Mengenal Latar Belakang Sejarah Sosok Residen H. Abdul Rozak dan Kiprahnya di Masa Kolonial hingga Kedatangan Jepang

H. Abdul Rozak
1. Pendahuluan

    Perjuangan rakyat Sumatera Selatan termasuk perjuangan yang amat penting di masa Revolusi Fisik. Sekalipun penekanan pengkajian lebih dititikberatkan kepada perjuangan pulau Jawa era itu, namun apa yang terjadi di Sumatera Selatan termasuk suatu hal yang perlu diperhitungkan. Sebagaimana banyak kejadian dalam potongan sejarah di dunia ini, dalam masa kalut sekalipun akan muncul nama-nama yang patut dikenang. Sumatera Selatan telah memiliki Sultan Mahmud Badaruddin sebagai Pahlawan Nasional. Nama lainnya seperti Adenan Kapau Gani juga tidak lagi asing dalam  kesejarahan negeri ini. Kini, nama Residen H. Abdul Rozak, seorang residen Palembang yang turut berperan serta dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan pantas untuk menghiasi jajaran kusuma bangsa sebagai seorang felle republikein (Republikan yang Tegas) dan setia dalam perjuangan melindungi seruan Proklamasi 17 Agustus 1945.

    Dalam Seminar Calon Pahlawan Nasional pada 10 Maret 2015, beberapa tokoh seperti Bapak Tri Sutrisno, Hutamar Rasyid, Mestika Zed, dan Dr. Farida R. Wargadalem ikut serta dalam memberikan makalahnya tentang peran kunci Residen H. Abdul Rozak pada masa perjuangan Revolusi Fisik di wilayah Sumatera Selatan. Ketokohannya merupakan sebuah teladan, pengkajiannya adalah keharusan, beliau adalah milik seluruh rakyat Sumatera Selatan, dan perjuangannya hanya untuk satu negeri ; Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Palembang : Dari Sriwijaya Hingga Keresidenan

    Sebuah negara yang berbentuk kepulauan dan dahulu bernama nusantara karena bentang geografisnya yang terbentuk oleh pulau – pulau pasti memberikan konsekunsi kepada kejadian – kejadian sejarahnya. Kesejarahan memang amat pantas untuk dikaitan dengan kondisi geografis sebagai salah satu pendekatanya. Sebelum persatuan terbina melalui sumpah pemuda pada tahun 1928, wilayah nusantara yang kemudian terlahir nama Indonesia menyimpan kisah – kisah kekalahan pada impralisme barat akibat terpisahnya pulau – pulau secara geogrfis. Kesultanan Palembang di akui ekistensinya secara kesejarahan dan tematikal perlawanan  pada hegemoni Belanda dibawah Sultan Mahmud Badaruddin. Perang Palembang dalam rentang waktu 1819 – 1821 dapat disebut sebagai perang terbesar di Nusantara.

    Kehadiran kekuatan asing di Palembang bukanlah yang pertama kali yang terjadi di wilayah ini. Pernah diketahui bahwa penyerbuan Kerajaan Colamandala pada tahun 1025 masehi yang menyebabkan lemahnya Kerajaan Sriwijaya dari sebab itu dalam rentang waktu 1079 – 1082 terjadilah masa – masa sebelum runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Palembang juga oernah diduduki oleh seorang bajak laut Tiongkok bernama Chen Zuji yang mendirikan markas operasinya di perairan ini. Kedatangan Cheng Ho pada ekspedisi  pertamanya (1405 -1407) mengemban salah satu misi untuk membawa kembali Chen Zuji kehadapn Kaisar Ming. Kaisar menghukumnya dengan memenggal kepala pimpinan bajak laut itu. Karena takut mendapat hukuman yang sama, beberapa anak buah bajak laut yang belum tertangkap melarikan diri ke dalam hutan-hutan di sekitar Palembang agar tidak tertangkap oleh pasukan Cheng Ho yang mengejar mereka. Mereka tidak pernah keluar lagi dari hutan-hutan. Setelah merasa bahwa pasukan Cheng Ho sudah meninggalkan wilayah tersebut, mereka para mantan bajak laut itu, lalu berbaur dan menjadi penduduk setempat dengan menanggalkan jati dirinya sebagai orang Han. Mereka menikah dengan perempuan setempat dan keturunannnya menjadi orang setempat mengikuti garis ibunya mengingkari tradisi sistem kekerabatan Han yang sebenarnya patrilineal. Tidak mengherankan jika ada orang Palembang, Komering, atau Ogan sekarang yang secara ragawi masih menunjukkan ciri-ciri ragawi Han . Bukti kesejarahan ini tetap mengandung kisah yang bercorak invasi militer sekalipun dalam koteks kepentingan asing dan yang berhadapan ialah sesama komponen asing. Maka hasil dari yang ditimbulkan cenderung bukan sesuatu yang destruktif kepada komponen lokal disamping memang Tiongkok saat itu tidak sama sekali dapat disamakan tujuannya dengan kekuatan Eropa yang cenderung eksploitatif.

