Thursday, July 30, 2015

Madura – Palembang : Motivasi dalam Wacana Penggalian Hubungan Sejarah Antar Wilayah (Bagian II)



1.    Oposisi Terhadap Hegemoni Mataram dalam Kajian Madura dan Palembang

Setelah melihat adanya kemungkinan bentuk-bentuk hubungan yang terbina pada masa Majapahit hingga Islam awal, maka di masa selanjutnya nampaknya kesamaan antara keduanya jauh lebih menonjol.  Penaklukan Mataram Islam pada tahun 1624 dibawah Sultan Agung Hanyorokusumo terhadap Madura dan wilayah-wilayah pesisir lainnya. Seluruh kerajaan-kerajaan independen di Madura takluk pada tahun itu dan semua penguasa Sumenep, Pamekasan, Jamburingin, Blega, dan Kota Anyar gugur. Kecuali Adipati Sampang yang membelot dan langsung menyerahkan diri. Awal Agustus tepatnya kemenangan Mataram atas Madura dapat ditentukan setelah perlawanan besar terjadi di wilayah timur pulau ini. Penyebab penyerbuan Mataram adalah dinamika politik yang berangsur menciptakan perpindahan kekuasaan dari Demak ke Pajang dan yang terakhir ialah Mataram. Namun Mataram belum bisa menguasai wilayah-wilayah yang awalnya tunduk kepada Demak dan Pajang, termasuk diantara wilayah itu adalah Madura. Karena Madura sendiri memiliki posisi penting untuk terlebih dahulu ditaklukkan sebelum Mataram bisa mengalahkan musuh utamanya di timur Jawa yakni Surabaya.

Pada tahun 1636 hubungan antara Palembang – selaku bawahan Mataram di Sumatera - dan Sultan Agung menjadi lebih rumit. Kurang lebih dua dekade setelah itu di masa Amangkurat I, pengganti Sultan Agung, di luar Jawa, hanya Palembanglah yang masih tetap bersedia membantunya, pertama-tama melawan musuh mereka bersama, Banten, dan kemudian perang melawan VOC (1658-1659). Namun itu semua tidak terwujud, Palembang harus menghadapi sendiri kedua musuhnya itu. Hal itu dibuktikan pada saat Palembang mendapat serangan Banten pada 1596 dibawah pimpinan Maulana Muhammad yang kemudian gugur di Palembang. Perang melawan VOC terjadi pada 4 November 1659 dimana Laksamana Joan van der Laen memerintahkan untuk membakar Kuto dan pemukiman orang Arab, Portugis, dan Cina di seberang Kuto. Dibawah pasukan Palembanglah Kuto dapat direbut dan dibangun kembali. Sehingga pada 1659 Palembang memproklamirkan independensinya dari Mataram dengan diangkatnya sultan Abdurrahman Khalifat Al-Muslimin Sayyidil Iman yang berkuasa hingga 1706. Walaupun Palembang tidak mengalami invasi seperti yang dialami Madura, tapi penolakan terhadap sikap Mataram adalah letak kesamaan : 1) Madura menolak tunduk pada Mataram sehingga kemudian ditaklukkan, 2) Palembang tidak dipenuhi haknya sebagai bawahan Mataram dalam masalah perlindungan sehingga memilih merdeka.

2.    Kehadiran Figur Waliyullah dalam Konteks Sufisme Madura

Suatu ketika di masa pemerintahan Rato Ronggosukowati terjadi kemarau yang berkepanjangan selama beberapa tahun. Maka sng Rato memutuskan untuk melakukan semedi. Di dalam semedinya itu ia bertemu dengan seorang tua renta yang menjelaskan bahwa penyebab kemarau di kerajaannya adalah dua orang yang bertapa di bawah pepohonan, di sebuah hutan yang terdapat rawa-rawa. Keesokan harinya diutus seorang pepatih untuk mencari dua orang itu ke arah timur Kraton. Pepatih itu berhasil menemukan dua orang yang dicari di sebuah tempat sesuai dengan arahan Rato Ronggosukowati. Sang patih kemudian bertanya kepada kedua orang itu,

“Siapa kisanak berdua ini ? apa tujuan kalian bertapa ?.”

