Negeri “Bayangan Tuhan di Muka Bumi” : Dinasti Syiah Safawiyah Persia



1.Latar Belakang



Bendera Dinasti Safawi 
Maraknya pemberitaan di media elektronik tentang konflik di Timur Tengah saat ini telah banyak sekali menggiring pendapat publik tentang kekerasan senjata yang melibatkan dua golongan dalam tubuh Islam, yaitu Sunni dan Syiah. Meski apabila ditelusuri lebih lanjut, masalah yang terjadi disana – sebagai contoh adalah di Suriah – tidak bisa secara sederhana merujuk kepada dua golongan itu, terkhusus apabila harus dinisbahkan kepada sekte keluarga Presiden Bashar Al-Assad, yakni Alawi yang notabene disangsikan oleh sebagian besar Syiah sebagai bagian dari mereka. Tetapi simplikasi atas pertikaian di Suriah yang sebenarnya tidak sebatas pada masalah golongan, tetapi juga ikut dicemari oleh ambisi politik di dalam tubuh bangsa Suriah ataupun juga berasal dari negara-negara tetangganya, tidak dapat terelakkan lagi. Tidak dapat dihitung lagi situs-situs internet yang menjadi media propaganda dengan afiliasinya masing-masing, entah yang mengaku “mendukung” Sunni ataupun Syiah. Kata-kata kotor dengan tendensi justifikasi keburukan kepada lawannya masing-masing dengan mudah menyebar, tapi tak sedikitpun diantara mereka ada yang berusaha berkata dengan jujur bahwa konflik itu akhirnya bertujuan untuk merebut kekuatan politis. 

Perang Saudara di Suriah juga tidak akan dilepaskan dari peran campur tangan asing seperti Republik Iran yang gerak-geriknya dianggap penting dalam konflik itu. Dalam tulisan ini akan diungkapkan sebuag bagian terpenting dalam sejarah Iran, saat dimana Dinasti Safawiyah berkuasa, suatu titik sejarah baru dimulai karena tanah Persia yang banyak menyumbangkan para pemikir Sunni di masa sebelumnya secara berangsur dan kian mapan menjadi negeri Syiah yang besar dan kuat seperti Iran saat ini. Meski dikenal sebagai sebuah dinasti yang keras memegang kesyiahan – seperti saat mereka melakukan kekejaman / inkuisisi untuk mengonversi rakyat Persia menjadi Syiah – namun juga pernah dicatatkan bagaimana persaingan yang cukup ketat antara kekuatan Ulama dan para penguasa untuk menunjukkan siapa yang paling berhak mendapatkan peran sebagai “Bayangan Tuhan di Muka Bumi.”


2.Berawal dari Tarekat Sunni

Dinasti Safawi berasal dari gerakan tarekat yang berdiri di Ardebil, sebuah kota di Azerbaijan. Tarekat ini bernama “Safawiyah” karena menisbatkan nama itu kepada seorang pendiri pertamanya yaitu Syaikh Safi Al-Din (Safiuddin) Ishaq Al-Ardebili (1252-1334). Wilayah Persia dilanda demoralisasi dan kepedihan pasca penyerbuan Mongol yang sempat menguasai wilayah ini sejak abad ke-13, berangsur-angsur dinasti-dinasti Turkic-Mongol menjadi penguasa wilayah Persia, sebut saja Dinasti Il – Khan (1256-1335), dinasti-dinasti kecil (Mongol dan Non-Mongol) ; Mongol Jalair, Ghor (Kurdi), Muzhaffar, Timur / Taimur (Mongol) (1370-1570), Kara Koyunlu (Konfederasi Domba Hitam) dan Aq Koyunlu (Konfederasi Domba Putih, masyarakat Persia yang ketika itu menyaksikan dan melalui pertempuran-pertempuran sengit – yang dibawa oleh bangsa-bangsa nomad yang sedang ingin membagun peradaban mapan – memiliki kecenderungan untuk hidup menyendiri. Kepercayaan mistik makin lama makin mencolok. Pondok kaum Sufi yang disebut sebagai Khanaqah / Khaneqan di Persia kemudian tumbuh di mana-mana seperti jamur. Salah satunya adalah Khaneqan milik Syaikh Safiuddin Al-Ardebili.

Syaikh Safiuddin bukan hanya seorang guru tarekat, tapi ia juga pedagang dan tertarik / ahli dalam pengetahuan politik. Ia sangat dihormati oleh rakyat karena kepemimpinannya di dalam Khaneqan. Namun ia kurang berambisi kepada kekuasaan politik, karena itu bukanlah prioritasnya. Ia malah dikenal sebagai pelindung kaum miskin dan lemah serta mempunyai misi guna mengislamkan orang-orang Mongol yang masih memeluk kepercayaan Tengriisme. Syaikh Safiuddin merupakan seorang pemeluk Sunni yang taat. Popularitasnya tidak terbatas hanya di wilayah Ardebil karena jaringan murid dan wakilnya terbentang dari kawasan Oxus sampai teluk Persia, serta dari Kaukasus sampai ke Mesir. Syaikh Safiuddin dan tarekatnya bisa dibilang sebagai sebuah “pemerintahan” yang kuat dalam arti suatu organisasi terstruktur dan ketaatan pengikutnya pada pemimpin tarekat. Kekuasaan Safawi sempat membawa kekhawatiran penguasa bernama Jihansyah,  pemimpin Kara Koyunludimana wilayah politiknya berada di kawasan Persia (sekarang Iran) tengah dan barat laut ; rasa takut atas pengaruh popularitas tarekat ini.


3.Proses Syiisasi Tarekat Safawiyah

Syaikh Safiuddin dan penggantinya yakni Syaikh Sadruddin adalah pemeluk Sunni. Khwaja Ali, putra Sadruddin yang menggantikan ayahnya pada 1399 adalah seorang penganut Syiah dengan pendirian yang moderat. Penggantinya, yakni Syaikh Ibrahim memilih untuk menganut paham Syiah yang lebih ekstrim, begitupun putra dari Syaikh Ibrahim yang bernama Syaikh Junaid. Junaid tewas dalam sebuah serangan yang dilakukannya melawan orang-orang Sunni di Dagestan pada tahun 1455. Syaikh Junaid meninggalkan seorang putra bernama Syaikh Haidar, ditangan penggantinya itu terjadilah sebuah pendirian kekuatan militer Safawiyah yang terkenal, yakni Qizilbasy atau “Kepala Merah.” Qizilbasy diangkat dari orang-orang Turkoman dengan tujuan untuk menjadi sayap militer terekat Safawiyah dimana ciri khas dari identitas mereka adalah topi merah dengan 12 goresan yang melambangkan 12 Imam Syiah. 