      Peperangan lainnya yang tercatat dikota ini, yakni juga berasal dari kekuatan asing : VOC, merupakn salah satu kemenangan Palembang terhadap kekuasan asing sebelum menjadi Kesultanan saat itu Palembang berada dibawah kekuasaan Mataram. Meskipun VOC dibawah pimpinan laksamana Joan Van Der Lann sempat membakar keraton, kuto, dan pemukiman penduduk asing (China, Portugis, dan Arab) di seberang kuto namun pasukan Palembang merebut kembali atas kota. . Garis besarnya ialah kehadiran kekuatan asing yang dekstruktif bukan merupakan hal yang baru dalam perjalanan sejarah kota ini baru terjadi di masa kedatangan bangsa Eropa.

    Penyebab utama pendirian Kesultanan Palembang dibawah pemerintahan Susuhunan Sultan Adurrahman Khalifat Al Mukmianin Sayyidil Iman / Pangeran Kusumo Abdurrahim / Kiai Mas Endi yang memerintah sejak tahun 1659 sampai 1706 , ialah karena tidak adanya kepedulian pemerintah pusat di Mataram terhadap penyerbuan Banten dibawah Maulana Muhammad yang menginginkan keuntungan ekonomi dari Kesultanan Palembang. Sejak saat itu Palembang mengukuhkan identitasnya sebagai Kesultanan Islam yang independen. Kisah perjuangan Kesultanan Palembang adalah salah satu bagian dari atmosfer masa itu yang mana kekuatan – keuatan lokal saling berebut kekuasaan ditengah masa ekspansi impralisme barat di Nusantara. Adapun kekuatan umat Islam di wilayah kepulauan Nusantara, telah berjuang keras sejak abad ke-16 guna menghadapi bangsa barat yang dipimpin Portugis, dan Spanyol sejak periode pertengahan Islam; yakni masa tiga kerajaan besar Islam baik pada fase kemajuan / Islam II, dan fase kemunduruan  / Islam II-nya: sedang saat berada dalam fase persaingan perdaganggan dengan bangsa barat. Pihak inggris dengan East India Company ( EIC), dan Belanda dengan Vereengde Oost-Indische Compagnie (VOC) telah berhasil menduduki Malaka sejak tahun 1641 M. Padahal sebelumnya, kehidupan umat islam di Nusantara sedang mengalami hidup makmur dan sejahtera, karena hubunganya dengan bangsa China; Dhinasti Ming (1368 – 1644).

      Kegagahan prajurit – prajurit Palembang dalam mempertahankan diri dari serangan armada laut Inggris maupun Belanda (1812 – 1819), menimbulkan hasil yang berbeda (jika peperangan 1819 babak pertama dan kedua berakhir kemenagan rakyat,giliran pada peperangan tahun 1821 Palembang situasinya menjadi berbalik dan dipaksa untuk menelan pil pahit kekalahan, walaupun telah bertahan sampai titik optimum dan telah berhasil mendatangkan korban yang tidak kecil bagi Belanda. Akhirnya pada 7 Oktober 1823 Kesultanan Palembang, keresidenan Palembang. Pada kurun waktu 128 tahun kemudian, peristiwa tragis yang dialami oleh prajurit –prajurit Sultan Mahmud Badarrudin II, berulang kembali sebagimana akan  dituturkan dalam bab selanjutnya. Jika Mahmud Badarrudin II dan seluruh pasukannya telah dipaksa untuk menyerah dan kemudian Mahmud Badarrudin II beserta keluarganya dibuang ke ternate, maka satu seperempat abad kemudian patriot – patriot Palembang yang telah mencoba mempertahankan bumi Sriwijaya dengan keringat, darah dan nyawa terpaksa menerima kenyataan dan digusur ke luar kota.

