Sejarah Radiologi dan Forensik yang Berperan Penting dalam Dunia Kedokteran

1. Pendahuluan

Pertama, penulis ucapkan terima kasih kepada pengembang blog ini, yang mana sedianya berkenan untuk memuat sedikit tulisan pendek dari penulis. Sebagai seorang pustakawan yang juga berinteraksi dengan para siswa, tak jarang penulis menemukan beberapa hal yang tak terduga. Suatu ketika di saat menyampaikan tugas dari seorang guru yang tidak bisa hadir di sebuah kelas, ada dua orang siswa yang kelihatan kurang memberi perhatian kepada tugas yang disampaikan karena mereka sibuk membahas sebuah isu yang akhir-akhir ini cukup populer. Isu itu terkait dengan pembunuhan menggunakan sianida yang dicampurkan ke dalam kopi. Dengan tidak mengkaji aspek materi dari isu yang ada, siswa yang masih berusia tanggung itu nampak mengeluh karena sebuah kanal televisi terlalu sering menayangkan sidang perkara kasus tersebut. Ia merasa kesal sambil menutup obrolan dengan temannya itu seraya berseloroh, “Apa-apaan ? , ‘forensik’ lah, ‘keterangan ahli’ lah, atau ‘visum’ lah. Coba kanal TV seperti zaman aku kecil, acara bagus-bagus, kartunnya bagus-bagus.” Anak itu sesungguhnya mewakili keinginan usianya. Meskipun terbilang sangat berguna untuk menjadi pengetahuan masyarakat, namun episode sidang yang berlarut bisa menimbulkan kebosanan.

Penulis tidak mau berpanjang lebar tentang masalah kasus pembunuhan dengan sianida tersebut. Namun hal yang tersisa dari pengalaman mendengarkan seloroh siswa ini menimbulkan pertanyaan lebih jauh mengenai masalah terkait bidang kedokteran itu. Apabila perlu dikaitkan dengan sekian banyak pengalaman yang terjadi di tengah masyarakat, istilah ‘Visum’ yang sering dipakai seumpama seseorang merasa dirinya telah mengalami tindak kekerasan, maka pasti istilah tersebut langsung lumrah terdengar, “nanti saya visum.....” Masalah forensik sangat dekat dengan istilah Visum itu. Lebih jauh tentang masalah forensik, bidang ini akan berhubungan dengan sebuah penemuan besar abad ini yang berguna dalam penyelidikan tindak pidana kekerasan. Istilah-istilah seperti “Ronsen” – yang sebenarnya dimaksud adalah ‘Roentgen’ – sering dipakai untuk melihat penyakit dalam tubuh yang tak mampu dijangkau oleh penginderaan mata. Penggunaan sinar ‘Roentgen’ atau kadang disebut ‘X Ray’ (Sinar X), sesungguhnya sangat penting dalam bidang forensik.

Penulis memilih untuk mencari tahu tentang masalah-masalah itu. Tentu penulis tidak akan mengkaji mengenai praksis keilmuan itu secara mendetil, karena memang bukan bidang dalam keahlian penulis. Meskipun demikian, aspek kesejarahan daripada masalah-masalah itu bisa ditemukan dan dapat menjadi sebuah apersepsi yang baik untuk dunia kedokteran bagi masyarakat umum. Untuk itu, mari kita lihat kembali sejarah penemuan dan kemunculan Sinar X yang berpengaruh pada dunia forensik.

2. Roentgen, Radiologi, dan ‘Sinar X’

Roentgen, siapa atau apakah itu ? Jawabannya kita mesti menelusuri akar dari kata yang populer tersebut. Adalah Wilhelm Conrad Roentgen, seorang ahli fisika di Universitas Wurzburg, Jerman, pertama kali menemukan sinar Roentgen pada tahun 1895 sewaktu melakukan eksperimen dengan ‘Sinar Katoda’. Saat itu ia melihat timbulnya sinar fluoresensi yang berasal dari kristal barium platinosianida dalam tabung Crookes-Hittorf yang dialiri listrik. Ia segera menyadari bahwa ini merupakan suatu penemuan baru, sehingga dengan gigih ia terus melanjutkan penyelidikannya dalam minggu-minggu berikutnya. Tidak lama kemudian ditemukanlah sinar yang disebutnya ‘Sinar Baru’ atau ‘Sinar X’ (X Ray). Lalu apa hubungannya dengan sebutan awam “Sinar Roentgen” ? Ialah karena baru kemudian hari prang menamakan Sinar X tersebut sebagai ‘Sinar Roentgen’, tentunya sebagai penghormatan kepada Wilhelm Conrad Roentgen.