Daerah Kekuasaan Dinasti Safawi pada Abad Ke-16 sampai Ke-18 
Syaikh Haidar memperistri Marta (Halima Khatun), putri Uzun Hasan – pemimpin Aq Koyunlu – dimana ibu dari Marta (istri Uzun Hasan) adalah Despina Katerina Khatun (dilahirkan dengan nama “Theodora Megale Komnene”) yang dikenal sebagai putri dari Kaolo Joanis (John IV Megas Komnenos) penguasa non-Muslim kedua terakhir di Trebizond. Dari Marta, Haidar – yang juga penganut Syiah ekstrim seperti ayahnya – memperoleh tiga anak lelaki dan seorang putri. Haidar melancarkan sebuah peperangan melawan orang Sunni pada tahun 1488, ia pun terbunuh di Derbent saat melawan kekuatan kombinasi Farukh Yassar dari Shirvan yang dibantu oleh Aq Koyunlu (putra Uzun Hasan, Sultan Ya’qub bin Uzun tidak menyenangi Safawi yang kian kuat dan merongrong wibawa kekuasaanya). Ia tewas saat seorang putranya yang bernama Ismail masih berusia satu tahun. Ismail dan kedua kakaknya secara mujur berkali-kali luput dari usaha penangkapan musuh-musuhnya. Sultan Ali Mirza, kakak Ismail yang mengambilalih kepemimpinan Safawiyah sejak 1488, kemudian terbunuh pada tahun 1494 di tangan cucu Uzun Hasan, Sultan Roustam bin Maqsud bin Uzun Hasan, seturut itu juga kakak Ismail yang lain yakni Ibrahim Mirza kemudian tewas.Kemudian tahun 1494 Ismail dilindungi oleh Mirza Ali Kirkaya, penguasa wilayah Lahijan (dekat Laut Kaspia) disamping juga dididik oleh tujuh komandan Qizilbasy dalam hal kemiliteran. Tak pelak lagi, Ismail-lah yang kemudian memegang kedudukan tertinggi dalam tarekat Safawiyah.


4.Transformasi dan Revolusi : Menuju Politik, Mengonversi Madzhab

Estafet kepemimpinan kemudian digenggam oleh Ismail.Dalam masa awal kepemimpinannya, kecakapan dan kekejaman menjadi kesatuan yang akan menggetarkan lintasan sejarah. Berkat kedudukannya, ia mendapatkan kekuasaan itu dalam usia 13 tahun dengan dukungan suku-suku Turkoman dan Qizilbasy. Dengan kekuatan itu, ia berhasil menguasai Tabriz dan dinobatkan sebagai Raja Azerbaijan dan dikenal sebagai Shah Ismail I Safavi pada tahun 1501. Disini telah jelas perubahan yang kentara di dalam wujud Safawiyah yang dulunya adalah sebuah tarekat Sufi menjadi sebuah dinasti berkekuatan politik tetap. Qizilbasy ikut berubah menjadi sebuah tentara elit yang setia kepada Shah Ismail sebagai seorang penguasa politik, dimana loyalitas sedemikian besar itu merupakan peninggalan dari corak kepatuhan kepada para Syaikh disaat Safawi masih berbentuk tarekat. 

Shah Ismail Safawi I

Ia menerapkan paham Syiah sebagai agama resmi negara keputusannya ini tentu saja mengundang reaksi pertentangan ideologis dari para Ulama Sunni, tapi Ismail I tidak bergeming, malahan ia tidak segan-segan bertindak keras. Terbukti di Baghdad dan Herat, ia berani menindas dan membunuh para ulama dan ilmuwan yang menolak Syiah. Sebelum mendapatkan tampuk kekuasaan pada 1501, setahun sebelumnya ia berhasil menuntut balas kepada Farukh Yassar dan merebut kota Baku, setahun setelah menjadi Shah yakni tahun 1502 iapun menundukkan kekuasaan Kara Koyunlu dan menguasai semua perbendaharaan konfederasi itu. Kota-kota Arjisy, Batlis, dan Al-Bustan ia kalahkan satu persatu hingga meluaslah kekuasaan yang terbentang di Irak dan Persia. Ismail I juga  mengaku bahwa ia pernah bermimpi berjumpa dengan Sayyidina Ali RA yang menganjurkannya mendirikan Daulah (Kerajaan) Syiah. Bahkan Ismail menggunakan aspek kesufian tarekat dengan pula mengatakan bahwa dirinya mendapatkan Ijazah (izin) dari Imam Al-Mahdi Al-Muntazhar untuk mengalahkan Ak Koyunlu yang menguasai  Persia.


Hingga sebelum tahun 1501, Persia adalah wilayah dengan mayoritas Sunni, dan banyak sekali pemikir Sunni yang berasal dari kawasan itu. Safawiyah adalah motor politik utama yang berhasil mengubah mayoritas masyarakat Persia menjadi Syiah. Bagaimana itu bisa terjadi, dan bahkan kini Persia yang dikenal sebagai Iran itu  menjadi negara Syiah, maka zaman Shah Ismail I adalah jawabannya. Madzhab ini dipaksakan oleh Ismail I dengan berbagai kekerasan yang banyak menimpa pengikut Sunni seperti di wilayah Tabriz, Herat, dan Baghdad. Safawiyah bahkan mewajibkan penghinaan kepada sahabat nabi seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman dan barangsiapa yang mendengarnya harus menyahutnya dengan berkata, “Tambah dan jangan kurangi.” Sedangkan jika ada yang enggan mengatakannya, orang  itu akan dipotong-potong sekuat tenaga dengan pedang dan golok. Sebagai contoh di Tabriz, Safawiyah membantai lebih dari 140.000 Sunni dan mengubah kota ini menjadi Syiah secara total. Alasan penghinaan ini ialah karena mereka meyakini tampuk kekhalifahan Islam (seharusnya) diserahkan kepada Sayyidina Ali pasca wafatnya Rasulullah, dan tiga sahabat itu dianggap oleh ekstrimis Syiah sebagai perebut kekuasaan yang sah dari Ali. Jauh lebih besar daripada Revolusi 1979, konversi madzhab dalam bangsa Persia merupakan tindakan yang mampu mencerabuti akar “Khas” Persia sebagai bumi intelektual kaum Sunni.

