Melirik Pemikiran, Membela Mustadh’afin


    1. Berawal dari Kisah Seorang Teman

                Tulisan sederhana ini secara khusus penulis persembahkan kepada seorang teman yang pernah mengalami suatu pengalaman yang pelik sehingga melatarbelakangi penulis untuk menuliskan ini. Secara khusus penulis sampaikan banyak terima kasih kepada pengembang blog ini untuk kesediaannya memberikan tempat untuk membagi hasil pemikiran yang akan dapat membawa motivasi baru bagi perkembangan perjuangan rakyat secara umum. Sekalipun ini tidak bisa dikategorikan sebagai artikel kesejarahan, tapi untuk menuliskan “risalah” ini penulis memerlukan untuk belajar kembali mengenai dunia pemikiran dan sejarah munculnya kajian yang akan penulis hadirkan.

                Pengalaman yang penulis maksudkan adalah tentang seorang teman yang pernah terlilit masalah dengan sebuah Bank Perkreditan di Pamekasan, sebut saja “Bank Prodeo.” Teman penulis amat tidak beruntung. Masalahnya dimulai saat ibu tirinya menjaminkan rumah tinggal keluarga besarnya (rumah trah) kepada Bank Prodeo tanpa sepengetahuan keluarga ataupun ayah dari teman penulis itu. Ayahnya sama sekali tidak pernah terbukti memberikan izin secara administrartif, dimana ibu tiri teman penulis itu berkedudukan sebagai “istri sirri” (tidak sah secara hukum sipil), maka seharusnya pelimpahan wewenang penjaminan rumah harus dengan “Borto Notaris”. Masalah membesar ketika ibu tirinya minggat membawa uang hasil pinjaman, ayahnya yang tidak tinggal di Pamekasan karena bekerja di sebuah institusi pemerintahan di Jakarta, disaat yang sama mengalami permasalahan karena persaingan birokrasi. Anehnya Bank Prodeo memberikan pencairan pinjaman kepada ibu tirinya tersebut, sekalipun rumah itu adalah atas nama dari ayah teman penulis. Dengan ketiadaan ayah teman penulis, ibu tirinya yang minggat, dan teman penulis yang saat itu (2009) masih seorang pelajar di salah satu SMA di kota Pamekasan, tidak dapat berbuat banyak. Rumah trahnya, sekalipun menjadi atas nama ayahnya, adalah tempat hidup seluruh keluarganya. Tapi herannya, pihak Bank Prodeo memaksakan pembayaran kepada keluarganya, sekalipun Bank itu sadar kesalahannya karena telah mencairkan pinjaman kepada seorang yang sebenarnya bukan pemilik rumah itu (ibu tiri teman penulis).

                Penulis menyaksikan bagaiman seorang teman itu berjuang untuk kehidupannya. Ayahnya tidak lagi menafkahinya dan tidak pernah berkunjung ke Pamekasan, mungkin ia tidak tahu bahwa istri/ ibu tiri dari anak-anaknya telah berkhianat. Betapa amat sedihnya kehidupan teman penulis itu, setiap baru balik sekolah ia harus menatapi wajah-wajah kejam pegawai Bank Prodeo. Pernah sekali teman penulis mengajukan usul untuk mencari kemana  ibu tirinya pergi bersama pihak Bank, tapi itu ditolak oleh Bank Prodeo yang sering berkutat kepada bahasa silat lidah “regulasi.” Pernah pula penulis dengar bahwa pihak Bank Prodeo mendatanginya saat jam pelajaran di SMA. Uang angsuran pembayaran yang cukup besar akhirnya harus ditanggung oleh paman teman penulis, suatu pembayaran yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, karena itu bukanlah hutangnya tapi ibu tiri teman penulis lah yang harus bertanggungjawab.  Terbukti bahwa pihak Bank Prodeo memaksakan kehendak untuk keuntungannya saja. Kini ayah dari teman penulis itu telah wafat, teman penulis sendiri telah merantau ke tempat yang jauh karena tidak kuat atas berbagai tekanan yang diterimanya itu. Sungguh kasih dan sayang telah begitu, bukan lagi mahal, tapi langka dalam masalah serupa. Bukankah negeri ini menjamin pendidikan bagi setiap anak bangsanya ? Tapi mengapa bisa hal serupa terjadi ?