Penemuan Roentgen ini, tidak dapat dielakkan dari sebuah pengakuan, merupakan revolusi dalam dunia kedokteran karena ternyata dengan hasil penemuan itu dapat diperiksa bagian-bagian tubuh manusia yang sebelumnya tidak pernah dapat dicapai dengan cara-cara pemeriksaan konvensional. Salah satu visualisasi hasil penemuan Roentgen adalah foto jari-jari tangan istrinya yang dibuat dengan menggunakan kertas potret yang diletakkan di bawah tangan istrinya dan disinari dengan sinar yang ia temukan itu. Roentgen dalam penyelidikan berikutnya segera menemukan hampir semua sifat sinar ini, yaitu sifat yang berkaitan dengan fisika dan kimianya. Namun ada satu sifat yang tidak sampai diketahuinya, yakni sifat biologik yang dapat merusak sel-sel hidup. Sifat yang ditemukan Roentgen antara lain sebagai berikut :

1. Sinar X ini bergerak dalam garis lurus,
2. Tidak dipengaruhi oleh lapangan magnetik,
3. Mempunyai daya tembus yang semakin kuat jika tegangan listrik yang dipakai semakin tinggi,
4. Sinar X menghitamkan kertas potret : selain foto tangan istrinya, ada juga foto-foto pertama yang berhasil dibuat Roentgen seperti benda-benda logam dalam kotak kayu, diantaranya adalah saat sinar ini berhasil menangkap gambar pistol dan kompas dalam kotak itu.

      
      Penemuan besar ini segera membangun sebuah cabang ilmu yang dikenal sebagai ‘Radiologi’, atau ilmu dalam bidang kedokteran untuk melihat bagian rama tubuh manusia menggunakan pancaran atau radiasi gelombang yang pada awalnya adalah memakai frekuensi dari Sinar X yang ditemukan Roentgen ini. Setahun setelah penemuannya itu, Henri Bacquerel di Prancis menemukan unsur Uranium yang mempunyai sifat hampir sama dengan sinar Roentgen tahun 1896. Penemuan Bacquerel diumumkan pada Kongres Akademi Ilmu Pengetahuan Paris di tahun yang sama. 

Tidak lama kemudian, Marie dan Pierre Curie menemukan unsur Thorium di tahun yang sama, sedangkan pada akhir tahun 1896 pasangan suami-istri tersebut menemukan unsur ketiga yang dinamakan ‘Polonium’ sebagai penghormatan kepada negara asal  mereka, Polandia. Tidak lama setelah itu, mereka menemukan unsur ‘Radium’ yang memancarkan radiasi kira-kira 2 juta kali lebih banyak daripada Uranium. Baik Roentgen yang pada tahun-tahun setelah penemuannya mengumumkan segala yang diketahuinya tentang Sinar X tanpa mencari keuntungan sedikitpun, maupun Marie dan Pierre Curie yang juga mengumumkan segala yang diketahui tentang unsur-unsur radioaktif, menerima hadiah nobel. Roentgen menerima penghargaan ini pada 1901, sedangkan suami-istri Curie pada tahun 1904. Pada tahun 1911, Marie Curie sekali lagi menerima hadiah nobel untuk penelitiannya di bidang Kimia. Hal ini merupakan kejadian unik dimana seseorang mendapat hadiah nobel sebanyak dua kali. Setelah itu, anak Marie dan Pierre Curie, Irene Curie juga mendapat hadiah nobel di bidang penelitian Kimia bersama suaminya, Joliot, pada tahun 1931. 


      Sebagaimana kerap kali terjadi pada penemuan-penemuan baru, tidak semua orang menyambutnya dengan tanggapan positif. Ada saja yang tidak senang, malahan lebih jauh lagi, sampai menunjukkan reaksi negatif yang berlebihan. Salah satu surat kabar malam di London, bahkan mengatakan bahwa sinar baru itu yang memungkinkan seseorang dapat melihat tulang-tulang orang lain, seakan-akan ditelanjangi, sebagai sesuatu yang tidak sopan dan tidak bermoral. Oleh karena itu, koran tersebut menyerukan pada seluruh negara di dunia “yang beradab” agar “Membakar semua semua karya Roentgen” serta “Menghukum mati penemunya.” Suatu perusahaan lain di London mengiklankan penjualan celana dan rok yang “Tahan Sinar X”, sedangkan di New Jersey Amerika Serikat, diadakan suatu ketentuan hukum yang melarang pemakaian Sinar X pada kaca mata opera. Untunglah, suara-suara negatif nan konyol ini hanya larut dalam limpahan pujian pada sang penemu, Wilhelm Conrad Roentgen. Pada akhirnya semua menyadari bahwa penemuannya merupakan suatu Revolusi Besar dalam Kedokteran. 

