Kampung Arab Al-Munawar : Eksistensi Fisik Warisan Historis Kebudayaan Indis Kota Palembang

1. Pendahuluan 

Kota Palembang merupakan kota yang terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian ulu (Kawasan Seberang Ulu) dan bagian ilir (Kawasan Seberang Ilir) yang dipisahkan oleh sungai Musi. Pada Kesultanan Palembang Darussalam, penduduk pendatang kota Palembang lebih banyak tinggal di bagian ulu (Kawasan Seberang Ulu) karena kawasan Seberang Ilir merupakan kawasan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam. Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia dengan latar belakang sejarah Kerajaan Sriwijaya (Abad VI-XII) yang merupakan kerajaan Maritim terbesar pada jamannya. Letak yang strategis menjadikan Palembang sebagai pusat kekuatan politik dan ekonomi di jaman klasik pada wilayah Asia Tenggara. Kota yang ramai didatangi pelaut-pelaut asing, seperti Cina, Arab dan Persia. Palembang digambarkan sebagai kota besar dimana penduduknya hidup di atas rakit-rakit sedangkan pemimpin hidup berumah ditanah kering di atas rumah yang bertiang.

Penduduk pendatang ini terdiri dari berbagai suku bangsa, yaitu melayu, Cina dan Arab. Penduduk pendatang ini kemudian menghuni suatu kawasan tertentu dan terbentuklah suatu pemukiman berupa kampung dengan nama kampung menyesuaikan dengan asal keturunan penduduk penghuninya. Disamping itu kota Palembang juga mempunyai latar belakang sejarah Kesultanan Palembang Darussalam (Abad XVI-XIX), masa penjajahan Belanda dan Jepang. Dimana perkembangan dan pembangunan dipusatkan di tepian sungai Musi, sebelah Ilir yang lebih dahulu dibangun karena kondisi eksisting yang baik menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan dan sebelah Ulu dijadikan sebagai kawasan pemukiman penduduk baik rumah rakit dan rumah di atas tiang.Permukiman tradisional ini terletak di tepian sungai terutama di tepian sungai Musi dan sungai Ogan karena pada awal terbentuknya permukiman, penghuni permukiman menggunakan transportasi air sebagai penghubung permukiman dengan lingkungan sekitarnya.Sungai yang menjadi sarana transportasi yang sangat baik membentuk pola hidup masyarakat yang awalnya hanya bertani dan nelayan, berganti peran menjadi pedagang. Ilir yang lebih dahulu dibangun karena kondisi eksisting yang baik menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan. Dengan perdagangan yang sangat berkembang pesat mengundang penduduk desa mencoba keberuntungannya dengan bertransmigrasi ke kota dan berganti peran menjadi pedagang.

Perkembangan kota akan diikuti dengan perkembangan bangunan sebagai sarana kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Peningkatan kegiatan di tepian Sungai Musi pada saat itu juga diikuti dengan pembangunan berbagai gedung (bangunan), baik bangunan umum maupun bangunan untuk permukiman penduduknya. Tidak mengherankan kalau pada saat ini banyak peninggalan bangunan lama yang terletak di sepanjang tepian Sungai Musi. Beberapa kawasan di tepian Sungai Musi masih menunjukkan peningalan arsitektur yang menarik. Beragam gaya arsitektur masih terlihat dengan jelas sampai saat ini. Di antaranya adalah kawasan permukiman di Kampung Arab dan Kampung Kapiten, kemudian kawasan sekitar Kelenteng 10 Ulu, Kawasan Sekanak, Kawasan pasar 16 Ilir, Kawasan Al-Munawar dan sebagainya. Kali ini kita akan menapak tilas Kampung Al-Munawar, sebuah Kampung Arab di kota ini.

2. Kolonisasi dan Perombakan Pemukiman Kota Palembang

Sebuah citra dari Kesultanan Palembang ialah 'Darussalam' (tempat yang tenteram/damai), tercermin pada pengelolaan pelabuhan dan perdagangan. Syahbandar yang diangkat penguasa biasanya orang Eropa. Palembang memberlakukan hukum perdagangan yang bersifat regional/internasional, “undang-undang Laut Melaka”, membuat suatu kepastian untuk berniaga di Palembang. Orang Eropa memberi julukan Palembang sebagai het indische Venetie, Palembang hampir sama dengan Venesia. Demikian juga ketentraman dan ketertiban di Palembang dijuluki mereka sebagai suatu de Staddes Vredes (kota yang aman). Ke semua julukan tersebut ditulis dalam argumentasi seorang Residen Inggris di Bangka, yaitu Mayor Court (1821) adalah :

 "Dari seluruh pelabuhan di wilayah orang-orang Melayu, Palembang telah membuktikan dan terus secara seksama menjadi pelabuhan yang paling aman dan peraturan paling baik, seperti dinyatakan oleh orang-orang pribumi dan orang-orang Eropa. Begitu memasuki perairan sungai, perahu-perahu kecil, dengan kewaspadaan yang biasa siaga dengan tindakan-tindakan pencegahan yang akan mengamankan dari kekerasan dan perampasan. Kemungkinan perahu perompak yang bersembunyi akan memangsa perahu-perahu dagang kecil yang memasuki sungai, jarang terjadi karena ketatnya penjagaan oleh kekuatan Sultan dengan segala peralatannya."