                Dari kesaksian ini, takdir membawa penulis untuk mengkaji lebih dalam lagi tenatang corak-corak “kapitalisme” yang terinstitusi itu. Beberapa buku yang penulis baca menjadikan jawaban bahwa pengalaman dari seorang teman itu hanya sedikit ironi yang nyata dan telah, masih, atau mungkin akan berlanjut di seluruh dunia. Akhirnya didapatkanlah beberapa sumber yang telah mengkaji tentang  “kejahatan” terhadap kemanusiaan melalui perpanjangan tangan dari sistem kapitalisme ini. Betapa keuntungan yang ingin didapat akhirnya tidak mempedulikan lagi keutuhan identitas manusia lainnya oleh segelintir orang yang memiliki modal, sekalipun harus menodai kehidupan manusia lainnya yang juga ingin bahagia. Na’udzubilaahi min dzaalik.  Akhirnya penulis merasa perlu untuk mengkaji soal pemikiran yang berkaitan, yaitu Sosialisme-Islam. Kisah teman penulis itu seakan adalah ironi nyata di sebuah tempat yang Islami seperti Pamekasan.

                Untuk siapapun yang mengalami hal serupa, teguh dan beranilah !, sungguh kalian tidaklah bersalah. Tapi pelanggengan atas borok peradaban ini, oknum-oknum pelanggeng, dan para saksi yang bisu atas keborokan itu yang amat pantas disalahkan. Semoga bukan penulis saja yang sedia mengambil secarik kertas dan melayangkan pernyataan, “Aku Menolak.”  Semuanya juga harus melebur dalam merahnya gelombang kritisi ini. Berikut hanya sedikit hasil dari pelacakan penulis kepada pemikiran seorang tokoh Islam yang hati sucinya berani membentengi para proletar yang terluka, salah satunya adalah Asghar  Ali Engineer. Penulis berharap, dimanapun teman penulis itu kini berada, dapat membaca persembahan penulis ini. Sedikit pesan untukmu temanku, “Lutte Finale !.”

    2. Kegagalan Atas Keadilan Sebagai Fakta Kapitalisme dan Neo-Liberalisme
           Mungkin saja selama ini masyarakat menganggap bahwa pinjaman berbunga dapat saja dipilih untuk mengatasi keperluan mendesak dalam memenuhi kebutuhan yang tidak bisa terjangkau dalam waktu yang begitu begitu singkat. Penulis tidak mau terlalu utopis membayangkan masalah terhapusnya sistem ini begitu terhapus mengingat peliknya masalah perekonomian negeri ini. Tapi ingatlah bahwa apa yang disebut sebagai “bunga” itu adalah salah satu penyakit ekonomi yang telah ada berabad-abad silam sebelum Islam datang. Menurut Marshall, “Bunga Uang”, dilihat dari segi penawaran merupakan balas jasa terhadap pengorbanan bagi kesediaan seseorang untuk menyimpan sebagian pendapatannya ataupun “jerih payahnya” dalam melakukan penungguan. Apabilai itu masuk dalam konteks pemberian pinjaman kepada masyarakat kini, penerapannya adalah terbalik, Bank memberi pinjaman dan rakyat memberikan “balas jasa” dengan membayarkan bunga itu kepada Bank.

          Sungguh indahnya cara berkelit mereka ini. Masalahnya  ialah peminjam harus membayarkan sejumlah uang untuk membayar pihak lain yang hanya “menunggu” saja. Jikalau seperti penulis yang hidup dalam keluarga petani, lalu meminjam uang untuk persiapan penanaman tembakau kemudian mengalami kerugian, tidakkah sama saja penulis mengurangi pendapatan untuk memperkaya pihak lainnya ? Tidak heran apabila Plato melarang untuk meminjamkan uang dengan memungut “rente”, dan muridnya, Aristoteles menyindir tata ekonomi sedemikian dengan istilah, “ayam betina yang mandul tidaklah bisa bertelur.” Bunga pinjaman adalah telur dari ayam yang mandul.