3. Para Martir Radiasi : Dampaknya, Beberapa Nama, dan Kisah dr. Knoch

Seperti telah dijelaskan di atas, Roentgen menemukan hampir semua sifat fisika dan kimia dari Sinar X temuannya itu, namun yang belum diketahui adalah sifat-sifat biologiknya. Sifat ini baru diketemui beberapa tahun kemudian sewaktu terlihat bahwa kulit bisa menjadi berwarna karena terkena penyinaran Roentgen. Padahal saat itu banyak sarjana yang menaruh harapan bahwa sinar temuan Roentgen juga dapat digunakan untuk pengobatan. Namun pada kala itu belum sampai terpikirkan bahwa sinar ini juga dapat membahayakan dan merusak sel-sel hidup manusia. Tetapi, seiring bergulirnya waktu pada dasawarsa pertama dan kedua abad ke-20, ternyata banyak pioner pemakai Sinar X menjadi korban. Kelainan biologik yang diakibatkan oleh sinar itu adalah berupa kerusakan yang dalam pada tingkat dininya hanya perubahan warna kulit, bahkan sampai merontokkan rambut. Dosis sinar yang lebih tinggi lagi dapat menyebabkan lecet pada kulit sampai nekrosis, bahkan bila penyinaran masih saja dilanjutkan, nekrosis itu dapat menjelma menjadi kanker.



Salah seorang di antara beberapa korban Sinar Roentgen adalah dr. Max Hermann Knoch, seorang Belanda kelahiran Paramaribo yang bekerja sebagai ahli radiologi di Hindia Belanda. Ia adalah Dokter Tentara di Jakarta yang termasuk pemakai awal dari Sinar X. Karena waktu itu belum marak penyuluhan yang mengingatkan bahaya sinar ini, maka dr. Knoch bekerja tanpa menggunakan proteksi terhadap radiasi ; baru lima dekade kemudian dihimbau secara massif untuk memakai perlindungan diri. Pada masa itu Knoch membuat foto seorang penderita patah tulang, anggota tubuh dan tangannya juga ikut terkena sinar, maka pada tahun 1904, dr. Knoch telah menderita kelainan-kelainan yang cukup berat seperti luka yang tak kunjung sembuh pada kedua belah tangannya. Knoch kembali ke Eropa pada tahun 1905 untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Namun dr.Knoch kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1908 dan bekerja sebagai Ahli Radiologi di Rumah Sakit Tentara Surabaya hingga 1917. Tahun 1924 ia dipindahkan ke Jakarta untuk bekerja di Rumah Sakit Fakultas Kedokteran hingga akhir hayatnya. Akhirnya hampir seluruh lengan kanan dan kirinya menjadi rusak oleh penyakit yang tidak kunjung sembuh yakni nekrosis yang kemudian malah menjelma jadi kanker kulit dan menghilangkan salah satu tangan Knoch untuk diamputasi. dr. Knoch wafat pada tahun 1928 akibat menderita metastasis di paru-parunya.

Di antara puluhan korban Sinar X yang diketahui, terdapat antara lain nama-nama terkenal seperti : Albers-Schonberg, Caldwell, Friedlander, Hozknecht, Bergonie dan Irene Joliot Curie. Kerusakan akibat Sinar Roentgen yang diderita oleh Albers-Schonberg (1865-1921), Caldwell (1870-1918), Holzknecht (1872-1931), maupun Bergonie (wafat 1925) sama sifatnya dengan yang diderita dr. Knoch yaitu dimulai pada kerusakan jari-jari tangan yang kemudian hari membutuhkan amputasi, lalu menjelma menjadi kanker dan akhirnya membawa maut. Tentang Friedlander tiada didapat data yang rinci, sedangkan Irene Joliot Curie (1897-1956) meninggal karena penyakit Leukimia akibat bertahun-tahun bekerja dengan sinar Radio Aktif.

