Suwidi (Ed.), Mahakarya Soekarno-Hatta, Jakarta : PT. Perspektif Media Komunika, 2008.


Author : Arafah Pramasto, Co: Sapta Anugrah

Comments