          Uniknya lagi, bisa saja penulis meminjam uang untuk membeli sebuah mobil pick up, tapi saat penulis mengalami kerugian dalam usaha, bukan saja kehilangan uang, penulis bisa kehilangan rumah beserta isinya karena jumlah bunga telah menjadi bayaran pokok angsuran yang kian bertambah. Apabila ada yang menukas, “Wajar saja, toh harga barang juga setiap hari naik, uang lima juta sekarang bisa beli Motor bekas, mungkin dua atau tiga tahun lagi, cuma dapat ban saja.” Lidah orang yang berkata seperti itu harus lebih baik diam dan jangan digerakkan. Ketidakmampuan mempertahankan harga yang melambung tinggi dari waktu ke waktu dan nilai uang  bukanlah kewajiban masyarakat, justru peran dari kebijakan pemerintahlah yang harus dipertanyakan.  Hendak dibahasakan seperti apapun, tidak ada kebaikan dari sistem ini. Lalu keadilan macam apa sebenarnya yang bisa dibahasakan dan dimoderasi dalam kasus ini ?  Sebenarnya jika masyarakat sadar, pinjaman seperti apapun (terlebih lagi jika berasal dari Bank) tidaklah perlu dengan mengambil bunga. Dalam kondisi ini, masyarakat yang meminjam uang di Bank perkreditan, mereka pasti bekerja untuk melunasinya. Sedangkan Bank, hanya memberi pinjaman uang tanpa melakukan apapun kecuali menunggu saja, mereka mengambil sedikit demi sedikit keberhasilan dan keuntungan masyarakat yang bekerja. Sungguh lebih baik memberi makanan, minuman, baju, kereta dorong, dan mainan kepada anak bayi, jikalau kita bisa logis berpikir tentang mengeluarkan uang kepada sesuatu yang tidak melakukan apapun.

    3. Fakta “Bunuh Diri” Bangsa Ini

        Sayang sekali jikalau komponen masyarakat yang seharusnya berbicara lantang malah tak berkutik sama sekali saat ketidakadilan dari pembodohan itu terjadi. Kisah teman penulis dan Bank Prodeo adalah ironi paling tajam. Bank Prodeo telah jelas menjalankan suatu pekerjaan yang “kekonyolannya” telah disebutkan di atas. Tapi serasa belum puas, Bank Prodeo menambahkan kekonyolan itu dengan beragam pembenaran melalui bahasa “regulasi” dan akhirnya kata sakral itu bisa membius seluruh kalangan masyarakat yang ada. Biasanya ini dikaitkan dengan tujuan kebangkitan ekonomi masyarakat, atau bahkan yang paling unik dan “membunuh” adalah saat penulis mendengar  saat berkunjung ke rumah teman itu dan mereka membicarakan masalah bunga uang bisa diinsafkan pada konteks “MASLAHAT” secara agama.

          Teringatlah penulis,  beberapa tahun lalu saat terjadi perubahan orientasi politik masyarakat Turki yang lebih memilih parpol berhaluan Islam moderat seperti Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP),  seorang warga Istanbul mengatakan, “ Tentu saya mencoblos AKP. Dulu sebelum pemerintahan Recep Tayip Erdogan, saya selalu cemas ketika akan tidur. Karena, jika bangun pagi, hanya dalam tempo semalam saja, pemerintah membuat segala macam menjadi mahal.” Ini adalah fakta saat kapitalisme dijunjung oleh sebuah negara dan membakukannya dalam penerapan ekonomi negara. Corak itu adalah Neo-Liberalisme, yang mana tujuan memgambil untung sebesar-besarnya sangat diutamakan. Ibarat seperti kasus diatas, saat seseorang yang meminjam uang hanya untuk membeli mobil pick up lalu dapat saja kehilangan rumah, Neo-Liberalisme terbukti hanya ingin menciptakan polarisasi kelas secara dikotomis menjadi lebih paten.  David Harvey, seorang pakar geografi Marxis, mengatakan bahwa serangan Neo-Liberalisme, telah terbukti menciptakan polarisasi sosial yang terus meningkat, pemiskinan terhadap sebagian besar kelas menengah masyarakat, dan semakin menguntungkan sebagian besar elit saja.

