Monday, July 27, 2015

Menguji Nasionalisme dengan Keislaman : Analisis Pemikiran H. Agoes Salim Dalam Perspektif Islamisme



1. Tulisan H. Agoes Salim dalam “Fajar Asia” no. 170


“Iboemoe Indonesia teramat tjantik. Tjantik langitnja dan boeminja, tjantik goenoengnja dan rimbanja; tjantik sawahnja dan ladangnja, tjantik goeroenja dan padangnja. Hawanja jang terlebih baik, telebih sehat, dan terlebih sedjoek bagi kamoe.

Iboemoe Indonesia teramat baik. Airnja jang kamoe minoem; nasinja jang kamoe makan.

Iboemoe Indonesia teramat kaja. Boeminja hanja minta ditegoer, maka menghasilkan bermatjam-matjam kekajaan dan keperloean doenia; hanja minta diasoeh dipeliharakan sedikit, akan menimboelkan dan menoemboehkan pelbagai hasil keperloean hidoep.

Iboemeoe Indonesia teramat koeat dan sentosa. Dari doeloe melahirkan peodjangga, pahlawan dan pendekar. Dan sekarang inipoen dalam zaman soesah serta sempit hidoepnja ini tidak berhenti joega ia melahirkan poetra-poetra jang tjakap-tjakap, gagah berani.

Maka tidak lebih dari wajibmoe, apabila kamoe memperhambakan, memperboedakkan dirimoe kepada iboemeoe Indonesia ; mendjadi poetra jang mengikhlaskan setiamoe kepadanja.”

                Kira-kira beginilah isi perkataan Ir.Soekarno kepada koempoelan ramai P.N.I. sedikit hari jang laloe. Maka dari berita jang kita moeatkan daripada koempoelan itu soedah kita sangkoetkan djoega sedikit pemandangan pada soeara seroean itoe.

                Akan tetapi perkataan itoe terlaloe penting akan dihabisi sambil laloe dengan beberapa kalimat sadja. Pertama-tama segala perkataan itoe benar sekali kepada perasaan tiap-tiap manoesia jang ada mempoenyai perasaan. Sebagai orang menjintai iboenja jang melahirkan dan menyoesoekan dan mengasoeh dia dengan tidak memilih-milih dan mengoetamakan iboe kandoengnja jang memeliharakan dia itoe daripada segala iboe orang lain, begitoe poela tidak ada satoe bangsa manoesia jang merasakan keoetamaan tanah air orang lain daripada tanah airnja. Sehingga soedah masjhoer pepatah melajoe : “Hoejan batoe di negeri kita, hoejan emas di negeri orang, negeri kita poela jang kita pilih.”

                Akan tetapi boekanlah kepada perasaan sadja benarnja perkataan Ir.Soekarno itoe, melainkan kepada hakekat keadaan poen benar poela. Sebab memang sesoenggoehnja soekar hendak ditjari dimoeka boemi bandingan tanah air kita Indonesia raja; Kaja, Pemoerah, Pengasih. Dengan poela permai roepanja dimana-mana dilihat.

                Dan koeat serta sentosanja ? Boekan sedikit nama poetra-poetranja jang menjabilkan segala tenaganja, malah njawanja oentoek meninggikan nama tanah airnja pada djalan dan menoeroet pendapatan orang dalam tiap-tiap masa. Ir. Sukarno menjeboetkan nama Patih Gajah Mada. Kita tambahkan kepada nama itoe, nama Hajam Woeroek jang doeloe, nama Soenan Kali Djaga, Raden Patah, dan nama Maulana Hasanoeddin, jang kemoedian.

                Ir. Soekarno menjebut nama Koembakarna; kita tambahkan kepada nama itoe nama Maulana Joesoef daripada Banten dan Pangeran Dipanegara daripada Mataram. Dan kepada itoe kita tambahkan peringatan beriboe-riboe orang bangsa kita, jang tidak bergelar Soenan, Soeltan, Pangeran atau Maulana, dan tidak berpangkat Pahlawan ataoe pendekar, ta’orong satoe persatoenja, menjabilkan segenap tenaga karena mendjoendjoeng kebesaran dan kemoeliaan tanah air.

