Jelajah Musi Triboatton : Refleksi Olympism Sejarah Peradaban Sungai Palembang


1.Pendahuluan 

Berbicara mengenai perhelatan-perhelatan internasional yang kerap digelar di Palembang, tentu akan sangat banyak untuk menyebutkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Belum lagi dengan terpilihnya kota Palembang sebagai tuan rumah Asian Games 2018 kelak, dimana saat ini telah dapat disaksikan berbagai persiapan pembangungan sarana transportasi LRT pada beberapa ruas jalan, dalam waktu dekat juga akan diselenggarakan kembali perlombaan Musi Triboatton yang telah sukses dilaksanakan sejak tahun 2012 lalu. Diselenggarakannya perhelatan lomba perahu bertaraf internasional memang meningkatkan prestise atas kemampuan Provinsi Sumatera Selatan, serta memberi aspek “mercusuar” ke lingkup nasional bahkan lintas negara, namun di balik semua itu ternyata tersimpan sisi lain berupa refleksi historis terhadap reputasi ikonik yang jauh lebih tua dibandingkan dengan prestasi Sumatera Selatan – Kota Palembang khususnya – dalam menyelenggarakan perhelatan-perhelatan kegiatan internasional di masa kini, yakni Palembang sebagai tempat berjayanya peradaban sungai sejak masa Sriwijaya yang kini menjadi warisan kesejarahan bagi Indonesia, atau bahkan dunia.

e-flyer lomba Blog dalam rangka Musi Triboatton 2016. Sumber Gambar : http://southsumatratourism.com/news/wp-content/uploads/2016/04/2.jpg

Penulis yang berlatarbelakang sebagai Mahasiswa Pendidikan Sejarah akan memberikan sedikit kajian sederhana, sesuai dengan disiplin ilmu yang tengah penulis timba di Universitas Sriwijaya. Meskipun demikian, tulisan ini tidak akan terlalu bersifat ilmiah, melainkan lebih ditujukan sebagai kajian yang cenderung ringan dalam mengungkapkan sisi refleksional penyelenggaraan Musi Triboatton. Untuk memenuhi tujuan itu, sumber-sumber referensial yang dipakai untuk memberikan refleksi pemikiran, tidak terbatas pada buku-buku kesejarahan saja. Entah telah disadari atau tidak, penyelenggaraan perlombaan bertaraf internasional ini juga menjadi sebentuk refleksi atas kejayaan peradaban Sungai Musi di masa lalu. Di samping, tanpa melupakan entitas kegiatan Jelajah Musi Triboatton, perhelatan ini berhasil menjadi pencapaian atas semangat Olympism dunia keolahragaan ; berikut dengan spirit kesejarahan di dalamnya.

2.Refleksi Historis Perhelatan International Musi Triboatton 

Musi Triboatton adalah perlombaan perahu yang diadakan di Sumatera Selatan sejak tahun 2012 dengan panjang jarak perlombaan lebih dari 500 Km di sekitar Sungai Musi, salah satu sungai terbesar di Pulau Sumatera, dimulai dari Tanjung Raya sebagai salah satu wilayah hulu di bagian barat Sumatera Selatan hingga ke ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Kota Palembang, salah satu kota tertua di Indonesia. Kegiatan ini akan berlangsung sebanyak lima etape di lima tempat berbeda dengan jarak perlombaan masing-masing. Etape pertama akan diadakan pada tanggal 11 Mei 2016 di Kabupaten Empat Lawang (Tanjung Raya – Tebing Tinggi sejauh 35 Km), etape kedua akan diadakan di Kabupaten Musi Rawas pada tanggal 12 Mei 2016 (Tebing Tinggi – Muara Kelingi sejauh 140 Km), selanjutnya etape ketiga akan diadakan di Kota Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin pada tanggal 13 Mei 2016 (Muara Kelingi – Sekayu sejauh 165 Km), etape keempat akan diadakan pada tanggal 14 Mei 2016 di Kabupaten Banyuasin (Sekayu – Pengumbuh sejauh 108 Km), dan etape terakhir sekaligus penutupan akan diadakan di Kota Palembang pada tanggal 15 Mei 2016 (Pangumbuh – Palembang sejauh 75 Km) (www.southsumatratourism.com diakses 22 April 2016 pukul 02:04).

