Sunday, December 4, 2016

Kala Hari Telah Gelap : Gemerlap Hiburan Malam Hingga Kelamnya Prostitusi

1. Pendahuluan 

Michael Fouchoult  berpandangan bahwa Tubuh merupakan tempat definisi-definisi yang menyandang kekuasaan tentang normalitas sosial dan seksual, sedemikian juga ia menjelaskan bahwa pada awal abad ke-17 kita bisa menemukan berbagai kiat yang menjurus, kata-kata polos, pelanggaran norma yang terang-terangan, aurat yang dipertontonkan, anak-anak bugil yang lalu lalang tanpa rasa malu ataupun menimbulkan reaksi orang dewasa. Konon pada waktu itu masih berlaku keterbukaan tertentu, kegiatan seksual tidak ditutup-tutupi, kata-kata bernada dan berbau seks dilontarkan tanpa keraguan, dan berbagai hal yang menyangkut seks tidak disamarkan. Ketika itu yang haram dianggap halal, ukuran untuk tingkah laku vulgar, jorok, tidak santun memiliki posisi yang sangat longgar dan bebas. Masalah kehidupan malam beserta sensasi - sekaligus kontroversinya - justru tak lepas dari lingkup kajian dunia anak-anak muda. 



Kepemudaan merupakan suatau fase perkembangan dalam periode pertumbuhan biologis seseorang yang bersifat seketika, dan sekali waktu akan hilang dengan sendirinya sejalan dengan hukum biologis itu sendiri. Optimisme biologis – atau mungkin lebih tepat barang kali bila di sebut suatu sikap fatalisme pedagogis – mengenai pemuda dan kepemudaan masih menjadi literatur pedagogik dan psikologis pemuda. Menurut pendekatan yang klasik ini, pemuda di anggap sebagai suatu kelompok yang terbuang dari kawanan manusia yang “normal” dengan subkultur sendiri. Mulcullah istilah-istilah seram mengenai pemuda sebagai suatu kelompok yang mempunyai aspirasi sendiri yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat, atau lebih tepat aspirasi orang tua atau generasi tua. Selanjutnya muncullah persoalan-persoalan frustasi dan kecemasan pemuda karena keinginan-keinginan mereka tidak sejalan dengan kenyataan (keinginan generasi tua).

Dewasa ini, aktivitas malam telah menjadi bagian yang sangat penting dalam konsumsi hidup anak muda. Demi menghilangkan kejenuhan atau justru telah menjadi sebuah kebiasaan, mendatangi tempat hiburan malam tentunya membawa kepuasan tersendiri bagi para penikmatnya. Kehidupan dalam interaksi dunia malam seolah sudah menjadi sebuah 'anti-tesis' terhadap tata laku dinamika hidup yang normal di siang hari. Ibaratkan memakai dikotomi 'gelap-terang', seolah hiburan malam mewakili sebuah penggulingan atas tata nilai dalam laku normal yang 'melawan' ketabuan. Banyak sisi tentunya, mulai dari batasan agama hingga kepantasan dalam asumsi masyarakat, hampir semua menunjukkan yang mengamini bahwa dunia hiburan malam adalah 'deviasi' (penyimpangan) daripada norma-norma yang ada. 

Di masa kini bahkan mulai timbul sebuah kesan yang merebak bahwa hiburan malam dan prostitusi berbagai jenis sama sekali tidak bisa dilepaskan, meskipun untuk masalah ini, pelacuran dapat dilakukan kapanpun hingga di luar konteks-kondisional hiburan malam. Untuk itu, ditengah kian maraknya beragam kontroversi ataupun ‘penghakiman’ yang lumrah tentang kehidupan hiburan malam yang fenomenal, agaknya semua itu akan kurang berarti jika kita tidak berusaha melihat kembali awal kemunculannya serta berbagai kondisi yang melatarbelakanginya. Bukan tanpa arti maksud dari pemikiran yang sedemikian itu, apabila perlu diterapkan kepada setiap individu, entah yang setuju, tidak setuju, ataupun acuh, semuanya bisa mengambil makna tentang keberadaan hiburan malam ataupun prostitusi. Dua masalah yang kontroversial juga fenomenal ini ternyata mempunyai akar yang panjang jauh ke belakang, dimana pada masa yang telah lalu keduanya telah eksis meski dalam bentuk yang sedikit banyak berbeda dengan di masa kini.  