4. Sinar Roentgen di Indonesia, Sekelumit Kisah hingga Masa Kemerdekaan

Di Indonesia, penggunaan Sinar Roentgen sudah terjadi cukup lama, bahkan sebelum dr. Knoch berkarier di tempat yang dahulunya bernama Hindia Belanda ini. Menurut laporan, alat Roentgen sudah dipakai sejak tahun 1898 oleh Tentara Kolonial / KNIL dalam perang di Aceh dan Lombok. Selanjutnya pada awal abad ke-20 ini, sinar Roentgen terutama digunakan di Rumah Sakit Militer dan Rumah Sakit Pendidikan Dokter di Jakarta dan Surabaya. Ahli Radiologi Belanda yang bekerja pada fakultas kedokteran di Jakarta pada tahun-tahun sebelum meletusnya Perang Dunia II adalah Prof. B.J. Van Der Plaats yang juga mulai melakukan radioterapi di samping radiodiagnostik ; di masa pendudukan Jepang beliau diinternir. Orang Indonesia pertama yang telah menggunakan Sinar X pada masa itu adalah R.M. Notokworo, seorang jebolan Universitas Leiden Belanda tahun 1912. Beliau mula-mula bekerja di Semarang, lalu di saat awal mula pendudukan Jepang, beliau dipindahkan ke Surabaya. Tahun 1944, R.M. Notokworo meninggal secara misterius di tangan Jepang.

Seolah sebuah kebetulan yang sangat persis, pada tahun ditemukannya Sinar X oleh Roentgen, 1895, di Pulau Rote (Nusa Tenggara Timur) Hindia Belanda, lahirlah seorang bayi yang mempunyai nama menyerupai nama awal Roentgen, yaitu Wilhelmus Zacharias Johannes, kemudian hari beliau banyak berkecimpung dalam dunia Radiologi selama paruh besar kehidupannya. W.Z. Johannes dikenal sebagai seorang yang memiliki otak cemerlang. Dari kelas 3 Sekolah Dasar, beliau mampu loncat ke kelas 5. Pendidikan STOVIA yang semestinya ditempuh selama 9 tahun, diselesaikannya selama 8 tahun, yaitu 1920. Beliau bertugas di Rumah Sakit Semarang kemudian berpindah-pindah ke beberapa tempat di Sumatera. Tahun 1939, W.Z. Johannes mendapatkan Brevet Ahli Radiologi dari Prof. Van Der Plaats. Pada akhir tahun 1920-an, waktu berkedudukan di Kota Palembang, W.Z. Johannes jatuh sakit cukup berat sehingga dianggap perlu dirawat unruk waktu yang lama di Rumah Sakit CBZ Jakarta. Penyakit yang dideritanya adalah sakit lutut kanan yang akhirnya menjadi kaku (‘Ankilosis’) dan sejak saat itu W.Z. Johannes berjalan pincang. Selama berobat di CBZ Jakarta, beliau sering diperiksa dengan Sinar Roentgen dan mulai tertarik pada bidang Radiologi. Setelah sembuh, maka beliau diterima sebagai asisten oleh Prof. Van Der Plaats yang saat itu memimpin Bagian Radiologi, demikianlah itu beliau mendapatkan Brevet ‘Roentgenoloog’.

       Selain di bidang kedokteran, beliau turut giat dalam bidang lainnya. Di zaman Jepang, bersama dengan dr. Sam Ratulangi, dr. Sitanala, dan teman-teman lainnya, W.Z. Johannes mendirikan Badan Persiapan Persatuan Kristen, yang setelah Indonesia merdeka berubah menjadi Partai Kristen Nasional dan lalu berubah lagi menjadi Partai Kristen Indonesia (PARKINDO). Johannes diangkat juga menjadi anggota Badan Pekerja Kominte Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Selama perang kemerdekaan, W.Z. Johannes tetap bekerja di bidang Radiologi, Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta. Rumahnya seringkali digeledah oleh tentara Belanda, sebab disitu sering menjadi tempat berkumpulnya para pejuang. Beberapa kali juga beliau diancam akan ditembak karena mengibarkan bendera Merah Putih. Barulah setelah Jakarta dikuasai secara penuh oleh Belanda, Sang Saka Indonesia itu tiada boleh berkibar lagi. Rumah Sakit Pusat di Jakarta itu turut menjadi penampungan bagi para Republikein yang tinggal di dalam kota. Belanda mengajak beliau untuk “Bekerjasama” dengan iming-iming posisi yang tinggi dan gaji yang lebih dari cukup, W.Z. Johannes tetap menolak : beliau tetap sedia berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia. W.Z. Johannes wafat pada tahun 1952, mendapatkan gelar pahlawan sejak 1968, dan tahun 1978 jenazahnya dipindahkan ke TMP Kalibata. 


