Abdurrahman Baswedan, Jejak Heroik Keturunan Arab-Yaman dalam Revolusi Indonesia


1.    Yaman dan Gejolak Masa Kini

         Sebagai seorang pustakawan, mengisi waktu sejenak untuk membaca berita-berita dalam negeri dan juga dari luar negeri merupakan hal yang cukup lumrah. Tanpa disangka hal itu membuat penulis menemukan hal menarik mengenai sebuah negeri yang beberapa waktu lalu bergejolak hebat, negeri Yaman. Majalah Tempo edisi 26 April 2015 lalu memuat tentang gejolak yang cukup memengaruhi geopolitik Timur Tengah, seolah melengkapi panasnya cuaca gurun kawasan itu yang telah terguncang Perang Suriah, gangguan ekstrimis ISIS, dan tatapan saling curiga dengan negeri Persia Modern, Iran.  Presiden Yaman di Pengasingan, Mansour Hadi, menyampaikan kepada publik pada April lalu untuk mendapat dukungan internasional bagi koalisi dalam menggempur Houthi. Ketegangan disertai kekacauan mengguncang kian hebat setelah Saudi sebagai tempat perlindungan Hadi yang didukung oleh kekuatan asing lainnya seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Turki melancarkan serangan udara ke kubu Houthi di berbagai tempat di Yaman.  Sayangnya, saat kisah pertempuran yang pada hakikatnya akan selalu membawa penderitaan itu, seringkali saat sekarang ini hanya ditinjau dalam pandangan “golongan”. Orang-orang yang merasa pintar dan hebat memakainya untuk melegitimasi dukungan kepada salah satu kubu. Tak jarang dengan tujuan menyatakan golongannya yang paling benar, mereka merasa lebih penting untuk menghabiskan sekian banyak waktu berdebat di media sosial ketimbang menyegerakan diri untuk menunaikan sholat. Kebiasaan tidak produktif itu kerap dianggap (dengan salah kaprah) sebagai sebuah “Kritisi Ilmiah” untuk setiap pergolakan-pergolakan yang terjadi : yang sayangnya dalam pergolakan sesama Islam. Na’udzubillah

        Dari alasan itulah penulis merasa perlu menuliskan tentang seorang sosok yang cukup berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Tokoh ini bernama Abdurrahman Baswedan. Seorang keturunan Arab Hadramaut (Yaman) yang berjiwa nasionalis. Ia tidak mempedulikan darimana asal darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ia tak peduli sekalipun pemerintah Kolonial menempatkan golongannya pada tingkatan yang lebih tinggi dari pribumi. Dengan ikhtiar, dedikasi, yang dilengkapi keilmuannya tersebut, ia sumbangkan dalam menyingsingkan lengan baju membina kemerdekaan sebuah bangsa majemuk : Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2.    Yaman, Negeri Ilmu

         Sekitar 6000 Mahasiswa Indonesia sedang berada di negeri Yaman yang sedang kalang kabut. Pendidikan mereka terancam berantakan setelah sekolah mereka terkena hantaman rudal, ataupun mungkin guru-guru mereka yang hilang atau terbunuh, entah oleh peluru pihak yang mana. Mungkin kita agak heran : Apa yang memotivasi mereka belajar ke Yaman ? Bisa dikatakan bahwa Yaman bukanlah negara yang kaya raya seperti Saudi. Tetapi disana memang ada sejumlah badan wakaf yang cukup kaya, yang mampu memberi beasiswa penuh pada puluhan ribu mahasiswa dari seluruh dunia. Sebenarnya sejak dahulu kala Yaman adalah negeri ilmu dan para ilmuan.