2. Sekelumit Kisah Kemunculan Tempat Hiburan Modern

Mengingat kata 'hiburan', tentunya terkait dengan perasaan senang serta berbagai fasilitas yang membangkitkan kesenangan itu sendiri. Dalam sejarah Indonesia berabad-abad silam, bahkan sebelum masuknya pengaruh budaya barat, juga ditemukan jenis hiburan yang diselenggarakan pada malam hari, salah satu contoh yang paling riil dan di dalamnya menampilkan berbagai macam hiburan serta turut terjadi kagiatan ekonomi dalam jenis hiburan itu tentulah 'Pasar Malam'.Pasar Malam awalnya merupakan pesta adat Jawa yang terkenal dan berlangsung seminggu. Pasar Malam ini bertepatan upacara Grebeg dan dirayakan di malam hari. Suasana penuh dengan keramaian, terutama anak-anak senang sekali melihat hiburan pasar malam seperti lonceng, balon, kincir angin dan lain-lain. Perkembangan Pasar Malam yang sedemikian pesat pernah terjadi di Malang, Jawa Timur, bahkan pada era kolonial. 

Di Kota Malang Pasar Malam pada awalnya merupakan pasar partikelir yang berlangsung lebih dari 2 malam, pasar ini sudah ada sebelum tahun 1922. Pada tahun 1922 Pasar Malam dikenal dengan nama Pasar Derma yang dipegang oleh lembaga etnis Tionghoa, inti acara pada Pasar Malam sangat beragam mulai dari pertandingan kembang api, seni beladiri, opera, ketoprak, komedian, sampai tari-tarian, dan didukung dengan tersedianya beberapa stan makanan. Sebagian dari hasil keuntungan dari Pasar Malam dibagi pada sekolah miskin, madrasah, sekolah Cina, lembaga kesehatan, dan lembaga sosial.Dengan konsep Pasar Malem 2 in 1 yaitu menikmati hiburan sambil beramal, pasar ini selalu ramai tiap tahunnya. Biasanya pada pembukaan Pasar Malam dihadiri juga oleh Burgemeester, Regent dan pejabat militer setempat.Penyelenggaraan Pasar Malam pada era kolonial menjadi kecenderungan umum, selain di Gemeente Malang, Pasar Malam juga banyak diadakan dibanyak kota-kota dan kabupaten di Jawa. Selain untuk mendapatkan pemasukan pada Gemeente, Pasar Malam juga digunakan sebagai standar gaya hidup modern bagi beberapa wilayah, seperti yang diadakan di Jember, Cirebon, Pasuruan dan Probolinggo, sedimikian ini yang terungkap dalam Surat kabar De Indishe Courant 28 Oktober 1929 ”Passar-Malem".

Walaupun dengan aspek tradisional di dalamnya, ternyata pasar malam juga menjadi tempat yang memungkinkan untuk terjadinya beberapa tindak yang dianggap melawan moral ataupun bahkan yang kriminal sekalipun. Menurut surat kabar De Indishe Courant 20 November 1934” Wat men langs den weg vond”, banyak faktor yang mempengaruhi tingginya angka kriminalitas dan pembunuhan di area pasar salah satunya disebabkan oleh adanya perjudian atau taruhan dan prostitusi : merupakan masalah biasanya muncul disetiap kota, dimana ada keramaian, hiburan dan peredaran uang disana bisa kita temui masalah tersebut. Selain daripada itu juga terjadi pembunuhan di Malang dalam surat kabar De Indische Courant 11 April 1932, bahwa terjadi pembunuhan di belakang pasar, korban etnis cina bernama Song Boen Koei yang dibunuh oleh 4 teman se-etnisnya. Pembunuhan yang bermotif saling ejek yang kemudian berujung pada dendam pada Song Boen Koei dan merenggut nyawanya, korban dibunuh oleh 4 pelaku dengan pisau yang langsung menikam korban. Ke empat pelaku akan dijatuhi hukuman yang sama.