5. Sejarah Ilmu Forensik dan Peraturan Kolonial tentang Visum

Ilmu kedokteran Forensik juga dikena dengan nama ‘Legal Medicine’ yang merupakan salah satu cabang spesifik dari ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Dalam bentuknya yang masih sederhana, ilmu kedokteran forensik telah dikenal sejak zaman peradaban Babilonia yang mencatat ketentuan bahwa ‘dokter’ – di zaman itu – mempunyai kewajiban untuk memberi kesembuhan bagi para pasiennya dengan ketentuan ganti rugi bila hal tersebut tidak dapat dicapai. Dalam sejarah, tercatat nama Anthitius, seorang dokter di zaman Romawi Kuno yang pada suatu ‘Forum’, yakni semacam institusi peradilan kala itu, menyatakan bahwa dari 21 luka yang ditemukan pada tubuh Kaisar Julius Caesar, hanya satu luka saja, yang menembus sela iga ke-2 sisi kiri depan yang merupakan luka mematikan. Nama kedokteran forensik ini dikatakan berasal dari kata ‘Forum’ itu tadi. 

Masalah forensik pada suatu kasus tidak akan pernah terlepas dari istilah ‘Visum’. Lalu apakah Visum itu sebenarnya ? Mengapa saat terjadi suatu kasus kriminal tertentu, ataupun ada seseorang yang tewas, istilah ini kerap muncul ? Untuk menjawabnya, kita harus mengetahui arti secara istilahnya. Visum berasal dari istilah aslinya yakni ‘Visum et Repertum’, yaitu sebuah keterangan yang dibuat oleh dokter atas permintaan penyidik dari pihak berwenang mengenai hasil pemeriksaan medik terhadap manusia, baik hidup ataupun mati ataupun bagian atau diduga bagian dari tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Pembuatan Visum et Repertum terhadap seseorang itu diminta oleh pihak berwenang karena indikasi sebagai korban tindak pidana, baik dalam peristiwa kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, penganiayaan, pembunuhan, perkosaan, maupun korban meninggal yang pada pemeriksaan polisi terdapat kecurigaan akan kemungkinan adanya tindak pidana.


      Perlu diketahui, sebagai sebuah pengetahuan bersama, istilah Visum et Repertum tidak pernah disebutkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) maupun hukum pidana sebelumnya dalam RIB (‘Reglemen Indonesia yang di Baharui), istilah ini hanya disebut dalam Statsblad 350 tahun 1937 Pasal 1 dan 2 yang berbunyi :

1. Visa Reperta (Visum et Repertum) dari dokter-dokter, yang dibuat atas sumpah jabatan yang diikrarkan pada waktu menyelesaikan pelajaran di negeri Belanda atau di Hindia Belanda, atau atas sumpah khusus yang dimaksud dalam pasal 2, mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana, sejauh itu mengandung keterangan tentang yang dilihat oleh dokter pada benda yang diperiksa.

2. Dokter-dokter yang tidak mengikrarkan sumpah jabatan di Negeri Belanda ataupun di Hindia Belanda, sebagai yang dimaksud dalam pasal 1, boleh mengikrarkan sumpah (atau janji) sebagai berikut : “.......”
Sedangkan bunyi sumpah dokter yang dimaksud dalam pasal 1 di atas, adalah lafal sumpah seperti pada Statsblad 1882 No. 97, pasal 38 (berlaku hingga 2 Juni 1960) yang berbunyi :

“Saya bersumpah (berjanji) bahwa saya akan melakukan pekerjaan ilmu kedokteran, bedah dan kebidanan menurut ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Undang-Undang sebaik-baiknya menurut kemampuan saya dan bahwa saya tidak akan mengumumkan kepada siapapun juga, segala sesuatu yag dipercayakan kepada saya atau yang saya ketahui karena pekerjaan saya, kecuali kalau saya dituntut untuk memberi keterangan sebagai saksi atau ahli di muka pengadilan atau selain itu saya berdasarkan Undang-Undang diwajibkan untuk memberi keterangan.”