        Sungguhpun meski Yaman tidak sebesar Baghdad atau Cordova, namun Yaman juga punya sejumlah ilmuan besar. Sebut saja yang paling kesohor ialah Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi yang disebut “Guru Filosof Kedua pasca Aristoteles.” Ia hidup pada 801 – 873 M. Meskipun lahir di Kuffah Iraq, Al-Kindi adalah keturunan Kabilah Kindah asal Yaman. Selain Filosof, ia juga ahli dalam berbagai bahasa, juga dokter yang mampu meneliti dosis tepat khasiat obat seperti Farmakolog yang kemudian ia sinergiskan dengan khasiat terapi musik. Al-Kindi juga bereksperimen dengan ilmu Kriptografi yaitu bagian ilmu matematika untuk menyandi dan mengungkap informasi yang mengandung sandi. Ia adalah tokoh sentral dalam Bait Al-Hikmah Baghdad serta dipilih untuk beberapa khalifah sebagai guru privat para pangeran. Geralomo Cardano, seorang ilmuan Italia zaman Rennaisans (1501-1575) menyebut Al-Kindi sebagai salah satu dari 12 pemikir besar zaman pertengahan. Sejarawan seperti Ibn Nadim menyebutkan bahwa Al-Kindi telah menulis lebih dari 260 buku, diantaranya terdapat 32 buku tentang geometri, 22 buku tentang kedokteran, dan 12 buku fisika.

         Nama lainnya yang cukup penting dikenal ialah seperti Harbi Al-Himyari. Ia adalah seorang ilmuwan Arab asal Yaman yang hidup antara abad ke 7-8 M. Salah satu muridnya adalah Jabir bin Hayyan, sayangnya tidak terdapat banyak berita atu data tentang tokoh ini. Nama pemikir lainnya seperti Muhammad Al-Hasan bin Ahmad bin Yaqub Al-Hamdani (893-945 M) adalah Muslim Arab yang ahi dalam geografi, sastra, ahli bahasa, sejarawan, dan astronom. Sekalipun karyanya tersebar luas, tetapi biografinya cukup sulit untuk diketahui. Diyakini ia adalah seorang anak pengelana yang sering harus pergi ke berbagai kota seperti Kufah, Baghdad, Basrah, Oman, dan Mesir. Pada usia 7 tahun ia sudah dekat dengan dunia pengelanaan. Dia lalu pergi ke Mekkah dan tinggal belajar disana lebih dari enam tahun lamanya. Belakangan ia kembali ke San’a dan berkarya di Himyar. Sayangnya sifat kritis yang ia miliki membuat ia harus dipenjara hingga dua tahun. Setelah dilepas, ia pergi ke Rayda di dalam perlindungan sukunya hingga wafat. Reputasi Al-Hamdani adalah karena ia dikenal luas sebagai ahli bahasa / grammarian. Namun ia juga banyak menulis puisi, mengompilasi tabel astronomi, dan menghabiskan sisa hidupnya untuk belajar tentang ilmu sejarah dan geografi kuno Arab. Karyanya dalam geografi Arab adalah “Sifat Jazirat Al-Arab”  yang dikenal amat penting hingga seribu tahun kemudian. Itu juga diakui oleh A. Sprenger dalam bukunya “Post – Und Reiserouten des Orients” (Leipzig, 1864) dan dalam “Alte Geographie Arabiens” (Bern, 1875). Karya besar Al-Hamdani berikutnya adalah “Ilkil” yang berarti “Mahkota” yang membahas genealogi Kaum Himyar, peperangan diantara mereka, dan para raja-rajanya yang ditulis dalam 10 jilid – dalam jilid ke-8 memuat kota-kota dan dan informasi istana di Arab Selatan dan telah dikomentari oleh Muller dalam buku “Die Burgen und Schlosser Sud Arabiens” (Vienna, 1879).