                Ada jang dibenarkan dan dimoeliakan oleh hoekoem doenia, ada jang disalahkan dan dihinakan oleh hoekoem doenia, di dalam masanja. Tapi hoekoem riwajat doenia dan hoekoem Allah didalam achirat akan menimbang niat jang didalam hati mereka, asas dan toedjoean jang menggerakkan mereka. Djika salah djalan jang mereka tempoeh, nistjaja salahnja itoe berbalas didoenia pada waktoenja. Sebab hoekoem Allah di dalam ‘alam tabi’at teramat tjepat perhitoengannja. Tapi niat jang ichlas, asas jang benar dan toedjoeannja jang oetama membawa gandjaran Allah pada saatnja poela. Memberi bahagia kepada orang-orang jang bergerak pada djalan Allah itoe pada saat kesengsaraan dan kesoekarannja. Memberi perasaan poeas pada saat djatoehnja menjadi korban didjalan kewadjibannja.

                Kembali kita pada pidato Ir. Soekarno, kepada poedji-poedjiannja akan “Iboe Indonesia” itoe. Alasannja benar ! Toedjoeannja hak !

                Tapi......

                Atas nama “tanah air” jang oleh beberapa bangsa disifatkan “Dewi” ataoe “Iboe” , bangsa Perantjis dengan gembira menoeroetkan Lodewijk IV, menganijaja dan penghisap darah ra’jat itoe, menjerang, meroesak, membinasakan negeri orang dan ra’jat bangsa orang, sesamanja manoesia.

                Atas nama “tanah air” bangsa Oostenrijk memperhinakan bangsa Italia dan Swissero, di zaman kebesaran Oostenrijk itoe.

                Atas nama “tanah air”, kerajaan Pruissen meroeboehkan Oostenrijk dari deradjat kemoeliaannja itoe.

                Atas nama “tanah air” balatentara Perantjis menoeroet toentoenan Napoleon mena’loek-menoendoekkan segala negeri dan bangsa jang berdekatan dengan dia; menghinakan radja-radja orang dan menindas ra’jat bangsa lain.

                Atas nama “tanah air” pemerintah Duitsland pada sebeloem perang besar dan pada perang itoe, menarik segala anak laki-laki jang sehat dan koeat dari iboe-bapanja, daripada kempoeng dan halamannja, bagi mengoeatkan balatentara oenntoek mengalahkan, menaloekkan doenia.

                Atas nama “tanah air” Italia sekarang memberi sendjata, sampai kepada anak-anak, laki-laki dan perempoean, soepaja koeat negerinja merendahkan deradjat orang dinegeri orang, merampas hak orang atas tanah air orang itoe, memperhambakan bangsanja djoega.

                Bahkan Atas nama “tanah airnja” masing-masing kita lihat bangsa-bangsa Eropah merendahkan deradjat segala bangsa loear Eropah, bagi meninggikan deradjat bangsa Eropah atas bangsaloear Eropah.

                Demikianlah kita lihat betapa “Agama”, jang menghambakan manoesia kepada berhala “tanah air” itoe mendekatkan kepada persaingan bereboet-reboet kekajaan, kemegahan, dan kebesaran; kepada memboesoekkan, memperhinakan dan meroesakkan tanah air orang lain, dengan tidak mengingati hak dan ke’adilan. Ililah bahajanya, apabila kita “menghamba” dan “membudak” kepada “Iboe Dewi” jang menjadi tanah air kita itoe karenanja sendiri sadja; karena eloknja dan tjantiknja; karena kajanja dan baiknja; karena “airnja jang kita minoem”, karena “nasinja jang kita makan.”