    Sedikit sekali diketahui tentang makna dan arti sebenarnya dari Keresidenan Palembang. Satu hal yang tidak bisa disamakan dengan Jawa, terhitung sejak 7 Okrober 1823 sampai 17 Agustus 1945, Palembang yang saat itu menjadi keresidenan baru mengalami 122 tahun penjajahan. Sebuah transformasi lintas zaman Keresidenan Palembang pasca runtunhnya Kesultanan Palembang, masuknya kolonial Belanda, masuknya Jepang dan era revolusi fisik menandakan  sebuah eksisitensi yang terbilang cukup lama. Satu poin yang harus dikemukakan ialah bagaimana bentuk keresidenan ini di masa sejarah revolusi kemerdekaan indonesia yang dapat di lihat sebagai titik paling krusial, itu semua dapat terungkap dengan melihat sosok Residen Abdul rozak.

3. Kondisi Seputar Kelahiran Residen H. Abdul Rozak

     Keresidenan Palembang termasuk wilayah Sumatera Selatan, disebelah barat dibatasi oleh daerah Bengkulu, disebelah utara Jambi, dan daerah Bangka dan laut Jawa sebelah Selatan. Selain dari pada itu diseberlah daerah itu terdapat bukit barisan yang mebentang dari arah barat daya menuju tenggara. Pada abad ke 19, luasa wilayah Kersidenan Palembang adalah 85.918 Km2, sebagaian besar wilayahnya dataran yang sangat subur, yang dipotoh oleh sejumlah aliran sungai. Terutana disebelah timur yaitu darah pantai atau ilir terletak sangat rendah, terbuka bagi banjir dan sebagian besar berupa rawa, sedangkan disebelah barat berupa daerah pegunungan yang membentuk bagian dari deretan bukit barisan.di sebelah selatan dimulai dengan dataran tinggi mekakau dan ranau, yang hanya terputus pada sisibarat oleh rangkaian gunung mencapai pandan yang berketinggian 1678 m diatas permukaan laut, namun disebelah timur daerah pegungunggan itu berubah menjadi dataran rendah yang luas. Disebelah selatn dataran tinggi itu terdapat danau Ranau, dan sungai wai Kuala mengali yang bertemu dengan mekakau dan selanjutnya mengalir bertemu dengan Saka di muara 2 yang namanya berubah menjadi Ogan Komring. Kemudian, sungai Ogan Komring itu megalir kearah timur dan bertemu dengan sungai Musi di Plaju, dekat kota palembang.

      Daerah palembang berikilim Tropis, Suhu udaranya 32 derajat celcius pada musim kemarau dan suhunya menjadi 25 derajat celcius pada musi hujan. Dengan demikian sepanjang tahun daerahnya dipengarui oleh anigi musim batar dan timur. Angin musim barat yaitu angin yang berhembus dan membawa air cukup besar sehingga mengakibatkan hujan pada Oktober-April. Angin musim timur berhembus pada April-Oktober membawa udara kering yang menyebabkan kemarau panjang di wilayah Sumatera Selatan.

    Di kota Palembang, rata-rata curah hujan setiap tahunnya adalah 2663 mm, di Tebing Tinggi 3131 mm, Surulangun ialah 3101 mm, Lahat ialah 3422 mm, Bandar 2996 mm, Baturaja 2994 mm, Muara Beliti 2953 mm, dan Muara Dua 2496 mm. Oleh sebab itu tanah daerah Palembang sangat cocok untuk jenis-jenis tanaman seperti sayuran, buah-buahan, tanaman yang laku di pasaran dunia yaitu, cengkeh, kopi, dan lada. Sistem tanam yang dilakukan penduduk masih sederhana atau bersifat tradisional, yaitu ladang berpindah. Oleh sebab itu sebagian penduduknya, terutma yang berada di daerah pedalaman dalam kehidupan kesehariannya lebih ditentukan oleh tanah pertanian. Namun demikian wilayah Palembang juga memiliki sumber daya alam, seperti tambang minyak, batu bara, dan timah. Dengan letak yang sangat strategis bentang alam itu, Palembang berada dalam jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai sehingga memungkinkan untuk persinggahan atau bahkan tujuan perdagangan itu.

    Salah satu pendukung lainnya yang amat penting dalam kehidupan masyarakat Palembang adalah keberadaan Sungai Musi dan sungai-sungai lainnya yang tersebar di sekitarnya. Panjang Sungai Musi adalah 700 km dan 450 km dapat dilayari, luas aliran sungai ini adalah 1.635.168 ha. Sungai ini juga menghubungkan kota Palembang dengan dunia luar yaitu melalui muara sungai di daerah Sungsang, dan inilah yang menjadikan kota ini amat ramai untuk dunia perdagangan. Disamping itu kota Palembang sebagai tempat pertemuan antara penduduk dengan para pedagang dari seberang, yaitu Belanda dan Inggris. Para pedgang itu terdiri dari orang-orang Arab, India, dan Cina. Orang-orang Arab dan Cina membentuk pemukiman sendiri-sendiri yang hidup di pinggiran kota, sedangkan orang-orang Indoa dan Eropa bertempat tinggal di pusat kota Palembang.

