Sunday, October 23, 2016

Lonceng dalam Lindungan Kubah: Jurji Zaidan, Tawfik Canaan, dan Michel Aflaq

1. Pendahuluan

Agama Islam dan Kristen lahir di wilayah yang sama. Timur Tengah merupakan tanah asal bagi kepercayaan Abrahamaik (satu garis risalah ketuhanan Ibrahim). Sebelum itu, agama Yahudi lahir di bawah risalah Musa. Memang di antara ketiganya sering terjadi pertentangan fundamental atas kepercayaan pihak lainnya. Selain dalam kosmis keimanan dan ortodoksi kepercayaan, ketiga agama ini kerap bertemu-hadap satu dan lainnya dalam pertentangan, atau bahkan peperangan. Jelasnya, dapat dimengerti permasalahan ini di saat Kayafas menghasut umat Yahudi dan pemerintah Romawi untuk menyalib Yesus (Isa Al-Masih AS), ketika Romawi Timur berubah kepercayaan menjadi pemeluk Kristen mereka membalas perlakuan Yahudi dengan meruntuhkan Kuil Yahudi Yerusalem sisa pembangunan Herodes. Islam kemudian muncul sebagai agama baru, di bawah kuasanya, Timur Tengah yang dahulu dibagi atas dua kekuatan imperium besar : Romawi dan Persia, dipersatukan atas panji Islam. Meski kemudian Islam banyak dianut oleh sebagian besar orang di Timur Tengah, agama Yahudi dan Kristiani masih dipeluk oleh sebagian kecil penduduknya. Islam generasi awal telah menelurkan ‘Piagam Madinah’ yang tidak hanya mengakui eksistensi namun secara moderat mengizinkan agama minoritas seperti Yahudi  dan Kristen untuk beribadah sesuai kepercayaannya. Di masa dunia Islam berada di bawah telapak kaki imperialisme Barat, Mesir memiliki seorang Perdana Menteri bernama Ibrahim El-Gohary. Apakah ia seorang Muslim ? Bukan, ia adalah pemeluk Kristen Koptik. Apakah mungkin di masa itu, seumpama di Eropa, terdapat sebuah negeri yang memiliki akar keagamaan non-Islam yang kuat dapat mengangkat seorang Muslim menjadi pejabat setingkat itu ? Mesir yang amat erat dikenal karena sebuah institusi pendidikan Islamnya seperti Al-Azhar faktanya sangat toleran dengan Non-Muslim. Dari Mesir pula, sebuah gerakan intelektual pembaruan yang didengungkan oleh pemerintahan Islam – yang dikenal dengan nama “Al-Nahda” – dipatroni oleh sejumlah penganut Kristen. 

Ibarat Al-Ma’mun di masa Dinasti Abbasiyah yang mempekerjakan banyak pemikir Kristen untuk menerjemahkan karya-karya intelektual Yunani, Al-Nahda turut menandai kemunculan dominan para minoritas Kristen Arab. Apabila Timur Tengah kerap dianggap / diasumsikan dengan kurang bijak sebagai model Ekstrimisme Islam, justru fakta sejarah ini dapat berguna untuk dimaknai oleh semua pihak. Tersebutlah nama-nama seperti Jurji Zaidan sebagai tokoh dalam era kemunculan Nahda. Tawfik  Canaan adalah seorang dokter Palestina yang aktif dalam menjadi relawan kesehatan di masa penguasaan Utsmaniyah serta kemudian menjadi salah satu tokoh Anti-Zionis. Sedangkan Michel Aflaq merupakan ideolog Ba’th yang pemikirannya diikuti banyak tokoh politik sekuler kalangan Muslim. Mereka menghargai eksistensi mayoritas dengan harmoni intelektual yang dihargai, serta menjadi pengingat, dan memberikan kontribusi yang luas kepada masyarakatnya yang secara dominan tidak seagama dengan mereka,; ibarat dentang lonceng dalam lindungan kubah.



2. Jurji Zaidan 

"Al Nahda" atau "Renaissance Arab", kadang disebut juga "Kebangkitan Arab" muncul saat kondisi perpolitikan ibarat kanker yang terjamah, pemerintahan yang buruk telah sama sekali merubah keperkasaan Utsmaniyah menjadi "orang sakit di Eropa". Kemunduran imperium bangsa Turki ini membawa timur tengah kepada sebentuk titik nadir. Sentakan dari kebangkitan bangsa Arab yang berada dalam otoritas imperium itu datang dalam bentuk invasi Perancis Mesir pada tahun 1798. Setelah kekalahan Perancis dan penarikan, kekacauan memerintah di bawah kekuasaan raja atas nama Utsmaniyah, hingga akhirnya penguasa bawahan itu – Muhammad Ali Pasha – mengambil kendali kekuasaan di Mesir dan memulai pembangunan ambisius dan program modernisasi. Meskipun terjadi lagi penetrasi  oleh barat pada tahun 1840, momentum reformasi masih berkelanjutan, dan pada paruh kedua abad ke-19, sebuah gerakan yang benar untuk memodernisasi Mesir sedang berlangsung. Maka muncullah pengenalan mesin cetak di Mesir pada tahun 1822 melalui usaha yang dilakukan Muhammad Ali dengan mendirikan unit percetakan Bulaq, jurnal resmi turut dicetak pada tahun 1828, kata dicetak mulai menyebar di seluruh Mesir dan banyak dari dunia Arab.