      Dari bunyi Stbl. 350 tahun 1937 terlihat bahwa nilai daya bukti Visum et Repertum dokter hanya sebatas mengenal hal yang  dilihat atau ditemukannya saja pada korban. Dalam hal demikian, dokter hanya memberikan kesaksian (mata) saja.  Visum et Repertum juga hanya sah apabila dibuat oleh dokter yang sudah mengucapkan sumpah sewaktu mulai menjabat sebagai dokterm dengan lafal sumpah dokter seperti yang tertera pada Stbl. No. 97 pasal 8 tahun 1882. Lafal sumpah ini memang tepat untuk digunakan sebagai landasan pijak pembuatanVisum et Repertum. Demikian ini dasar kesejarahan dari visum itu sendiri yang diterapkan di Indonesia, meskipun saat ini, sesuai dengan kemajuan zaman, Visum et Repertum tidak bisa sekadar dilandaskan atas “apa yang dilihat” oleh dokter, namun harus dibuat atas dasar pemeriksaan medis. 

6. Contoh Penerapan Radiologi dalam Ilmu Forensik pada Luka Tembak

Radiologi memiliki peranan yang cukup besar dalam bidang forensik terutama dalam mengidentifikasi luka tembak. Pemeriksaan radiologi dengan sinar X ini pada umumnya digunakan untuk :

a. Memudahkan dalam mengetahui letak dan jumlah peluru dalam tubuh korban
Radiologi sangat berperan penting dalam menentukan lokasi peluru. Penggunaan radiologi dalam menentukan lokasi peluru dapat mengefektifkan waktu yang digunakan dalam melakukan autopsi. Pada pemeriksaan radiologi tandem bullet injury, walaupun luka tembak masuk hanya satu, pada pemeriksaan radiologi dapat ditemukan dua peluru. Bila pada tubuh korban tampak banyak pellet yang tersebar, maka dapat dipastikan bahwa korban ditembak dengan senjata jenis shot gun yang tidak beralur, dimana satu peluru terdiri dari berpuluh pellet. Sedangkan, jika pada pemeriksaan radiologi ditemukan satu peluru pada tubuh korban maka dipastikan korban ditembak dengan senjata jenis rifle. Pada keadaan tubuh korban yang telah membusuk atau mengalami luka bakar, serta pemeriksaan yang sulit untuk dilakukan, pemeriksaan radiologi ini dapat digunakan dengan mudah untuk menentukan lokasi peluru. 

b. Membantu memeriksa partikel-partikel peluru yang tertinggal
Peluru yang digunakan pada senjata dapat dibungkus oleh komplit jaket atau parsial jaket. Saat memasuki tubuh, bagian inti peluru dapat terpisah dari jaket yang melapisinya. 

c. Untuk mengetahui Kerusakan Tulang akibat peluru
Ketika peluru mengenai tulang, Fragmen atau partikel metal yang kecil sering diidentifikasi pada jaringan tubuh (soft tissue). Fragmen atau partikel ini mengindikasikan adanya peluru yang kemungkinan tidak berjaket atau memiliki jaket parsial. Peluru yang memiliki full jaket dapat meremukkan dan memecah tulang menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan sedikit meninggalkan fragmen atau partikel metal. Peluru yang masuk kemungkinan mengenai tulang dan dapat dibelokkan sehingga luka tembak masuk atau luka tembak keluar tidak menunjukkan letak peluru yang sebenarnya. Jumlah kerusakan jaringan yang disebabkan oleh peluru yang memasuki tubuh dipengaruhi oleh massa dan kecepatan peluru tersebut. Peluru yang bergerak lambat dengan massa yang berat biasanya akan tertinggal pada tubuh korban dan seringkali ditemukan pada keadaan intak (utuh). Peluru yang memiliki kecepatan yang tinggi seperti pada peluru rifle dapat mengakibatkan destruksi jaringan yang ekstensif atau luas.

