Film Dokumenter Sejarah Sebagai Langkah Pengabadian Kekayaan Sejarah Sumatera Selatan


1. Pendahuluan : Dokumentasi Film bagi Kesejarahan Sumatera Selatan

      Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki sejarah yang panjang, dengan berbagai tinggalan. Mulai dari temuan fosil manusia purba di Gua Harimau Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), berlanjut masa praSriwijaya dengan temuan tiang-tiang bangunan, dan keramik di daerah Karang Agung Tengah, masa kedigdayaan Sriwijaya, diikuti masa Islam dengan Kesultanan Palembang, masa kolonial, masa Jepang dan era kemerdekaan. Sebagian dari sejarah dan tinggalannya itu belum tersentuh, baik oleh sejarawan (internasional, nasional, maupun lokal), padahal sebagai identitas bangsa, maka sejarah lokal sangat penting diangkat kepermukaan.

     Penulisan Sejarah Lokal bermanfaat untuk memahami dinamika masyarakat lokal dan keterkaitannya dengan lokalitas lain. Selain itu, untuk menelusuri asal-usul perkembangan, gejolak keresahan, serta perwujudan budaya lokal, sekaligus untuk memahami sumber daya tahan tradisi lokal.  Melalui sejarah lokal dapat dipahami pengetahuan, dan kearifan lokal yang telah tenggelam atau terbawa arus perubahan yang dipaksakan dari luar. Mempelajari sejarah local, maka akan meningkatkan wawasan kesejahteraan dari masing-masing kelompok, yang akhirnya akan memperluas pandangan tentang ”dunia” Indonesia.

Sejarah lokal yang sangat penting ini perlu diangkat dalam bentuk penelitian, pengkajian, pemaparan, dan sosialisasi. Sosilisasi dapat dilakukan melalui media cetak maupun elektronik. Salah satu media elektronik adalah film. Film yang dimaksud adalah Film Dokumenter. Jenis film ini mendokumentasikan kenyataan, fakta yang ada dalam kehidupan. Perlunya sejarah dalam bentuk film dokumenter tidak terlepas dari perkembangan zaman khususnya pesatnya perkembangan teknologi informasi di era globalisasi ini. Film dokumenter dapat berfungsi sebagai media pembelajaran, sekaligus pedokumentasian sejarah daerah Sumsel. Sebagai media, maka film dokumenter sangat efektif mendekatkan peserta didik dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Selain itu, film dokumenter juga menjadi media efektif dalam upaya memberikan pencerahan kepada semua pihak tentang sejarah lokal Sumatera Selatan yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umumnya. 
2. Mengarungi Sejarah Film Dokumenter
     Kita kiranya sudah tidak terlalu asing untuk berbicara tentang Film Dokumenter. Baik sejarahnya, ideologi estetikanya, perkembangannya, maupun hal-hal yang berkaitan dengan pemanfaatannya. Bahkan di antara kita mungkin sudah terbiasa bertindak sebagai pembuat Film Dokumenter. Setidaknya kalau bukan Film Dokumenter yang berlandaskan ideologi estetika berupa kaidah sinematografi, adalah Film Dokumenter dalam artian yang paling sederhana; yaitu Film yang mendokumentasikan kenyataan.

     Definisi lain mengatakan, Film Dokumenter adalah Film yang berpijak pada fakta. Ada juga yang menyebut, Film Dokumenter adalah sebuah rekaman gambar dan suara atas peristiwa yang benar – benar terjadi. Definisi Film Dokumenter memang tidak harus baku. Di Prancis, negara asal tokoh pencetus proyektor, yakni Lumiere Bersaudara, yang mempresentasikan temuannya pada tahun 1895 –tahun itu kemudian dianggap sebagai Hari Kelahiran Film dan Bioskop -- istilah Film Dokumenter diperuntukkan untuk semua film non-fiksi.