        Ini adalah fakta bunuh diri yang ditemukan dalam masyarakat kita dan secara langsung disaksikan penulis dalam kasus seorang teman itu. Teman penulis itu dahulu berasal dari keluarga menengah ke atas. Karena sebuah bencana yang diperburuk oleh terjerumusnya ia kepada kapitalis jenis Bank Prodeo, ia mengalami degradasi kelas sosial. Ia menjadi orang yang miskin. Sungguh sebenarnya disamping kemiskinan itu menciptakan peluang buruk dalam masalah kriminal, sebenarnya ada hal lain yang merugikan negara. Sebagai contoh dalam kejadian teman penulis itu, ia dahulu memiliki beberapa aset bergerak dan tidak bergerak, dari aset itu ia bisa saja memberikan pemasukan pada begara melalui pajak aset-asetnya itu. Penulis ingat saat teman itu bercerita akan menjual motornya, kendaraan satu-satunya yang tersisa yang ia miliki guna membayar angsuran pada Bank Prodeo, maka jelas setelah uang dari hasil penjualan didapatkan pasti akan diterima oleh Bank Prodeo saja, sontak negara kehilangan penghasilan dari pajak yang bisa dibayarkan dari aset berupa motor itu, intinya negara tidak mendapatkan pemasukan dari motor yang terjual demi membayar angsuran pada Bank Prodeo. Ini hanya contoh kecil saja, jika masalah seperti teman penulis terjadi di seluruh Indonesia, silahkan perkirakan sendiri kehancuran ekonomi yang bisa terjadi.

    4. Membela Mustadh’afin, Menolong Mulianya Islam

        Satu terminologi yang agak mengerikan untuk diucapkan di negeri ini adalah “Proletar” dan “Kapitalis.” Orang akan mengira bahwa bahasa ini berkorelasi dengan sebuah paham yang dahulu pernah berusaha melakukan kudeta pada 1948 dan 1965. Jikalau memang sebuatan itu cenderung “terlarang”, mari kita lihat bahwa dalam Islam ada kajian tentang dokotomi yang serupa dengan itu, yakni “Mustadh’afin” (yang tertindas) dan “Thaghuut” (penindas), silahkan perhatikan QS. An-Nisa’ : 75 dan QS. Thaha : 24. Dikotomi seperti ini didalam Islam jauh lebih universal ketimbang masalah Proletar-Kapitalis Marxisme yang menekankan kepada aspek masalah ekonomi dan kelas. Apa yang menimpa teman penulis sangat sarat dengan masalah Mustadh’afin-Thaghuut karena dari seperti penuturan di atas itu tercermin usaha untuk memiskinkan seseorang dan bahkan meghalang-halangi seseorang (teman penulis) untuk menuntut ilmu dengan baik, sebagaimana dilakukan Bank Prodeo.

       Karena Islam menunjukkan aspek yang besar dalam melihat fenomena penindasan yang nampaknya “lumrah” terjadi dalam realitas dunia, maka tak heran jikalau agama ini mencantumkan konteks Mustadh’afin-Thaghuut dalam skriptur sucinya (baca : Quran). Dari dasar fundamental ini, kita sebagai Muslim mawas diri dalam membangun kesadaran untuk menciptakan buah pikiran dalam masalah sosial yang terjadi. Penindasan dalam alasan apapun tidak akan dibenarkan, apalagi ada dalam sebuah agama yang “Salam” (damai) seperti halnya Islam sendiri. Substansi Islam sebagai sebuah agama Samawi (Langit), tidak lantas menjadikan agama ini tak mampu mengakar ke dunia yang riil. Justru ke-Samawi-annya itu menyimbolisasikan “Ketinggian-Keluhuran” budi pekerti manusia agar selalu mengingat yang “Maha Esa” dengan memproyeksikannya dalam kehidupan di tengah manusia, alam, dan semesta raya.

        Salah satu tokoh dalam dunia Islam modern yang memiliki perhatian dan ikut manyumbangkan pemikiran besar pada masalah keadilan sosial adalah Asghar Ali Engineer. Ia dilahirkan dari keluarga Muslim yang taat pada 10 Maret 1939 di Salumba, Rajashtan, dekat Udiapur, India. Ia termasuk dalam komunitas Islam Syi’ah Ismailiyah cabang Daudi Bohras (Gauzare Daudi)yang berpusat di Bombay, India. Lebih jauh lagi, para pengikut Daudi Bohras dipimpin oleh seorang Imam yang dijuluki Amirul Mukminin, apabila kaum Syiah Itsna Asyriah mengenal 12 Imam, Kaum Daudi mempercayai 21 Imam. Imam terakhir mereka adalah Maulana Abu Al-Qasim Al-Thayib adalah Imam terakhir mereka yang menghilang pada tahun 526 H tetapi diyakini “menghilang” (Ghaibah) dan dipercaya oleh kaum Daudi bahwa Imam terakhir itu masih hidup sampai sekarang. Kepemimpinan Imam terakhir itu dilanjutkan oleh para “Da’i” (asal muasal kata dari “Daudi”) yang selalu “berhubungan” dengan Imam terakhir itu. Komunitas Bohras cukup besar di India bagian barat.

        Asghar adalah salah satu Da’i, dimana untuk menjadi seorang Da’i tidaklah mudah. Syarat menjadi Da’i ialah harus memenuhi 94 kualifikasi yang diringkas dalam empat kelompok klasifikasi seperti, 1) Pendidikan, 2) Administratif, 3) Moral-Teoritikal, dan 4) Keluarga-Kepribadian. Da’i juga harus mampu tampil membela umat yang tertindas. Untuk masalah pendidikan, Asghar sudah rampung mempelajari Bahasa Arab, Tafsir Quran, Ta’wil, Fiqh, dan Hadits. Ia juga telah mempelajari berbagai karya utama dari Fatimi Da’wah dari Sayedna Hatim, Sayedna Qadi Nu’man, Sayedna Mu’ayyad Shirazi, Sayedna Hamiduddin Kermani, Sayedna Hatim-Razi, Sayedna Jafar Manshur Al-Yaman, dan tokoh lainnya. Pendidikan sekuler ia tempuh dan lulus dari Teknik Sipil dari Indore (M.P.) dengan tanda kehormatan. Setelah mengabdi sebagai insinyur di Korporasi Kotapraja Bombay selama duapuluh tahun, ia lalu mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk terjun langsung dalam gerakan Reformasi Bohra melawan  tindakan melampaui batas oleh Imam Besar mereka pada masyarakat.

      Ia berusaha mewujudkan reformasi kaumnya dengan mencetuskan gagasan “Teologi Pembebasan” melawan generasi tua yang cenderung konservatif dan mempertahankan kemapanan gagasan lama. Penekanan teologi pembebasannya adalah pada keharusan bahwa “Agama” tidak boleh berhenti pada urusan Akhirat ataupun Duniawi saja, tetapi ialah menjaga relevansinya. Baginya, Agama (Islam) harus menjadi sumber motivasi bagi kaum tertindas untuk mengubah keadaan mereka dan menjadi kekuatan spiritual untuk mengomunikasikan dirinya secara signifikan dengan memahami berbagai aspek spiritual yang lebih tinggi dari realitas dunia ini. Ia mempercayai bahwa Islam itu datang untuk menggugat status quo kelas sosial dan mengentaskan kelompok yang tertindas dari eksploitasi, sehingga jika ada masyarakat yang sebagian anggotanya mengekploitasi sebagian lainnya yang lemah dan tertindas tidaklah bisa disebut sebagai masyarakat Islam sekalipun mereka menjalankan ritualitas Islam. Penghapusan penindasan dan kemiskinan adalah salah satu syarat bagi terciptanya masyarakat Islam. Sayangnya, selama abad pertengahan, Islam sarat dengan  praktik feodalistis, ulamanya yang cenderung ikut menyokong bertahannya hal itu, dan kajian yang terbatas pada masalah “Furu’iyah” (Percabangan) namun mengecilkan aspek Elan Vital Islam dalam menciptakan keadilan sosial. Untuk mewujudkan Teologi Pembebasan, dapat diwujudkan secara praksis dengan : 1) mesti dimulai dengan melihat kehidupan manusia di dunia dan akhirat, 2) anti status quo (kemapanan) yang melindungi golongan kaya (the haves) daripada gologan miskin (the haves not), dan anti kemapanan serupa dalam aspek politik dan keagamaan, 3) membela kelompok yang tertindas dan tercabut hak miliknya (Mustadh’afin), serta memperjuangkan kepentingan mereka dan membekali mereka dengan senjata ideologis yang kuat untuk melawan para penindas (Thaghuut), 4) disamping mengakui satu konsep metafisika tentang “Taqdir” dalam rentang sejarah Umat Islam, juga harus ditanamkan konsep bahwa manusia itu bebas menentukan nasibnya sendiri.

        Poin ke (4) Asghar ini yang paling penting sekali untuk dicermati. Tak jarang dalam kasus teman penulis itu, orang-orang yang tidak bertanggungjawab hanya sekadar menekankan untuk “Sabar” pada “Taqdir” tanpa adanya penanaman bahwa usaha manusia membuka banyak peluang kemungkinan dan setiap usaha akan ada hasil apapun bentuknya. Kita sudah sering melihat propaganda-propaganda massif di TV yang didominasi kisah gaib dan mistik yang menyebabkan rakyat menjadi fatalistis dan buta pada realitas objektif – menganggap semuanya “Buatan Tuhan”, “Taqdir”, dan hal-hal yang mengalihkan cara pandang berbasis realitas – sungguh ini adalah penghinaan kepada Allah. Jikalau itu dapat dianggap benar oleh kaum Muslimin, berarti mereka secara tidak langsung berkata bahwa keburukan adalah “Karena Allah”, kemiskinan itu “Karena Allah”, dan kedzhaliman itu “Karena Allah” ? Sungguh Allah telah dijadikan “tersangka” untuk melindungi kepentingan kaum kaya ! Segala keburukan di mata Muslimin adalah sesuatu yang harus dibenahi dengan segala upayanya, kecuali ia tak mampu lagi bergerak karena kematian yang telah menjadi Taqdir. Inilah Teologi Pembebasan yang harus diwujudkan !

                Tak berhenti pada kemalangan di tingkat akar rumput, sistem ekonomi yang seharusnya pro-rakyat malah telah terkonsep sedemikian rupa untuk tak dapat mengulurkan tangan “dengan ikhlas” pada rakyat umumnya. Dalam majalah Al-Wa’ie Edisi Np. 169 Tahun XIV. 1-30 September 2014 yang diterbitkan oleh organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, ikut membeberkan tentang masalah moneter yang menjangkiti negeri ini. Di bidang moneter, kendali sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia. Kebijakan-kebijakan bank sentral dalam megontrol nilai tukar rupiah melalui rezim nilai tukar mengambang dan mengendalikan inflasi melalui penetapan BI rate juga tidak akan berubah.  Demikian juga kebijakan di sektor keuanganseperti perbankan, pasar modal dan asuransi yang dikendalikan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Dengan demikian Presiden mendatang juga tidak memiliki kemampuan untuk mengintervensi sektor tersebut seperti mengontrol suku bunga kredit atau membatasi arsu investasi asing. Berarti, ini telah sangat rapi tersktruktur untuk membuat pemisahan antara pelaku perekonimian seperti halnya Bank Perkreditan (seperti itu pula Bank Prodeo) untuk tak dapat diintervensi dalam menentukan suku bunga kreditnya oleh pemerintah. Tak heran dalam sebuah rubrik di Jurnal Warta Sejarah Vol. 10. No. 17. Juni 2011 tentang pembangunan ekonomi Indonesia, sistem ekonomi yang paling sesuai adalah Ekonomi Pancasilais karena pihak swasta berjalan beriringan dengan pemerintah dan masyarakat dapat berperan dalam megawasi perekonomian. Kisah teman penulisn itu sekadar menjadi pelengkap dalam masalah yang sistemik ini.