Poster promosi Musi Triboatton 2016 : sebuah  awal. Sumber Gambar : http://travel.detik.com/read/2012/10/29/175423/2075439/1049/musi-triboatton-2012-olahraga-wisata-dan-pertandingan

2.1.Sungai : Akar Peradaban dan Kekayaan Sriwijaya

Kita mungkin pernah mendengar lirik lagu Palembang berjudul Ya Saman dengan salah satu penggalannya berbunyi, “Lika-liku banyu Batanghari Sembilan, mengalir bermuaro ke Sungai Musi jugo...”, yang berarti “Liku-liku air dari Batanghari Sembilan, mengalir bermuara ke Sungai Musi juga...” Batanghari Sembilan, sebagaimana dalam pendapat M. Santun dkk. (2010 : 3) mengutip pendapat De La Faille ialah sembilan sungai utama yang mengalir di Sumatera Selatan yakni Batang Leko, Ogan, Komering, Rawas, Rupit, Lakitan, Kelingi, Bliti dan tentu saja Sungai Musi sebagai tempat bermuara delapan sungai lainnya.  Sedemikian pula perlombaan ini yang ditutup dengan penyelenggaraan etape terakhir di kota Palembang dengan Sungai Musinya. Meskipun tidak melewati seluruh sembilan sungai yang ada di Sumatera Selatan, perlombaan menguatkan kembali kosmologi geografis tradisional Sumatera Selatan yang melambangkan delapan penjuru mata angin dengan penjuru kesembilan sebagai pusatnya (yakni kota Palembang – Pen), bagi sejarawan Johan Hanafiah (2015 : 5), Batanghari Sembilan tak jauh berbeda dengan pengertian Lebensraum (“Ruang Hidup” bagi masyarakat pada suatu peradaban). Kota Palembang dengan Sungai Musi sebagai tempat bertemunya delapan sungai lain itu, kerap disebut sebagai daerah Iliran (Hilir) juga dikonotasikan dengan kedatangan kemajuan, sebab yang paling pertama menerima perubahan acapkali datang dari daerah hilir sungai, yang kemudian kalau itu memang sampai, baru kemajuan itu menyentuh ke arah dan mengarah ke dunia daerah Uluan (Hulu) (M. Santun, dkk., 2010 : 3).

Prasasti Kedukan Bukit adalah inskripsi tertua dengan tarikh 16 Juni 682 M yang menceritakan tentang pendirian pemukiman pertama oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa (Samsudin, dkk., 2010 : 49), di dalamnya turut pula diceritakan bagaimana pendirian pemukiman itu dilalui dengan ekspedisi / perjalanan yang berjaya (disebut sebagai ‘Jaya Siddhayatra’) disertai dua laksa (20.000) tentara, dua ratus peti perbekalan, dan Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang nantinya menjadi penguasa Sriwijaya pertama juga turut naik perahu, sementara 1.312 pasukan lainnya berjalan kaki. Kisah pendirian Sriwijaya ini menempatkan posisi peradaban perairan (sungai) sebagai sebuah  corak awal pembangunan peradaban Kerajaan Sriwijaya. Setelah pendirian pemukiman itu, Palembang sebagai pusat awal kerajaan ini, memiliki luas 400.61 Km2. Bambang Budi Utomo menjelaskan bahwa hal itu adalah hasil penggambaran yang didapat dari penemuan tiga prasasti utama Kerajaan Sriwijaya ; Prasasti Kedukan Buki ditemukan di kaki Bukit Seguntang, di bagian timurnya adalah tempat ditemukannya prasasti Telaga Batu ; Daerah Kampung 2 Ilir belakang kompleks PT. Pusri. Pada bagian barat lautnya ditemukan prasasti Talang Tuo ; di daerah Kecamatan Talang Kelapa (Budi Utomo, 2008 : 56)

Inskripsi / Prasasti Kedukan Bukit . Sumber : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/8e/KedukanBukit001.jpg

Berkembangnya peradaban Kerajaan Sriwijaya yang dimulai dengan sebuah usaha Dapunta Hyang untuk mencapai titik penjuru kesembilan, yakni Palembang sebagai daerah Iliran telah pula menciptakan sebuah kemajuan yang tak hanya diakui oleh masyarakat Sriwijaya sendiri. Kemajuan ini dibuktikan dengan berbagai kesaksian yang justru datang dari berbagai berita asing kepada kerajaan yang menjadi prototipe negara nasional pertama di Nusantara itu. I-Tsing salah satunya, ia adalah seorang agamawan Budha yang belajar bahasa Sanskrit / Sansekerta di Sriwijaya. Dari kesaksian I-Tsing kita mendapatkan gambaran tentang kemajuan perdagangan Kerajaan Sriwijaya, karena ia berangkat menuju berlayar dengan kapal-kapal orang Tashih (Arab) dan orang Posse (Persia) (Notosusanto & Poesponegoro, 1993 : 45). Lebih tua lagi dari berita I-Tsing, sejak era 661-717 M dimana berita-berita Arab menyebutkan bahwa ada dua surat dari Maharaja Sriwijaya kepada dua khalifah di Timur Tengah, yaitu ditujukan kepada Khalifah Muawiyah dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Transliterrasi Arab menyebut nama kerajaan ini sebagai Zabag atau Sribuza. Raja Sriwijaya dikenal dalam sumber-sumber Arab sebagai “Penguasa Gunung” dan “Maharaja Pulau-Pulau”, Zakaharov (2009 : 11) sembari mengutip pendapat K. Hall menyimpulkan bahwa penguasa kerajaan ini mempunya kontrol yang kuat secara “Magis” (lebih tepatnya ialah kekuatan kharisma) atas wilayah perairan dan sangat bertanggungjawab pada kemakmuran rakyatnya. 

Pelancong Timur Tengah yang bernama Sulayman (sebenarnya ia adalah pedagang), menuliskan pula sebuah catatan pada tahun 851 M tentang Kerajaan Sriwijaya yang memiliki aset emas dari pegunungan Bukit Barisan yang mana dalam tradisi kerajaan Sriwijaya saat itu seorang Maharaja Zabag yang istananya menghadap talag (kata talag mengacu kepada “Muara Sungai” sebagaimana yang ada di Tigris, sungai yang mengalir antara Baghdad dan Bashrah di Irak), talag itu memiliki sebuah danau kecil sebagai tempat dimana para pelayan raja akan melemparkan batangan-batangan emas setiap paginya. Pada saat air pasang, air danau akan menutupi batangan emas yang ada di talag, sedangkan saat sungai surut, batangan emas itu akan muncul dan berkilauan oleh sinar matahari. Saat raja mangkat, batangan emas itu akan dihitung dan dilebur, untuk kemudian dibagikan kepada para keluarga kerajaan laki-laki dan perempuan, kepada para pejabat sesuai pangkatnya, sisanya akan dibagikan kepada orang-orang miskin dan yang kurang beruntung (Reid, 2014 : 3-4). 

Meskipun kisah Sulayman sedikit banyak akan menimbulkan sikap skeptis karena kesan yang “hiperbola” dalam menceritakan kekayaan emas Kerajaan Sriwijaya, namun hal tersebut bukan berarti tidak memiliki sintesa dengan kajian kesejarahan modern. Arkeolog Sumatera Selatan yang telah cukup kesohor akan perannya dalam dalam bidang ini, Retno Purwanti, menerangkan bahwa melalui identifikasi yang ia lakukan atas benda-benda peninggalan Sriwijaya seperti botol merkuri, uang timah, uang tembaga, arca, dan perhiasan emas-perak ; semuanya menunjukkan kemajuan perdagangan Sriwijaya sebagai penghasil emas. “Emas tersebut mungkin saja diperdagangkan secara lintas wilayah. Beberapa mungkin tenggelam di dasar Sungai Musi karena (kapal) karam atau ada alasan lain”, ujar Retno (Nurhan (Ed.), 2010 : 186).

Peradaban maritim Sriwijaya memberi andil besar dalam kepopuleran kerajaan ini kepada dunia luar. Sungai Musi yang mengaliri wilayah ini adalah akses ke luar-masuk kota Palembang dalam aspek perdagangan dan hubungan internasional menuju dan dari kawasan laut. Hingga kemudian nanti terjadi keruntuhan yang menimpa Sriwijaya akibat serbuan kerajaan Colamandala pada tahun 1025 M, jalur sungai yang berhubungan dengan laut itu masih sedemikian dikenal oleh orang-orang asing, terutama yang berasal dari Tiongkok / Cina. Pasca invasi Colamandala, pusat kerajaan nampaknya berpindah dari Palembang ke kawasan Jambi. Berdasarkan berita Tiongkok dalam  Buku Sejarah Dinasti Song disebutkanlah negeri San-Fo-Tsi / San-Bo-Tsai atau Sriwijaya yang beribukota di Chan-Pi  (diperkirakan “Jambi”), dimana dalam negeri itu terdapat banyak tempat yang berawalan Pu- atau Po- (Soan Nio, t.t. : 14). Tetapi kemudian disebutkan lagi bahwa pada tahun 1079 M Sriwijaya dan Jambi mengirim utusan ke Tiongkok, kemudian pada 1082 M hanya Jambi yang memiliki hubungan resmi dengan Tiongkok (Budi Utomo, 2008 : 19). 

Mao Kun milik Ma Huan. Sumber Gambar : https://ssaa99.files.wordpress.com/2010/09/u10.png?w=300

Meskipun telah berpindah tempat, kota Palembang dan Sungai Musi masih diingat sebagai tempat yang pernah berjaya dalam perdagangan dengan Tiongkok. Para pedagang Tiongkok menyebut akses menuju sungai besar itu, melalui laut, sebagai Kiu-Kang atau Jiu-Jiang yang artinya adalah “Akses / Kanal Tua”. Kiu-Kang / Jiu-Jiang adalah pintu masuk Sungai Musi melalui Muara Sungsang, pemakaian nama ini turut ditemukan dalam Mao Kun (peta pelayaran) milik Ma Huan, seorang pelancong Muslim Tiongkok pada abad ke-15 M yang menyertai Cheng Ho dalam rangkaian ekspedisi Dinasti Ming ke Nusantara dengan salah satu tugasnya ialah menangkap perompak bernama Chen Zuyi – perompak ini bahkan sempat menguasai Palembang sebelum akhirnya ditangkap oleh Cheng Ho. Ma Huan menjelaskan untuk masuk ke ibukota melalui Jiu-Jiang, para pedagang harus merapatkan kapalnya di tepi laut, (lalu) memakai kapal kecil, dengan itu mereka akan mencapai ibukota (Mills, 1970 : 98-99). Pemberian predikat “Tua” untuk akses (kanal) masuk ke kota Palembang turut melambangkan bahwa pedagang Tiongkok telah sangat familiar dan mengenal baik Palembang sebagai tempat berdagang.

2.2.Ketek dan Kajang : Perkapalan Tradisional Tak Lekang Zaman

Apabila dilihat dari jenis-jenis lomba yang terdapat dalam Musi Triboatton terdiri dari tiga jenis yakni jeram , kano , dan perahu naga , hal ini berarti didasarkan kepada tipe-tipe perahu sebagai cabang yang dilombakan. Sumatera Selatan, karena peradaban sungainya juga turut menciptakan dua jenis perahu yang timbul dari inovasi lokal setempat, pertama ialah Perahu Ketek. Terbuat dari kayu dengan panjang mencapai 7 meter dan lebar sekitar 1,5 – 2 meter, perahu Ketek ini tidak hanya digunakan sebagai angkutan penumpang, masyarakat juga menjadikannya sebagai transportasi yang mengangkut sejumlah barang dan hasil sayuran dari beberapa daerah lain di sekitar Palembang. Penamaan ‘Ketek’ diyakini sebagian masyarakat meyakini jika bunyi mesin perahu saat dihidupkan yang berbunyi Tek.. Tek... Tekk.. adalah asal nama bagi jenis perahu tersebut. Bisa dikatakan, perahu ketek sebagai alat transportasi yang penting sebelum dua bagian kota Palembang disatukan oleh Jembatan Ampera yang diresmikan oleh Presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Perahu Ketek adalah sebentuk kemodernan yang berpengaruh dalam penggunaan moda transportasi sungai. Mulanya perahu memanfaatkan tenaga manusia untuk mendayung secara manual. Namun, saat harga mesin mulai terjangkau, pemilik mulai menggunakan dan memodifikasi perahunya dengan penambahan mesin di bagian buritan. Perahu bermesin dengan kekuatan 2 PK dan berbahan bakar solar (www.palembang.go.id diakses 21 April 2016 / 22:00 WIB). Sekalipun Musi Triboatton adalah perlombaan perahu dayung, namun apabila ditinjau dari sisi kultur, pembaharuan teknik pengoperasian perahu di tengah masyarakat Palembang memiliki arti penting bahwa meski dengan “terpotongnya” Sungai Musi oleh Jembatan Ampera, mereka enggan meninggalkan warisan kebudayaan nenek moyangnya dahulu untuk selalu dekat dengan sungai sebagai bentang morfologi alam sekitar.

Disamping “modernisasi” dalam penggunaan Perahu Ketek tersebut, kita bisa melihat sebuah fakta lain tentang integrasi masyarakat Sumatera Selatan kepada peradaban sungai melalui sebuah warisan yang telah ada sejak masa Sriwijaya ; Perahu Kajang. Perahu kajang merupakan alat transportasi tradisional sekaligus menjadi rumah pada masa lampau bagi masyarakat di sekitar Sungai Musi. Diduga, alat transportasi tradisional ini berkembang sekitar masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya (abad VII-XIII Masehi). Jenis perahu ini berasal dari daerah Kayu Agung di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pada masa lalu perahu kajang banyak dijumpai di Sungai Musi Palembang, akan tetapi sekarang sudah tidak dapat dijumpai lagi. Perahu Kajang, menggunakan atap dari nipah yang terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian depan atap yang disorong (Kajang Tarik), bagian tengah adalah atap yang tetap (Kajang Tetap) dan atap bagian belakang (Tunjang Karang). 

GOR Kayu Agung yang mengadopsi bentuk Perahu Kajang. Sumber Gambar : http://kayuagungradio.com/wp-content/uploads/2013/12/Gor-Kayuagung-Bangunan-Unik-Perahu-Kajang-.jpg

Bahan dasar yang dipakai untuk membuat Perahu Kajang adalah kayu, yaitu jenis kayu rengas, yang kini sudah tidak ditemukan lagi di wilayah Kayu Agung. Panjang perahu ini sekitar delapan meter dan lebar perahu dua meter. Buritan di bagian depan perahu terdapat tonjolan seperti kepala yang disebut Selungku, merupakan ciri khas perahu kajang Kayu Agung. Keberadaan atap (Kajang) dari daun nipah inilah yang menjadi cikal namanya. Layaknya sebuah rumah tinggal, perahu memiliki ruang tengah tempat anggota keluarga beristirahat. Pada bagian belakang terdapat dapur dan kamar mandi. Barang-barang muatan serta ruang kemudi berada di bagian depan perahu. Tata ruang perahu terdiri dari bagian depan, bagian tengah dan bagian belakang. Bagian depan merupakan ruang untuk menyimpan barang-barang komoditi yang dijual, seperti barang tembikar dan untuk kemudi. Bagian tengah adalah ruang keluarga untuk tempat tidur. Bagian belakang adalah kamar mandi dan dapur (www.kebudayaan.kemdikbud.go.id 21 April 2016 / 22:00 WIB).

Apakah makna dari pembuatan Perahu Kajang yang memadukan fungsi trasportasi dan tempat tinggal itu ? Makna yang sangat jelas adalah kehidupan maritim yang telah mendarah daging pada masyarakat Sumatera Selatan. Inovasi ini memastikan bahwa kegiatan transportasi sungai bukan hanya dalam jarak dekat, namun dapat pula untuk jarak yang jauh dan dalam waktu yang lama. Teknologi pembuatan perahu memang telah cukup maju sejak zaman Sriwijaya silam. Kini, pada Museum Sriwijaya yang terdapat pada situs kanal kuno Karanganyar dapat disaksikan penemuan fragmen kapal masa itu berupa kemudi kapal dengan panjang sekitar 8 meter. Peradaban sungai telah terbukti menjadi sebuah ordinat dalam aspek kausalitas kemajuan militer-maritim (kelautan) Sriwijaya yang mampu menganeksasi wilayah di sekitar Selat Malaka. Letak Kerajaan Sriwijaya, yaitu Palembang di ujung jazirah pantai timur Sumatera (Safitri, 2015 :25), juga memberi kepastian bahwa masyarakat setempat cenderung aktif menerima kemajuan yang datang (dari luar), dan dengan kemampuan memajukan teknologi kapal merupakan sebentuk tindakan pro-aktif mengakses dunia luar sekelilingnya.

3.Penutup : Olympism Peradaban Sungai Palembang

Penulis mendapatkan inspirasi untuk mengorelasikan penyelenggaraan Musi Triboatton dengan aspek Olympism ini didasarkan kepada sebuah tulisan dari RN. Muktamar (Pemerhati Pendidikan Jasmani Sumatera Selatan) pada kolom opini harian Sumatera Ekspress tanggal 3 Maret 2016 silam. Bagi Muktamar, Olympism adalah filsafat kehidupan mengenai keseimbangan antara badan yang sehat, kemauan, dan kecerdasan. Hal itu sama saja dengan menyatunya olahraga, kebudayaan, dan pendidikan sebagai suatu hal penting dalam kehidupan karena olahraga sebagai suatu proses untuk pencapaian kesehatan, dengan memperhatikan nilai-nilai budaya yang menjadi estetika peradaban manusia, serta sebagai pendidikan untuk mendapatkan etika kehidupan secara universal. Tulisan Muktamar menjadi sebuah jalan baru untuk menyikapi betapa event keolahragaan mampu menjadi sebuah kanal dalam menghayati hasil budaya yang mengandung berbagai estetika selain mendidik manusia menjadi insan yang bekemauan kuat, cerdas, namun tetap beretika. Jika tujuan ini terpenuhi, tentu dapat memperkuat peradaban secara universal.

3.1.Perjuangan dan Sportivitas di Sekitar Sungai Musi
Perlombaan dayung perahu sejatinya memerlukan kekuatan setiap peserta, tapi tidak sekadar “kuat” melainkan harus pula memiliki ketahanan selama megikuti perlombaan ini. Palembang dan sungainya di masa lalu, turut menjadi saksi sebuah ikhtiar dari masyarakatnya dengan usaha yang kuat untuk mempertahankan identitas mereka. Di Sungai Musi terdapat sebuah daratan yang disebut Pulau Kemaro. Nama Pulau Kemaro disebut juga “Gombora” atau “Kembara”, posisinya sangat strategis dan berada paling dekat dengan pusat pemerintahan Palembang. Hingga tahun tujuh puluhan, wilayah perairan khususnya Sungai Musi tetap menjadi jalur transportasi utama, apalagi jika dikaitkan dengan alur Palembang menuju muara yaitu Sungsang, semua kapal dan perahu yang berhubungan dengan Palembang via sungai, maka Pulau Kemaro merupakan pulau terakhir yang harus dilalui sebelum tiba di kota Palembang. Pulau Kemaro juga memiliki legenda yang mendongengkan kisah kesetiaan cinta yang nilainya tak kalah hebat dengan dongeng Valentine (asal Romawi) (Sumatera Ekspress 13 Februari 2016). Legenda pulau yang mengisahkan cinta sejati antara wanita bernama Fatimah dan pemuda Tiongkok bernama Tan Bun An, kematian tragis keduanya melambangkan kesucian akan pengorbanan.

Tak hanya dalam legenda saja, Pulau Kemaro merupakan saksi bisu pengorbanan banyak jiwa tatkala Sultan Mahmud Badaruddin II menyadari bahwa kekalahan dalam menghadapi ekspedisi Inggris pada tahun 1812 dengan menempatkan pusat pertahanan di Pulau Borang dan wilayah Sungsang. Ketika Traktat London 1814, pasca Perang Napoleon, ditandatangani yang mengharuskan Inggris “menyerahkan” (kembali-Pen) wilayah Nusantara kepada Kolonialis Belanda, sang Sultan memutuskan untuk menempatkan pos-pos pertahanan di Pulau Kemaro dengan bentengnya yang lokasinya berada di ujung pulau ini. Strategi yang diambil pun cukup unik dimana pasukan Palembang membuat lubang-lubang pertahanan untuk menembakkan meriam. Taktik ini akan mengingatkan kita pada drama “Perang Parit” dalam rangkaian Perang Dunia I, sekitar seabad lebih sebelum perang yang mengguncang dunia itu dimulai, taktik demikian cerdas itu diterapkan di Palembang oleh Sultan yang kini gambarnya terpampang pada uang pecahan Rp. 10.000,- itu.

Pasukan Belanda yang kemudian menggelar ekspedisi militer ke Palembang pada 12 Juni 1819 dibawah Panglima Muntinghe harus menunduk malu saat ditekuklututkan oleh kesultanan Islam ini. Syair Perang Menteng yang digubah oleh Juru Tulis Sultan Mahmud Badaruddin II seusai perang ini mengatakan bahwa tak satupun peluru meriam Belanda mampu menembus dinding dan gerbang Keraton Kuto Besak sebagai pusat pertahanan yang lebih internal dari Kesultanan (Sumatera Ekspress, 22 Juli 2015). Masalah utamanya ialah kekurangan amunisi yang menimpa Belanda karena harus membagi kekuatannya menghadapi serangkaian pertahanan di sekitar Musi, Belanda harus mundur ke Batavia. Empat bulan kemudian, pada 21-30 Oktober, Belanda kembali menyerang Palembang dengan dipimpin langsung oleh Panglima Angkatan Laut Hindia Belanda, J.C. Wolterbeek, namun hasilnya sama saja ; mengalami kekalahan.

