Kampung Arab Al-Munawar (Bagian II) : Eksistensi Fisik Warisan Historis Kebudayaan Indis Kota Palembang

Klik untuk membaca bagian sebelumnya







4. Kampung Arab Al-Munawar dan Corak Kebudayaan Indis

Terdapat dua kampung Arab di Kota Palembang, yaitu pada seberang ilir, tepi utara Sungai Musi, mulai dari 8 sampai 15 Ilir dan pada daerah seberang ulu, tepi selatan Sungai Musi, mulai dari 7 Ulu sampai 16 Ulu. Lingkungan fisik di kampung-kampung Arab tersebut dikuasai oleh saudagar Arab yang kaya yang membentuk semacam komplek keluarga yang berkelompok di sekitar kediaman, pater familias, ”kepala keluarga besar”. Dalam sistem seperti ini setiap kepala keluarga besar tersebut mengawasi wilayahnya sendiri, misalnya di Kampung 7 Ulu kepala keluarga besar ada Klan Barakah, Kampung 10 Ulu Klan Alkaf, Kampung 13 Ulu klan (Fam) Al-Munawar, Kampung 14 Ulu klan Al-Musawa, Kampung 16 Ulu klan Assegaf, dan Kampung 15 Ulu klan Al-Jufri. Sementara di daerah seberang ilir, kepala keluarga besarnya di Kampung 8 Ilir adalah klan Al-Habsyi dan klan Alkaf. Namun dari apa yang disebut ”kampung Arab” tersebut, mayoritas penduduk yang terbesarnya tetap adalah warga kota asli, selain warga kota lain adalah orang-orang Arab ini.

Kawasan 13 Ulu merupakan lokasi perumahan bagi pedagang-pedagang kaya, dapat dilihat dari bangunan rumah yang menunjukkan status sosial mereka sebagai orang yang berkecukupan, dengan orientasi ke sungai yang melengkapi kemegahan bangunan-bangunan rumah yang berdiri berjejer di tepian sungai dengan gagahnya. Bangunan di sekitar Kampung Al-Munawar 13 Ulu berupa rumah tinggal dengan bentuk rumah panggung dan rumah di darat seperti pemukiman di sepanjang sungai Musi. Rumah tinggal tersebut ada yang berupa rumah tradisional Sumatera. Hal lain yang menarik dari Kampung Arab ini adalah pola permukimannya yang berbetuk cluster (mengelompok) dengan ruang terbuka publik di tengah sebagai space pengikatnya. Hal ini sebenarnya jarang ditemui pada perkampungan tradisional yang dihuni oleh penduduk asli. Mungkin ini memang salah satu akulturasi budaya yang dibawa oleh para pendatang dari Arab yang menghuni kawasan tersebut. 


Rumah tradisional yang terdapat di Kampung Arab Al-Munawar mempunyai keunikan akibat pengaruh yang didapat dari luar pakem bentuk rumah tradisional. Pengaruh ini  berasal dari kebudayan masa kolonial yang dikenal dengan istilah ‘Kebudayaan Indis.’ Rumah Indis, lumrahnya memiliki satu atau dua lantai, ciri-ciri umum yang bisa ditemukan dari sebuah rumah / bangunan Indis adalah badan rumah yang penuh dengan ‘bukaan’ (pintu-pintu dan jendela-jendela), pintu dan jendela mempunyai dimensi yang tinggi, atap yang tinggi, dan plafon yang sangat tinggi yang bertautan dengan ventilasi. Ciri-ciri ini sangat mudah ditemukan di Kampung Al-Munawar.


Salah satu jendela yang terdapat pada sebuah rumah di Kampung Al-Munawar menunjukkan pemakaian seni hias jendela yang disebut sebagai ‘a jour relief’ atau ‘Krawangan’.  Seni ini biasanya dipakai dalam rumah-rumah Indis untuk mempermegah jendela yang bagian atasnya dipahat pada sisi luarnya. Krawangan yang terdapat di kampung ini memang lebih sederhana daripada yang kerap ditemukan di rumah Indis yang berada di Jawa. Krawangan juga dipakai pada bagian atas bentuk pintu yanng dijadikan sebagai hiasan untuk ventilasi.




Al-Haramain adalah salah satu nama bagunan di sini dan merupakan rumah tinggi yang menjadi bangunan rumah tinggal yang dijadikan bangunan sekolah pada sore hari. Aktifitas yang ada disini adalah belajar agama dan mengaji, khusus pada malam hari hanya dipakai untuk anak laki-laki. Bangunan ini terpengaruh oleh bentuk ‘Traditional Dutch Indies Country House’ (perkembang antara , yakni bentuk  rumah yang ditinggali oleh orang Belanda, yang sudah beradaptasi dengan iklim tropis di Hindia Belanda. Teras yang mengelilingi bangunan untuk menghindari tampiasnya air hujan dan masuknya secara langsung sinar matahari melalui jendela, serta kolom-kolom sebagai penyangga atap yang tinggi merupakan penyesuaian bangunan dengan iklim tropis lembab di Hindia Belanda. Bentuk yang paling terlihat adalah penempatan dua anak tangga di bagian depan / teras rumah yang berada di lantai kedua (atas) bagian depan rumah. Bangunan Al-Haramain memodifikasi penempatan kedua anak tangga yang semestinya berada di tengah, namun dipindahkan pada dua sisi kanan-kiri bagian depan rumah. Lebar atap yang melebihi luas bangunan sebagaimana yang ada dalam ‘Indies style house’ juga lebih disesuaikan. Corak atap bangunan khas Tiongkok yang bertanduk-tanduk dipakai pada bagian atas bangunan Al-Haramain.