Palembang di bawah pemerintah kolonial Belanda (pasca kekalahan Kesultanan Palembang dalam Perang 1821 dan dihapusnya bentuk kesultanan pada 1823) dirombak secara total termasuk pengelolaan kota. Pada awalnya, wilayah permukiman penduduk di zaman Kesultanan lebih dari sekedar permukiman yang terorganisasi. Permukiman pada waktu itu adalah suatu lembaga persekutuan di mana patronage dan paternalis terbentuk akibat struktur masyarakat tradisional dan feodalistis. Sistem ini dikenal dengan nama guguk. Kosakata guguk berasal dari Jawa-Kawi yang berarti ’diturut diindahkan’.

Agar menjadi jelas, perlu diketahui bahwa etiap guguk mempunyai sifat sektoral ataupun aspiratif. Contoh wilayah permukiman yang dikenal sebagai Sayangan, adalah wilayah paramiji dan alingan (struktur bawah dan golongan penduduk Kesultanan) memproduksi hasil-hasil dan bahan tembaga. Sayangan artinya perajin tembaga (Jawa-Kawi). Contoh lain adalah Kepandean adalah perajin atau pandai besi, Pelampitan adalah perajin lampit, demikian juga dengan Kuningan adalah perajin pembuat bahan-bahan dari kuningan. Permukiman ini dapat pula bersifat aspiratif yaitu satu guguk yang mempunyai satu profesi atau kedudukan yang sama, seperti guguk Pengulon, permukiman para penghulu dan alim ulama di sekitar Masjid Agung. Kedemangan merupakan wilayah tokoh demang tinggal, Kebumen yaitu tempat Mangkubumi menetap. Berikutnya, Kebangkan adalah permukiman orang dari Bangka, Kebalen adalah permukiman orang dari Bali.

Setelah Palembang di bawah administrasi kolonial, oleh Regening Commisans J.I Van Sevenhoven sistem perwilayahan guguk dipecah belah. Pemecahan ini memecah belah kekuatan Kesultanan, sekaligus memecah masyarakat yang tunduk kepada sistem monarki, menjadi tunduk pada administrasi kolonial. Guguk dijadikan beberapa kampung. Sebagai kepala diangkat Kepala Kampung, dan Palembang dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Untuk mengepalai wilayah tersebut diangkat menjadi demang, pamongpraja pribumi yang tunduk kepada Controleur.  Kota Palembang pada waktu itu terdiri dari 52 kampung, yaitu 36 kampung berada di Seberang Ilir dan 16 kampung di Seberang Ulu. Pada tahun 1939, kampung tersebut tinggal 43 buah, 29 kampung berada di Seberang Ilir dan 14 kampung di Seberang Ulu. Dapat diperkirakan penciutan administratif kampung ini diperlukan karena cacah jiwa dan kaitannya dengan pajak.

Kepala Kampung hanya mengurus penduduk pribumi, sedangkan golongan Timur Asing mempunyai kepala dan wijk tersendiri. Untuk golongan Cina, kepalanya diangkat dengan kedudukan seperti kepangkatan militer, yaitu Letnan, Kapten dan Mayor. Demikian pula dengan golongan Arab dan Keling (India/Pakistan) dengan kepalanya seorang Kapten. Untuk kedudukan Kepala Bangsa Timur Asing, biasanya dipilih berdasarkan atas pernyataan jumlah pajak yang akan mereka pungut dan diserahkan bagi pemerintah disertai pula jaminan dana bagi kedudukannya. Kampung Al-Munawar merupakan sebuah pemukiman orang-orang Arab yang di dalamnya berkedudukan seorang Kapten Arab yang bertanggungjawab atas segala urusan masyarakat etnis yang ia pimpin.