Setelah melihat bagaimana sebuah bentuk hiburan tradisional yang diselenggarakan pada malam hari, kita juga harus mengetahui bagaimana perkembangan dunia hiburan malam yang terpengaruh oleh budaya Barat. Hiburan jenis ini pada awalnya tumbuh di kota-kota besar Hindia Belanda yang maju, salah satunya tentu Surabaya yang dikenal sebagai kota dagang. Hiburan malam di Surabaya sudah ada sejak masa pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1845. Kondisi tersebut di atas semakin berkembang ketika kedatangan bangsa Eropa yang juga menjadi penyebab berkembangnya hiburan dunia malam di Surabaya. Pada zaman kolonial tersebut mengunjungi dunia malam serta menikmati minuman dan berdansa merupakan salah satu hiburan yang sangat disukai yang di tandai dengan pembangunan gedung yang digunakan untuk berkumpul kelompok-kelompok orang kaya sebagai tempat hiburan dan juga berjudi yang diberi nama societiet. Di gedung ini orang-orang yang mempunyai banyak uang dan orang-orang Asing berkumpul untuk melakukan berdansa serta minum-minuman bir dan wine sebagai budaya masyarakat Eropa.



Pengaruh dari kehidupan malam ala Eropa mengalami penguatan setelah kejatuhan Orde Lama bersama lengsernya Bung Karno. Bapak Bangsa Indonesia ini dikenal sebagai seseorang yang giat menanamkan penemuan identitas diri bangsa. Ia terkenal sebagai seorang pemimpin yang tidak menyukai pembaratan secara keterlaluan, termasuk dalam masalah musik. Salah satu pidatonya berbunyi :

"Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik, kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan?. Kenapa di kalangan engkau masih banyak yang masih Rock ‘n’ Roll-an, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak ngik ngek, dan lain-lain sebagainya lagi?"


Seiring dengan kondisi yang terus meredupkan rezim Orde Lama, dimana ketidaksetujuan atas musik barat yang sedemikian menunjukkan signifikansi perkembangan kehidupan malam ala barat, corak hiburan yag lumrah kita kenal saat ini mulai mengambil ‘starting point’ untuk lahir dan berkembang. Jakarta, ibukota negara, sejak 28 April 1966 dipimpin oleh Ali Sadikin yang diangkat oleh Bung Karno sendiri. Setelah proklamator RI itu kehilangan kekuasaannya pada 1967, langkah modernisasi-westernisasi terjadi di bawah Gubernur Ali Sadikin.  Ali Sadikin yang saat itu mengizinkan pembukaan tempat perjudian dan hiburan malam lainnya seperti night club (dalam hal ini adalah bar) dan massage parlour atau panti pijat yang sebelumnya jarang dikenal oleh masyarakat Jakarta. Menurut Ali Sadikin, ini merupakan syarat dan keharusan Jakarta untuk menjadi sebuah kota metropolitan. Perizinan persetujuan yang jelas dari sang Gubernur untuk memfasilitasi para penikmat hiburan malam di Jakarta, menjadi daya tarik bagi para penikmatnya. Tidak ada gangguan dari Polisi, tidak ada hansip yang mengintip, tidak ada diskriminasi, dan tidak ada anak kecil yang mengganggu.