Keraton Palembang 1821. Sumber Gambar : http://kesultanan-palembang.blogspot.co.id/2012/01/asal-usul-kesultanan-palembang.html

Setelah menelaah kembali kekalahan mereka dalam perang dua tahun sebelumnya itu, pada 24 Juni 1821 benteng Pulau Kemaro jatuh setelah Belanda menyerang dengan kekuatan penuh meski harus kehilangan 75 serdadu (tewas) dan 242 lainnya terluka. Takluknya benteng ini memberi langkah tak terbendung bagi Belanda untuk merebut benteng Tambakbayo dan Martapura, dengan sasaran akhir ialah Keraton Kuto Besak. Sultan yang bersedia berunding akhirnya dibuang ke Ternate. Pulau ini tak hanya identik dengan wisata budayanya, legendanya, tetapi juga kedudukan pentingnya dalam upaya mempertahankan kedaulatan, meskipun akhirnya harus menyerah pada kekuatan pihak lawan (Sumatera Ekspress, 20 Februari 2016). Fundamentalisasi kesejarahan ini, mampu membuat kita mengunduh sikap totalitas dalam sebuah persaingan, rela berkorban, meskipun resiko “kekalahan” akan menjadi predikat yang harus melekat pada diri kita ; tak jauh beda dengan dijunjungnya sportivitas sebagai etika dalam sebuah perlombaan.

3.2.Musi Triboatton : Merefleksikan Estetika Peradaban Sungai
Pada bagian estetika sebagai salah satu unsur dalam Olympism untuk menghayati peradaban juga turut tercermin dalam penyelenggaraan perlombaan Musi Triboatton. Pada perlombaan itu akan hadir sekian banyak peserta ataupun penonton yang bukan hanya berasal dari Sumatera Selatan dan Indonesia, namun bisa juga para wisatawan asing yang berkunjung. Festival Gerhana Matahari Total pada 9 Maret 2016 lalu, yang dimulai pada pukul 06.20 WIB dengan lama gelap selama 1.52 menit (Sumatera Ekspress, 2 Maret 2016), telah mampu menyerap para pengunjung domestik dan internasional. Tentunya jika pelaksanaan festival itu mengabaikan estetika, mereka pasti enggan untuk datang sedemikian jauh ke provinsi ini. Estetika yang mampu menebar pesonanya itu ke dunia luas sesungguhnya telah dimiliki oleh masyarakat Palembang sejak dahulu kala. Ketika marak terjadi kegiatan perdagangan berabad lalu dengan Tiongkok yang kaya akan sutera, disamping juga hubungan dengan India yang kaya benang emas, masyarakat Palembang akhirnya menciptakan Songket ; kain tenun indah yang dibuat dengan mesin bingkai Melayu dan memiliki pola-pola rumit (Rapanie, 2010 : 26). 
Ketika Kesultanan Palembang dihapuskan pada tahun 1823 yang bersamaan dengan itu pula mulai terjadi arus modernisasi dan kapitalisasi masuk ke kota ini, periode 1929-1930 merupakan masa dimana berubahnya dimensi keruangan kota Palembang sebagai kota air menjadi kota daratan. Perlu disadari bahwa letak geografisnya (Palembang) yang strategis menghubungkan dua pusat niaga di Batavia dan Singapura sejak awal abad ke-20, dan sumber alamnya yang kaya hingga dikenal sebagai salah satu “Wingewesten” (Daerah yang Menguntungkan) terpenting di Pulau Sumatera (Ghazali (Ed.), 1995 : 170). Maka dari itu, pemerintah kolonial merasa perlu untuk mengubah keruangan kota ini agar mampu membangun bank, perkantoran, dan pusat perdagangan.

Gemeente (Pemerintah Kota) Palembang zaman kolonial membuat kebijakan pembangunan dan pengaspalan jalan dengan cara menimbun sungai. Jalan (darat) dibangun dibangun di atas “tembokan” yang menimbun sungai dengan menggunakan puru dan kerikil (M. Santun, 2011 : 6). Jauh sebelum dikenalnya Jalan Jenderal Sudirman saat ini, daerah mulai bundaran Air Mancur dahulunya merupakan hulu Sungai Tengkuruk, jalan ini “menyaksikan” saat-saat terjadi Pertempuran Lima Hari Lima Malam tahun 1947 (Tribun Sumsel, 17 Juni 2015). Walau demikian itu adanya, berbagai perubahan ruang kota Palembang terjadi demi “menyambut” dan berpartisipasi dalam identitas kemodernan, pada akhirnya ikon Palembang yang akan terus diingat tak akan lepas dari sungai ; Jembatan Ampera yang diresmikan pada tahun 1965. Apakah akan menjadi sedemikian monumental jembatan ini tanpa ada Sungai Musi yang mengalir di bawahnya ? Sungai tersebut memberi efek simbiosis estetika dengan Jembatan Ampera yang membelahnya.