Tome Pires, seorang apoteker kerajaan Portugis, yang juga seorang pelancong melaporkan dalam kunjungannya ke tanah Shahanshah (Kemaharajaan) Persia di bawah Safawi tentang keteguhan kalangan kaum Ghulat Syiah di tengah birokrasi kerajaan untuk melaksanakan konversi madzhab kepada kaum Sunni :

“Dan para utusan Syaikh (Shah) ini dikelilingi para petinggi, berpakaian bagus, berpenampilan baik, sangat   mewah, dengan perhiasan emas dan perak, yang menunjukkan kehebatan sang Syaikh. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan beristirahat hingga kaum Moor (Sunni) menjadi pengikut Ali (Syiah).”

Usaha yang mengiringi konversi madzhab bangsa Persia di daerah yang dikuasai oleh Safawi ialah dengan dengan melakukan pengusiran. Setiap orang-orang Sunni yang tersisa kerap mendapat serangan baru. Sumber-sumber mata pencarian begi penghidupan masyarakat Sunni di daerah-daerah yang sejajar dengan dengan Teluk Persia juga dikuasai sehingga memaksa kaum Sunni untuk melarikan diri ke negara-negara Arab tetangga. Pemerintahan Shah menyambut pelarian itu dengan dengan tangan terbuka lalu dengan seketika menempatkan orang-orang Syiah yang datang dari Khuzestan ataupun dari negara Arab lain ke kota-kota yang telah ditinggalkan oleh kaum Sunni, maka daerah-daerah itu menjadi basis pengikut Syiah meski asalnya tak ada orang Syiah di dalamnya. 


5.Loyalitas Qizilbasy dan Supremasi Ottoman : Eskalasi Ketegangan dan Relasi Internasional Safawi

Shah Ismail I berkuasa selama kurang lebih selama 23 tahun, yaitu antara tahun 1501-1524. Pada sepuluh tahun pertama ia sangat berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Ia dapat menghancurkan sisa-sisa kekuatan Aq Koyunlu di Hamedan (1503 M), menguasai provinsi Kaspia di Nazandaran, Gurgan, dan Yazd (1504 M), Diyar Bakr (1505-1507), dan Khorasan (1510 M). Hanya dalam waktu sepuluh tahun itu wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Persia dan begian timur Bulan Sabit Subur.


Sketsa Pasukan Qizilbash 

Konversi keagamaan yang berujung kepada kekerasan – bahkan menimbulkan peperangan dengan komunitas Sunni – membangkitkan kekuatan Superior Sunni, Utsmaniyah, serta menjebak Shah Ismail serta Safawi kepada konflik dengan Sultan Salim. Bentrokan terjadi di Chaldiran (1514), barat laut Persia, pada bulan Agustus. Walaupun bertempur dengan sangat berani, ternyata pasukan suku-suku dalam jajaran Qizilbasy bukanlah tandingan Janissari (pasukan elit Utsmani) yang terlatih dengan baik serta korps artileri sebagai andalannya. Selim meneruskan kemenangannya dengan merebut Tabriz. Akhirnya hanya perpecahan dalam tubuh militer Turki-lah yang membawa keselamatan bagi Safawi. Sultan Selim akhirnya meninggalkan Persia untuk kembali karena perpecahan itu, Baghdad dan Mosul yang dikuasai oleh Ismail sebelumnya tetap berada dibawah surban Safawi. Ketika sibuk dalam usaha konversi madzhab hingga kompetisi dominasi melawan Turki, terjadi perubahan dalam dunia pelayaran tatkala Vasco da Gama menemukan jalan laut ke timur melalui Tanjung Harapan (1497). Di awal abad ke-16, Alfonso D’Albuquerque memimpin armada Portugis memasuki Teluk Persia dan menduduki Pulau Hormuz milik Safawi, Shah Ismail hanya bisa memberikan protes saja – hal ini sangat diingat oleh para penggantinya. 


Berbagai kekalahan ini meruntuhkan kebanggaan dan kepercayaan diri Shah Ismail. Akibatnya, kehidupan Ismail I berubah. Ia senang menyendiri, menempuh kehidupan hura-hura dan berburu. Dapat dinyana, persaingan segitiga antara pimpinan suku-suku Turkoman, pejabat-pejabat keturunan Persia, dan Qizilbasy yang loyal pada Shah tak mungkin dihindarkan. Konsolidasi dalam internal Safawi kembali bisa terbentuk setelah terjadi gangguan-gangguan orang Uzbek dan beberapa pemberontakan setempat. Pengangkatan Tahmasp I sebagai pengganti Ismail I (1434) cukup mampu meredakan konflik kepentingan bagi beberapa golongan internal karena telah terjadi suksesi bagi dominasi kharismatis Safawi : awalnya Tahmasp I sempat hanya menjadi boneka oleh para pemimpin-pemimpin suku Turkoman namun nampaknya karena dukungan Qizilbasy hal itu dapat diatasi.

Dalam masa pemerintahan Tahmasp I, Eropa sering mendapat tekanan berat dari Utsmani. Negara-negara Eropa merasa senang apabila Persia kuat dan merongrong Utsmani di perbatasan timur negara itu ; agar Utsmani sibuk berurusan dengan Persia dan mengurangi tekanannya ke Eropa. Persia saat itu dianggap sebagai penghalang bagi ancaman Utsmani ke Eropa, seperti yang diungkapkan oleh duta dari Raja Ferdinand, Eugien de Busbeq : “Hanya Persia (Safawi) yang berdiri di antara kita dan kehancuran”. Saat Utsmani mengangkat pengganti Salim, muncullah Sulaiman Agung yang datang untuk kembali mengancam Persia secara militer hingga Tahmasp I memindahkan pusat Safawi di Tabriz yang dekat dengan perbatasan Utsmani menuju ke Qazvin (1548).