Dalam tempat hiburan malam seperti night club, biasanya disediakan pramuria yang kini lebih dikenal dengan sebutan hostés. Ada beberapa night club yang terkenal pada saat itu, di antaranya adalah Lokasari. Lokasari yang dulu bernama Prinsen Park memang sengaja dijadikan tempat hiburan malam oleh pemerintah daerah. Di lokasi itu berdiri dan berjejer berbagai jenis hiburan malam yang diperuntukan khusus untuk kaum laki-laki yang ingin membuang uang mereka. Di Lokasari juga disediakan bioskop serta beberapa tempat bermain biliar (bola sodok). Setelah berdirinya Lokasari, banyak tumbuh hiburan malam lainnya,tempat hiburan malam ini banyak dibuka di daerah ramai atau daerah bisnis komersial seperti di daerah Kota, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Pasar Baru, Jalan Sabang, Jalan Blora, Blok M, Taman Ria Ancol Di kawasan sekitar Hayam Wuruk dan Gajah Mada dibangun night club dan bar Blue Moon, Blue Ocean100,Sky Room, dan Appolo. 

Selain night club, hiburan malam yang ikut meramaikan hangatnya malam di Jakarta adalah massage parlour atau ‘panti pijat’. Para pengusaha massage parlour biasanya menaruh tulisan yang besar dan warnawarni di depan etalasenya dengan tulisan Thai Massage (pijat ala Bangkok) dan Turkish Bath. Ada bermacam-macam pemijatan yang diberikan kepada pelanggannya, di antaranya yaitu body massage dan pijat komplit. Tempat pijat seperti ini biasanya hanya di etalasenya saja yang dipenuhi lampu warnawarni, saat memasuk ruang pijatnya, suasana dengan lampu redup disajikan oleh pemilik pemijatan itu. Di lobi ruang pijat itu disediakan foto-foto dari perempuan pemijat yang dipajang berjejer di meja resepsionis. Ada juga yang memperbolehkan pengunjungnya memilih dengan cara melihat para pemijat wanita yang sedang duduk bercengkrama dengan pakaian yang serba minim di dalam sebuah ruangan yang tembus kaca seperti akuarium. 

Ahmad Fahmy, laki-laki keturunan Arab, anak dari seorang pengusaha tekstil di Tanah Abang, adalah salah satu pengusaha muda yang melihat peluang bisnis hiburan malam di Jakarta, keterbatasan tempat bagi mereka, anak muda Jakarta untuk menikmati malam di Jakarta, menjadi alasan bagi Fahmy mendirikan Diskotik Tanamur, yang merupakan salah satu diskotik pertama di Jakarta, bahkan pertama di kawasan Asia Tenggara. Diskotik Tanamur yang berdiri pada tanggal 12 Desember 1970.  Sebutan untuk disko / diskotik pun masih terasa asing di telinga masyarakat Jakarta. Bahkan ketika pertama kalinya Fahmy ingin mengurus perizinan Diskotik Tanamur, pejabat setempat yang mengurus perizinan diskotik menanyakan kepada Fahmy apa itu diskotik, “Disko itu apa?’ Tanya si pejabat. “Ohh. Jadi dikasih pelat begitu”. Fahmy akhirnya menjelaskan kepada pejabat tersebut bahwa diskotik secara teknis adalah tempat yang akan memutarkan musik dari pelat atau piringan hitam. Bahkan dalam instruksi Gubernur DKI Jakarta, Bang Ali, tercantumkan istilah tersebut dalam rangka memetropolitankan Jakarta dengan cara sarana kehidupan internasional.



Bagi mereka yang suka dengan yang rapi dan yang serba resmi, pada awalnya pasti akan kaget, karena Tanamur sekilas terlihat seperti gudang, di dalamnya terdapat tiang listrik yang lengkap dengan lilitan kabel-kabel, layang-layang dan tempat duduknya yang ala cowboy, serta kepala rusa yang dipajang pada dinding bangunan Tanamur. Dekorasi seperti itu memberikan kesan Tanamur seperti kedai kopi dan kafé di daerah wild west. Fahmy dan Tanamur memang mengandalkan kesederhanaan, dekorasi Tanamur semua dirancang sendiri oleh Fahmy. Fahmy tidak membutuhkan interior yang mewah, menurutnya hal ini berhubungan dengan psikologis pengunjung Tanamur, “Saya ingin memberikan porsi kepada pengunjung untuk merasa besar dan hadir di tempat ini secara utuh. Biar semuanya serba mewah, pengunjung akan merasa kecil”. Terdapat juga sebuah kerangkeng besi untuk ‘Agogo Girl’ menjamu para penikmat disko di Tanamur. Saat memasuki Tanamur, banyak para pengunjung yang tidak menyangka, tempat itu adalah tempat untuk memanjakan diri mereka berdansa-dansi. Saat memasuki pintu masuk pengunjung harus melewati tangga utama yang menurun kebawah, tepat setelah menuruni tangga utama, terdapat tempat atau ruang kosong yang memang sengaja dikosongkan untuk para tamu melakukan dansa-dansi. Di dekat lantai dansa terdapat sebuah bar yang terbuat dari kayu, serta bangku-bangkunya yang terbuat dari kulit kambing.