                Atas dasar perhoeboengan jang karena benda doenia dan roepa doenia belaka tidaklah akan dapat ditoemboehkan sifat-sifat keoetamaan jang perloe oentoek mentjapai kesempoernaan. Atas dasar kedoeniaan jang bersifat benda dan ichlas dan tawakal, jang sampai menjabilkan njawa. Sebab benda dan roepa doenia habis goenanja , apabila njawa soedah tiada. Maka sebagai dalam tiap-tiap hal jang mengenai doenia kita, demikian djoega dalam tjinta Tanah air kita mesti menoendjoekkan tjita-tjita kepada jang lebih tinggi daripada segala benda dan roepa doenia, jaitoe kepada hak, keadilan, dan keoetamaan jang batasnja dan oekoerannja ditentoekan oleh Allah Soebhanahu wa Ta’ala.

                Dan kita menoedjoe kepada toedjoean itoe hendaklah karena Allah poela, soepaja djangan kita menjimpang dari pada djalan hak, keadilan dan keoetamaan itoe, karena doronga hawa nafsoe.

                Maka dengan sarat ini njatalah tjinta kepada tanah air, jang asli, sebagai indonesia ini bagi kita, ataoe jang “pindjaman” atau poengoetan, seperti Amerika, Canada, Australia, dan lain-lain bagi orang-orang jang mendjadikan dia “bagian iman” jang bertempat di dalam roh manoesia, baik jang mengakoe, maoepoen jang moengkir agama.

                “Lillahi Ta’ala”, karena Allah Ta’ala inilah sjarat, jang mesti ditjoekoepi bagi tiap-tiap nilai keoetamaan, djika sesoenggoehnja hendak kita kita kedjar keoetamaan itoe dengan tidak disimpangkan didjalan olem memboeroe laba-keoentoengan jang dekat, ataoe oleh melarikan diri daripada keroegian atao bala bentjana doenia jang ditakoeti.

Akan penoetoep pemandangan ini kita hendak menoendjoekkan satoe tjontoh “kecintaan tanah air”, jang terseboet didalam Qur’an, jaitoe do’a Nabi Ibrohim dalam Soera Ibrohim, ajat ke 37, kita melajoekan mananja sekadarnja :

                “Wahai Toehan kami! Telah koetempatkan sebagai toeroenankoe dalam seboeah lembah, jang tidak ada tanaman, pada dekat roemah Moe jang dipersutjikan (Muharram), Sopaja mereka mendirikan sembahjang ! maka djadikanlah hati daripada manoesia tjinta kepada mereka dan beri rezekilah daripada boeah-boeahan, kalaoe-kalaoe mereka melakoekan sjoekoer.”

                Apakah boemi itoe jang ditanah airkannja bagi ketoeroenannja ?

                Tanah pasir jang kering jang ta’ada tanaman toemboeh diatasnja. Dilingkari poela oleh boekit batoe besar-besar, jang mengikat panas matahari, seolah-olah “menggoeroeng panas” dalam moesim panas. Berapa poela djaoehnja djalan keloear, akan berhoeboengan dengan orang lain. Laut pasir jang membatasinja, jang membahajai njawa pedjalan didalamnja. Tidak tjantik ! Tidak Kaja ! Tidak Pengasih-Penjajang tanahnja itoe. Malah boleh dikatakan kebalikannja semata-mata.

                Apakah jang “ditanahairkan” kesitoe itoe ?

Ta’ lain dan ta’bukan, hanjalah akan mendekati “Roemah Allah’ jaitoe jang pertama-tama boeatan manusia dengan tidak ada lain meksoed hanjalah akan tempat menjembah Allah semata-mata. Dan akan “mendirikan sembahjang”. Jaitoe boleh difahamkan, akan mengadakan tanahair Agama belaka. Agama jang diichlaskan kepada Allah.

                Maka berdirilah, di tempat itoe “Mekkah al Moesjar rafah,”kota besar jang boleh moeat orang sampai beratoes riboe. Dan ada bangsa manoesia jang menegerikan negeri itoe “menanah airkan” boemi disitoe. Maka tjinta mereka itoe akan tanah airnja dengan ketjintaan tiap-tiap bangsa kepada tanah airnja djoega.