    5. Penutup

                Permasalahan-permasalahan di atas sebenarnya bisa dibendung dengan beberapa sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat Madura, khususnya Pamekasan. Pemikiran “kiri” ala Asghar Ali Engineer di atas cukup untuk kita sekadar “Melirik” sejenak dan menyadari bahwa aspek Elan Vital Islam untuk masalah pembebasan kaum tertindas adalah hal yang penting. Kisah teman penulis mewakili kompleksitas-kausalitas (sebagai akibat) dari paham kapitalisme itu. Pengalaman teman penulis telah menunjukkan beberapa “penindasan” atas kemanusiaan yang amat menyakitkan :

1. Penipuan, jika dilihat dari proses terjadinya pinjaman dimana pihak Bank Prodeo telah mencairkan pinjaman kepada pihak yang tidak berhak yakitu ibu tiri teman penulis yang  telah jelas posisinya adalah seorang istri sirri. Bank Prodeo selalu tidak pernah mampu menunjukkan adanya pelimpahan kewenangan penjaminan rumah melalui Borto Notaris dari Ayahnya kepada ibu tirinya. Dengan fakta ini, Bank telah sengaja lalai dan hanya mengutamakan untuk mendapatkan para peminjam saja. Setahu penulis belum ada permohonan maaf yang pernah disampaikan oleh Bank Prodeo itu kepada teman penulis.

2.“Penjajahan”, kata ini lebih dekat kepada sebuah usaha eksploitatif dan penghambatan kepada kemajuan pihak lain. Diatas telah dikisahkan bagaiamana teman penulis sampai-sampai harus menjual sepeda motornya, itu tak akan mungkin terjadi jika Bank Prodeo punya nurani dan tidak terlalu menekan, buat apa teman penulis itu sampai menjual kendaraan satu-satunya itu (karena pada saat itu ia sudah mengalami kejatuhan ekonomi dan banyak hartanya yang habis) ?. Dengan dijual motornya, maka ia kemudian mengalami kesulitan untuk menuntut ilmu karena ia memerlukan kendaraan untuk berangkat dan pulang sekolah dari / ke kecamatan Pademawu-kawasan kota Pamekasan.  Padahal itu sama sekali bukan hutang yang dibuat oleh teman penulis.

3.“Penistaan Agama”, suatu ketika pernah Bank Prodeo mendatangi teman penulis di sekolahnya tepat pada bulan suci Ramadhan. Bukan untuk memberi ucapan “ Segenap Direksi Bank Prodeo Mengucapan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa”, tapi adalah hanya untuk melakukan penagihan di bulan suci bagi umat Islam itu. Jika orang menganggap bahwa itu wajar, bisa saja jika masyarakat kita bukanlah masyarakat yang mengenal Tuhan. Tapi selama negara ini mengakui asas ketuhanan, itu tidaklah pantas. Justru itu penistaan dan penodaan pada kesucian Ramadhan secara praksis dan esensial. Mereka menagih bunga riba’, mereka mengguncang hati seorang Muslim yang sedang beribadah, mereka mengganggu konsentrasi saat teman penulis belajar di sekolahnya, dan pastinya mereka merendahkan seorang siswa dengan mendatanginya di sekolah. Penistaan agama tidak saja bisa terjadi dengan membakar kitab suci, tapi penghalangan kepada terwujudnya kekhusyu’an ritus ibadah dan nilai sejati ajaran agama, juga termasuk pada sebuah penistaan.