3.    Abdurrahman Baswedan

        Ia lahir di Kampung Ampel, Surabaya, Jawa Timur pada 9 September 1908. Ayahnya, Awad Baswedan dan ibunya, Aliyah binti Abdullah Jarhum. Keluarga besar Baswedan adalah keturunan Syaikh dari Hadramaut, Yaman. Dalam keluarga inilah Abdurrahman Baswedan mendapatkan didikan agama Islam yang tertanam kuat. Tradisi keluarga Baswedan adalah berdagang, namun ia memilih untuk menjadi seorang jurnalis. Karirnya berawal saat ia menjadi redaktur di harian “Sin Tit Po” milik Lim Kun Hian di Surabaya tahun 1932 dimana Abdurrahman mengelola rubrik “Abu Nawas” yang banyak mengritik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemudian ia pindah surat kabar “Soeara Oemoem” milik dr. Sutomo pada 1933. Setahun kemudian, pada 1934, pindah ke Semarang dan menulis di harian “Matahari” pimpinan Kwee Hing Tjiat. Di Harian Matahari, Abdurrahman Baswedan menulis artikel “Peranan Arab dan Totoknya”, isi dari tulisan itu adalah menganjurkan etnis Arab untuk membaur dalam semangat nasionalisme yang saat itu sedang bergelora. Dalam artikel itu, ia berfoto dengan berpakaian Jawa, lengkap dengan baju “surjan” disertai blangkonnya ; sungguh suatu hal yang mengejutkan karena berlawanan dengan pakem tradisi keturunan Arab.

           Pada Oktober 1934, Abdurrahman Baswedan berhasil mengumpulkan generasi muda keturunan Arab dan mengeluarkan “Sumpah Pemuda Keturunan Arab”, bunyinya antara lain : (1) Tanah air Peranakan Arab adalah Indonesia, (2) Peranakan Arab harus meninggalkan kehidupan yang menyendiri, (3) Peranakan Arab memenuhi kewajibannya terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. Pada tahun inilah ia mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI). Tujuan dari partai ini adalah sebagai alat perjuangan kaum keturunan Arab dalam pergerakan nasional. Dalam manifesto PAI dengan tegas disebutkan “Tanah air Arab Peranakan adalah Indonesia, kultur Arab Peranakan adalah kultur Indonesia-Islam.” Rintisan yang dilakukan Abdurrahman dan rekannya tersebut berbuah pengakuan pada kaum keturunan Arab sebagai bagian bangsa Indonesia. PAI kemudian bergabung dalam Gabungan Partai Politik Indonesia (GAPPI). Pada masa Jepang, GAPPI dibubarkan. Surat Kabar “Matahari” diberangus. Abdurrahman Baswedan ditangkap Polisi Militer Jepang, Kempetai, karena mendengarkn radio asing selain Jepang. Di dibawa ke markas Kempetai dan akan dijatuhi hukuman tembak. Untunglah saat itu datang Mr. Singgih yang bekerja pada PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin Soekarno, mengatakan bahwa Abdurrahman Baswedan adalah anak buahnya, sehingga kemudian dibebaskan.

      Abdurrahman Baswedan kemudian dipilih untuk bergabung dengan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mewakili kaum keturunan Arab. Dalam pidatonya di BPUPKI ia menegaskan komitmen kaum peranakan Arab untuk Indonesia. PAI dibubarkan pada 18 Agustus 1945. Mengikuti manifesto politik pemerintah saat itu agar partai politik memperbaharui organisasinya. Masa Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Abdurrahman ditunjuk menjadi Menteri Muda Penerangan RI. Saat itulah dia menjadi salah satu anggota delegasi diplomatik Indonesia yang pertama. Perannya sangat penting yakni membawa nota perjanjian diplomatik antara Mesir dan Indonesia.

4.    Penyelamat Nota Diplomatik Pertama

        “Baswedan, bagi saya tidak penting apakah saudara sampai tanah air dengan selamat atau tidak, yang penting dokumen ini harus sampai di indonesia dengan selamat, “ demikian perintah tegas H. Agus Salim pada Abdurrahman Baswedan setelah nota pengakuan diplomatik kemerdekaan Republik Indonesia ditandatangani oleh Menteri Luar Negeri Mesir, Nokrashi Pasha. Perintah tegas H. Agus Salim ini tertulis dalam buku Menyingkap Tirai Sejarah : Bung Karno dan Kemeja Arrow hasil penelitian Asvi Warman Adam, Sejarawan LIPI. Menurut Asvi, Abdurrahman Baswedan harus menempuh perjalanan panjang yang amat sangat berbahaya selama sebulan dari Kairo menuju Yogyakarta. Membawa dokumen diplomatik pertama Republik Indonesia. Inteljen Belanda berusaha menggagalkan dokumen tersebut sampai ke tangan Presiden Soekarno. Akibatnya, Abdurrahman Baswedan-lah yang menjadi buruan inteljen Belanda.

        Dari Kairo, Abdurrahman terbang  estafet ke Bahrain, lalu menuju Karachi di Pakistan, Calcutta di India, Rangoon di Myanmar, dan Singapura. Di beberapa kota, Abdurrahman Baswedan sempat bersembunyi beberapa hari menghindari kejaran inteljen Belanda. Di Calcutta, kursi Abdurrahman sempat diduduki penumpang lain, untunglah tokoh keturunan Arab ini tidak kalah gertak, sehingga orang itu pindah. Belum lagi beberapa insiden kejar-kejaran dan penggeledahan oleh pejabat imigrasi di beberapa negara. Maklum saja, Abdurrahman Baswedan hanya mengantongi surat jalan sebab republik belum mengeluarkan paspor.


     Di Singapura, ia tertahan selama sebulan. Ia kehabisan bekal. Untung saja Abdurrahman dibantu oleh dua orang Singapura keturunan Arab yang membelikannya tiket KLM (Maskapai Penerbangan Hindia Belanda) untuk kembali ke Indonesia tanggal 13 Juli 1947, dua hari sebelum Agresi Militer Belanda I. Agar selamat dari pemeriksaan  di bandara, Abdurrahman Baswedan menyembunyikan dokumen berharga tersebut dalam kaos kaki, tepat di bawah tapak kakinya. Tiba di Kemayoran Jakarta, Abdurrahman digeledah ketat oleh imigrasi Belanda, beruntung dokumen diplomatik tersebut selamat. Dari Kemayoran, ia langsung menuju rumah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin untuk melapor keberhasilan misi di Mesir. Kemudian ia menuju Jatinegara dengan Kereta Api untuk segera berangkat ke Yogyakarta. Perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta adalah perjalanan yang berbahaya saat itu. Belanda menguasai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa kali kereta api diberhentikan dan digeledah Belanda. Tiba di ibukota Revolusi Nasional, Yogyakarta, Abdurrahman Baswedan segera ke Gedung Agung, Kantor Kepresidenan. Dokumen diplomatik yang sangat berharga tersebut akhirnya diserahkan kepada Presiden Soekarno di Gedung Agung. Sementara rombongan H. Agus Salim baru pulang ke Tanah Air pada bulan November 1947 setelah mendapatkan pengakuan dari tujuh negara Arab dan juga Afghanistan.

    Pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, Abdurrahman Baswedan juga pernah menjadi anggota Parlemen dan anggota Dewan Konstituante hasil Pemilu 1955. Ia juga sempat menulis beberapa buku, antara lain “Debat Sekeliling PAI” (1939), “Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab” (1934), “Rumah Tangga Rasulullah” (1940). Abdurrahman Baswedan menghembuskan nafas terakhir, kembali ke Rahmatullah, pada 16 Maret 1986 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Kusuma Bangsa ini, wafat di tanah yang ia cintai, tanah yang mungkin jauh dari asal moyangnya, tanah yang berpribumi yang berbeda secara fisik, namun satu semangat sepertinya : Indonesia.

Sumber :

Koran Turuntangan Edisi Januari 2014

Majalah Tempo Edisi 26 April 2015

Tabloid Media Umat Edisi 149 27 Jumadil Akhir-11 Rajab 1436 H

Kontributor : Yuliyandri, A.Ma.Pust *

*) Pustakawan, tinggal di Kec. Pademawu, Kab. Pamekasan, Madura-Jawa Timur. yuliyandrihendra@gmail.com

Comments