                Bahkan hampir ta’ada bangsa manoesia didoenia, daripada matjam-matjam koelit dan warna, jang tidak ada anaka bangsa itoe memperlakukan pergi ke negeri jang diberkati Allah kemoeliaan itoe menoeroeti kemaoean Nabi . boekan karena kehendak atau hadjat jang diminta melainkan semata-mata karena menoeroeti kehendak Allah.

                Tjinta kepada tanah air agama, karena Allah ta’ala dan menoeroroet perintah Allah semata-mata. Sekalipoen tak ada elok dan elok ataoe tjantiknja jang menyejoekan mata ta’ada enak ataoe sedapnja jang menjedapkan rasa ta’ada kekajaan jang menghiasi doenia.

                Inilah tjontoh “Tjinta Tanah Air’, jang mendjadikan negeri besar dan ma’moer daripada pasir batoe kering jang tidak ada tanaman menoemboehi ta’ada air mengaliri ta’ada djalan menghoeboengkan dengan doenia diloearnja.

                Alangkah oentoeng Iboe Indonesia djika poetra-poetranja hendak tanah air Agama belaka. Agama jang diikhlaskan kepada Allah.

2.   Kajian

                Menilik penulisan yang mengungkapkan pemikiran H. Agoes Salim ini mengisyaratkan sebuah kritisi yang begitu mendalam kepada paradigma Nasionalisme yang baru saja muncul kala itu. Pendalaman Nasionalisme dalam pemikirannya cenderung tunggal dengan mengambil aspek Komparasi (Perbandingan) dengan mengambil substansi Keislaman sebagai sebuah pedoman dalam justifikasi “Salah-Benar”. Kecenderungan ini, disamping oleh latar politik juga mengandung tujuan-tujuan sebagai idealisme yang dituju layaknya esensi dari Politik itu sendiri. Enigma antara Islam melawan Nasionalisme memang cenderung marak, yang malah banyak ditemukan di negara-negara dengan Islam sebagai Mayoritas. Hal itu tiadalah lepas dari Intelektualisme Islam yang, apabila harus dikaji secara jujur jauh muncul bahkan sebelum Rennaisans berkilauan di Eropa masa Kristen Doktrinal abad pertengahan. Dapat kita lihat secara umum bahwa Agoes Salim ingin menunjukkan kekeliruan pemikiran “Materialisme” Sukarno dalam konsep “Iboe Indonesia”. Beberapa rangkaian bunga rampai dapat menjadi analisis pengkajian ini beserta substansi perbedaan keduanya.


3. Intelektual Islam dan Keragaman Pemikiran Umat Islam


                Sukarno seorang Muslim dan begitu pula Agoes Salim, namun mengapa pertentangan terjadi ? Ya, ini diawali oleh Islam yang tercipta dalam konteks “Sulh i Kul”. Ajarannya tentang sulh-i-kul, damai dengan semua membuatnya disayang oleh umat muslim maupun non-muslim . Tidaklah heran, Muhammad Saw. juga bersabda bahwa “Ikhtilafu Ummatiy Rohmah”yang berarti “perbedaan dalam umatku adalah rahmat”. Tiadalah heran bahwa sejak 800 Masehi, Islam sudah mampu melahirkan berbagai pemikiran (Ilmu Kalam), dikala Eropa masih tenggelam dalam Doktrinal Gerejawan, Islam telah memiliki Ibn Sina dengan Neo-Platonisme yang menjelaskan mengenai “Kesempurnaan Forma Tunggal ” untuk menjawab ketidakberesan duniawi.