3. Sedikit Kisah Masyarakat Arab Palembang Masa Kolonial 

Mayoritas orang Arab di Palembang adalah keturunan Ba’Alawi yang dianggap sebagai keturunan Nabi Muhammad dari cucunya Husien. Oleh karena mereka terdiri dari para Sayid, maka mereka memiliki martabat tersendiri di mata “warga kota asli”, selama abad ke-19, setelah runtuhnya kesultanan, para sayid mengadopsi gaya hidup eksklusif yang membedakan mereka dengan lapisan sosial yang lain mulai dari bahasa, komsumsi dan reproduksi.Sikap eksklusivitas para sayid tercermin dengan baik dalam politik perkawinan mereka yang menganut prinsip ‘kaffah’, dalam sistem ini perkawinan kedua belah pihak harus memiliki derajat yang sama. Seorang sayid memilih untuk kawin dengan wanita sederajat, namun kalau tidak ada ia boleh memilih yang lebih rendah. Perkawinan ini sah mengingat sistem patrilinear yang berlaku, namun untuk para syarifah tidak demikian, karena mereka tidak boleh kawin dengan laki-laki keturunan yang rendah derajatnya. Wanita Ba’alawi ini harus kawin dengan yang sama derajatnya, para sayid atau syarif lainnya, karena kalau ini dilanggar, dianggap anaknya tidak memilih derajat yang sama lagi dengan mereka. Akibatnya, sering terjadi perkawinan antara sayid dengan anak priyayi Palembang, sebaliknya jarang terjadi perkawinan antara syarifah dengan laki-laki Palembang. Namun, bukan berarti ini terjadi pembauran, karena setelah keruntuhan kesultanan, pada awal abad ke-19, mulai jarang ditemukan perkawinan antara sayid atau keturunan campurannya tadi dengan anak bangsawan Palembang. Mereka lebih banyak memilih perkawinan dalam lingkungannya sendiri, kecuali untuk beberapa sayid yang kurang terkemuka masih menerima putri bangsawan atau saudagar Palembang, meskipun kadang untuk istri kedua atau ketiganya.

Orang-orang Arab, termasuk di dalamnya sebenarnya ada orang-orang India serta Timur Asing lainnya, dalam pertengahan abad ke-19 tidak mau kalah dengan orang-orang Cina (dalam masalah perdagangan), mereka mendominasi perdagangan kain dan tekstil serta kapal dan pengusahaan kayu.Produksi kayu hasil hutan ini, turut ditingkatkan karena banyaknya permintahan akan kayu glondongan akibat marak pembukaan panglon (perusahaan penebangan kayu) di Kota Palembang yang menggunakan mesin uap. Di Kota Palembang, terdapat empat panglon besar yang memproduksi kayu menjadi papan ini, yakni milik Masagus Haji Abdulhamid pada daerah Kertapati, Usman Abdulhamid di 4 Ulu, Sayid Alwi Munawar di 12 Ulu dan Sayid Assegaf di Musi Ilir. Peningkatan kayu dalam bentuk papan ini ikut dipicu dengan adanya eksport ke Singapura. Salah satu perusahaan besar yang dimiliki warga kota yang berasal dari golongan ini adalah perusahaan Said Aboe Bakar bin Ahmad yang bergerak dalam usaha tanaman tebu dan industri gula dipinggiran kota. Walaupun menjelang abad ke-20, para pengusaha Arab ini mengalami kemunduran karena tekanan pemerintah kolonial dengan menjalankan kebijakan diskriminasi yang tidak memperbolehkan mereka untuk berdagang memasuki daerah pedalaman, namun ada sedikit yang dapat bertahan sampai pertengahan abad ke-20 seperti firma Assegaf dan firma Alimenoar, P.T. Ali yang bergerak pengergajian kayu.

Memasuki dasawarsa kedua abad ke-20, 1930-an, Palembang muncul sebagai ‘Wingewesten’; Daerah Menguntungkan, sebutan untuk daerah-daerah yang dieksploitasi secara ekonomi. Realitas konstruksi kota dagang dengan adanya hal ini, semakin mendapat tempatnya ketika kemajuan dalam perdagangan ekspor karet. Berharganya rubber, getah karet, membuat Palembang menjadi kota yang ramai dan banyak sekali perubahan-perubahan yang ada. Konstruksi ideologis berkerja dengan baik dalam bentuk berbagai “bangunan ekonomi”. Keberadaan bangunan tersebut tidak lepas, bersamaan dengan penyediaan segala fasilitas kota untuk dunia perdagangan. Pasar di Palembang mengalami perkembangan yang sangat luar biasa, paling tidak pada 1932, terdapat dua kategori pasar, yaitu pasar besar dan pasar kecil. Pasar besar terdapat di Pasar 16 Ilir dan Pasar Sekanak di 28 Ilir.Renovasi awal Pasar 16 Ilir yang terletak di tepi Sungai Musi dilakukan pada 1871 dengan dilengkapi sebuah dermaga besar. Sebagian besar pertokoan di Pasar 16 Ilir dibangun dan dimiliki oleh saudagar keturunan Arab, Syeikh Syehab, selain memiliki firma keluarga di bidang bangunan, ia juga seorang arsitek. Syeikh ini juga yang menjadi pemborong perumahan Eropa di Talang Semut. Pertokoannya di Pasar 16 Ilir kemudian disewakan kepada pedagang kecil Palembang. Dapat dikatakan Pasar 16 Ilir adalah pasar pertama dan menjadi pusat seluruh aktivitas perdagangan di Palembang. Petani yang berasal dari pedalaman Palembang membawa seluruh hasil tanaman dagang ke Pasar 16 Ilir, sebaliknya para pedagang menikmati untung melalui tukar menukar komoditas. Hampir seluruh suplai produk dari uluan langsung ditujukan ke pasar pusat.

Comments