Sulaiman kembali meluncurkan ekspedisi militer baru ke Iran pada tahun 1553. Saat pasukan Utsmani masih berada di Anatolia tengah, Wazir Agung Rustem Pashasebagai menantu Sulaiman Agung, meyakinkan bahwa putra sulung sang sultan yang bernama Shehzade Mustafa Muhlesi bekerjasama dengan Tahmasp I Safawi untuk menggulingkan singgasana Utsmani. Tak diragukan lagi, Rustem yang bekerja untuk seorang Haseki Sultan (selir) Sulayman, Roxelana atau dikena sebagai Putri Hurem, berusaha dengan baik untuk menunjukkan bukti cintanya kepada anak wanita Hurem yang ia nikahi (bernama Putri Mihrima), agar setelah kematian Mustafa putra Hurem yakni Pangeran Selim dapat berada di garis depan suksesi Utsmani. 


Pada tanggal 6 November 1554, Sulayman Agung memanggil Shehzade Mustafa ke tenda militernya di Ergeli, Karaman. Saat putranya itu memasuki tenda, sang sultan memerintahkan para algojo untuk menjerat leher Mustafa dengan tali yang akan mencekiknya hingga mati. Jasad Shehzade, calon pengganti takhta, Mustafa Muhlesi – ia disegani oleh korps Janissari sebagai “pria yang berpendidikan tinggi  dan bijaksana serta berada dalam usia yang siap memerintah adalah panutan Janissari”– dipertontonkan untuk dilihat oleh pasukan Utsmani. Saat mendengar berita itu putra Roxelana yang lain, Pangeran Cihangir yang sedang menjadi gubernur di Aleppo merasa sangat sedih dengan berita atas kematian kakak tirinya itu hingga ia meninggal dunia dalam usia yang sangat muda pada 27 Desember tahun yang sama. Isu mengenai Safawi adalah suatu hal yang amat sensitif bagi politik Utsmani, isu ini kelak dipakai juga oleh PangeranSelim untuk menyingkirkan Pangeran Beyazid (adik kandungnya sendiri) dari persaingan takhta (keduanya adalah putra Sulaiman Agung dari Hurem).


Pada tahun 1561, seorang pedagang Inggris dan perantau, Anthony Jetkinson, tiba dengan membawa sepucuk surat dari Ratu Elizabeth dengan tujuan untuk mengadakan perdagangan dengan Persia melalui Rusia. Tahmasp I menerima tamu ini namun kemudian mengusirnya hanya karena Jetkinson beragama Kristen, kenyataan ini turut menunjukkan bahwa Safawi dan pemimpinnya tengah merasa sebagai pemimpin tertinggi Islam versi Syiah, seperti halnya Utsmani yang merasa sebagai pelindung Islam (khususnya Sunni) dengan perbedaan untuk saingan Safawi ini tak pernah melakukan pengusiran kepada utusan asing hanya dengan alasan agama. Tahmasp I yang berkuasa cukup lama sebagaimana Sulaiman Agung itu – seolah keduanya digariskan memegang takhta cukup lama untuk saling berkompetisi di timur tengah – akhirnya wafat setelah berhasil mencegah Utsmani dan Uzbek merebut wilayah negeri yang ia pimpin. Namun negerinya terlanjur melemah karena membiarkan pengaruh dan manuver kepentingan Utsmani yang kian kuat di Persia. Qizilbasy adalah kekuatan militer penyangga utama dalam pertahanan Safawi dengan modal utamanya adalah loyalitasnya dalam lingkaran terdekat sang Shah.


6.Kompetisi Atas Terminologi Kepemimpinan  “Bayangan Tuhan di Muka Bumi”

Sekalipun melakukan pemaksaan kepada masyarakat Sunni untuk memeluk Syiah  Imamiah Duabelas, tetapi apa yang dilakukan oleh Safawiyah bukanlah sekadar masalah horizontal dua arah antara dua denominasi Sunni-Syiah. Faktanya, Shah Ismail I bukanlah seorang pengikut Syiah Imamiah Duabelas ortodoks, melainkan ia adalah seorang Syiah Ghulat-Ekstrim. Pandangan Ghulat berasal dari kata Al-Ghuluww yakni kepercayaan atas dua jenis keyakinan yang tidak ada dalam ortodoksi Islam: 1) Inkarnasi dari Imam Ghaib (Imam Mahdi Al-Muntazhar), dan 2) kepercayaan akan ketuhanan sesorang. Menurut Karen Armstrong, dia (Ismail I) sangat sedikit mengetahui tentang ortodoksi (Syiah) Imamiah karena ia menganut pandangan Ghuluww yang percaya utopia mesianis sudah dekat. Arslantas dengan mengutip dari Roger Savory berpendapat lebih jauh lagi tentang pandangan Al-Ghuluww, bahwa sejak berada dibawah pimpinan Syaikh Junaid, pemimpin tarekat Safawi dipercaya sebagai “tuhan” oleh para pengikutnya. Suatu ajaran yang dipegang secara fanatik kerapkali menimbulkan keinginan di kalangan pengikutnya untuk berkuasa.

Bagaimana sebenarnya pandangan ortodoksi Syiah – untuk membedakannya dengan ajaran Ghuluww – tentang aspek ketuhanan bagi para pengikutnya ? Berikut ini adalah penjelasan yang tertera dalam Buku Putih Madzhab Syiah terbitan organisasi ABI (Ahlul Bait Indonesia) :

“Dalam prinsip Al-Tauhid, Syiah meyakini bahwa Allah adalah dzat Yang Maha Mutlak, yang tidak dapat dijangkau oleh siapapun (Laa tudhrikul abshar wa huwa yudhrikul abshar). Dia Maha Sempurna, jauh dari segala cela dan kekurangan. Bahkan Ia adalah kesempurnaan itu sendiri dan mutlak sempurna (Muthlaq Al-Kamal wa Kamal Al-Muthlaq).