      Memasuki 7 Oktober 1823 palembang menjadi keresidenan dibawah kolonial belanda menggantikan setatusnya yang dahulunya adalah kesultanan. Ini merupakan dampak logis dari hegemoni kolonial yang mulai tertanam melalui hasil dari kekalahan kesultannan palembang melawan pemerintahan belanda. Pemerintah kolonial belanda yang memberi stattus Keredidenan bagi wilayah ini, telah menyusun administrasi pemerintahannya sedemikian rupa sehingga mereka dapat menguras kekayaan wilayah ini dengan biaya murah serta mendapat ”bantuan” dari penguasa – penguasa pribumi yang diberikanya kemudahan – kemudahan tertentu serta keukasaanya yang terbatas. Keresidenan ini dipimpin oleh seorng reseden bangsa belanda. Selainya keresiden dibagi dalam suatu istilah yang disebut afdeling dengan masing – masing seorang asosten residen berkebangsaan Belanda sebagai pimpinannya.

    Adapun wilayah Keresidenan Palembang meliputi beberapa afdeling, yang masing-masing afdeling dipimpin oleh asisten residen. Secara administratif wilayah keresidenan itu terbagi atas : 1. Daerah Ibukota Palembang ; 2. Afdeling Palembang Ilir (Palembangsche Benedenlanden) dengan Ibukotea Sekayu. Afdeling itu terbagi lgi dalam 4 onder afdeling, yaitu : Musi Ilir, Banyuasin, dan Tanah Koeboe, Rawas, dan Ogan Ilir. 3. Afdeling Palembang Ulu (palembangsche bovenlanden) dengan Ibukota Lahat, yang terdiri dari : Onder Afdeling Lematang Ilir, Lematang Ulu, Tanah Pasemah, Tebing Tinggi, dan Musi Ulu. 4. Afdeling Ogan Ulu dan Komering dengan Ibukota Baturaja. Wilayah itu terdiri atas : Onder Afdeling Komering Ulu, Ogan Ulu, Muara dua, dan Komering Ilir. Setiap Onder Afdeling dikepalai oleh seorang controleur. Di seluruh daerah Keresidenan Palembang ada 15 distrik yang masing-masing distrik dikepalai oleh seorang Demang dan 40 Onder Distrik yang masing-masing dikepalai oleh seorang asisten Demang. Dalam menjalankan tugasnya, controleur sebagai kepala Onder Afdeling dibantu oleh Demang (Kepala Distrik), asisten Demang (Kepala Onder Distrik), beberapa personel mantri Polisi, Mantri Pajak atau Belasting , dan Mantri kesehatan.

    Semua pegawai-pegawai pemerintah itu diangkat dan digaji oleh pemerintah Hindia Belanda. Mereka harus taat dalam menjalankan perintah dari atasannya. Adapun penguasa tertinggi di keresidenan Palembang adalah Residen dan penguasa setempat, yang dibantu oleh seorang Kepala Polisi Pribumi dan beberpa karyawan pribumi yang mereka semua digaji oleh pemerintah. Oleh sebab itu ia memiliki kekuasaan di bidang administrasi, legislatif, yudikatif, dan fiskal dan sekaligus sebagai pelaksana teknis di tingkat keresidenan. Sedangkan asisten residen sebagai penguasa di daerah afdeling memiliki tanggungjawab menjalankan tugas-tugas residen, kecuali yang ada hubungannya dengan bidang peradilan. Adapun tugas controleur mengumpulkan data informasi dan melaksanakan perintah atasannya. Disamping itu, dalam menjalankan tugas kepemerintahannya, controleur didampingi oleh Demang, asisten Demang, Mantri Polisi, dan sejumlah Mantri lainnya. Dengan demikian pejabat-pejabat pemerintah Hindia Belanda dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh perangkat dibawahnya yaitu Demang, Asisten Demang, Mantri dan seterusnya. Oleh sebab itu pejabat-pejabat pemerintah Belanda sangat hati-hati dlam menghadapi masyarakat asli / Bumiputra. Dengan demikian pelaksanaan pemerintahan Hindia Belanda di daerah didasarkan atas prinsip non-akulturasi, yaitu suatu sistem pemerintahan melalui kepala-kepala pribumi.