                Dalam Ilmu perbandingan Agama dapat disaksikan bahwa Islam merupakan agama yang mampu menjadi keercayaan yang paling toleran untuk suburnya pemikiran. Tidak seperti agama lain contohnya Kristiani yang memang memiliki ortodoksi yang begitu kental dalam aspek doktinal. Seperti yang terhlihat dalam aturan “Credo (Aku Percaya)” tersebut dalam poin 9 dari 12 yaitu “Aku percaya Gereja Katholik yang Kudus, Persekutuan para kudus. Doktrinal gereja abad pertengahan sangat mengungkung Eropa. Namun perdebatan mengenai sebuah Ilmu Kalam dan Fahamnya dalam Filososfi telah hidup dalam Intelektual Islam. Perpustakaan pemerintah Islam Cordoba di abad X berisikan 400.000 jilid buku lebih,....Universitas-universitas Toledo,Cordoba,Seville, dan Granada menjadi tujuan mahasiswa-mahasiswa dari wilayah lainnya untuk belajar Ilmu Pengetahuan dari bangsa ArabMaka tidaklah heran apabila dalam Islam sekalipun, seperti zaman Khalifah al-Makmun terkenal dengan era Mu’tazilah yang merujuk kepada sebuah golongan pemikiran Islam Liberal yang mengarahkan cara pandang yang bersumber pada rasional, pengkajian rasional dan tujuan rasional.

                Intelektual Islam juga mulai merujuk kepada bentuk apakah yang mampu menjadikan Islam dapat meretas zaman. Walaupun Islam akan memiliki banyak sempalan dan nama kelak. Tetapi hakikatnya perbedaan di dalam Islam itu tidak akan membawa kepada “Iman dan Kafir”, tapi hanya “Benar dan Tidak Benar” atau bahkan “Kurang Tepat”. Hal ini semakin mewarnai khzanah Intelektual Muslim. Seperti diungkapkan oleh Akbar S.Ahmed, bahwa perbedaan itu cenderung pada bentuk mikro semata, pendapatnya :

“Ketika Islam pertama kali muncul, Islam datang dengan suatu ide besar. Ide besar tersebut adalah bahwa engkau dapat meyakini sifat ketuhanan secara langsung sekalipun hidup dalam masa sekarang ini; ini merefleksikan prinsip utama tentang keseimbangan (adl) dan simpati yang mendalam (Ihsan) dalam segala jalan kehidupan. Sekarang ini, dalam perbedaan yang tajam, umat Muslim sering dikaitkan dengan ide-ide kecil. Beberapa diantaranya menyangkut kegemaran bercekcok di sekitar partai-partai politik,....”

         Beginilah dasar zaman terbangunnya perbedaan pemikiran yang memisah kedua tokoh tersebut. Bagi Sukarno “Adl” adalah “Nasionalisme” dan Ihsan adalah “Pluralisme dan Persatuan”. Bagi Agoes Salim, “Adl”  adalah “Akhirat dan Duniawi” dan Ihsan adalah “Iman Islam”.

4.Cinta Allah, Menolak Ultra-Nasionalisme, dan Ketokohan


                Cinta akan berbeda makna dalam masalah keimanan dan keagamaan secara substansial dan subjeknya. Dalam hal ini ialah Allah (sang Khaliq) dan Manusia sebagai Makhluk, setidaknya itulah yang menjadi landasan Agoes Salim bahwa Cinta Allah ialah penting diatas Cinta Tanah Air semata, karena Allah lebih tinggi dari pada Segalanya dan mencakup semua. Secara umum inilah pandangan Keislaman itu :

“Al-Azhari berkata, “Arti cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah menaati dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya.” Al-Baidhawi berkata, “Cinta kepada Allahadalah keinginan untuk taat.” Ibnu Arafah berkata,”Cinta menurut orang Arab adalah  menghendaki sesuatu untuk meraihnya.” Al-Zujaj berkata, “Cinta manusia Kepada Allah dan Rasul-Nya ialah menaati keduanya dan Ridho atas segala perintah-Nya dan segenap ajaran Rasulullah Saw.”

Itulah sebabnya Agoes Salim mengungkapkan mengenai kesalahan cinta kepada “Iboe Indonesia” yang akan menjadi berhala yang dikhawatirkan akan merusak keimanan dan menimbulkan kerusakan akibat kesalahan niat yang bukan karena Iman Islam. ”Tapi hoekoem riwajat doenia dan hoekoem Allah didalam achirat akan menimbang niat jang didalam hati mereka”. Terbuktilah dalam ungkapannya,

“Atas nama “tanah air” jang oleh beberapa bangsa disifatkan “Dewi” ataoe “Iboe” , bangsa Perantjis dengan gembira menoeroetkan Lodewijk IV, menganijaja dan penghisap darah ra’jat itoe, menjerang, meroesak, membinasakan negeri orang dan ra’jat bangsa orang, sesamanja manoesia.