Selain di Jakarta, hiburan malam ikut mengambil perkembangan awalnya di wilayah-wilayah lain, seperti contohnya adalah di ‘Kota Pelajar’ Yogyakarta. Sekitar tahun 1982 sebuah pusat hiburan publik tempat bilyard dan diskotek Crazy Horse adalah salah satunya diskotik yang terkenal di Yogyakarta pada masa itu dan menjadi simbol dari gaya hidup generasi kaum muda. Dalam tahun 1990-an cafe-cafe dan rumah makan menjadi amat populer sebagai tempat untuk mengisi waktu luang yang menggambarkan gaya dan cara hidup kaum muda Yogyakarta yang didominasi oleh mahasiswa. Saat ini setidaknya sudah hadir beberapa diskotik dan cafe yang ramai dikunjungi sebagian mahasiswa setiap malamnya. Hiburan-hiburan yang ditampilkan pun juga sangat beragam serta cenderung pada performasi yang khusus untuk dewasa.



Di Kota Surabaya Bentuk-bentuk hiburan malam yang dinikmati kalangan muda-mudi kota ini pada tahun 1970 lebih mengarah pada pertunjukan show dansa disko, menyanyi, hingga pertunjukan night club, dan pementasan fashion show. Diskotik yang identik dengan kehidupan masyarakat metropolitan di Surabaya era 1970-80an tidak lagi sekedar menjadi gaya hidup namun telah menjadi sarana bersosialisasi bahkan sarana untuk lobi-lobi bisnis. Dekade tahun 1970an memang diskotik diasosiasikan dengan musik yang menghentak dan membuat pengunjung larut dalam suasana. Seiring dengan perkembangan zaman kehidupan diskotik mengalami banyak pergeseran karena ternyata tidak semua pengunjung menyukai musik semacam itu. Pada hakikatnya suasana hingar-bingar buka lagi menjadi daya tarik yang utama. Banyak tempat diskotik di Surabaya yang beralih pada konsep resto and lounge yang lebih menarik konsumen kalangan muda-mudi yang berumur 25-35 tahun. Kehadiran pub, resto, and lounge yang bertebaran di Surabaya tidak membuat beberapa tempat yang benar-benar dirancang bagi para penikmat atau hobi melantai yang diiringi musik seorang Disk Jockey menjadi gulung tikar.

3. Kelam : Materialisasi Kenikmatan Duniawi dalam Prostitusi

Para wanita mempunyai berbagai latar belakang untuk hadir dalam jenis hiburan malam. Dalam motif ekonomi, mereka bisa saja orang-orang yang dipekerjakan sebuah tempat guna menghibur pengunjung, bisa pula mereka menjadikan kehidupan malam sebagai lahan untuk memperoleh keuntungan finansial (lumrahnya ialah dengan melakukan kegiatan prostitusi), ataupun memang dengan keinginan sendiri selain daripada telah menjadi kebiasaan. Masa kini sangat banyak sekali keunikan dalam tataran berpikir para remaja wanita. Atas nama ‘eksistensi’, untuk memperoleh pengakuan atas kemapanan status di dalam pusaran gaya hidup glamor, bahkan hanya dengan mengunjungi tempat yang bersifat kapitalistis, mereka telah merasa mampu untuk mencapai posisi yang semakin tinggi : faktanya istilah ‘bonafit’ itu hanya sekadar sebagai ‘Komedi Omong’ agar mereka tak sadar akan besarnya sejumlah uang yang dihabiskan untuk menutupi pajak si pemilik usaha itu. 