Terminologi “Bayangan Allah di Muka Bumi” adalah sebuah konsep politik, yang menurut Karen Armstrong telah tumbuh sejak kekuasaan Sassanid dan dilanjutkan oleh kekuasaan Abbasiyah. Sebuah deviasi keyakinan ini adalah pengejawantahan yang jauh dibawa lebih dalam untuk melegalkan kekuasaan para monarkhi agar menguatkan gelar-gelar seperti Amir, Sultan, ataupun Khalifah. Padahal, Islam meyakini musyawarah pengangkatan dan suksesi kepemimpinan ialah berdasar kepada kata ‘mufakat’, bukan pendekatan Ius Sanguinis ataupun karena pengaruh ‘kharisma’, dimana kedua hal terakhir memungkinkan terciptanya pola diktatur yang dipertahankan oleh status quo ; perkembangan umat pun akan stagnan. Setelah kelemahan berturut-turut menimpa Pemerintahan Safawi setelah wafatnya Tahmasp I yang digantikan oleh Ismail II (1576-1577) dan Muhammad Khudabandeh (1577-1587). Meski tak sampai kepada tujuan penerapan demokrasi, Safawi merasakan tuntutan zaman untuk menuju kondisi yang lebih kuat yakni dengan memperkecil peran Qizilbasy dan paham Ghulat yang sebelumnya menghantarkan mereka mencapai kekuasaan di ranah bumi Persia. Selanjutnya terminologi “Bayangan Tuhan di Muka Bumi” berada di tengah dua pihak yang sama-sama ingin merengkuhnya : Penguasa dan Ulama.


7.Sempat Menguat dan Mengindah : Menuju Ortodoksi dan Kemajuan Fisik

Setelah Tahmasp I wafat, terjadi perebutan kekuasaan hingga Persia mengalami kekacauan. Ismail II yang dikenal sebagai pemabuk dan kejam mati dibunuh dengan racun. Saudaranya, Muhammad Khudabandeh yang berpandangan picik dan berwatak lemah menggantikan posisi Shah Ismail II. Para pemimpin Turkoman memanfaatkan situasi itu dengan memerdekakan diri. Ketika Utsmani dan Uzbek sekali lagi menyerbu, permintaan Shah kepada pemimpin suku-suku Turkoman tidak dipedulikan. Kekacauan ini mendorong penurunan takhta Khudabandeh untuk digantikan oleh putranya Abbas Mirza atau Shah Abbas I. Shah Abbas naik takhta dalam usia enam belas tahun dan dalam kondisi yang tidak menguntungkan, utamanya saat Safawi kehilangan daerah-daerah kepada Utsmani sedangkan di wilayah lain yang tidak direbut, suku-suku Turkoman memonopili kekuatan militer. 


7.1.Reformasi Kemiliteran Shah Abbas I 

Karena usianya yang masih muda, tak mungkin baginya menghadapi dua kekuatan Utsmani dan Uzbek. Pertamanya ia membina perdamaian dengan Utsmani pada tahun 1590. Shah Abbas segera memperbarui kemiliteran Safawi menjadi professional dengan membentuk pasukan yang digaji dari sumber perbendaharaan negara. Uzbek yang tak lama setelah itu mengalami perpecahan dimanfaatkan oleh Abbas I untuk menyerbu. Karena re-konsolidasi pasukan yang baik di pihak lawan, laju Safawi terhenti di Balkh dan harus meninggalkan kota itu kembali ke tangan Uzbek.

Lukisan Shah Abbas I

Di awal tahun 1599, dua orang petualang Inggris bersaudara, Sir Anthony dan Sir Phillip Sherley datang ke Iran dengan membawa misi tak resmi dari Earl of Essex yang bertujuan membujuk Shah Abbas agar bersekutu dengan kekuatan-kekuatan Eropa untuk melawan Utsmani serta memperbaiki hubungan dagang dengan Inggris. Kebetulan Sherley sebelumnya adalah seorang tentara yang cakap dan terlatih. Dengan bantuannya, Shah Abbas membangun tentara Safawid. Dibentuklah pasukan infanteri, kavaleri, dan artileri baru. Pasukan kavaleri (kuda) dinamai Qullar (budak) karena rekrut utamanya adalah daerah asal pemasok budak ; mayoritas beragama Kristen. Pasukan pedang dinamai Tufangchi yang sebelumnya adalah pasukan infanteri namun dijadikan tentara berkuda juga. Pasukan meriam dinamakan Topchi. Kekuatan militer pembaharuan ini sangat mengurangi kekuatan Qizilbasy yang berasal dari suku-suku Turkoman. 

Di tahun 1603 Persia menyerang Utsmani sebagai pembuktian kehebatan tentara baru itu. Tiga komponen baru kemiliteran Safawi ini mengungguli Janissari dan seluruh kekuatan militer Utsmani. Seluruh wilayah yang sempat direbut Utsmani dari Safawi harus “kembali” kepada Shah tanah Persia. Safawi melengkapi superioritas ini dengan merebut Mesopotamia. Harapan agar Utsmani mengurangi tekanan militer ke Eropa baru terwujud di masa Shah Abbas I, Istanbul memutuskan untuk menempatkan pemusatan kekuatan militer di wilayah timurnya. 


7.2.Mengikis Paham Ghulat 

Sebelumnya, sejak tahun 1598, Shah Abbas memindahkan ibukotanya ke Isfahan dari Qazvin. Selain dari pencapaian kemajuan melalui degradasi peran Qizilbasy di bidang kemiliteran, Shah Abbas I juga melandasi kemajuan melalui kepindahan orientasi Ghulat menjadi Syiah yang ortodoks. Seperti telah dijelaskan di atas tentang usaha Shah Ismail I dalam menggantikan populasi kaum Sunni dengan para pendatang Syiah, Shah Abbas I turut melakukan hal yang sama dengan – apa yang disebut oleh Karen Armstrong – mengimpor ulama Syiah Arab dari luar negeri tujuan utamanya untuk mengajari para pengikutnya (terutama kalangan birokrat Safawi) ajaran Syiah Imamiah Duabelas yang sebenarnya (lebih ortodoks). Bagi para ulama Syiah Arab itu dibangunlah madrasah-madrasah dan kemurahan hati dalam masalah finansial. 


