Thursday, July 30, 2015

Kota Ilmu di Timur: Keterbukaan Islam dan Peran Dunia Intelektual Krsiten Syriac-Nestorian pada Era Abbasiyah (Bagian II / Tamat)

Klik untuk membaca bagian sebelumnya

Penutup

                Sebelum masa Abbasiyah dan pememrintahannya di Baghdad sebagai pusat pemerintahan, pada era Umayyah, juga sempat dikenal tokoh Kristen bernama Saint John dari Damaskus. Ia bernama asli Mansur dan berasal dari keluarga Arab pemeluk Kristen Ortodoks Yunani. Mansur sempat bekerja di Kementerian Keuangan Umayyah, namun pada umur 49 tahun memilih untuk menjadi biarawan dan merubah namanya menjadi John. Ia terkenal dengan perannya dalam membina dialog Islam-Kristen di masa-masa awal Islam. Karya-karyanya amat mengarah kepada sanggahan apologetik (halus) pada keislaman, contohnya adalah tentang kepenerusan Islam atas monotheisme Abrahamaik (Ibrahim As / Agama Samawi). Keterbukaan ini telah membuat Islam berhasil mengokohkan sendi keilmuan, yang mana nama-nama imuwan Islam kelak sangat cukup dikenal. Stereotip Islam sebagai agama yang terbelakang akhir-akhir ini, adalah suatu hal yang asing di masa itu. Tidak ada terorisme yang ada seperti masa kini terjadi di masa itu, bahkan Islam mampu mensintesikan keilmuan pra-Islam dalam bingkai syariat yang jelas. Itulah hubungan konstruktif Islam dan eksistensi umat Kristiani yang dalam kehadirannya tidak selalu negatif (mengingatkan kita tentang kejadian Perang Salib).

                Memang ada indikasi kecenderungan yang berbeda-beda dalam masalah toleransi terhadap kaum non-Muslim, disamping memang ada perbedaan sikap setiap denominasi Kristen yakni Kristen Syriac dan Kristen Ortodoks Yunani terhadap Islam. Jelasnya, masa Abbasiyah dibawah Al-Makmun merupakan saat dimana pluralisme amat dihargai secara tinggi. Dalam komparasi kesejarahan pada masa sebelum itu, yakni saat kekristenan pertama kali menyebar di Timur Tengah pada 400-an M, di Alexandria dikenal sosok ilmuwan wanita bernama Hypatia yang mengajar di akademi Plato, wanita ini pernah berperan dalam memberikan ulasan mengenai buku Apollonius dan Diophantus, yang kini sudah hilang. Kuliah-kuliahnya mengenai filsafat pagan memancing kemarahan Saint Cyril dari Alexandria, uskup Kristen Koptik (salah satu denominasi yang berbahasa Yunani) di Alexandria, yang pada tahun 415 M menghasut timbulnya kericuhan oleh kaum fanatik Kristen dan berujung pada terbunuhnya Hypatia. Tidak sampai disitu, melalui kekuatan para Parabolani (Persaudaraan Gereja), uskup Cyril memberikan pukulan terakhir untuk memantapkan bersihnya Mesir dari paganisme dengan menyerang dan menghancurkan kuil penyembah berhala terakhir di Mesir.

              Penyebab perbedaan sikap yang ditunjukkan pemerintahan Islam dengan apa yang dilakukan oleh Saint Cyril terhadap pengetahuan warisan Yunani, sebagaimana telah terbukti di atas tentang peran tokoh-tokoh Nestorian dalam menerjemahkan karya-karya Yunani dibawah pemerintahan Islam Abbasiyah, itu semua merupakan teladan yang diberikan oleh Rasulullah Saw. beberapa abad sebelumnya. Hubungan Islam-Kristen dimulai tatkala Kerajaan Nestorian Najran di Yaman yang dipimpin oleh Raja Abu Harits mengrirmkan utusan dibawah penasehatnya yang bernama Surahbil untuk menemui Rasulullah di Madinah. Dari pertemuan itu, Kerajaan Najran menyetujui perlindungan di bawah pemerintahan Islam berdasarkan sebuah perjanjian yang dikenal sebagai Amandemen I Piagam Madinah pada 622 M, isinya dapat disimpulkan sebagai berikut,

1.       Perlindungan akan keamanan dari Allah dan janji Rasul-Nya bagi agama, jiwa, dan harta benda kaum Kristen Najran baik sekalian yang hidup ataupun yang belum lahir di masa itu,

2.       Tidak mencampuri urusan agama dan kependetaan umat Kristen Nestorian Najran,

3.       Tidak ada perubahan dalam hak-hak dan kesenangan mereka (umat Kristen Nestorian Najran),

Inilah wajah Islam berabad-abad yang lalu. Saat kesuciannya menjadi inspirasi positif dan teladan nabinya adalah penuntun segala kemajuan, bahkan dalam masalah intelektual. Segala aspek konstruktif bisa diusahakan dengan pihak manapun selama masih dalam batas toleransi dan syariat yang jelas. Kesan Islam sebagai perusak bukanlah yang ada dan dikenal dalam Sejarah zaman klasik.


Daftar Pustaka

Ahmad, Zainal Abidin, Piagam Madinah: Konstitusi Tertulis Pertama di Dunia, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2014.

An-Nabhani, Yusuf Ismail, Kisah-Kisah Karomah Wali Allah, Yogyakarta : Hikam-Prisma Media, 2004.

Arifin, Bey, Rangkaian Cerita dalam Al-Quran, Bandung : PT. Al-Ma’arif, 1996.

Awani, Ghulam Reza, dkk., Islam Iran dan Peradaban, Yogyakarta : RausyanFikr, 2012.

Buchori, Didin Saefudin, Sejarah Politik Islam, Jakarta : Pustaka Intermasa, 2009.

Freely, John, Cahaya dari Timur : Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2011.

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta : Aksara baru, 1985.

Nasr, Seyyed Hossein, Tiga Madzhab Utama Filsafat Islam : Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu ‘Arabi, Jakarta : IRCiSoD, 2014.

Rodenbeck, Max, Kairo : Kota Kemenangan, Tangerang Selatan : PT. Pustaka Alvabet, 2013.

Shihab, Alwi, Examining Islam in The West : Addressing Accusations and Correcting Misconseptions, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2011.


Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah.