Monday, December 5, 2016

Tasawuf / Sufisme Modern Untuk Kehidupan Umat Islam Masa Kini : Refleksi Sejarah Serta Pemikiran

1. Pendahuluan

      Mengesampingkan peran agama dengan membawanya ke lahan pribadi individu dianggap sebagai suatu jalan terbaik dengan memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk berekspresi merupakan corak yang lumrah di dunia Barat. Paham-paham yang berkembang dan secara umum di kawasan itu seperti Liberalisme yang berusaha menyudutkan peran Agama sejauh mungkin dalam kehidupan manusia, salah satunya dalam hal bernegara.

      Judul ini dipilih untuk menjawab sekian banyak masalah yang tengah dihadapi oleh Kaum Muslimin. Tasawuf sering diartikan sebagai sebuah jalan yang sejauh mungkin membawa manusia dari keduniawian, ditolak sedemikian rupa dan dianggap tidak lagi relevan bagi kehidupan kaum Muslimin disamping kesan “menyimpang” keatasnya. Padahal, Tasawuf Modern adalah urgensi dalam kehidupan Umat Islam untuk membangun bangsa.

2. Tasawuf : Sebuah Definisi

      Pada masa Rasulullah saw dan zaman Khulafa al-Rasyidin belum dikenal istilah “Sufi”, tetapi praktik kehidupan Sufi sudah dilakukan. Nabi saw sering melakukan Tahannus di Gua Hira, guna merenung dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Para sahabat Nabi pun melakukan praktik hidup Sufi, yakni mengeluarkan harta, hidup sederhana guna membersihkan rohani dalam rangka mendekatkan diri kepada Tuhan.Tasawuf dalam lingkungan pemikir Barat dikenal juga dengan nama Sufisme. Kata Tasawuf tidak dikenal dalam Al-Qur’an, melainkan baru dikenal pada abad III H.Sufisme tidak secara eksklusif bisa diartikan sebagai paham karena ternyata ini (kata “Sufisme”) tidak menawarkan sebuah pemahaman yang melepaskan diri dari Islam, keduanya merupakan hal yang integral.  Dalam bentuk orisinilnya, dalam bahasa Arab, Sufisme disebut sebagai “Tasawuf”.

3. Etimologi Tasawuf / Sufisme

      Secara etimologi, terdapat beberapa pendapat mengenai asal usul kata Tasawuf / Sufi, ada yang mengatakan bahwa sufi berasal dari kata Shafa artinya suci, bersih, murni atau jernih.Pendapat lain mengatakan bahwa sufi berasal dari kata Shaf artinya baris, orang sufi memang selalu berada pada shaf pertama ketika shalat untuk mendapat rahmat Allah Swt.Ada pula yang mengatakan bahwa sufi berasal dari kata Shuffah artinya serambi sederhana yang terbuat dari tanah dengan bangunan sedikit lebih tinggi daripada tanah mesjid. Orang sufi memang dulunya adalah sekelompok sahabat Nabi Muhammad saw yang gemar melakukan ibadah dan mereka tinggal di serambi mesjid Nabi. 



      Sayyid Sabiq sebagai seorang tokoh Modern dari Ikhwanul Muslimin Mesir berpendapat bahwa Sufisme atau Tasawuf adalah suatu ilmu pengetahuan Islam dan sebenarnya merupakan juga jiwa Islam. Tasawuf menempati tempat yang paling tinggi dalam kehidupan umat Islam, tetapi karena kadang disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak tahu seluk beluknya sehingga Sufisme dianggap sebagai suatu bentuk kehidupan yang rendah dalam masyarakat. Semisal, hidup melarat, hidup dalam kebodohan, hidup penuh kelemahan dan kehinaan, menyerah pada nasib, serta hidup menganggur tanpa usaha.Tokoh ini mempermasalahkan perubahan makna Tasawuf menjadi cara hidup yang terlalu Asketis (Asketisme Ekstrim) dan bahkan membenci dunia. 

4. Seputar Tragedi Tasawuf dalam Sejarah Islam

      Masalah yang sering menjadi bahan pertentangan ialah tentang adanya penyimpangan-penyimpangan di dalam dunia Tasawuf. Contohnya ialah kasus Husayn Ibn Mansur Al-Hallaj dalam pemikiran yang diusungnya yakni Wahdat Al-Wujud yang pada 922 M ia dihukum mati di Baghdad karena ajaran union mystic-nya daianggap merusak agama : Paham Wahdat Al-Wujud. Paham Wahdat Al-Wujud ini paling awal dibawa oleh Abu Yazid Al-Busthami dengan berkata, “Aku sudah melepaskan diriku seperti seekor ular melepaskan kulitnya, sesudah itu aku melihat hakikat diriku, dan aku adalah diriku sendiri, Dia (Allah).” Munculnya paham ini menjadi “beban sejarah” yang begitu berat bagi Tasawuf dalam dunia Islam.

5. Tasawuf / Sufisme dalam Pembaruan 

      Para cendekiawan Muslim masa kini telah banyak melakukan pembaruan dalam masalah Tasawuf. Hal itu didasari oleh pemikir Islam klasik kenamaan, Imam Al-Ghazali. Ahmed Kazemi Musawi berpendapat bahwa Imam Al-Ghazali adalah pemikir yang menawarkan sintesis terbaik antara syariah (hukum) dan mistisisme dengan mengorbankan Ilmu Filsafat (kecuali mengenai “logika”).Corak yang baru di dalam Tasawuf itu mengilhami pemikir Muslim modern lainnya seperti Fazlur Rahman untuk mencetuskan sebuah istilah yakni “Neo-Sufisme” atau Tasawuf Baru yang akan membedakannya dengan “Tasawuf Lama” sebagaimana di atas telah dijelaskan memiliki beberapa masalah. (Neo-Sufisme) dikarakteristikkan dengan argumentasi rasional dan proses berpikir intelektual-logis, sedangkan Sufisme (Lama) cenderung mengkhususkan diri pada pengalaman gnostik  secara (kebanyakan-Pen) intuitif melalui imanjinasi (yang bersifat) sastra daripada proses rasional yang murni. Wahdat Al-Wujud dan Asketisme Ekstrim apabila dikaji secara diskursus, sebenarnya mewakili permasalahan krusial yang nantinya akan memperlemah iman monotheistik Islam dan juga jiwa sosial Kaum Muslimin.

      Suatu sintesis yang cukup baik diungkapkan oleh Nasaruddin Umar tentang bagaimana menyikapi masalah “Haruskah bertasawuf ?”, ia menekankan bahwa Tasawuf yang harus dipelajari bukanlah hanya sekadar jalan hidup spiritual perorangan, namun Tasawuf sebagai ajaran yang megajarkan kesalehan individual dan sosial, itu mesti dipelajari karena menjadi esensi Islam. Bukan pula Tasawuf yang Tasawuf yang menafikan kehidupan duniawi, rasionalitas intelektual, menghindari dunia peradaban modern, dan menyimpang dari Al-Quran dan Hadits.Apa yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa Tasawuf yang hakiki (Tasawuf Modern) dan kehidupan sosial adalah dua hal yang integral.