     Jadi jika berdasarkan definisi-definisi tadi, sejarah pembuatan film di dunia ini, justru dimulai dari Film Dokumenter. Orang merekam sebuah kejadian, lalu bisa dipertunjukkan dalam bentuk gambar bergerak  atau  gambar  hidup  atau  moving  image. Seperti kita tahu, film dalam artian sebagai karya sinematografi, merupakan perkembangan dari fotografi, Kesejarahanya tidak lepas dari peralatan pendukungnya, bernama kamera. Sebuah alat yang pertamakali ditemukan oleh Ilmuwan Ibnu Haitham. Fisikawan ini pertama kali menemukan Kamera Obscura dengan dasar kajian ilmu optik menggunakan bantuan energi cahaya matahari.

     Dari kamera yang menghasilkan gambar diam itu, pada tahun 1878 berlangsung eksperimen oleh Muybridge atas 16 gambar (frame) kuda yang berlari, yang ketika dibuat rangkaian, menciptakan kesan gerakan pada gambar tersebut. Gambar gerak kuda tersebut dianggap menjadi gambar gerak pertama di dunia.  Setelah penemuan gambar bergerak, inovasi kamera berkembang ketika Thomas Alfa Edison mengembangkan fungsi kamera gambar biasa menjadi kamera yang mampu merekam gambar gerak pada tahun 1888. Maka dimulailah era baru sinematografi  yang ditandai dengan diciptakannya sejenis film dokumenter singkat oleh Lumière Bersaudara. Film yang diakui sebagai sinema pertama di dunia tersebut diputar di  Paris, Prancis, dengan judul Workers Leaving the Lumière's Factory  pada 28 Desember 1895 yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya sinematografi. Film berdurasi beberapa detik itu menggambarkan bagaimana pekerja pabrik meninggalkan tempat kerja mereka saat pulang.

        Begitu pun dalam sejarah dimulainya ada pembuatan film di Indonesia, sekitar tahun 1905,  adalah berupa pembuatan film-film dokumenter. Dilakukan oleh orang-orang Eropa, kebanyakan atas pesanan Pemerintah Hindia Belanda, berupa film-film  yang menampilkan dokumentasi kehidupan masyarakat pribumi. Baru pada tahun 1926, ada pembuatan film cerita. Yaitu Loetoeng Kasaroeng di Jawa Barat. Jadi kalau hari ini kita menyelenggarakan  sebuah Workshop atau  Bengkel Kerja tentang Film Dokumenter dengan kaitan Sejarah, maka sesungguhnya kita sedang berada pada inti dari kesejarahan film itu sendiri.

       Film Dokumenter punya akar yang lebih kuat dan lama  – karena kesejarahannya – dibanding Film Cerita atau Fiksi. Memang kemudian, Film Dokumenter menjadi kalah pamor dibanding Film Cerita, tatkala film bergerak menjadi media industri seni hiburan. Istilah Film Dokumenter secara popular baru muncul tahun 1926 – bersamaan dengan lahirnya Film Cerita pertama di Indonesia Loetoeng Kasaroeng – ketika ada ulasan atas film berjudul Moana karya Robert Flaherty. Padahal orang ini, yang kemudian dianggap sebagai Bapak Film Dokumenter, pada tahun 1922 telah membuat film dokumenter berjudul  Nanook of the North (1922) yang menggambarkan kehidupan seorang Eskimo. Film tersebut sukses secara komersial, diminati penonton sama dengan film cerita.

     Sejak masa-masa itulah, film dokumenter menjadi jenis atau genre tersendiri yang memiliki eksistensi mandiri dan kuat  sebagaimana Film Cerita. Apalagi semasa Perang Dunia II, sejumlah negara memanfaatkan film-film dokumenter sebagai media propaganda yang mendukung  semangat perang. Munculnya teknologi televisi membuat film dokumenter memperoleh media pertunjukan/penayangan semakin banyak, meskipun lahan di teater/bioskop semakin kurang populer.

     Di Indonesia, semasa pendudukan Jepang, film dokumenter mendapat perhatian yang serius, juga dijadikan sebagai media propaganda untuk kejayaan Asia Timur Raya dengan Jepang sebagai Saudara Tua. Sebelumnya. film-film dokumenter yang diproduksi kolonial Belanda, juga bertujuan untuk propaganda. Dalam hal ini film dokumenter itu bisa menjadi media pem¬belajaran yang bersifat pence¬rahan, tapi juga bisa mem-berikan pemahaman yang justru manipulatif. Misalnya, dari tujuan untuk memberikan visi baru atau pemahaman baru, tetapi sebenarnya film dokumentar bisa jadi alat propaganda untuk me¬manipulasi fakta yang ada.

     Memasuki dekade 1950-1960,  dengan ditemukannya teknologi kamera yang lebih praktis, film dokumenter semakin banyak dibuat  dengan berbagai variasinya, serta lebih memasyarakat.  Termasuk munculnya istilah Dokudrama untuk menyebut jenis film dokumenter yang disertai penggambaran fakta melalui penyutradaraan dan peragaan. Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar film dokumenter, yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah ataupun belum pernah terjadi.

       Di Zaman Orde Lama film dokumenter masih bersifat propaganda, tapi untuk tujuan atau membangun nasionalisme di Indonesia. Di Orde Baru, film dokumenter juga masih bersifat propaganda,  dengan kemasan faktual, seperti film seja¬rah, film flo¬ra dan fauna, film penyuluhan, dan kisah-kisah sukses pembangunan. Berikutnya Film Dokumenter dina¬mis, antara lain mewujud dalam bentuk film advokasi sosial-politik, film seni dan ekspe¬rimental, film perjalanan dan petualangan, film komunitas, terutama sebagai media alternatif di bidang seni audio-visual bagi anak muda. Film dokumenter menjadi genre seni audio visual yang memiliki sifat demokratis sekaligus personal.

       Di masa  kini film dokumenter memberi kesempatan kepada semua orang untuk mengekspresikan diri, dari yang sifatnya on-the spot sehingga lebih dalam bentuk film berita,citizen jurnalisme,  atau sampai berupa film yang terkemas dalam kaidah sinematografi yang memenuhi persyaratan industri. Terlepas film dokumenter masih sering diangap sebagai proyek rugi, namun manfaat Film Dokumenter lebih luas dari sekadar media industri yang pijakannya komersial. Apalagi dikaitkan dengan Sejarah, maka Film Dokumenter menjadi media yang efektif dalam mendokumentasi sejarah, menyampaikan kandungan nilai-nilai sejarah,serta memberi kemudahan bagi penelitian, pembelajaran, dan sebagainya, yang berkaitan dengan sejarah.

       Kita sudah sama-sama paham, film memiliki daya pengaruh luar biasa terhadap kehidupan kita, perilaku  masyarakat,  kebudayaan bangsa, martabat dan ketahanan Negara. Tidak heran bila sejumlah negara di era globalisasi ini menjadikan film sebagai menu utama dari kemasan yang disebut Budaya Pop, lalu mereka melakukan apa yang disebut Invasi Gerakan Budaya Pop Ke Negara lain. Jepang dengan J-Pop, Korea dengan K-Pop,  begitu pun Cina, India, Iran, Prancis, Thailand,  dan sejumlah negara lain. Tentu saja paling agresif dan sekarang unggul adalah Amerika dengan Hollywoodnya. Film menjadi pengganti nuklir untuk melakukan invasi. Agar kita dapat membuat film dokumenter secara independen-individual, mari kita pelajari beberapa tahap pembuatannya dengan langkah awal yakni dengan menuliskan ide yang ada dalam benak kita.

3. Perancangan dan Penulisan Film Dokumenter
     Film Dokumenter adalah film yang merepresentasikan kenyataan dan menampilkan kembali fakta-fakta yang ada dalam kehidupan. Dalam film dokumenter semua harus real (nyata). Genre Dokumenter antara lain : 
1. Laporan perjalanan (Travel documentary / adventures film) contoh : Jejak Petualang, Nanook of The North

2.Sejarah, contoh : National Geografic World War II,

3.Biografi, contoh : The Day after Trinity (tentang Robert Oppenheimer yang berhasil membuat bom atom),

4.Nostalgia (Kilas balik), contoh : The act of Killing,

5.Rekonstruksi, contoh : adegan kecelakaan pesawat, perdagangan narkoba,

6.Investigasi, digunakan untuk mengangkat sebuah peristiwa lebih mendalam, Contoh : laporan investigasi tentang formalin dalam jajanan SD,

7.Perbandingan dan Kontradiksi, contoh : Sicko (Michael Moore), film yang membandingkan 
    pelayanan kesehatan di Amerika dengan Inggris, Kanada dan Kuba,

8.Ilmu Pengetahuan (Sains dan Instruksional),contoh : Animal Planet & How to avoid 
    HIV,

9.Diary (Buku harian) : sifatnya subjektif, contoh : Babies,

10.Musik, contoh : Don’t Look Back, tentang penyanyi Bob Dylan dengan segala aktifitas 
      bermusiknya,

11.Association Picture Story : (pendekatan eksperimental) menggabungkan gambar-gambar 
       yang tidak berhubungan hingga penonton menangkap sendiri maknanya di benak 
       mereka, contoh : A man with the movie camera,

12. Dokudrama (*Penggabungan genre disebut mix-genre) atau penafsiran ulang    dari 
       kejadian nyata, contoh : G30S/PKI.

       Film dokumenter membutuhkan skenario yang berfungsi sebagai “penunjuk arah” cerita. Dari mana akan memulai cerita dan bagaimana mengakhirinya, menjadi sudut pandang yang digunakan serta petunjuk untuk proses editing. Pembuatan film dokumenter juga mempunyai perbedaan dengan tahap pembuatan film fiksi :

- Fiksi : Pengembangan ide – riset cerita dan karakter - skenario – produksi – editing.
- Dokumenter : Riset (pengumpulan data) – pengembangan ide – skenario – produksi – editing.

       FIlm dokumenter memiliki sebuah kebutuhan yang urgen untuk dapat menghasilkan karya yang baik, yakni sejak langkah pertama telah dibutuhkan riset yang komprehensif. Sedangkan hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan riset ialah :

-Buat terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab melalui film ini
-Tentukan narasumber
-Buat jadwal kunjungan ke narasumber
-Kumpulkan seluruh data dan keterangan yang dibutuhkan dari narasumber dan sumber lain
Setelah memilih genre, tentukan ide pokok dan tema dari hasil riset :
-Ide Pokok : satu kalimat perenungan yang merupakan inti permasalahan yang akan diangkat
- Tema : Kalimat yang menjelaskan apa yang dilakukan subjek terhadap permasalahan tersebut.

Contoh Ide Pokok dan Tema

-Ide pokok : Kekayaan yang mulai dilupakan
- Tema   : Kain songket yang kini dianggap kuno oleh warga kota Palembang 
Keterangan :
- Kain songket : objek
- kini : waktu penceritaan
- dianggap kuno : predikat
- Oleh warga kota Palembang : subjek

     Setelah itu kita harus membuat sinopsis yang berfungsi memberikan pondasi cerita pada film yang ingin dibuat (pengembangan dari ide pokok dan tema), contohnya :
-Ide pokok : kekayaan yang mulai dilupakan
-Tema : Kain songket yang kini dianggap kuno oleh warga kota Palembang

        Dalam tahap pembuatan sinopsis, tulis secara singkat bagaimana film akan dimulai, berjalan dan berakhir. Film bisa dibagi menjadi beberapa segment.Masukan secara singkat adegan-adegan yang akan dibuat atau direkam. Tulis juga narasumber-narasumber yang akan didatangi.
Kemudian baru kita membuat skenario yang isinya ialah memperjelas seluruh adegan bahkan beserta suara atau backsound yang akan dibubuhkan. Masukkan data-data yang akan mendukung serta para narasumber. Tuliskan daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada narasumber. Jika ingin menambahkan gambar milik orang lain, tulis juga disini. Terakhir tulislah narasi.

     Sesudah merancang skenario kita harus menetapkan rencana teknis pelaksanaan 'shooting'dengan membuat jadwal dengan berkonsentrasi pada melakukan pemilahan sesuai lokasi yang berdekatan untuk diambil per-hari yang kemudian menjumlahkan berapa hari yang dibutuhkan untuk produksi, tentukan juga siapa saja kru yang akan turun, dan setelah produksi, buat jadwal proses editing dan mixing.

     Bagian terakhir adalah 'Finishing Script', atau proses penyelesaian naskah dengan tujuan untuk memperindah dan menyempurnakan film yang akan dibuat. Tentukan lagu apa saja yang akan mengisi film ini (pastikan mendapat izin dari si pemilik lagu). Jika ada gambar yang perlu diambil dari pihak lain tentukan jadwalnya, atau jika perlu merekonstruksi adegan buat skenario dan persiapan produksinya serta jangan lupa untuk menghitung budget yang dibutuhkan, seperti :
- Transportasi
- Konsumsi
- Logistik
- Royalti
- Upah kru

4. Type Of Shot dan Sudut  Pengambilan Gambar [Camera Angle]
Type of Shot dalam pengertian karya audio visual berati bentuk penciptaan frame berdasarkan ukuran yang menceritakan suasana atau suatu peristiwa dalam alur cerita. Pernyataan ini menegaskan, bahwa kamera yang dipakai dalam membidik obyek atau dengan istlah lebih populer “Obyek dalam View Camera” itu, menghasilkan bentuk frame atau ukuran frame dari suatu peristiwa yang ingin divisualisasikan kepada pemirsa.

Selain dari tipe shot, kita juga harus mengetahui sudut-sudut pengambilan gambar, yakni : 

a. Bird Eye View.
Pengambilan gambar  yang dilakukan dari atas di ketinggian tertentu sehingga memperlihatkan lingkungan yang sedemikian luas dengan benda-benda lain yang tampak di bawah begitu kecil. Pengambilan gambar dengan cara ini biasanya menggunakan helicopter maupun dari gedung –gedung tinggi. Kalau anda suka melihat film-film Hollywood, tentunya teknik yang ini tidak asing lagi bagi anda.

b. High Angle.
Teknik pengambilan gambarnya dengan sudut pengambilan gambar tepat diatas objek, pengambilan gambar yang seperti ini memiliki arti  yang dramatic yaitu kecil atau kerdil.

c. Low Angle
Teknik pengambilan gambar ini mengambil gambar dari bawah objek, sudut pengambilan gambar ini merupakan kebalikan dari high angle. Kesan yang di timbulkan yaitu keagungan atau kejayaan. Biasanya teknik ini sering digunakan untuk membuat sebuah karakater monster atau manusia raksasa.

d. Eye Level
Pengambilan gambar ini dengan sudut pandang sejajar dengan mata objek,tidak ada kesan dramatic tertentu yang di dapat dari eye level ini, yang ada hanya memperlihatkan pandangan mata seseorang yang berdiri.

e. Frog Level.
Sudut pengambilan ini di ambil sejajar dengan permukaan tempat objek menjadi sangat besar.

Sumber : http://visual-memory.co.uk/daniel/Documents/short/Images/angles.jpg
5. Pergerakan Kamera / Camera Movement & Mobile Framing

a.Zooming [In/out]
Gerakan yang dilakukan oleh lensa cameramen dekat maupun menjauhi objek,gerakan ini merupakan fasilitas yang di sediakan oleh kamera video, dan cameramen hanya mengoperasikannya saja.

b.Panning [left/Right].
Yang di maksud gerakan panning yakni kamera bergerak dari tengah ke kanan atau dari tengahkekiri,namun bukan kameranya yang bergerak tapi tripodnya  yang bergerak sesuai arah yang di inginkan.

c.Tilting [Up/Down].
Gerakan Tilting  yaitu gerakan keatas dan kebawah, masih menggunakan tripod sebagai alat bantu agar hasil gambar yang di dapatkan memuaskan dan stabil.

d.Dolly [In/Out].
Gerakan yang di lakukan yaitu gerakan maju-mundur, hamper sama dengan gerakan  Zooming  namun pada Dolly yang bergerak adalah tripod yang telah diberi roda dengan cara mendorong tripod maju atau pun menariknya mundur.

e. Trucking [Left/Right]
Sama seperti gerakan dolly, yang berbeda gerakan ini menuju ke samping kanan dan kiri danbiasanya memakai tambahan Rigging Rel.

f.Follow.
Pengambilan gambar dilakukan dengan cara mengikuti objek dalam bergerak searah.


6. Editing Film Dokumenter
     Mengedit dokumenter, sebenarnya seperti bermain PUZZLE, sehingga perlu kecermatan dan ketepatan dalam penempatan setiap shotnya

1. SINKRONISASI 
Sinkronisasi gambar dan suara agar bersesuaian.

2. SCREENING RUSHES / PREVIEW MATERI
Tahap ini pada dasarnya secara fundamental ialah karena seorang pembuat film harus menonton seluruh materi yang akan diedit. 

3. NG CUTTING & SELECTION SHOT
Kita lakukan 'LOGGING' yaitu pencatatan materi dan pemilihan shot yang akan kita gunakan dalam film kita.Dalam mengedit DOKUMENTER, umumnya sebelum melakukan tahap selanjutnya (Assembly) biasanya akan dibuat dulu EDITING SCRIPT 

4. ASSEMBLY
Pada sebuah film, 'cerita' diartikan sebagai pengurutan seluruh shot yang ada secara numerik (berdasarkan Nomor` Slate), namun dalam dokumenter lebih cenderung mengumpulkan dalam 1 scene atau 1 sequence shot-shot yang akan kita edit.

5. ROUGH CUT
Ketika kita sudah memotong shot-shot dalam film, umumnya masih bisa berubah baik cutting, struktur maupun plotnya.

6. FINE CUT & TRIMMING
Apabila kita sudah memotong shot-shot dalam film sesuai dengan apa yang kita harapkan, kemudian  dilakukan penajaman (trimming). kalaupun ada perubahan jumlahnya sedikit.

7. FINAL EDIT / PICTURE LOCK
Hasil Akhir Dari Sebuah Editing, Sebenarnya Istilah Off-Line Secara Tepat Adalah Pada Tahapan Ini. SAMPAI PADA TAHAP INI SEMUA PEMOTONGAN MASIH MENGGUNAKAN 
CUT TO CUT.

8. ON - LINE
Yang dimaksud On-Line adalah penambahan optical effect (dissolve, fade & wipe) dan penambahan visual effect & animasi.

7. Penutup
     Sekelumit informasi mengenai sejarah, urgensi, serta teknik pembuatan film dokumenter diharapkan akan mampu untuk dipakai oleh masyarakat luas – utamanya yang btinggal di Sumatera Selatan sebagai provinsi yang kaya akan kesejarahan – dalam  menghargai pengetahuan kesejarahan yang mereka miliki. Diharapkan masyarakat mampu mengaplikasikan  kecintaan  akan sejarah dalam bentuk media kreatif  informatif dan menarik yaitu berbentuk ‘Film Dokumenter’, sehingga materi sejarah menjadi menarik dan mampu mengemban misinya sebagai pembelajaran yang membuat manusia bijak dalam menjalani kehidupan. Untuk realisasi akhirnya ialah  mampu menjadi manusia Indonesia yang bertanggung jawab dan rela berkorban dalam upaya mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sumber 
Workshop Pembuatan Film Dokumenter Sejarah Sumatera Selatan Kerjasama Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumatera Selatan dan Program Studi Pendidikan FKIP Universitas Sriwijaya  Aula FKIP Unsri Bukit Besar Palembang 15 Agustus 2015.
Editor : Sapta Anugrah & Arafah Pramasto



Comments