    Keadaan warga Kota Palembang masa kolonial yang digolongkan ke dalam “warga kota asing”, sedangkan “warga kota lain” mendapat keuntungan dari Palembang sebagai simbol kota dagang tersebut, ternyata tidak banyak berimbas bagi “warga kota asli”, orang-orang Palembang sendiri. Memang ada indikasi, sebagian dari “warga kota asli” mengerti akan keuntungan letak kota ini sebagai pusat perdagangan, terutama oleh letak strategisnya tersebut. Namun berkenaan persoalan “modal dagang”, “warga kota asli” yang bergerak dalam bidang perdagangan ini jauh kurang lebih dari orang kulit putih, termasuk dalam hal ini kepintaran ilmu dagang dan kapitalnya. Sehingga, pada zaman ini, “warga kota asli” banyak tidak tahu dengan baik bahwa mereka harus hidup dengan perdagangan dan dalam dunia perniagaan. Kalau pun ada “warga kota asli” yang berkecimpung dalam perdagangan, bentuk perdagangan mereka dianggap masih berkonsep tradisional. Pola tradisional dalam perdagangan ini paling tidak dapat dilihat dalam dua bentuk. Pertama, warga kota asli ini lebih banyak menjalankan perdagangannya dalam bentuk yang tidak terorganisasi. Kedua, perdagangan dan perniagaan yang dijalankan adalah bersifat “perdagangan keliling”. Pada tataran awal dari gambaran di atas, dapat kita lihat bagaimana simbol kota dagang ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh “warga kota asing”, Belanda dan Eropa lainnya dan “warga kota lain”, orang-orang Cina, Arab dan timur asing lainnya. Tetapi sebagian justru kurang dapat dimanfaatkan dengan baik oleh “warga kota asli”, orang-orang pribumi.

    Pada masa kolonial, perpecahan antara uluan dan iliran, mendapat tempatnya, ketika muncul pola baru perubahan dalam bentuk dunia perdagangan di Keresidenan Palembang. Perubahan tersebut secara tidak langsung menyebabkan mundurnya nilai kebersamaan yang cukup hebat. Transformasi ini terutama tercipta oleh dua hal, pertama secara ekonomi Belanda mampu memutuskan hubungan-hubungan langsung perdagangan yang bernuansa partnership orang iliran dan uluan dengan dunia luar. Kedua, secara politis, jatuhnya Kesultanan Palembang dalam genggaman Belanda pada dekade awal abad ke-19, membuat terpukul mundurnya para bangsawan Palembang iliran dalam dunia dagang, peran mereka mulai tergantikan oleh “warga kota lain”, orang Cina dan Arab, serta sedikit orang iliran yang mampu dengan cepat mengalihkan rasa kesetiaan politik kepada Belanda.

      Arus urbanisasi dari uluan ke iliran, dalam catatannya dari pedalaman Palembang ke kota Palembang, pada masa kolonial, terutama tahun 1930-an, lebih banyak dilakukan oleh “orang-orang terdidik”. Mereka datang ke kota pada awalnya, lebih disebabkan oleh persoalan meneruskan sekolah. Mereka adalah anak-anak “pembesar” uluan paling tidak anak pasirah atau depati. Kedatangan mereka untuk sekolah dan nanti bekerja di kota Palembang, terutama untuk mengisi jabatan bawah pemerintah kota, gemeente. Akibatnya, dalam kota pada “warga kota asli”, penduduk pribumi, muncul suatu dikotomi yang walaupun tidak terlalu ketat namun menarik untuk dibicarakan, tetapi pada intinya “orang-orang uluan terdidik”, sebagian besar jumlah siswa-siswi sekolah berasal dari anak-anak “pembesar uluan”, anak pasirah yang merupakan kepala marga. Pendidikan yang dijalankan Belanda dapat membuat penduduk di Keresidenan Palembang dalam Volkstelling 1930 menduduki tingkat melek huruf sebesar 12 persen. Jika dipersentase dengan jumlah penduduknya, maka tingkat melek huruf ini, untuk wilayah Pulau Sumatera, menempati posisi yang tinggi. Sebagai catatan tambahan, masyarakat Keresidenan Palembang pada abad tersebut, cukup beruntung, bahkan mereka bisa membaca dan menulis dalam Bahasa Belanda cukup tinggi jumlahnya tercatat sebanyak 2.950 orang. “Keberuntungan” orang uluan dalam mengakses pendidikan Barat dikarenakan adanya diskriminasi pendidikan yang dijalankan pemerintah Belanda, “hanya” anak-anak pembesar pribumi yang telah teruji loyal dapat bersekolah, akibatnya anak anak depati, pangeran dan pasirah “uluan” yang paling banyak bersekolah di sekolah Belanda.