d. Membantu menentukan apakah Luka Tembak disebabkan karena bunuh diri atau pembunuhan
Sebagian besar luka tembak akibat bunuh diri berupa satu luka yang ditembakkan pada bagian kanan tubuh (pada sebagian besar right-handed people). Luka bunuh diri pada daerah dekat dan sekitar mata sangat jarang ditemui. Luka tembak yang  multipel sangat sedikit menunjukkan luka bunuh diri, luka multipel cenderung mengarah ke luka tembak akibat pembunuhan. Sekitar dua persen dari luka bunuh diri merupakan luka yang multipel, hal ini bisa disebabkan karena peluru yang digunakan mengalami kerusakan atau tembakan pertama tidak menimbulkan kematian. Kaliber dari senjata juga menunjukkan pola dari luka yang terjadi. Senjata dengan kaliber yang besar memiliki kecepatan peluru yang cukup tinggi dan lebih mudah untuk melewati tubuh dibandingkan senjata yang memiliki kaliber kecil dan kecepatan yang rendah. 

e. Membantu menentukan migrasi peluru dan Penyumbatan peluru pada Pembuluh Darah 
Peluru yang mengenai tubuh pada umumnya akan memasuki tubuh seperti garis lurus kecuali pada peluru yang mengenai tulang. Peluru dapat berpindah ke tempat yang lebih jauh apabila memasuki sistem vaskular, respirasi, dan saluran gastrointestinal. Tipe peluru yang mengalami penyumbatan umumnya terdapat pada sistem pembuluh darah arteri dan vena. Peluru yang besar cenderung mengalami penyumbatan pada bagian inferior kecuali pada shotgun pellet yang mengalami penyumbatan pada bagian superior. Posisi tubuh pada saat penembakan sangat penting untuk menentukan kemungkinan letak peluru pada pembuluh darah. Efek gaya gravitasi dapat mengakibatkan peluru bergerak melawan aliran darah.Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan pada aliran arteri. 

f. Penilaian Kaliber Peluru
Penilaian kaliber peluru dengan menggunakan pemeriksaan radiologi memiliki banyak hambatan. Pembesaran radiografi dan perubahan bentuk dari peluru dapat merubah bentuk peluru yang sebenarnya. Pemeriksaan radiologi lebih berperan dalam menentukan lokasi peluru sedangkan pengukuran kaliber senjata yang tepat dapat dilakukan oleh pathologis.

g. Berperan sebagai alat dokumentasi yang bersifat objektif dan permanen
Hasil Pemeriksaan radiologi dapat digunakan sebagai dokumentasi baik untuk kepentingan rumah sakit maupun kepentingan hukum dan peradilan.


7. Penutup

Dari pengkajian sederhana ini, semoga kita dapat sedikit mengerti tentang beberapa hal yang dikaji diatas. Meskipun bukan sebagai seorang dokter, kita harus membuka wawasan kita lebih dalam lagi mengenai bidang ini, bukan untuk menjadi ‘Sok Ahli’, namun dari hal ini kita dapat memaknai banyak hal. Kisah penemuan Sinar X oleh Roentgen yang masyhur dan menjadi revolusi besar dalam dunia kedokteran bukanlah proses yang instan, sang penemu adalah intelektual yang tekun. Setelah ditemukan Sinar X itu, masih terdapat pula korban-korban yang berjatuhan demi kemajuan ilmu kedokteran yang tengah kita rasakan saat ini ; ini menunjukkan sebuah nilai penting untuk segenap manusia yang bekerja pada bidang tertentu untuk siap menerima segala konsekuensi profesi dengan tidak hanya mengeluh. Kisah W.Z. Johannes memberi kita semangat dan kebanggan, dimana kita mempunyai seorang pahlawan yang sangat ahli dalam bidangnya. Pengkajian atas dunia ilmu kedokteran forensik menunjukkan bahwasannya ilmu ini juga sangat dibutuhkan dalam penegakan hukum di sebuah negara, utamanya pada masalah pidana. Radiologi turut memberi andil yang berguna dalam proses forensik salah satunya ialah dalam masalah kekerasan menggunakan senjata api. Sisi lainnya ialah kita mengerti bahwa profesi dokter dimuliakan bahkan sejak masa sebelum kemerdekaan hingga tak sedikit tokoh-tokoh besar penggerak nasionalisme ialah para dokter, mungkin yang paling kita ingat ialah seorang ‘Pembangkit’ nasionalisme kita, dr. Soetomo. 


Sumber 

Tim, Ilmu Kedokteran Forensik, Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, t.t.

Tim Staf Pengajar Sub Bagian Radiodiagnostik, Radiologi Diagnostik, Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 1990.

Susiyanthi, Ayu, Ida Bagus Putu Alit, “Peran Radiologi Forensik Dalam Mengidentifikasi Luka Tembak”, Bagian/SMF Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah.



Comments