Salah seorang diantaranya menjawab,

“Saya Abdurrahman, murid dari Kyai Ajhi Ghunong di Sampang, saya disini bukan untuk bertapa, tetapi oleh Kyai, saya disuruh bertempat tinggal disini. Selama saya belum memiliki tempat berteduh (yang mapan), saya berdoa kepada Allah agar tidak turun hujan. Di tempat ini saya ditemani kemenakan saya yang bernama Bindhara Bhungso...”

Pepatih segera kembali ke Kraton dan menyampaikan temuannya. Rato segera menugaskan beberapa orang untuk membangun sebuah padepokan guna ditinggali oleh dua orang itu. Setelah padepokan itu dibuat, hujan lebat segera mengguyur Pamekasan. Orang-orang pun mulai banyak berdatangan ke tempat Abdurrahman untuk belajar mengaji, ia juga kemudian bergelar K(ya)e’ Aghung Raba (Kyai Agung (yang tinggal di) Rawa-Rawa). Makamnya juga masih sering dikunjungi hingga kini yang terletak di Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu.

Figur lainnya yang sempat dikenal dalam Sejarah Pamekasan adalah Buyut Lattong, atau yang bernama asli Syaikh Su’adi Abu Syamsuddin. Buyut Lattong merupakan anak dari seorang tokoh bernama Buyut Tompeng dari wilayah Batu Ampar yang masih keturunan Syarif Husein Banyu Sangkah. Buyut Lattong terkenal sangat ahli dalam ilmu agama Islam, memiliki budi pekerti yang baik, dan memiliki Karamah.

Suatu ketika Buyut Tompeng dan Buyut Lattong pernah membuat seorang yang bernama Buyut Sarabe yang dikenal sakti namun tempramental bertobat. Buyut Sarabe suatu saat pernah membunuh teman Buyut Tompeng yakni Buyut Ruslan, karena merasa sakit hati ketika dirinya dtegur setelah memakan buah jambu dari pohon miliki Buyut Ruslan. Buyut Sarabe yang tersinggung langsung menggunakan tombak saktinya yang bernama “Se’ Pokopok” , yang konon katanya bisa terbang sendiri, untuk menusuk Buyut Ruslan yang hendak sholat Ashar. Buyut Tompeng marah atas terbunuhnya sahabatnya itu. Tetapi Buyut Sarabe malah merasa tersinggung dan hendak menyerang rumah Buyut Tompeng di Batu Ampar. Saat ditengah perjalanan ke rumah Buyut Tompeng, tombak sakti andalan milik Buyut Sarabe hilang. Saat tiba di rumah Buyut Tompeng, Buyut Sarabe menangis dan mengakui keutamaan keturunan Batu Ampar dan menyatakan tobat. Buyut Tompeng memaafkan pembunuh sahabatnya itu dan menyuruh Buyut Tompeng untuk mengambilnya di rumah Syaikh Su’adi (Buyut Lattong). Ketika sampai di rumah Sayikh Su’adi, putra Buyut Tompeng ini menyuruh Buyut Sarabe untuk mengambil tombak saktinya di dalam tumpukan kotoran sapi (Bahasa Madura : Lattong), sejak saat itu Syaikh Su’adi dijuluki dengan nama Buyut Lattong.

Buyut Lattong juga memiliki beberapa Karamah lainnya yakni mengendalikan air dengan tongkat dan menyembuhkan penyakit kurap. Rato Ronggosukowati mendengar segala cerita itu. Sekalipun mengakui keutamaan Batu Ampar dan keturunan Syarif Husein namun pemimpin Pamekasan ini masih ragu. Rato Ronggosukowati merencanakan sesuatu untuk menguji Buyut Lattong.

Dikisahkan suatu hari Rato Ronggosukowati sengaja mengundang seluruh ulama di pulau Madura untuk hadir di pendoponya. Ia memerintahkan kepada pepatihnya agar secara khusus menjemput Buyut Tompeng di Batu Ampar untuk menaiki kereta kencana yang telah disediakan. Saat tiba di Batu Ampar, Pepatih itu menyampaikan kepada Buyut Lattong tentang tugasnya untuk menjemput. Buyut Lattong menyuruh Pepatih itu kembali dan berkata bahwa ia akan datang sendiri menghadiri undangan sang Rato. Tetapi saat pepatih itu tiba di pendopo Kraton, ia menemukan bahwa Buyut Lattong telah tiba lebih dahulu darinya. Disaat waktu makan tiba, secara diam-diam Rato Ronggosukowati meyuruh pembantunya untuk memasak daging anjing kepada para tamu. Sesaat setelah makanan terhidang, seluruh orang yang hadir terkaget karena hidangan itu berubah menjadi anjing hidup yang menggonggong. Mengetahui itu, Rato Ronggosukowati memohon ampun kepada Buyut Lattong dan memohon maaf atas kelancangannya melakukan itu. Setelah itu, hubungan keduanya semakin akrab.