      Latar belakang diatas adalah sebuah fakta politis, sosial, dan ekonomi yang terjadi setelah kejatuhan Kesultanan Palembang. Kenyataan politis ini juga berdampak pada persoalan pendidikan di Kota Palembang. Ketika Pemerintah Belanda membuka kran pendidikan, yang paling banyak dapat memanfaatkan keadaan ini, justru datang dari si ulu. Anak-anak bangsawan iliran mendapat batasan dan seleksi ketat untuk berpendidikan di sekolah Barat, karena persoalan “perasaan” ragu. Dalam pertimbangan logis, tentunya Belanda akan mencari pihak lain untuk mendapatkan keistimewaan dalam pemerintahannya yakni kepada orang-orang Uluan.

4. Terlahir Sebagai Anak Bangsawan

    Kehidupan Residen H. Adul Rozak tidak bisa lepas dari kehidupan dikotomis Sosial Uluan dan Iliran itu. Telah disebutkan bagaimana para pesirah yang banyak menyekolahkan anaknya guna mendapatkan pendidikan tinggi. “Warga kota asli” yang berasal dari Palembang asli, orang iliran, lebih menganggap diri, tidak sekolah tinggi, bahkan tidak ada yang sekolah sampai ke luar negeri, memang kehendak mereka sendiri. Bagi orang tua iliran lebih menganjurkan untuk menuntut ilmu akhirat, mengaji dan sembayang. Setelah itu barulah anaknya disuruh ke sekolah rendahan. Setelah tamat dari sekolah rendahan tersebut, mereka diajari berdagang dan diberi modal, tiada niat orang tua masyarakat iliran untuk menyuruh anaknya makan gaji, menjadi budak orang lain. Sehingga muncul realita, bahwa penduduk iliran merupakan kelompok masyarakat yang “dilahirkan dengan bakat dagang”. Tidaklah mengherankan bagian dari kehidupan dari Residen H. Abdul Razak begitu lekat dengan pendidikan dan karir politik.

    Abdul Razak terlahir pada tahun 5 September 1891 dari keluarga elit tradisional Uluan suku Komering. Ayahanya adalah Pangeran Haji Muhammad Ali Djajadiningrat, seorang Pasirah Marga Madang Suku I yang membawahi 14 Desa. Tepatnya di dusun Rasuan sebagai putra ke-7 dari sembilan bersaudara. Saudara-saudaranya yang lain adalah Muhammad Arsjad, Abdul Hamid, Abdullah, H. Muhammad Saleh, H. Muhammad Akib, Muhammad Joesoef, Zainal Abidin, dan H. Moekti. Seperti diketahui, marga terdiri atas beberapa dusun. Adapun dusun terbagi menjadi beberapa kampung. Kalau kepala marga adalah pesirah, maka kepala dusun adalah “Krio”, dan kepala kampung adalah “Penggawa.” Dusun yang menjadi ibukota marga dipimpin oleh “Pembarap” setingkat dengan Krio akan tetapi ia sebagai kepala dusun tempat kediaman pesirah. Jajaran pemerintahan lainnya seperti dalam bidang keagamaan, diangkatlah “Penghulu” untuk tiap marga dan khotib bagi dusun-dusun.

      Abdul Rozak selaku putra ketujuh dari sembilan bersaudara sadar benar akan kedudukannya. Menurut adat kebiasaan di Sumatera Selatan umumnya, tidak terkecuali Dusun Rasuan tempatnya tinggal, kedudukan anak lelaki dalam keluarga lebih banyak mengandung tanggung jawab daripada anak perempuan, apalagi anak lelaki itu adalah yang tertua dalam satu “keluarga inti.” Ia akan dianggap sebagai “Penegak Jurai” (Penyambung Dinasti / Keturunan) dari keluarga inti itu. Sebagai putra ketujuh dari sembilan bersaudara, Abdul Rozak tidak mendapat keistimewaan “pola pengasuhan” dalam keluarga. Anak-anak dalam urutan kelahiran demikian pada umumnya akan lebih banyak mendapatkan pengetahuan seperti “tata krama” dan berbagai adat “sopan santun” dengan mencontoh dari saudara-saudaranya yang lebih tua atau dari teman-teman sebayanya. Tampaknya inilah yang menempa diri Abdul Rozak sebagai seorang yang kuat kelak.

5.Pendidikan dan Karir

    Abdul Razak menempuh pendidikan awal di Sekolah Rakyat. Saat itu elite Tradisional Uluan muncul dalam bentuk berbeda dalam mengenyam pendidikan yang muai digalakkan oleh pihak Belanda pada awal abad ke-20. Pada perkembangannya elite Uluan mulai mendapat tempat, dengan dibukanya Sekolah Kelas Dua atau VervolksSchool pada 1910 dan Volks School pada 1915. Pendirian sekolah-sekolah itu umumnya berdiri di Ibukota Marga, otomatis penikmat pertama pendidikan ini adalah anak-anak elite Uluan. Kelompok elite Uluan banyak menempati posisi Juru Tulis, Mantri Polisi, Guru, dan Pengawas Sekolah. Kondisi ini tidak dapat dilepaskan dengan makin majunya daerah Uluan, dan berkembangnya berbagai perkebunan karet, kopi, lada, dan pertanian padi.

    Memang basis pendidikannya ialah Sekolah Desa atau Sekolah Dasar, akan tetapi ia memiliki kecakapan dan kemampuan yang cukup untuk kedududkannya sebagai magang. Hal ini antara lain didapat dari lingkungannya sendiri dimana ayahnya adalah seorang Pangeran Kepala marga Madang Suku I. Sebagai seorang remaja, ia tidak segan-segan belajar dari kantor ayahnya. Ini pulalah yang menjadi bekal dan dasar baginya bekerja sebagai Magang di Banding Agung. Abdul Rozak mendapat kesempatan yang baik pula dalam pengembangan jiwa seninya antara lain dengan mengamati Danau Ranau yang indah dan gunung Seminung yang menjulang di sebelah barat Danau Ranau Kabupaten OKUSEL. Sedemikianlah latar belakang keluarga dan masyarakat dari Abdul Rozak yang membinanya menjadi pribadi yang terbilang besar.

    Selama kurang lebih enam bulan, ia bekerja Magang di Banding Agung terhitung sejak Mei 1906 dan pada bulan Desember 1906 ia sudah pindah bekerja juga sebagai Magang sekaligus sebagai Juru Tulis pada kantor Controleur di Muara Dua. Jabatan Magang Juru Tulis ini dijalaninya sejak Januari 1907 hingga Juli 1912, jadi selam lima tahun setengah. Abdul Rozak adalah pegawai yang tekun, baik, juga dalam menambah ilmu pengetahuan. Ia biasa dikatakan sebagai seorang otodidak sejati. Karirnya terus berkembang seiring dengan kecakapannya bertugas. Pada bulan Juli 1912-Maret 1914, jadi selama delapan bulan ia menjabat sebagai Mantri Blasting atau pajak adalah salah satu jabatan dalam Onder Afdeling atau Kewedanaan yang dikepalain oleh seorang Demang. Seperti dimaklumi Kewedanaan denganDemang sebagai kepalanya khusus diperuntukkan bagi orang-orang pribumi. Demang dibantu anatara lain oleh Mantri Polisi dan Mantri Blasting juga adalah pribumi. Mereka disebut sebagai pegawai negeri (Ambtenaar). Untuk Gubernur, Residen, Asisten Residen, dan Controleur semuanya orang Eropa, mereka ini disebut Nederlaandsche Corps van Het Binnendland Bestuur.

    Ketekunan dalam menjalankan tugas membawa H. Abdul Rozak selalu dalam kesuksesan. Pada bulan Maret 1914-April 1916 lebih dari dua tahun ia diangkat menjadi Mantri polisi di Surolangun Rawas. Sebagai seorang pemuda dalam usia 23 tahun, H. Abdul Rozak melangkah pula dalam kehidupan berumah tangga dengan seorang gadis dari Surolangun Rawas. Rumah tanggga dibina sejalan pula dengan pengabdian pada masyarakat, karirnya terus meningkat. Dari pernikahannya, beliau mendapatkan tiga orang putra dan dua orang putri yaitu Siti Aminah, Maximilian, Helina, Sayuthi, dan Tradumas. Lahir pada 28 desember 1928. Kini jabatan sebagai asisten Demang di Bayung Lencir dipercayakannya pula kepadanya, terhitung sejak Mei tahun 1916- Mei 1917. Masa satu tahun di Bayung Lencir merupakan pertanda bahwa H. Abdul Rozak benar-benar seorang pejabat yang berdedikasi tinggi. Pada januari 1917 itu pula, ia diangkat sebagai Wachgelder dan Clerk Agraria pada Kantor residen di Palembang. Jabatan inipun dipegangnya selama dua tahun dan berakhir pada Juni 1917. Masuknya H. Abdul Rozak di kantor residen Palembang tidak berarti bahwa karirnya akan terus meningkat dan dalam lingkungan kantor ini saja. Seperti umumnya seorang pegawai, apabila kembali ke kantor induk akan terus berkembang karirnya di kantor itu saja. Maka pada bulan Juli 1919, H. Abdul Rozak sebagai asisten Demang untuk Pagaralam. Jabatan asisten Demang Pagaralam dijabat selama satu tahun dua bulan. Pada september 1920 ia dialih tugaskan pula sebagai asisten Demang untuk Tebing Tinggi. Rupanya di bumi Lematang, Kikim, Pasemah, Lintang (LEKIPALI) ini H. Abdul Rozak bertugas hingga lima setengah tahun lamanya. Untuk Tebing Tinggi dari Oktober 1920-Mei 1923. Jadi dua tahun enam bulan. Begitu pula Asisten Demang Dusun Tanjung Raya (tebing Tinggi) sejak Juni 1923-April 1925 berarti satu tahun sepuluh bulan.