      Indonesia adalah negara yang menganut budaya Timur. Di budaya timur ada beberapa hal yang cukup sensitif / tabu untuk dibicarakan di depan umum, salah satunya adalah masalah tentang seksualitas. Bukan hanya budaya, namun juga hukum di Indonesia mengatur hal tersebut. Sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa diskusi dan praktik seks adalah salah satu hal yang bernilai negatif. Akibat nilai-nilai yang ditabukan itu kemudian mendorong masyarakat melakukan pendobrakan terhadap pembatasan tersebut, sehingga aktivitas seks dilakukan secara tersembunyi dan terisolasi : kehidupan malam beserta hiburannya nampak memberi ruang menganga kepada pemecahan ketabuan ini. Di sisi lainnya, bukanlah sekadar meninjau tentang bagaimana para pemuda menjadi bagian terbesar di dalamnya, kehidupan malam akan selalu mengarah kepada tema pengkajian yang tabu namun wajar ditemukan dalam lingkaran tersebut. Kehidupan seks maupun pergaulan yang nampaknya mengalienasi diri dari pandangan wajar adalah perpanjangan tangan dari kehidupan malam. 

Fenomena tentang seksualitas semakin berkembang di kawasan Nusantara pada abad ke-20, terutama di pulau jawa. Dunia seks di pulau Jawa awal abad ke-20. Secara riil, dunia seks di perkotaan Jawa berkembang melampaui batas-batas normatif, ditandai dengan munculnya prostitusi di Surabaya, Batavia, Jawa Tengah dan kota lainnya. Telah cukup banyak penelitian yang membahas masalah prostitusi di Indonesia ini. Mulai dari era pra-kolonial hingga ke masa modern. Sehingga penulis memilih untuk melihat fenomena-fenomena prostitusi pada kota-kota tertentu secara singkat. Intinya, untuk melihat bagaimana awal prostitusi di Indonesia kini terus berlangsung ialah dengan mengambil titik awal penelusuran kepada bagian sejarah modern Indonesia. Tentunya hal ini akan kembali pada era kolonial. Prostitusi pada tinjauan manajemen pemerintahan, bahkan sejak era kolonial, selalu merujuk kepada usaha melokalisasi pelacuran yang tumbuh di tengah masyarakat.  

Pada masa Belanda misalnya, upaya untuk menganggulangi penyebaran prostitusi telah dilakukan dengan keluarnya Surat Keputusan Gubernur tanggal 15 Juli tahun 1852 No.1, mengenai peraturan untuk menanggulangi penyebaran prostitusi. Secara intrinsik, peraturan tahun 1852 oleh pemerintah kolonial menandai dikeluarkannya peraturan baru yang menyetujui komersialisasi industri seks tetapi dengan serangkaian aturan untuk menghindari tindak kejahatan yang timbul akibat dari aktivitas prostitusi. Apa yang dikenal sebagai “Wanita Tuna Susila “ (WTS) sekarang ini, pada waktu itu disebut sebagai “Wanita Publik” menurut peraturan yang dikeluarkan tahun 1852. Dalam peraturan tersebut wanita public diawasi secara langsung dan secara ketat oleh polisi (pasal 2). Semua wanita publik yang terdaftar diwajibkan memiliki kartu kesehatan dan secara rutin (setiap minggu) menjalani pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi adanya penyakit syphilis atau penyakit kelamin lainnya (pasal 8,9,10,11). Sayangnya peraturan perundangan yang dikeluarkan tersebut membingungkan para pelaku industri seks, termasuk juga membingungkan Pemerintah.Untuk itu pada tahun 1858 disusun penjelasan berkaitan dengan peraturan tersebut dengan maksud untuk menegaskan bahwa peraturan tahun 1852 tidak di artikan sebagai pengakuan bordil sebagai lembaga komersil. Dua dekade kemudian, tanggung jawab pengawasan rumah bordil dialihkan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Peraturan pemerintah tahun 1852 secara efektif dicabut, digantikan dengan peraturan penguasa daerah setempat. Berkaitan dengan aktivitas industri seks, penyakit kelamin merupakan persoalan serius yang paling mengkhawatirkan pemerintah daerah.



Adapun kemudian sempat keluar Besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Januari 1874 N0.14, tentang peraturan pemberantasan prostitusi, kegiatan ini masih saja berlangsung akibat penyebab lainnya. Faktor kurangnya jumlah perempuan dibandingkan dengan prianya, misalnya selama periode 1860-1930, merupakan alasan logis meningkatnya permintaan jasa prostitusi, sehingga praktek-praktek prostitusi berkembang semakin pesat di masa kolonial Belanda. Pada tahun 1930 misalnya perbandingan jumlah perempuan tiap 1000 pria di Hindia Belanda adalah sebagai berikut (ditinjau berdasarkan masing-masing etnis / ras) : Eropa, 1.000:884, Cina, 1.000:646, dan Arab, 1.000:841. 

Selain itu, kondisi perekonomian yang stagnan dan cenderung memburuk pada dasawarsa 1930an ketika terjadi krisis ekonomi turut pula mempengaruhi seorang perempuan dalam menentukan keputusan untuk terjun ke dunia prostitusi. Kemiskinan merupakan kondisi tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia selama masa penjajahan. Sebagaimana diketahui, memasuki dasawarsa 1930an, kekuasaan Belanda di Indonesia—dan hampir semua negara di dunia—mulai mengalami tekanan ekonomi, terlebih saat krisis ekonomi melanda dengan dahsyatnya pada tahun 1930. Keberhasilan ekonomi yang dinikmati oleh pemerintah kolonial Belanda berakhir karena depresi ekonomi tahun 1930 itu. Depresi ekonomi yang mulai terasa pada pertengahan tahun 1920an di antaranya disebabkan oleh jatuhnya harga-harga komoditi internasional seperti gula dan kopi, sehingga berdampak pada menurunnya aktivitas ekspor dan impor yang pada akhirnya juga berpengaruh pada berkurangnya kesempatan kerja. Berkurangnya kesempatan kerja secara otomatis meningkatkan jumlah pengangguran.

Pengaruh perekonomian pada dekade 1930an bukan hanya dirasakan pada kota-kota besar di Jawa. Di Sumatera, pengaruh kemerosotan ekonomi turut menyebabkan berkembangnya pelacuran, salah satunya di Palembang. Berdasarkan surat kabar Hanpo, Palembang, Sabtu, 20 Sepetember 1930, dikabarkan mengenai sebuah kawasan "mesum" bernama "Lorong Basah". Lorong Basah bagi Kota Palembang dikenal sebagai satu lorong mesum, namun tempat ini sekarang sudah banyak ditempati oleh orang yang baik-baik, sekalipun masih ada tidak terlalu banyak. Sebenarnya di Kota Palembang, masih ada beberapa lorong sejenis yang menjadi tempat hiburan bagi laki-laki “hidung belang”, misalnya lorong depan Hotel Wangling di 17 Ilir dan Lorong Landraad di 18 Ilir. Di kedua lorong ini, banyak laki-laki muda yang keluar masuk mencari hiburan, karena di kedua lorong ini terdapat banyak “perempuan malam”. Tentu terkadang sangat menggangu bagi warga sekitar yang tidak menerima keadaan tersebut, karena senda gurau, tertawa dengan keras, dan berbicara yang “jorok”. Hal ini membuat orang yang baik-baik tinggal di situ merasa terganggu dan risih. Selain itu, sering juga terjadi percekcokan antara laki-laki dan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki lainnya karena berebut “kembang malam”.