        Madura memiliki modal yang besar, diantaranya adalah para Ulama dan generasi mudanya yang telah amat modern. Dengan peran ulama yang terus menerus diberikan ruang dalam pengelolaan masalah sosial, pastinya akan mampu menyebarluaskan gagasan seperti halnya yang dilakukan oleh Asghar Ali Engineer. Masyarakat akan tahu secara gamblang akan bahaya jeratan Kapitalisme-Eksploitatif seperti yang dialami oleh teman penulis ini. Tidakkah telah sejak lama para Ulama Madura memiliki peran besar di berbagai sektor ? Kita bisa menyaksikannya dalam sejarah Pamekasan sejak era Ronggosukowati hingga masa Kemerdekaan RI. Untuk itu, sikap pro-aktif masyarakat dalam konsultasi permasalahan sosial harus dibuka lebar. Para ustadz, kyai, dan “Lora” (putra Ulama) Madura harus berani mengatakan bahwa Bank Perkreditan seperti Bank Prodeo bukanlah bagian / tidak integral dalam masyarakat Islam. Saat para ulama menyaksikan ketidakadilan sejenis yang dialami oleh teman penulis, mereka jangan hanya menasehatkan tentang “Kesabaran”, tapi ulama harus membimbing umat yang sedang tertindas itu mendapatkan kembali hak-haknya, kalau perlu dengan melindungi umat dengan cara apapun. Ulama dan Masyarakat Madura harus kian mesra, kian berpadu, dan otoritas ulama-lah yang bisa menaungi itu semua.

         Tentang generasi muda Madura di Pamekasan, kita cukup mengingat nama-nama besar seperti Andi Oktavian Latif, Ali Ichsanul Qauli, Shohibul Maromi, dan lainnya ikut serta mengharumkan bumi Pamekasan ini dalam kejuaraan internasional. Ini menunjukkan sebuah potensi dan kecenderungan umum tentang peluang modernitas di kalangan generasi muda yang kian maju intelektualnya. Tugas penting generasi muda Pamekasan adalah harus menjadi lebih berani dan kritis pada masalah-masalah yang lebih luas ketimbang secara Akademis-Teoretis saja, mereka harus mampu menjawab tantangan riil, termasuk dalam skup ekonomi dan kerakyatan. Tokoh nasional seperti Budiman Sudjatmiko yang terkenal dengan keberanian di masa mudanya sebagai aktivis yang menentang hegemoni penguasa, ia berbicara sedikit tentang masa kelam dibawah rezim Orde Baru, “Saya bukanlah seorang pemberani, saya hanya membenci ketakutan yang saat itu mewabah seperti penyakit menular. Padahal saat itu ketimpangan begitu mencolok, aroma korupsi begitu tajam tercium meskipun kebebasan dikekang sedemikian rupa.” Benar sekali. Saat kita takut pada ketidakadilan, “melawan” adalah reaksi kita : kaum muda.



Sumber


Fuad, Abu, Riba Halal, Riba Haram, Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, 2006.

Koran Kompas, Selasa 24 Agustus 2010.

Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban, Jakarta : Penerbit Paramadina, 2000.

Majalah Al-Wa’ie No. 169 Tahun XIV, 1-30 September 2014.

Majalah Ummi No. 05/ XIX September 2007.

Santoso, Listiyono, dkk., Seri Pemikiran Tokoh Epistemologi Kiri, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2015.

Soyomukti, Nurani, Revolusi Sandinista : Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme, 2008.

Warta Sejarah Vol. 10, No. 17, Juni 2011.


Kontributor : Hendra Yuliyandri, A.Ma.Pust , Co-Author : Admin GGS



Comments