Dua pijakan gagasan datang bersama-sama Al-Nahda, transformasi ini, salah satunya adalah kekaguman atas prestasi Eropa yang diromosikan melalui usaha meniru Barat; dan pijakan yang lain merupakan desakan untuk menghidupkan kembali akar budaya Timur. Masing-masing, pada gilirannya, memiliki dua helai diidentifikasi: Dalam melihat ke Barat, ada keinginan untuk sepenuhnya meniru dalam hal teknologi, modernitas dan banyak lagi; tapi resistensi terhadap “Westernisasi Total” dalam hal menolak untuk mempromosikan nilai-nilai yang akan melemahkan akar budaya timur sendiri serta identitas nasional yang baru lahir, juga muncul. Dan lagi, ketika datang penghidupan kembali identitas timur dan akar budayanya, dua hal dapat diidentifikasi: mereka yang ingin membangkitkan Pan-Islamisme (Kejayaan Islam) yang diperjuangkan oleh Afghani, Abduh dan Reda; dan mereka yang menginginkan kebangkitan Arab secara Nasionalistik seperti yang diperjuangkan oleh Al-Kawakeby. Proyek budaya dan politik dari Nahda Pan-Arab harus menjawab apa yang harus membentuk identitas Arab guna melampaui identitas Mesir, Fenisia, Irak, Suriah, dll. Mesir selaku tonggak awal dari gerakan ini, cenderung “lepas” dari gerakan Arab (di negara lainnya) dalam mengembangkan kebijakan nasionalis sendiri . 

Al-Nahda menyebabkan tumbuhnya generasi baru yang terbiasa membaca. Bagi mereka yang telah dididik untuk tingkat tinggi dalam bahasa Arab, kesusastraan baru sedang diproduksi dalam era itu. Percetakan di Arab nyaris tak ada sebelum abad kesembilan belas, tetapi menyebar pada abad ini, terutama di Kairo dan Beirut, yang tetap pusat utama penerbitan: sekolah pemerintah di Kairo dan sekolah Missi Kristiani di Beirut telah menghasilkan “masyarakat baca” yang relatif  besar . Terlepas dari buku teks sekolah, buku hasil cetak dalam periode ini antara lain surat kabar dan majalah, yang mulai memainkan peranan besar pada 1860-an dan 1870-an. Media cetak yang memgusung pemikiran, membuka jendela pada budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat ialah dua harian yang diproduksi oleh orang-orang Kristen Lebanon di Kairo: ‘Al-Muqtataf’ oleh Ya'qub Sarruf (1852-1927) dan Faris Nimr (1855-1951), serta ‘Al-Hilal’ oleh Jurui Zaidan  (1861-1914). Kita semua sekarang mengakui bahwa mesin cetak, dan terutama jurnal dan surat kabar, adalah instrumen utama untuk debat publik di era Al-Nahda. Setiap anggota dari Al-Nahda adalah seorang penulis, penerbit, editor, dan / atau pemilik surat kabar dan jurnal. Al-Hilal dengan Al-Muqtataf dan Al-Manar menjadi otoritas intelektual tertinggi dalam gerakan Nahda.

Siapa Jurji Zaidan  ? Dia adalah seorang pria yang lahir pada 14 Desember 1861 di Beirut dari keluarga Kristen Ortodoks, Zaidan terpaksa putus sekolah setelah menyelesaikan pendidikan dasar untuk membantu ayahnya menjalankan bisnis restorannya. Namun, antusiasme pada pendidikan dan keinginan untuk meningkatkan kualitas dirinya membawanya masuk ke Syrian Presbyterian College sebagai mahasiswa kedokteran, pada akhirnya ia meninggalkan institusinya setelah mendukung hak  salah satu dosennya dalam kebebasan pemikiran akademik melawan administrasi. Dia kemudian pergi ke Kairo untuk belajar kedokteran, tetapi akhirnya memilih untuk berkarir secara tertulis yang membuatnya menjadi legenda. Pada tahun 1891 ia menikahi Maryam, seorang gadis yang dicintainya, dan mereka memiliki tiga anak: Emile, Asma dan Choucri (masing-masing lahir pada tahun 1893, 1895 dan 1900). Ia mengabdikan diri untuk keluarga dan profesinya. Ada banyak testimonial besar oleh orang sezamannya dan penerusnya. Ahmed Amin menggambarkan dirinya sebagai "Seorang “pria buatan sendiri”, yang membangun dirinya, menanggung beban atas apa yang ia percaya, membangun rencananya dengan berhati-hati dan tidak beristirahat sampai ia mencapai apa yang ia tuju. Dia ingin belajar tetapi tidak punya uang, sehingga ia mempelajari keseimbangn antara keinginan untuk belajar dan untuk menghasilkan uang ". 

Zaidan, pemikirannya mengangkangi wilayah Levant (Lsuriah-Lebanon) dan Mesir tegas berkomitmen untuk identitas Arab, dan baginya, bahasa Arab adalah kunci, baginya eksistensi bahasa Arab sebagai sarana komunikasi-fungsional dan informasi bagi masyarakat adalah bukti bahwa ikatan Arab memiliki kemampuan untuk mengatasi afinitas geografis maupun religiusitas, dan untuk menekankan bahasa sebagai landasan dalam menentukan pandangan dunia budaya-nya, Zaidan tidak hanya progresif, tetapi ia juga menolak dasar ras atau etnis yang kebanyakan intelektual di Eropa – dan tempat lain – memakai itu dalam membangun pandangan mereka tentang masyarakat dan politik. Zaidan dianggap telah menjadi arsitek identitas Arab modern dan dianggap telah meletakkan dasar bagi identitas nasional Pan-Arab. Tidak ada keraguan bahwa ia memilih novel sejarah sebagai sarana mempromosikan  serta menciptakan kesadaran “Dunia Arab Baru.” Dia tentu saja seorang spesialis dalam sejarah Arab dan Muslim, tapi itu bukan satu-satunya alasan dia memilih genre itu. Lebih daripada itu, dia memiliki pengetahuan yang luas dari berbagai aspek sastra.

Ialah Jurji Zaidan  yang melakukan lebih dari yang lain untuk membangun kesadaran masa lalu Arab dalam seri novel sejarahnya. Zaidan menulis dalam prosa yang jelas dan sederhana. Tulisan-tulisannya memberikan kontribusi besar-besaran untuk pengembangan standar bahasa Arab modern, bahasa tertulis yang disederhanakan dan dapat dipahami oleh kaum literati Arab. Zaidan  tentu mempelopori penggunaan novel di Dunia Arab untuk memperkenalkan generasi Arab dan Muslim pada kesejarahan mereka, menciptakan kesadaran publik atas kolektifitas masa silam untuk berkomitmen di masa mendatang. Jurji Zaidan  adalah seorang “self-made” secara kultural bahkan dalam masalah memenuhi kebutuhan finansial. Ia adalah orang pertama (pada kalangan Non-Muslim) di zaman modern Arab yang mengabdikan hidupnya untuk mempelajari sejarah Islam; menulis banyak sekali novel sejarah, di samping pekerjaan utamanya untuk mengulas Sejarah Peradaban Islam. Ia membuka jalan bagi semua studi sejarah, dalam dua puluh atau tiga puluh tahun terakhir, muncul dalam jumlah yang semakin meningkat.

Dia meninggal pada bulan Juli 1914, di mejanya, menyelesaikan buku besar terakhir dari karyanya tentang Sejarah Literatur Arab, usianya baru 52 tahun saat itu. Jurji Zaidan seorang pria yang berdedikasi dalam kejujuran, seorang pria “Buatan Sendiri” (‘Self-Made’) dengan intelektual otodidaknya yang ‘ensiklopedis’, membuatnya dicintai segenap orang. Berkenaan dengan kontribusi untuk kebangkitan sastra Arab, Zaidan adalah yang pertama mengulas sejarag sastra Arab dengan cara yang menyerupai penelitian modern. Prestasi Zaidan ini telah memenangi kekaguman seperti yang dikomentari oleh Bishara Takla pasca wafatnya Zaidan," Sebenarnya, jika seorang sejarawan mengukur usia Zaidan dengan apa yang diwariskan, mereka akan menyadari bahwa pemilik Al-Hilal ini (sebenarnya) berusia ‘seratus tahun’ meski Zaidan wafat di usia lima puluhan.” Emile Amin yang paling mampu menangkap ungkapan singkat tersebut dengan berkata," Kita dapat meringkas hidup Zaidan dengan mengatakan bahwa orang ini beragama Kristen dan Islam secara budaya, yang telah berhasil, melalui fiksi, untuk memperkenalkan sejarah Islam dengan mudah dan jernih, menyoroti aspek toleransi dan rasionalisme di dalamnya, yang diwakili jembatan untuk koneksi positif antara Timur dan Barat ". Zaidan meninggal sebelum Revolusi 1919 serta “Era Liberal” yang berlangsung sampai 1952 di Mesir saat kontribusi pemikirannya memiliki dampak yang mendalam pada periode itu. Ia adalah seorang sarjana Kristen pada kajian Islam, ia pun seorang nasionalis Arab yang melihat pentingnya komponen Islam dalam budaya dan identitas Arab. Zaidan menghidupkan kembali pemahaman tentang tradisi Muslim, sambil memperjuangkan modernitas, ilmu pengetahuan dan westernisasi. Sementara banyak pemikir, baik Muslim dan Kristen, membentuk nasionalisme Arab yang muncul dengan kemunculan Al-Nahda, Zaidan benar-benar figur pendiri gerakan itu. Jurji Zaidan dianggap salah satu panutan terbesar budaya Arab di pada masa renaisans modern bangsa itu.


3. Tawfik  Canaan

Tawfik  Canaan lahir di Beit Jala (Bethlehem) pada tanggal 24 September 1882, di masa Kekaisaran Utsmaniyah di Palestina (dinasti ini berkuasa di tanah Al-Quds sejak abad ke-16 dan berakhir setelah Perang Dunia I). Setelah sekolah dasar, sebagaimana ayahnya, ia menyelesaikan pendidikan menengah di seminari Kristen. Ketika ia berusia tujuh belas tahun ia pindah ke Beirut di Lebanon untuk belajar kedokteran, tetapi, setelah waktu yang singkat, ayahnya meninggal karena pneumonia sehingga Canaan  muda mulai memberikan les privat untuk membiayai studi, karena keluarganya tergolong miskin. Pada tanggal 28 Juni 1905, Canaan Lulus Dengan Pujian dari sekolah kedokteran, pidato kelulusannya berjudul Pengobatan Modern yang mengulas penggunaan medis dari serum, organ hewan, dan sinar-X. Selama musim panas tahun yang sama, tapi sebelum mendapat gelar dari universitasnya, rumah sakit Jerman di Yerusalem menawarkan sebuah pekerjaan sebagai asisten dokter di bawah pengawasan seorang ahli bedah yang juga direktur rumah sakit itu, yakni Dr. Gruendorf. Dalam periode ini ia bekerja berjam-jam untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah yang baik. Dokter sangat langka di Yerusalem pada awal abad kedua puluh, adalah hal lumrah bagi dokter untuk mencari bantuan dari rekan-rekan mereka dalam melaksanakan tugas spesifik atau bertindak sebagai administrator rumah sakit kala mereka absen untuk beristirahat. Ketika guru pengawasnya berangkat ke Jerman dengan hanya satu tahun pengalaman, ia mulai bekerja sebagai manajer di Rumah Sakit Yahudi-Jerman, meskipun ia adalah seorang dokter Palestina. Kemudian, Canaan merampungkan pendidikan sekolahnya yang mengkhususkan diri dalam kedokteran tropis dan mikrobiologi di Hamburg antara 1912 dan 1914, kala itu ia mulai juga mempelajari kondisi TBC, malaria dan maslah kesehatan di Palestina.

Selain pendidikan sekolah, ayahnya memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan diri Canaan , bahkan dia mengatakan: "Kami terbiasa untuk pergi dengan ayah dalam perjalanan pendek dan panjang di seluruh negeri guna berkenalan dengan Palestina dan rakyatnya. Berinteraksi dengan orang terus dipelihara dalam diri kami anak-anaknya, dan khususnya bagi saya, cinta yang utama adalah untuk rakyat serta negara. Perasaan atas loyalitas tak tergoyahkan tetap saya peluk sampai hari ini.” Canaan tahu betul mengenai alam Palestina, pada kenyataannya, dia tidak hanya seorang dokter, tetapi juga ahli etnografi. Ia belajar aspek yang berbeda dari negaranya seperti keyainan dan cerita rakyat Palestina, hingga menganalisis obat tradisional, keyakinan spiritual antara petani utamanya ‘Demonologi’ (kepercayaan pada dunia ruh), hingga ritual yang relevan dalam masalah perlindungan dan berkat di desa. 

Setelah menyelesaikan studinya dan memulai kehidupan profesionalnya, Canaan  gemar mengumpulkan dan mempelajari ‘Talisman’ (jimat) tradisional di kalangan rakyat yang dipercaya mampu menyembuhkan serta meindungi. Koleksi jimat-jimat milik Tawfik  Canaan berupa lebih dari 1400 buah dan sekarang sudah diabadikan di Bir Zeit University Ramallah (Palestina) .Selama hidupnya, Canaan  telah mengalami sejarah Palestina secara pribadi. Selama Perang Dunia I, Canaan menjadi perwira medis di tentara Utsmaniyah  dan direktur Bagian Malaria Biro Kesehatan Internasional. Bagian Malaria dalam biro itu adalah pusat penelitian medis  Internasional mengenai pemeriksaan mikroskopis yang ditetapkan oleh The German Society for Fighting Malaria untuk peningkatan kesehatan Palestina.

Pada akhir perang, Canaan  kembali pada aktifitas kedokteran dan pada tahun 1919 ia menjadi direktur Leprosarium Talbieh, satu-satunya rumah sakit yang menangani kusta di Suriah, Palestina dan Yordan. Kusta dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan, namun kemajuan dalam bidang bakteriologi dan pemeriksaan mikroskopis – di mana Canaan sendiri ikut serta – memungkinkan tidak hanya untuk mengobati penyakit itu, tapi untuk menyembuhkannya dengan menggunakan minyak chaulmoogra. Canaan mengatakan pada kenyataannya bahwa sejak tahun 1921, "Setiap kasus yang memiliki beberapa harapan pemulihan, terlepas dari seberapa kecil, ditangani dengan serius pada Rumah Sakit Kusta ini". Canaan menganalisis penyakit baik secara medis ataupun dalam konteks budaya, cara ini ia memberikan kontribusi untuk pemberantasannya. Di Palestina kusta telah menjadi penyakit yang ‘Biblikal’ dalam Al-Kitab, sehingga beberapa generasi di  Tanah Suci itu mengasosiasikan penyakit ini dengan isolasi dan pengucilan selama dua milenium.

Pada tanggal 3 September 1939 pihak berwenang Inggris menahan Canaan, hari dimana Inggris dan Perancis menyatakan perang terhadap Jerman. Dia muncul dua kali di pengadilan dan meminta untuk dilepaskan, namun Departemen Investigasi Kriminal berkeberatan dan ia dipenjarakan selama sembilan minggu di Akka. Istrinya yang bernama Margot Eilender ditangkap karena ia adalah seorang Jerman, dan begitu juga Badra (adik Canaan), yang dituduh "menghasut perempuan Arab melawan Inggris", keduanya dipenjarakan di Penjara Wanita Bethlehem bersama para tahanan kriminal Yahudi. Ketika periode penahanan mereka berakhir, mereka dikirim ke Wilhelma, daya Al-'Abbasiyyah (dekat Jaffa), salah satu koloni Jerman yang diubah menjadi kamp-kamp tahanan untuk orang Jerman Palestina. Istri Canaan dan Badra telah aktif secara politik sejak tahun 1936. Pada tahun 1934 Badra dan Margot mendirikan Komite Perempuan Arab di Yerusalem yang awalnya bersifat amal, tapi kemudian komite itu mulai bersifat politik di tahun 1936, yang dikenal sebagai tahun awal pemberontakan Palestina melawan otoritas mandat Inggris yang mendukung imigrasi sepihak orang Yahudi. Bahkan, Komite Perempuan Arab terlibat dalam kegiatan politik sembunyi-sembunyi sebelum tahun 1936, contohnya adalah penyelenggaraan konferensi umum untuk perempuan Palestina pada bulan Oktober 1929. pada bulan Mei tahun 1936, komite ini menjadi cukup kuat untuk mengajak publik melakukan pembangkangan sipil ataupun pemogokan. Badra berpartisipasi sebagai asisten sekretaris dalam delegasi Palestina untuk Konferensi Perempuan Timur (‘The Eastern Women's Conference’) yang digelar di Kairo pada pertengahan Oktober 1938 dalam mendukung Palestina.

     Canaan, istrinya, dan Barda bahkan dikenai tuduhan "propaganda untuk Hitler Jerman." Ini adalah bagian dari kebijakan Inggris untuk menghilangkan apa yang tersisa dari perlawanan Palestina serta simbol-simbolnya dengan dalih perang. Mulai awal pemberontakan 1936, Canaan jelas menyatakan penolakannya terhadap kebijakan Inggris dan Zionis, khususnya kebijakan pintu terbuka imigrasi Yahudi ke Palestina. Ia menentang Zionisme, seperti yang ditunjukkan dalam tanggapannya kepada sebuah artikel yang muncul di salah satu majalah medis Jerman pada tahun 1925, di mana penulis mengomentari pendirian Badan Kesehatan Yahudi dan Zionisme dan menyentuh secara singkat pada pendirian Palestina. Canaan menerbitkan tanggapannya di majalah yang sama, ia menulis sebuah artikel singkat untuk membantah klaim dari laporan pejabat AS "bahwa tingkat kematian para pengungsi [Palestina] tidak melewati batas normal di Timur Tengah."

Pada tanggal 22 Februari 1948, bom dan mortir menghantam beberapa rumah orang Arab di Al-Musrarah Quarter. Sangat mungkin bahwa pada akhir bulan anak-anak Canaan  meninggalkan rumah, tapi ia, istrinya, Badra dan Nora (adik ipar Canaan) tetap tinggal. Leila Mantoura (anak wanita Canaan) mengatakan bahwa Canaan  sempat menyetor koleksi jimat dan 250 ikon di organisasi internasional di Yerusalem Barat pada awal tahun yang sama. Dia mengatakan bahwa keluarganya meninggalkan rumah setelah menderita penyerangan langsung pada tanggal 9 Mei. Masing-masing dari merek secepatnya mengambil sebuah koper kecil dan memasuki Kota Tua di malam hari. Patriarch Ortodoks Yunani memberikan keluarga ini sebuah ruang di biara untuk tinggal sementara selama dua setengah tahun. 

Mantoura menuliskan peristiwa tragis ini dalam kehidupan keluarganya, 
"Ibu dan ayah akan pergi setiap hari ke puncak Tembok Yerusalem untuk melihat rumah mereka. Di sana mereka menyaksikan rumah itu sedang digeledah, bersama-sama dengan perpustakaan mereka yang tak ternilai dan penuh manuskrip, yang ibu jaga dengan bangganya. Mereka melihat furnitur berharga milik ibu yang dimuat ke dalam truk dan kemudian rumah mereka yang dibakar. " 

Canaan  kehilangan rumah, perpustakaan, dan tiga naskah yang siap untuk dipublikasi. Meskipun melewati peristiwa menyakitkan ini dan dalam keresahan atas serangan Zionis pada Kota Tua, Canaan melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter dan mengobati pasien di rumah barunya yang sederhana. Dalam kapasitasnya sebagai kepala ‘Arab Medical Society Palestine’ (AMSP), ia terus melaksanakan tugas untuk negaranya. AMSP mampu melestarikan keberadaan rumah sakit di Palestina – lagi-lagi setelah negosiasi yang sulit dengan Pemerintah Mandat Inggris – dengan mengambil alih sejumlah manajemen rumah sakit di Yerusalem dan Betlehem. Beberapa Rumah Sakit yang ditangani oleh  AMSP antara lain : Rumah Sakit Pusat, Rumah Sakit Hospice, Rumah Sakit Penyakit Infeksi dekat Beit Safafa, dan Rumah Sakit Jiwa di Bethlehem. Pada awal Mei 1948, AMSP resmi mengambil alih Rumah Sakit Pusat beserta fasilitas yang ada di kompleks Rusia (Al-Mascobiyyah), dan Rumah Sakit Hospice milk Austria. Rumah Sakit Pusat, yang diawasi oleh As'ad Bisharah, mulai menerima korban luka-luka akibat Perang Arab-Israel yang sedang berkecamuk. Namun, bendera Palang Merah yang terbang di atas bangunan tidak mencegah orang-orang Yahudi untuk menembaki dan menghancurkan sebagian besar sisi bangunan. Kemudian, milisi Yahudi menduduki rumah-rumah sekitarnya dan bagian dari rumah sakit sembari terus menembaki fasilitas medis untuk mencegah orang-orang yang memerlukan pertolongan hingga AMSP terpaksa mengungsi pada bulan Oktober 1948. The Austrian Hospice yang sebelumnya di bawah pengawasan pemerintah Mandat segera dikelola oleh AMSP Canaan – beserta bantuan dari dokter-dokter perawat, dan relawan – berusaha sebaik mungkin untuk merawat korban selama perang yang terjadi di Yerusalem.

Dalam masa penderitaan bagi kota Yerusalem yang disesaki oleh para pengungsi ‘Lutheran World Federation’ (LWF) menunjuk Canaan  sebagai manajer operasi medis. Canaan berkontribusi terhadap pembentukan klinik di Saint John Hospice, dekat Stasiun Kedelapan di Kota Tua, dan di 'Aizariyyeh, Hebron, Beit Jala, dan Taybeh (dekat Ramallah). Ia juga secara teratur berkeliling untuk mengunjungi klinik-klinik yang didirikan oleh LWF di daerah pedesaan. Pada tahun 1950, UNRWA dan LWF bersama-sama mendirikan Rumah Sakit Augusta Victoria di Bukit Zaitun. Canaan memainkan peran penting dalam pendirian Augusta Victoria, ia diangkat sebagai direktur medis sampai musim semi 1955.

Canaan  serta istrinya tidak bisa mengatasi kepedihan atas kepergian putra mereka yang bernama Theo (berprofesi sebagai seorang arsitek) yang meninggal pada tahun 1954 saat merenovasi sebuah monumen arkeologi di Jerash. Ketika Canaan pensiun, pada usia tujuh puluh lima, ia ditawari sebuah rumah oleh Rumah Sakit Augusta Victoria. Di sana ia tinggal bersama keluarganya dan terus menulis sampai kematiannya pada 15 Januari 1964 dan dimakamkan di Evangelical Lutheran Cemetery di Bethlehem, dekat Beit Jala tempat ia menghabiskan masa kecilnya.


4. Michel Aflaq 

Michel 'Aflaq ialah salah satu pendiri dari Ba'thisme yakni salah satu cabang dari paham Pan-Arabisme yang mempromosikan nasionalisme regional-etnis melalui sedikit corak sosialisme. Aflaq merupakan ideolog yang paling terkenal dalam perkembangan paham ini. Ia adalah seorang Kristen Ortodoks Yunani yang lahir dan menempuh pendidikan di Damaskus. Antara tahun 1929 dan 1933 ia belajar filsafat di Sorbonne (Prancis), di mana ia dipengaruhi oleh tulisan-tulisan Bergson. Di samping itu, dia tidak merahasiakan kekagumannya pada Sosialis-Nasional Jerman, ia melihat paham ini sebagai model untuk ide-idenya yang memberi sintesis antara nasionalisme dan sosialisme. Ketika berada di Paris, ia bertemu rekan senegaranya yakni Salah Al-Din (kadang ditulis ‘Salahuddin) Al-Bitar, mereka membina kontak dan kedekatan saat kembali ke Suriah, perkembangan hubungan itu nantinya membentuk Partai Ba'th di awal 1940-an. Kronologi yang tepat dari dasar pendirian partai ini masih diperdebatkan : Kaum Ba'th Suriah mengambil asal-usul ajaran dari tulisan-tulisan Zaki Al-Arsuzi (1900-1969), sedangkan Ba'th Irak mengklaim genealogi pemikiran dari 'Aflaq dan Bitar. 'Aflaq adalah sekretaris jenderal Partai Ba'th dalam sebagian besar hidupnya di kemudian hari, pertama antara 1954 dan 1965, kemudian lagi dari Februari 1968 sampai kematiannya. Di samping itu, ia memegang posisi Menteri Pendidikan Suriah selama beberapa bulan pada tahun 1949, dan bekerja sebagai guru sekolah menengah di tahun 1930-an dan 1940-an.

Selama tahun-tahun kekacauan awal 1950-an, saat nasionalisme Arab hanya cenderung menjadi ‘mode’ semata, Partai Ba'th mendapatkan pengikut yang cukup besar di Suriah, dan di beberapa cabang yang tersebar di Timur Tengah, terutama Irak. Partai ini dipahami sebagai instrumen yang mewadahi gagasan tentang ‘Dunia Arab akhirnya akan bersatu’. Publikasi serta deklarasinya merujuk kepada masing-masing negara Arab di mana cabang partai ini berada. Sayangnya untuk Partai Ba'th sendiri, meski memiliki antusiasme untuk persatuan, harus dikatakan dengan kecurigaan yang mendalam atas pengaruh komunisme, menyebabkan pola kepemimpinan yang membingungkan dalam kenyataan di lapangan. Pada tahun 1958 'Aflaq dan Bitar mengajak cabang Suriah untuk membubarkan diri sebagai ‘tiket’ dalam persatuan dengan Mesir. Pembubaran itu terjadi ketika sosok Gamal Abdul Nasser menjadi idola bangsa Arab setelah krisis Suez, Suriah-Mesir dipersatukan. Karena Nasser tidak siap untuk mentolerir beragamnya partai politik, maka cara yang ia tempuh adalah melakukan pembubaran terhadap gerakan politik di Suriah. Percobaan penyatuan ini runtuh dalam waktu tiga tahun. Pada tahun 1963 sekelompok perwira Angakatan Bersenjata Suriah yang berideologi Ba'thist merebut kekuasaan di Suriah, dan pada tahun 1966 sebuah kudeta internal dalam tubuh Partai Ba'th sedemikian efektif menyingkirkan 'Aflaq dan Bitar. 

Konsekuensi utama dari kejadian adalah ketegangan terbuka antara sayap Suriah dan Irak yang mana golongan Ba'thnya mendukung 'Aflaq, dalam prakteknya akan menandai pembentukan dua poros Ba'th, situasi pertentangan ini terus berlangsung sejak itu. 'Aflaq pergi ke Baghdad pada tahun 1968, dan tinggal di sana sebagai kepala tituler partai untuk sebagian besar sisa hidupnya. Pesan utama dari Ba'thism seperti yang muncul dalam tulisan Aflaq adalah pernyataan kesatuan yang mendasari bangsa Arab dari Atlantik (Afrika Utara) hingga ke wilayah Teluk. Orang-orang Arab adalah salah satu badan yang telah dipecah-belah oleh imperialisme dan Zionisme; Revivalisme (kelahiran kembali) mereka bisa terwujud hanya ketika mereka (Ba'th) bersatu melawan musuh yang mengelilingi mereka. Pembentukan ‘Negara Arab Bersatu’ melalui dengan ide Antagonisme, dengan tegas ditolaknya. ia menulis pada tahun 1959, “Ide antagonis tidak ada dengan sendirinya, karena ia akan terwujud melalui pembinasaan orang, yang benar-benar binasa."

'Aflaq, seorang Kristen, menegaskan bahwa Islam adalah ‘Pembentuk Primer' dari Arabisme, di mana orang-orang Kristen dan Muslim bisa berpartisipasi bersama-sama; 'Orang-orang Kristen Arab', ia menulis pada tahun 1943, “akan mengakui bahwa Islam adalah [bagian dari] budaya nasional mereka ... mereka akan menghargai Islam ... sebagai momen paling berharga dari Arabisme mereka.” 'Sosialisme' Ba'thisme dalam pandangan jauhnya adalah : “sosialisme sebagai suatu keharusan yang berasal dari kedalaman nasionalisme Arab itu sendiri', artinya sosialisme tersebut harus anti-komunis yang mewakili semangat Arab melawan komunisme-materialis,”  begitu Aflaq menulis pada tahun 1943 disamping penolakannya pada doktrin ‘perjuangan kelas’. 'Aflaq selalu digambarkan oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai sosok pertapa, pemalu, hidup sederhana dan bersahaja, dengan sedikit minat dalam urusan duniawi. Dia nampak seperti aktivis politik atau rezim untuk melaksanakan keinginan kuatnya dalam persatuan Arab serta mempengaruhi tokoh-tokoh seperti Nasser pada tahun 1958, Irak dengan Qasim dan 'Arif pada tahun yang sama. Ba'thisme dipakai Ali Salih Al-Sa'di sebagai pemimpin kelompok sempalan dari Ba'th Irak pada tahun 1963, dan akhirnya ke Saddam Husain, mungkin yang paling buruk dari mereka semua ; mereka itu menggunakan slogan-slogan Ba'thisme sebagai 'ideologi' dari rezimnya.

'Aflaq secara jelas menangkap imajinasi dari ‘Bangsa Arab Sadar Politik’ di banyak negara, terutama di periode 1946 sampai 1956. Masa itu ialah waktu ekspansi yang luar biasa dari partainya di Suriah dan di tempat lain. Frustasi pada nasionalisme, persatuan, dan pembebasan memenangkan banyak hati dan pikiran. Pada akhir 1960-an dan 1970-an, sayangnya, ketika partai-partai ini memperoleh kekuasaan di Suriah dan Irak, pertimbangan praktis kebijakan dan pemerintah terbelah dalam kalangan elit partai Ba'th, belumlagi generasi baru yang hadir dengan pandangan yang berbeda telah meninggalkan 'Aflaq pada status ketokohan yang kian meredup dari waktu ke waktu. 'Aflaq hidup menjalani akhir-akhir hidupnya dengan gelar ‘Sekretaris Jenderal Pan-Arab partai Ba'th Irak’, posisi yang seremonial menempatkan dia di atas Presiden Irak Saddam Hussein, meskipun kontribusi Aflaq untuk politik sangat minim. Dia tinggal di Baghdad dengan sedikit menutup diri dari publik sampai kesehatannya memburuk yang mengharuskannya pindah ke Paris guna melakukan pengobatan. Pada tanggal 10 Juni 1989, 'Aflaq menjalani operasi jantung tetapi tidak pernah mampu meninggalkan rumah sakit karena sekarat dua minggu kemudian. Pada saat kematiannya, pernyataan-pernyataan dikeluarkan oleh para pemimpin partai Ba'th bahwa 'Aflaq, "...memimpin massa rakyat selama puluhan tahun dalam perjuangan menentang imperialisme dan membumikan persatuan Arab." Tak jarang ada yang sering menyebutkan paham Ba’th dengan istilah ‘Aflaqi’ (Paham Aflaq), ia tetap dikenang meski ditentang, adakalanya pula dikhianati, Aflaq menempati posisi terhormat di dunia Arab yang mayoritas memeluk Islam.


5. Penutup

Zaidan, Canaan, dan Aflaq, ketiganya lahir serta berkarya di wilayah-wilayah sentrum peradaban Islam masa silam. Jurji Zaidan adalah seorang Kristen asal Lebanon yang berperan dalam gerakan Nahda, pengaruhnya cukup besar bagi dunia intelektual Timur Tengah, bukan hanya kepada Umat Kristen saja tetapi juga kepada kaum Muslim. Tawfik  Canaan yang seorang Protestan memang terdidik ala Jerman, namun di saat terjadi Perang Dunia I ia berdedikasi pada bidang kesehatan di dunia militer, tatkala Zionis Israel meluaskan hegemoninya iapun (termasuk Istri dan adiknya) dengan tegas menolak tindakan penjajahan dan migrasi sepihak Yahudi dalam semangat nasionalismenya. Michel Aflaq berhasil mensistesiskan antara gagasan nasionalisme-sosialisme namun tetap menghargai dan mengakui aspek particular Islam di Timur Tengah. Ketiga tokoh ini jauh lebih besar pengaruhnya, tidak sebatas menjadi seorang Gubernur pada sebuah provinsi, tidak pula melahirkan kontroversi dengan mengutip Al-Maidah Ayat 51. Bagi Muslim Indonesia hendaknya bisa menghargai eksistensi yang ‘beda’ sebagai salah satu kekayaan ciptaan Maha Kuasa, hal ini tidak bisa dilakukan dengan hanya melontarkan protes atas agama seseorang ataupun juga bersikap membela berlebihan sampai-sampai melotot dalam perdebatan di sebuah stasiun televisi.

Sumber

Benewick, Robert, Philip Green (Ed.), The Routledge Dictionary of Twentieth-Century Political Thinkers,New York : Routledge, 1992.

Nashef, Khaled, “Tawfik Canaan : His Life and Works”, dalam Jerusalem Quarterly Life 2002 Issue. 16.

Schwake, Norbert, “The Great War in Palestine : dr. Tawfiq Canaan’s Photographic Album”, dalam dalam Jerusalem Quarterly Life 2014 Issue. 56-57.

Serageldin, Ismail, "Jurji Zaidan : His Contributions to Modern Arab Thouht and Literature", The Library of Congress webcast of the Symposium June 5, 2012.

Author : Sapta Anugrah
Co-Author : Arafah Pramasto