6. Penutup 

      Tasawuf memiliki polemik dalam autentisitas ortodoksi Islam dan Asketisme Ekstrim yang membahayakan kehidupan masyarakat Islam, kedua hal ini telah direvolusi dengan mengembalikan posisi Syariat melalui pendekatan akal dalam pembaruan Imam Al-Ghazali. Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, seorang Ulama Nusantara asal Palembang yang terkenal sebagai pendukung Tasawuf Modern, dalam kitab Kitab Hidayatus Shalikin-nya , ia mengutip pendapat Al-Ghazali ; “Ketahui olehmu bahwasannya jika maksudmu dalam menuntut ilmu hanya untuk berdebat, angkuh, lebih baik dari orang lain, mencari muka, dan menumpuk harta dunia (secara berlebihan) niscaya engkau telah meruntuhkan agamamu dan membinasakan diri sendiri.” Apabila kita mendekatkan kajian pada masalah ini secara falsafi, masalah pengetahuan merupakan bagian kajian filsafat secara Epistemologi, secara umum Epistemologi berusaha untuk mencari jawaban atas pertanyaan “Apakah pengetahuan?”. Akan teteapi secara spesifik, Epistemologi berusaha menguji masalah-masalah yang kompleks dan salah satunya ialah hubungan antara pengetahuan dengan kepercayaan pribadi. Ketika kepercayaan pribadi seseorang, seumpama ia adalah Muslim maka ia menyadari konsekuensi keislamannya untuk - seperti dalam pendapat Said Aqil Siroj- “Memakmurkan Alam Semesta.”

      Tasawuf Modern (Sufisme Baru) menganjurkan dibukanya peluang bagi penghayatan makna keagamaan dan pengalamannya yang lebih mendalam, yang tidak terbatas hanya kepada segi dzahiri belaka.Makna keagamaan yang mendalam itulah yang menjadikan setiap pejabat bekerja, mengabdi, atau bahkan blusukan tidak sebatas perkara fisiknya, namun juga akal dan hatinya, sehingga hilanglah nafsu Korupsi dan hegemoni yang mengahalangi Sosialisme Islam.

      Sebagai penutup dapat kita ambil sebuah penggalan puisi Saadi Al-Shirazi (dikenal sebagai seorang penyair dengan pendalaman Tasawuf) sebagai sebuah refleksi atas pentingnya kepedulian sesama, penyair masyhur asal Persia abad ke-13 M :

Anak Adam satu badan satu jiwa, tercipta dari asal yang sama
Bila satu anggota terluka, semua merasa terluka
                Kau yang tak sedih atas luka manusia
                Tak layak menyandang gelar manusia 

Sumber

Abidin, Zainal, Pengantar Filsafat Barat, Jakarta : Grafindo Persada, 2011. 

Ahmad, Afifah, The Road to Persia, Yogyakarta : Bunyan, 2013. 

Al-Kalabazi, Ajaran Kaum Sufi , Bandung: Mizan, 1993

Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Kms. H. Andi Syarifuddin (Ed.), Hidayatus Shalikin, Surabaya : Pustaka Hikmah Persada, 2013. 

Arifin, Miftah, Sufi Nusantara : Biografi, Karya Intelektual, dan Pemikiran Tasawuf, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2012.  

Awani, Ghulam Reza, dkk.,Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta Rausyan Fikr, 2012. 

Herawan, Bambang, Pasang Surut Aliran Tasawuf .Bandung: Mizan, 1993.

Husein, Fatimah, Fazlur Rahman’s Islamic Philosophy, Thesis tidak Diterbitkan, Montreal : Institute of Islamic Studies McGill University, 1997. 

Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban, Jakarta : Paramadina, 2000.

Sabiq, Sayyid, Unsur-Unsur Kekuatan Islam : Dasar Terciptanya Kemuliaan Hidup & Kokohnya Kepemimpinan Umat, Jakarta : Pustaka Intermasa, 2009. 

Siroj, Said Aqil, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial : Mengadepankan Islam sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi, Bandung : Mizan, 2006. 

Umar, Nasaruddin, Tasawuf Modern : Jalan Mengenal dan Mendekatkan Diri kepada Allah Swt, Jakarta : Republika, 2014. 

Usman, Muh. Ilham, “Sufisme dan Neo-sufisme dalam Pusaran Cendekiawan Muslim”, dalam AL-FIKR Volume 17 Nomor 2 Tahun 2013.