Dalam hal keagamaan, Shah Abbas I menunjukkan perhatian lainnya dengan membangun tempat suci Makam Imam Ali Ridha (atau disebut juga Ali Reza dalam dialek Persia) di Mashad dan Makam Fathimah Ma’shumeh (adik Imam Ali Ridha) di Qom ; keduanya menjadi pusat ziarah keagamaan di masanya. Di masa itu Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis berada di bawah kekuasaan Utsmani. Shah Abbas dengan sendirinya – disamping sebagai usaha menyaingi ziarah keagamaan di bawah otoritas Sunni – memberi teladan berziarah dari Isfahan ke Mashad dengan berjalan kaki.


Perziarahan ke Mashad memiliki relasi antar-tempat ziarah ke satu tempat lain yang berada dalam satu kisah dengan alasan disucikannya Mashad, yaitu dengan kota Qom. Dikisahkan bahwa Fathimah Ma’shumeh, adik Imam Ali Ridha yang dikenal sangat shalihah berangkat dari Kota Madinah Al-Munawarah untuk mengunjungi Imam Ali Ridha yang sedang berdakwah di Khorasan. Di pertengahan jalan, beliau jatuh sakit dan singgah di Kota Qom. Warga setempat yang sangat menghormati Ahlul Bayt (keturunan Nabi) – bahkan beliau dipanggil dengan penuh hormat sebagai “Bibi Ma’shumeh” – menyambut gembira sang musafir dan menyediakan tempat tinggal. Namun kesehatan Fathimah Ma’shumeh tidak membaik dan wafat serta dimakamkan di kota ini pada tahun 210 H, tujuh belas hari persinggahannya di kota tersebut. Imam Ali Ridha, kakak dari Fathimah Ma’shumeh, juga menyusul kepergian adiknya setelah diracun oleh penguasa Abbasiyah karena merasa tersaingi kharismanya. Begitulah landasan atas pentingnya ziarah ke Mashad dan Qom, karena keterkaitan kisah keduanya beserta semangat mengenang “kesyahidan” atas seorang yang dianggap Imam kedelapan Syiah ini. 


7.3.Isfahan Kota “Setengah Dunia

Perubahan orientasi paham (Ghulat menjadi ortodoks Syiah) diikuti dengan memperindah peradaban fisik kerajaan yang ia pimpin. Kota Isfahan ia perindah dan dengan kejeniusannya di bidang arsitektur terciptalah istana indah yang sangat terkenal : Istana Chehelsotoon. Dinasti Safawi memiliki pengaruh besar dalam mengembangkan tata kota ramah lingkungan. Bangunan-bangunan bersejarah yang sekarang menjadi peninggalannya selalu bersanding dengan taman-taman indah dan kolam-kolam air yang mengalir. Jalan-jalan juga didesain dengan mengutamakan konsep penghijauan, misalnya jalan Chahar Bagh yang dipayungi oleh pohon-pohon besar. Chahar Bagh adalah jalan raya yang indah dengan panjang 4 Km, dijajari dengan kebun-kebun dan rumah-rumah yang megah. Keindahan monumental lainnya tergambar dalam jembatan Siosepol. Jembatan ini dibangun pada masa Shah Abbas pada tahun 1602 M di bawah pengawasan Verdi Khan, seorang budak Kristen asal Georgia yang akhirnya membawa ia pada pelayanan kepada Shah Abbas. Verdi Khan berpengalaman memimpin sebuah distrik sebelum mendapatkan tanggung jawab dalam pembangunan Siosepol.


Dapat disebutkan bahwa Isfahan adalah ikon kemakmuran Safawi yang paling baik. Ibukota Shah Abbas I adalah “Paris” di masa itu. Taman-taman, perpustakaan, pavilyun, dan mesjidnya membuat kagum pelancong Eropa kala itu yang belum menyaksikan hal demikian di negeri-negerinya. Bangsa Persia menyebutnya sebagai Nisf-E-Jahan atau “Setengah Dunia” : melihatnya adalah melihat setengah dunia. Berdiri 1.600 meter di permukaan laut, terletak di dataran tinggi Iran tengah, dan dikelilingi pebunungan, Isfahan menjadi salah satu kota paling indah di dunia. Pada masa jayanya, kota ini menjadi salah satu kota terbesar dengan penduduk sekitar satu juta jiwa beserta 162 Mesjid, 48 madrasah, 801 penginapan untuk para kafilah (Caravanserai) dan 273 tempat pemandian umum tercatat di kota yang memiliki keliling 38 Km itu. 


Pusat alun-alun kota Isfahan disebut dengan Naqsh-E-Jahan atau berarti “Peta Dunia”, merupakan salah satu keajaiban dunia. Di bagian depannya adalah “Permata Arsitektur Persia” yakni Mesjid Shah atau sekarang disebut sebagai Mesjid Imam (pasca Revolusi 1979). Di seberangnya adalah pasar. Pada satu sisi alun-alun ada pavilyun yang disebut dengan Ali Qapu, dengan gerbanya yang bernama Bab-E-Ali (Gerbang Ali bin Abi Thalib menantu Rasulullah Saw). DI seberangnya, melintasi alun-alun, berdiri Mesjid Syaikh Lutfullah yang dipakai atau digunakan sendiri oleh Shah Abbas I dalam beribadah. Di belakang pavilyun Ali Qapu – di luar alun-alun – ada sesuatu yang luar biasa jika secara simbolis adalah bagian arsitektur Islam yang sebenarnya, berwarna lumpur dan berbentuk suatu tenda, menyediakan tempat bagi kaum Sufi.


7.4.Perdagangan dan Kompeni Dagang Eropa

  Memperindah peradaban fisik yang dilakukan oleh Shah Abbas I turut berdampak kepada usaha untuk memajukan perdagangan, salah satunya ialah dengan mendatangkan orang-orang Armenia dari kawasan utara dan menempatkannya di pinggiran kota Isfahan – kawasan itu dinamakan Jufla dan masih ada hingga kini. East India Company (EIC) milik Inggris dan VOC Belanda disemangatinya untuk mendirikan cabang di Persia beserta hak-hak khususnya yang diterima kebanyakan kompeni dagang Eropa. Jalan-jalan lalu lintas dibersihkan dari para perampok agar aman bagi para kafilah dagang darat. Ia membangun alur komunikasi dengan membenahi jalan-jalan yang rusak ataupun membuat yang baru beserta jembatan-jembatan dan infrastruktur lain.


Orang Portugis yang sebelumnya telah menduduki pulau Hormuz dan beberapa bagian daratan Iran tak lagi hanya menghadapi “Protes Fabel” dari Safawi. Shah mengusir mereka dari wilayah daratan Persia pada tahun 1602 dan dari pulau Hormuz dengan bantuan EIC pada tahun 1622. Atas bantuan EIC, Shah Abbas memberikan berbagai hak istimewa kepada kompeni dagang ini di Kota Pelabuhan yang ia bangun, Bandar Abbas. Sedangkan untuk Portugis, kejadian ini tidak beda dengan tamparan yang melengkapi kemunduran kompeni dagang mereka, Estado Da India.

7.5.Toleransi pada Minoritas


Di samping relasi dengan pihak luar / asing yang ia benahi, Shah Abbas I ikut mengharmoniskan hubungan antara pemerintahannya dengan kaum minoritas yang ia pimpin. Komunitas Kristen Armenia adalah salah satu minoritas yang banyak menerima keuntungan dari pemerintahan Shah Abbas. Awalnya memang hubungan itu dimulai dengan kegetiran tatkala Safawi bertempur melawan Panglima Utsmani yang bernama Sinan Pasha dengan kedudukannya di Azerbaijan. Untuk merintangi laju pasukan Utsmani semasa perang, yang paling penting agar pasukan Utsmani tidak mendapatkan pasokan makanan, maka Shah Abbas menghancurkan kota-kota yang didiami Orang Armenia dan mengusir penduduknya, inilah latar belakang “didatangkannya” komunitas Armenia ke pinggiran Isfahan dengan rombongan pertama adalah 3000 keluarga yang tinggal di pinggiran Sungai Zayandeh. Pengungsi Armenia lainnya tersebar antara Isfahan hingga Shiraz. 


Tempat bernama Julfa / Jolfa atau juga disebut Jalfa bisa dibilang adalah “ganti rugi” terhadap apa yang menimpa komunitas Kristen Armenia atas apa yang mereka korbankan kepada pemerintahan Shah Abbas I. Shah membantu komunitas Armenia membangun sejumlah gereja di Isfahan dan membantu penyelenggaraan hari-hari raya dan acara-acara mereka. Salah satu gereja penting milik komunitas Armenia adalah Kathedral Vank yang dibangun pada tahun 1606. Sebagian ada yang berpendapat bahwa hal ini adalah usahanya dalam menarik hati orang-orang Eropa Kristen untuk melawan Utsmani. Ordo Carmelite dan beberapa ordo lainnya juga diizikan untuk mendirikan pusat-pusat kegiatan misi Kristen dan gereja di Isfahan. Saat ini ada tiga kota yang menjadi pusat kegiatan agama dan budaya Armenia di Iran, yakni Tabriz di utara, Isfahan di selatan, dan tentu saja Teheran. 

7.6.Kematian Shah Abbas I, Ranumnya Kompetisi
Shah Abbas II mangkat pada tahun 1629 dan dengan berangsur membawa pergi kejayaan yang kian luntur. Masalah yang cukup lumrah terjadi di tengah otoritas monarkhi berkutat dalam masalah suksesi besar yang penuh tanggungjawab, terlebih saat peradabannya pernah mengalami kemajuan. Pengganti takhta kerap dihadapkan pada pertanyaan “seberapa mampu” dirinya mengemban kemajuan ataupun seberapa mampu ia dapat memulihkan keadaan. Shah Abbas I telah menjawab itu sepanjang masa hidupnya dalam jawaban bahwa ia "mampu membenahi keadaan." Meski demikian, Shah Abbas tidak pernah dikenang oleh sejarawan Iran modern, terlebih di bawah rezim Revolusi Islam, sebagai Shah Abbas I “Agung” (Akbar). Gelar ini tak pernah disandangnya lantaran kekejaman yang ia lakukan kepada orang-orang terdekatnya. Shah Abbas I pernah memerintahkan orang untuk membutakan ayahnya, dua saudara laki-lakinya, dan putranya sendiri yang bernama Imam Quli. Dengan titahnya, anaknya yang lain yang bernama Muhammad Baqir Mirza tewas terbunuh. Para putra mahkota dan pengeran-pangeran lain dipenjarakan dalam harem. Shah Abbas I mengalami paranoid pada orang lain yang mungkin menyainginya. 


Beberapa pengganti setelah Shah Abbas I tidaklah begitu dikenal sebagaimana dirinya. Ada seorang yang patut diingat antaranya adalah Shah Sulaiman yang mana di bawah pemerintahannya pernah diusahakan sebuah hubungan diplomatik kepada Raja Narai di Siam dalam sebuah usaha meningkatkan peranan penting Muslim Syiah – usaha ini akhirnya memang harus sia-sia. Utusan Sulayman yang bernama Ibn Muhammad Ibrahim sempat membuat catatan persinggahannya di Aceh (1685) dengan berbagai pujian antara lain iklimnya yang sejuk, indah, serta “penempatan putri almarhum raja ke atas singgasana” yang mungkin ia maksudkan adalah penguasa Aceh (seorang wanita), Inayat Syah Zakiat Ad-Din (1678-1688). Ibn Ibrahim mencatatkan perjalanan itu dalam bentuk prosa bersajak dengan pujian yang muluk-muluk. Sementara di tanah Persia sendiri, tempat asal Ibn Ibrahim, Shah Sulaiman dikenal tidak peduli dengan masalah kemakmuran rakyatnya. Setelah masa kepemimpinan Sulaiman, penggantinya yang bernama Shah Husayn I (1694-1722) memberikan sebuah penanda baru akan kebangkitan bertahap bagi kalangan ulama.

Shah Husayn dikenal sebagai seorang yang diliputi intrik wanita harem. Karena percaya takhayul, ia cenderung menghunakan ahli ilmu nujum dan jampi-jampi untuk menyelesaikan masalah, ini hanya memperparah keadaan pemerintahannya. Lebih buruk lagi, pemerintahannya mulai jatuh ke tangan para kasim istana. Di masanya para Mullah mulai turun tangan dalam masalah pemerintahan. Salah satu ulama yang paling penting diingat pada masa itu adalah Muhammad Baqir Majlisi.

Masa suram dalam pemerintahan Safawiyah dengan cepat merobohkan klaim “Bayangan Tuhan di Muka Bumi” dalam dominasi pemimpin politik. Cara hidup yang “tidak Islami” dipandang sebagai sebuah titik terpenting dalam kemunduran itu. Setidaknya ada dua tindakan penting yang dilakukan Majlisi sebagai seorang ulama yang berpengaruh, ialah pada masalah minum-minuman keras atau Khamr disamping menghadirkan sebuah gambaran alternatif melawan klaim “Bayangan Tuhan di Muka Bumi”, yakni dengan menekankan bahwa hanya seorang Mujtahid, seorang yang secara dalam mempelajari Syariah serta melewati kehidupan yang suci-lah yang dapat berkuasa. Atas desakan Majlisi, ribuan botol anggur di dalam gudang bawah tanah kerajaan dihancurkan di depan umum. Cara kesalehan hidup yang diajarkannya itu tak mampu menolong nasib Safawi untuk kian dekat dengan keruntuhan akibat digerogoti oleh ambisi para elit monarkhi, mulai dari lingkar harem, kasim, dan tuan-tuan tanah feodal.

Majlisi dikenal sangat anti kepada Tasawuf, meskipun awal dari pemerintahan Safawiyah berasal dari doktrin ini. Untuk menggantikan ritual Sufi Lama, seperti dzikir berjamaah dan kultus kepada para wali, Majlisi mempromosikan ritual berkabung untuk menghormati Husein RA, martir Karbala, untuk mengajarkan rakyat nilai-nilai dan kesalehan Syiah. Ada prosesi rumit, dan nyanyian penguburan yang sangat emosional dilantunkan sementara orang-orang menangis dan menjerit. Taziyeh, drama yang menggambarkan gairah tragedi Karbala mulai berkembang. Dalam drama ini, orang-orang bukanlah penonton pasif, tetapi mereka memberikan respons emosional, menangis, dan memukul dada mereka, serta menggabungkan penderitaan mereka sendiri dengan penderitaan Imam Husein.
Menurut Karen Armstrong, saat itu Majlisi masih berhati-hati agar bisa menekan potensi revolusioner dari ritual ini. Alih-alih protes melawan tirani di dalam negeri, orang-orang saat itu diajarkan memprotes Islam Sunni. Alih-alih bersumpah mengikuti Husein dalam perjuangan melawan ketidakadilan, orang-orang diajak untuk melihatnya sebagai pelindung yang bisa menjamin jalan mereka ke surga. Ritual itu dengan demikian dinetralkan dalam menjaga status quo yang berlaku.


8.Penutup : Runtuh Untuk Melahirkan Kekuatan Baru

Peran Majlisi dalam mempopulerkan ritual peringatan Karbala amat berarti dalam perkembangan Iran selanjutnya. Ia meranumkan sebuah gagasan kompetitif antara ulama melawan elit politik, utamanya yang  tidak sejalan dengan nilai-nilai syariat Islam, ataupun setidaknya, tidak mengikuti arahan para kaum Mullah (Ulama). Di Persia muncul tokoh-tokoh agama yang mampu mengguncang wibawa Shah-Shah Persia. Kita sebutkan saja nama Mirza Masih Astarabadi atau yang dikenal sebagai Mirza Masih “Mojtahed” yang dianggap pelindung harga diri rakyat Persia tatkala Rusia berusaha menancapkan dominasi intervensinya kepada Dinasti Qajar. 


Terakhir, kita akan melihat matangnya kompetisi itu saat Ayatollah Ruhullah Khomeini berhasil menggulingkan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi, pada tahun 1979 dan mendirikan Wilayatul Faqih. Sebagaimana lumrah dengung perlawanan terhadap penindasan yang kerap ditemukan dalam slogan-slogan Revolusi Iran, bahwa mereka yang ditindas dapat dibela melawan si penindas, baik penindas itu berupa perorangan, sebuah pemerintahan sendiri, ataupun berupa pemerintahan asing. Sebagaimana dalam pendapat Karen Armstrong, baru setelah Revolusi Iran 1978-1979, kultus / ritual kesyahidan Husein RA menjadi sarana bagi kaum tertindas di Persia Modern (Baca : Iran) untuk mengartikulasikan keluhan mereka terhadap pemerintah yang korup. Inilah kematangan dari konsep yang dibina oleh Muhammad Baqir Majlisi.


Shah Ismail I tak pernah menyaksikan bahwa konversi madzhab yang ia bina kini telah berubah menjadi perlawanan kepada penindasan universal, bahkan kepada gelar “Shahanshah Persia” yang membuat Ismail I rela melakukan pembantaian massal. Keruntuhan Safawi membina beberapa pijakan menuju Persia yang enggan mengakui paham Ghulat, tidak pula menginginkan gelar Shah sebagai penguasanya. Setidaknya itulah yang terjadi sejak 1979 hingga saat ini.


Sumber


Abud, Abu Samih, Minoritas Etnis dan Agama di Iran, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2014


Ahmad, Afifah, The Road to Persia, Yogyakarta : Bunyan, 2013.


Ahmed, Akbar S., Rekonstruksi Sejarah Islam, Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2002.


Armstrong, Karen, Sejarah Islam, Bandung : Mizan Pustaka, 2014.


Assagaf, Muhammad Hasyim, Lintasan Sejarah Iran : Dari Dinasti Achaemenia ke Republik Revolusi Islam, Jakarta : The Cultural Section of Embassy of The Islamic Republic of Iran, 2009.


Buchori, Didin Saefuddin, Sejarah Politik Islam, Jakarta : Pustaka Intermasa, 2009.


Freely, John, Istanbul Kota Kekaisaran, Jakarta : Pustaka Alvabet, 2012.


Gordon, Stewart, Asia Menguasai Dunia, Jakarta : Ufuk Press, 2008.


Reid, Anthony, Sumatera Tempo Doeloe, Depok : Komunitas Bambu, 2014.


Tamara, Nasir, Revolusi Iran, Jakarta : Sinar Harapan, 1980.


Tim, Buku Putih Madzhab Syiah, Jakarta : DPP ABI, 2012.


Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah.

Comments

Post a Comment