Atas nama “tanah air” bangsa Oostenrijk memperhinakan bangsa Italia dan Swissero, di zaman kebesaran Oostenrijk itoe.

Atas nama “tanah air”, kerajaan Pruissen meroeboehkan Oostenrijk dari deradjat  kemoeliaannja itoe.

Atas nama “tanah air” balatentara Perantjis menoeroet toentoenan Napoleon mena’loek-menoendoekkan segala negeri dan bangsa jang berdekatan dengan dia; menghinakan radja-radja orang dan menindas ra’jat bangsa lain.

Atas nama “tanah air” pemerintah Duitsland pada sebeloem perang besar dan pada perang itoe, menarik segala anak laki-laki jang sehat dan koeat dari iboe-bapanja, daripada kempoeng dan halamannja bagi mengoeatkan balatentara oenntoek mengalahkan, menaloekkan doenia.

Atas nama “tanah air” Italia sekarang memberi sendjata, sampai kepada anak-anak, laki-laki dan perempoean, soepaja koeat negerinja merendahkan deradjat orang dinegeri orang, merampas hak orang atas tanah air orang itoe, memperhambakan bangsanja djoega.”

                Ia mencontohkan bagaimana nasionalisme bisa saja salah dan mengacaukan ketenangan yang ada. Sekadar gambaran umum dalam pendapatnya mengenai sebuah kekacauan yang terjadi di Eropa akibat Nasionalisme Di masing-masing Negara,

“Akibat dari Perang Dunia I, Perjanjian Versailes menyatakan kekalahan Jerman, penggabungan tanah, perbaikan kerusakan akibat perang, pembatasan kemampuan militer Jerman, dan menyalahkan Jerman dan Austria-Hongaria sebagai penyebab Perang. Pemerintahan baru Jerman yang kekiri-kirian dan moderat mencoba melakukan kembali pembangunan. Namun tertekan oleh kaum Ekstrimis kanan.”

         Kaum ekstrimis kanan itu ialah partai NAZI. Bertanggungjawab atas tewasnya 60 Juta jiwa selama Perang Dunia I. Begitulah pandangannya melihat akibat kegilaan atas “Tanah Air” mengingat contoh-contoh diatas, Lodewijk (Louis), Napoleon tiadalah beda dengan Hitler yang merubuhkan banyak nyawa untuk kebesaran Negara (Ultra-Nasionalisme). Bahkan Penokohan juga ditolak oleh Agoes Salim, Hitler ataupun Lodewijk IV merupakan tokoh yang berkuasa hampir mutlak. Namun ia menolak pengorbanan pada sebuah perjuangan hanya akan menyebabkan kemuliaan figur pemimpinnya saja, tetapi ia menegaskan bahwa pendukung perjuangan itu adalah mereka yang mengikuti pemimpinnya,

“Dan kepada itoe kita tambahkan peringatan beriboe-riboe orang bangsa kita, jang  tidak bergelar Soenan, Soeltan, Pangeran atau Maulana, dan tidak berpangkat Pahlawan ataoe pendekar, ta’orong satoe persatoenja, menjabilkan segenap tenaga karena mendjoendjoeng kebesaran dan kemoeliaan tanah air.”

Ini merupakan sebuah pernyataan yang secara pribadi menukik pada masalah jiwa kepemimpinan Sukarno dan PNI yang cenderung pada penokohan figur. Tidak lain kesan gerakan PNI dan Sukarno yang bertalian ibarat pinang dibelah dua, bahwa PNI adalah Sukarno dan sebaliknya menjadi kontradiktif yang pesat bahkan dalam tubuh kaum Nasionalis sendiri.