Pada masalah pelacuran di masa kolonial era 1930an, ada salah satu jenis prostitusi yang memakai sarana hiburan malam dalam prakteknya. Pelacur yang mangkal di kedai- kedai kecil sekitar pelabuhan dan di kota pelabuhan itu sendiri dapat ditemui di warung-warung kopi di kawasan Tanjung Perak yang berfungsi menyediakan perempuan penghibur sebagai teman bersenang-senang, berdansa dan minum- minum. Perempuan penghibur ini tetap berada di warung sampai menjelang fajar, tetapi setelah itu mereka bersedia juga dibawa pulang menemani para pelanggan yang menghendaki. Warung-warung kopi yang paling semarak biasanya memberikan layanan khusus dengan menyediakan perempuan-perempuan penghibur yang berasal dari luar Jawa terutama dari Menado. Selain itu night club sebagai tempat bersenang-senang (berdansa dan minum-minum) yang relatif mahal dbandingkan warung-warung kecil, menyediakan perempuan campuran Eurasia. Maraknya kegiatan prostitusi di Surabaya mencapai pncaknya hingga kekalahan Belanda kepada Jepang, yang mana jauh sebelum kedatangan pasukan negeri matahari terbit itu datang, di kota ini telah ada sebuah wilayah yang kesohor akan wanita-wanita tuna susila asal Jepang : Kembang Jepun

4. Penutup

Ibarat matahari yang tenggelam setelah senja, kehidupan malam dan prostitusi akan selalu hadir meski dengan nama, corak, dan eksistensi yang berbeda-beda. Era modern ini telah menjadikan manusia sebagai “Makhluk Pemilih”, yakni sebagai organisme yang berakal dan dapat menentukan pilihan sesuai dengan apa yang ia anggap benar. Kontroversi tentu akan terus berlanjut, namun nampaknya di era teknologi yang sedemikian pesat ini akan membawa sekian tampilan tentang keindahan dunia, masalah hiburan malam belum menunjukkan ciri-ciri untuk meredup. Kini, kita telah sedemikian mengetahui berbagai gambaran yang ada pada pola dinamika sisi kehidupan tertentu pada sebuah peradaban. Untuk itu, para makhluk pemilih di masa modern akan semakin terbawa kepada sebuah tuntutan pasti atas pilihannya itu tadi. Jika memang kehidupan malam ini diyakini membawa aspek negatif, maka biarkan eksistensinya itu sebagai suatu hal yang tidak akan kita dekati : bahkan suatu bangunan indah sekalipun akan runtuh apabila tidak ada yang tertarik untuk merawat, ia akan terkubur sendiri oleh laluan zaman. Semoga bisa menimbulkan kebijaksanaan dan memberi manfat. 


Sumber 

Chandra K., Anton, Perilaku Menyimpang : Studi Deskriptif Tentang Fenomena Grey Chicken di Kota Surabaya, Surabaya : Universitas Airlangga, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2012.

Irwanto, Dedi, Venesia Dari Timur: Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial, Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2010.

Lamijo, "Prostitusi Di Jakarta Dalam Tiga Kekuasaan, 1930 – 1959 : Sejarah Dan Perkembangannya", Pusat Penelitian Sumberdaya Regional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PSDR-LIPI), Jakarta.

Liata, Nofal, Gaya Hidup Gemerlap Mahasiswa Kota Yogyakarta, Yogyakarta : UIN Sunan Kalijaga, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2009.

Wawin, Dionisius C. Uran, " Drama Kehidupan Ladies Yang Bekerja Di Mitra Pub Cafe & Ktv Samarinda", dalam eJournal Sosiologi Konsentrasi, Volume 2 , Nomor 1 , 2014
.
Yoland, Enrico, Perkembangan Diskotik Tanamur di Jakarta (1970-2005), Depok : Universitas Indonesia, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2012.

Yuliamah, Genti, "Perkembangan Hiburan Malam Dan Diskotik Di Surabaya Tahun 1970-1994", dalam VERLEDEN: Jurnal Kesejarahan, Vol. 3, No.1, Desember 2013.

Kontributor : Rifkhi Firnando (Klik untuk memberikan masukan,kritik, atau saran pengayaan tulisan), Co-Author : Admin GGS.