Nama Buyut Lattong segera terdengar hingga ke seluruh Madura setelah kejadian itu. Panembahan Lemah Duwur di Arosbaya juga mendengar kabar yang cukup menggemparkan Pamekasan dan bahkan seluruh Madura. Rato Arosbaya ini kemudian ingin menguji Buyut Lattong, namun bukan soal Karamah, tetapi soal ilmu pengetahuan. Buyut Lattong beserta rombongan Kerajaan Pamekasan dibawah pimpinan Rato Ronggosukowati selanjutnya diundang ke Arosbaya. Panembahan Lemah Duwur sengaja mengundang beberapa ulama Timur Tengah agar datang untuk bertanding ilmu dengan Buyut Lattong. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada Buyut Lattong semuanya dapat dijawab dengan tepat dan argumentatif. Saat tiba giliran Buyut Lattong memberikan pertanyaan, ada satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab para ulama itu,”Apa nama dan jenis alat tenun ?.” Melihat lawan tanding Buyut Lattong kebingungan, Rato Ronggosukowati dan rombongan Pamekasan segera bersorak kegirangan dan meneriakkan yel-yel kemenangan. Buyut Lattong berkata kepada Rato Pamekasan itu,

“ Wahai baginda Raja, perilaku baginda itu seperti orang yang sombong, bertobatlah wahai baginda kepada Allah SWT dengan membaca dua kalimat syahadat dan istighfar.” Ucap Buyut Lattong mengingatkan pemimpinnya.

3.Kesamaan Orientasi Tasawuf di Palembang dan Madura : Studi Kasus Prestise Karya Imam Al-Ghazali

Menjelang masa kekuasaan kolonial Hindia Belanda di Palembang, Kesultanan ini meraih zaman keemasan dalam kajian keilmuan Islam. Salah satunya adalah dengan adanya tokoh bernama Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani. Ia adalah seorang ulama Tasawuf yang mengusung ide Neo-Sufisme. Disamping terkenal juga dengan karyanya yang terbilang banyak, Martin van Bruinessen menyebutnya sebagai Ulama paling terdidik dalam sejarah Nusantara. Ulama Palembang tersebut pergi menuntut ilmu dan menjalani sisa hidupnya dengan berkarya di Haramain (Makkah dan Madinah). Sebuah penghormatan tertinggi yang diberikan kepadanya adalah penguasaan terhadap Kitab Ihya’ Ulumuddin Imam Al-Ghazali.

Dikisahkan bahwa Buyut lattong mempunyai seorang anak yang kesohor dengan karomahnya, yakni Syaikh Husain yang dijuluki sebagai “Kitab Ihya’ Berjalan” karena penguasaannya pada karya Imam Al-Ghazali tersebut di luar kepala. Diantara kedua wilayah ini, karya Imam Al-Ghazali memang terkenal begitu luas dan tidak jarang menjadi kajian dalam tema Tasawuf. Namun penghormatan kepada seseorang yang mempunyai kemampuan mendalam dalam Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin sebagaimana di dua tempat itu terjadi (Madura dan Palembang) tidak bisa diuraikan secara sederhana sebagai sebuah kebetulan, karena  didalam konteks ini terdapat kesamaan orientasi keilmuan. Ahmed Kazemi Musawi, seorang pemikir Iran pernah mengungkapkan tentang pergeseran orientasi Sufisme Indonesia-Melayu yang menjadi lebih moderat dengan mengadopsi fiqh Syafi’i. Berarti pergeseran orientasi Sufisme itu terjadi secara pandemi (secara regional Indonesia-Melayu) termasuk diantaranya ialah di Madura dan Palembang.