    Setelah lima setengah tahun berkedudukan di Lekipali sebagai Asisten Demang, maka sejak Mei 1925 hingga Mei 1929 H. Abdul Rozak menjabat sebagai Demang di Talang Pangeran, terhitung sejak Mei 1925 hingga Oktober 1925 jadi selama lima bulan, kemudian Demang di Tanjung Raja terhitung November 1925 hingga Mei 1929. Jadi selama tiga setengah tahun sebagai Demang untuk Onder Afdeling Lematang Ilir ini Haji Abdul Rozak dihadapkan pada tugas dan tanggungjawab yang meningkat pula. H. Abdul Rozak adalah bagian dari generasi yang berani menentang kolonialisme dan menyodorkan suatu keadilan lain yang ada yakni Indonesia Merdeka. Generasi mana, hingga kini belum ada yang menyamainya. Paling tidak beliau termasuk golongan intelegensia yang berpikir dan berbuat untuk masyarakat pada setiap tempat dimana ia bertugas, pada Juni 1929 hingga Februari 1942. H. Abdul Rozak masih menjabat sebagai Demang di Pagaralam terhitung sejak Juni 1929 hingga Oktober 1931 selama dua tahun tiga bulan. Masih sebagai Demang, November 1931 sampai 1934 bertugas di Lahat dua setengah tahun. Seperti dimaklumi pada tanggal 16 Februari 1942, Pasukan Jepang telah berhasil menduduki Palembang dan sekitarnya. Dari Pelambang, Jepang kemudian dapat pula membuka jalan penyerbuannya ke Jawa hingga berakhir perlawanan Belanda dengan penyerahan perjanjian Kalijati 8 Maret 1942.


Sumber
Abdullah, Makmun, dkk., Sejarah Daerah Sumatera Selatan, Jakarta : Depdikbud, 1992.

Amin, Abd. Azim, Syaikh Muhammad Azhari Al-Falimbani :Ulama Panutan Abad Ke-19 di Nusantara, Palembang : Rafah Press,     2009.

Gondomono, Manusia dan Kebudayaan Han, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2013.

Hanafiah, Djohan, dkk., Tokoh Pejuang Kemerdekaan RI Sumatera Selatan : H. Abdul Rozak, Palembang : Pemerintah Provinsi     Sumatera Selatan, 2008.

Hanafiah, Djohan, M. Alimansyur, dkk., Haji Abdul Rozak Tokoh Pejuang Kemerdekaan RI, Palembang : t.p., 2008.

Irwanto, Dedy, Iliran dan Uluan, Yogyakarta : Komunitas Bambu, 2010. 

Rasyid, Hutamar, “Peran Kunci Residen Abdul Razak Mempertahankan Palembang era Revolusi dan Pasca Kemerdekaan”, (Makalah     diajukan pada Seminar Calon Pahlawan Nasional 10 Maret 2015, Palembang)

Said, Abi Hasan, Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah : Perjuangan Rakyat Semesta Menegakan Republik Indonesia di Ujung Selatan     Sumatera, Jakarta : Yayasan Krama Yudha, 1992.

Supriyanto, Pelayaran dan Perdagangan di Pelabuhan Palembang 1824-1864, Yogyakarta : Ombak, 2013.

Utomo, Bambang budi, Cheng Ho : His Cutural Diplomacy in Palembang, Palembang : Pemeintah daerah Sumatera Selatan, 2008.

Wargadalem, Farida R., Abdul Rozak Berjuang Tanpa Henti, Makalah Seminar Calon Pahlawan Nasional 10 Maret 2015, Palembang.

Author : Sapta Anugrah, Co : Arafah Pramasto

Comments

Popular Posts