                Masalah “Pengikut” dalam terminologi perjuangan Islam bisa kita bandingkan dengan sebuah kajian Syiahlogi (Ilmu Mengenai Sekte Syiah), yang menyangkut sebuah fenomena “Paradigma Karbala”. Kesyahidan Hussein bin Ali RA dan keluargnya di padang Karbala merupakan kenyataan perih bagi kaum Syiah adalah sebuah ajakan untuk rela mati demi menjaga nama Agama Islam sebagaimana Hussein membela Keislaman dengan menolak Politik non-Islami kaum Umayyah di Damaskus hingga ia terbunuh di Pertempuran Karbala. Agoes Salim mengunkapkan, “Memberi bahagia kepada orang-orang jang bergerak pada djalan Allah itoe pada saat kesengsaraan dan kesoekarannja. Memberi perasaan poeas pada saat djatoehnja menjadi korban didjalan kewadjibannja.” Hal ini memiliki persamaan dengan Paradigma Karbala,

                Dorongan untuk tetap berdiri menantang segala rintangan,persoalan prinsip, kesiapan menjadi Syuhada , semangat yang penuh dan ketidakpedulian pada kematian.....ini diistilahkan sebagai “Paradigma Karbala”. “Kepengikutan” merupakan bagian yang tiada lepas dari aspek Syiahlogi. Bahkan terminologi “Syiah” berarti “Partai Pengikut.” Dalam perang Iraq-Iran, terminologi Syuhada sering dipakai untuk memberikan apresiasi kepada para perjuang yang rela berkorban melawan invasi Iraq, terutama kepada yang setia menjadi pengawal Revolusi Islam Syiah 1979.

                Hal ini mengingatkan kepada sebuah ungkapan Jenderal Bangsa Jerman-Prusia (awalnya bawahan Austria) sebagaimana disebutkan diatas telah meuntuhkan kemuliaan bangsa Austria. Ialah Otto Von Bismarck, Figur terpenting setelah Luther dan Hitler, menarik dan memicu perdebatan dan seperti Abraham Lincoln ia menjadi penyelamat dalam keadaan Krisis. Ia memimpin Perang Prusia melawan Austria. Setelah bekerjasama dengan Austria merebut beberapa provinsi Denmark, ia berbalik memanuver Austria. Perang ini memakan waktu 7 minggu, dengan taktik cerdik Austria kalah dalam perang Konnigratz-Bohemia. Austria menganggapnya sebagai awal kebangkitan Kebangsaan Jerman. Kemudian, Prusia berbalik menjajah Austria setelah terbentuknya Kekaisaran Jerman Bersatu. Otto Von Bismarck pernah mengungkapkan betapa pentingnya figur ketokohan dan aspek genealogis dalam sebuah lelucon yang ia kemukakan,” Ayah-Ayahku (moyang) telah lahir, hidup, dan mati dalam kamar yang sama selama berabad-abad.”

        Demikian itu perbandingan yang diambil "The Grand Old Man of Indonesia", baginya Nasionalisme dan cinta Ibu Pertiwi harus secara integral ialah menuju kepada Tuhan karena ia sendiri memandang bahwa dengan alasan "Tanah Air", manusia seolah tak pernah lepas dari rasa haus dan rakus atas keduanya, bahkan dengan merendahkan sesama manusia.

Sumber

Ahmed, Akbar S., Rekonstruksi Sejarah Islam, Yogyakarta,Fajar Pustaka Baru,200

Ali, Abdullah, Agama Dalam Ilmu Perbandingan, Bandung, Penerbit Nuansa Aulia, 2006.

Hill, Mckay Buckler, A History of Western Society, Boston, Houghton Miffin Company, 1985.

Tim Narasi, The Mass Killers of Twentieth Century, Yogyakartan Penerbit Narasi, 2005.

Tim HTI, Nafsiyah Islamiyah, Jakarta, HTI Press, 2004.

Kontributor : Hendra Y., A.Ma.Pust *


*) Pustakawan, tinggal di Kec. Pademawu, Kab. Pamekasan, Madura-Jawa Timur. yuliyandrihendra@gmail.com