Sungai Musi kian indah dengan tegaknya Jembatan Ampera. Sumber Gambar : http://www.sumatratour.org/1828/pemandangan-jembatan-ampera-palembang-sumsel.html

Perhelatan perlombaan internasional Musi Triboatton memiliki esensi penting dalam merefleksikan sejarah peradaban Palembang yang erat dengan sungai. Sungai adalah bentang alam yang dilalui sebelum akhirnya kemegahan Sriwijaya dapat didirikan dan bertahan selama kurang lebih enam abad. Dengan melihat kapal yang saling berlomba itu, kita akan mengingat bahwa nenek moyang di masa lalu bahkan telah menciptakan perahu setengah tempat tinggal yang disebut Perahu Kajang, mereka tidak memakainya untuk berlomba namun untuk berdagang dan bepergian dalam jangka waktu yang lama. Olahraga dengan tujuannya untuk mendapatkan kesehatan fisik merupakan kosmis terkecil dari aktifitas manusia dalam dinamika kehidupan peradabannya untuk mencapai kesejahteraan. Nilai sportivitas dalam perlombaan tak beda dengan etika pada luasnya lingkup interaksi manusia untuk bijak dalam menggunakan kecerdasan dan kekuatan agar terjauh mereka itu dari nafsu menjajah sesamanya. Keberhasilan-keberhasilan Palembang dan Sumatera Selatan dalam menyelenggarakan berbagai acara bertaraf internasional tidak lepas dari masyarakatnya yang cukup terbuka dengan dunia luar, seperti halnya nenek moyang mereka dahulu. Musi Triboatton telah merefleksikan sejarah peradaban sungai Palembang di masa silam yang dapat kita nikmati di masa kini.

Sumber :

Al-Lintani, Vebri, “Remaja dan Budaya Lokal”, dalam Sumatera Ekspress 13 Februari 2016.

Budi Utomo, Bambang, Cheng Ho : His Cultural Diplomacy in Palembang,Palembang : Departemen Pendidikan Nasional, 2008.

Ghazali, Zulfikar (Ed.), Sejarah Lokal : Kumpulan Makalah Diskusi, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995.

Hanafiah, Johan, Hari Jadi Provinsi Sumatera Selatan : Suatu Tinjauan Sejarah, Palembang : Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, 2015.

Ikhsan, RD. Muhammad, “Sepanjang Jalan Kenangan”, dalam Tibun Sumsel 17 Juni 2015.

M. Santun, Dedi Irwanto, dkk., Iliran dan Uluan: Dinamika dan Dikotomi Sejarah Kultural Palembang, Publisher, Yogyakarta : Penerbit Eja, 2010.

M. Santun, Dedi Irwanto, Venesia dari Timur, Yogyakarta : Ombak, 2011.

Muktamar, RN., “Nilai-Nilai Olympism”, dalam Sumatera Ekspress 3 Maret 2016.

Notosusanto, Nugroho, Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia III : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam, Jakarta :Balai Pustaka, 1993.

Nurhan, Kennedi (Ed.), Jelajah Musi : Eksotika Sungai di Ujung Senja, Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2010.

Rapanie, A., Tekstil : Pembuatan dan Penggunaannya, Palembang : Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, 2010.

Reid, Anthony, Sumatera Tempo Doeloe, Depok : Komunitas Bambu, 2014.

Safitri, Sani, “Telaah Geomorfologis Kerajaan Sriwijaya”, dalam Jurnal Criksetra Vol. 3 Nomor 5.

Samsudin, Koleksi Arkeologika Museum Balaputra Dewa Palembang, Palembang : Museum Negeri Sumatera Selatan, 2010.

Shobri, M. Teguh, “Fenomena Alam Gerhana Matahari”, dalam Sumatera Ekspress 2 Maret 2016.

Soan Nio, Oei, Beberapa Catatan Tentang W.P. Groeneveldt : Historical Notes in Indonesia and Malay Compiled from Chinese Sources, Jakarta : Panitia Penyusunan Buku Standard Sejarah Nasional Indonesia, t.t. 

Tim Redaksi, “Benteng Kuto Besak Saksi Kejayaan Kesultanan Palembang,”Sumatera Ekspress 22 Juli 2015.

Wargadalem, Farida R., “Wajah Heroik Pulau Kemaro”, dalam Sumatera Ekspress 20 Februari 2016.

www.kebudayaan.kemdikbud.go.id 21 April 2016 / 22:00 WIB

www.palembang.go.id diakses 21 April 2016 / 22:00 WIB


Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah.

Comments

  1. Acara Musi Triboatton ini merupakan jenis sport tourism yang bisa mendatangkan banyak wisatawan. Kalau mau lihat daftar pemenang lomba ini bisa lihat website kita ya.

    Terima kasih.

    ReplyDelete

Post a Comment