Pada bagian teras lantai atas bangunan Al-Haramain turut digunakan ‘Lisplank’ yakni bilah papan yang dibuat untuk menahan air hujan dan penutup rangka atap bagian luar. Pada bangunan rumah Indis, biasanya Lisplank dibentuk dengan membuat ornamen hiasan yang indah, demikian ini sering terjadi pengaruh budaya Jawa pada bentuk arsitektur Indis ‘Voor 1900’. Ornamen ‘Banyu Tetes’ biasanya dipakai pada Lisplank ‘Voor 1900’. Meskipun begitu, bangunan Al-Haramain yang tidak bercorak Voor 1900 turut memakai Lisplank yang jauh lebih sederhana dengan daripada ornamen Banyu Tetes yakni berbentuk bunga.

Dalam kajian Retno Purwanti, seorang arkeolog Sumatera Selatan, Kampung Arab Al-Munawar berusia sekitar 250-300 tahun, maka hal tersebut menjadikan kampung ini mempunyai gaya bangunan Indis lainya. Selain dari ‘Indies Style House’, juga dapat ditemukan corak dari gaya ‘Indische Empire’ yakni sebuah gaya bangunan Indis yang diakibatkan oleh kedatangan Daendels yang mengadopsi gaya Empire di Perancis yang disesuaikan dengan iklim dan gaya hidup di Hindia Belanda. Gaya ini berkembang di Hindia Belanda sepanjang abad ke 19. Gaya ‘Indische Empire’ ini melambangkan ‘keangkuhan’, salah satunya dengan bentuk ‘Siku’ tiang yang besar dan menghadap ke arah depan / muka sisi bangunan.  Ragam hias besi lainnya, disamping siku bangunan, ialah hiasan atap dan pagar serambi. Hiasan atap sering disebut sebagai ‘Nok Acroterie’. Uniknya, hiasan atap di kampung Arab ini menggunakan besi berbentuk anak panah yang berjejer melintang. Lumrahnya, Nok Acroterie dibuat dengan material daun alang-alang ataupun semen. 


Kampung Arab Al-Munawar ini menjadi sangat unik karena konstruksi fisik yang membuatnya terkenal ialah berasal dari pengaruh budaya Indis yang kental. Dengan sangat indah, kampung yang mewakili identitas etnis Non-Pribumi tersebut tetap menghormati bentuk arsitektur rumah-rumah tradisional yang bisa ditemukan di Sumatera Selatan, Al-Munawar mengejawantahkannya dengan ‘bahasa estetika’ sendiri sehingga berpadulah corak tradisional tersebut dengan kebudayaan era kolonial sembari tidak melupakan eksistensinya sebagai kawasan umat Islam. 

5. Penutup

Perkampungan Arab dapat ditemukan di seluruh Indonesia saat ini. Orang-orang Arab merupakan ras utama disamping beberapa ras lainnya yang dianggap sebagai para penyebar Islam disamping orang Persia, Gujarat, atau bahkan Tionghoa. Di dalam kedatangan mereka yang terekam oleh sejarah Nusantara, orang Arab juga berperan dalam perdagangan, pendidikan, serta pernikahan. Pertemuan antar-identitas tersebut tidak selalu merujuk kepada sebuah ketentuan absolut ; penduduk pribumi yang kemudian memeluk Islam harus ‘ter-Arab-kan’. Pribumi Nusantara berislam dengan membawa jati diri mereka yang kemudian disesuaikan dengan apa yang dibolehkan dalam Islam. Begitupun orang-orang Arab yang sebagian besar berasal dari Hadhramaut-Yaman, untuk masalah-masalah tertentu seperti dalam perkawinan, ada beberapa batasan tambahan yang tidak hanya berkaitan dengan keyakinan tetapi juga pada aspek etnisitas. Setidaknya dengan mengetahui keberadaan dari Kampung Arab Al-Munawar, masyarakat keturunan Arab, ataupun segala pernik pada kehidupan mereka di tanah ini, nampaknya kita dapat sedikit merefleksikan bahwa sejak zaman Sriwijaya pun, seorang I-Tsing tiba di Shih-Li-Fo-Tsi dengan kapal orang Arab dan Persia, untuk kemudian orang-orang Arab juga memiliki eksistensi di zaman Kesultanan Palembang, mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Palembang, serta berada di Palembang sebagai ibukota Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia.



Sumber 

Cahyani, Risqi, Lisa Dwi Wulandari, Antariksa, "Pengaruh Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Hunian Kolonial Di Kampung Bubutan Surabaya", Jurnal Ruas, Volume 13 No 1, Juni 2015, Issn 1693-370.

Dhita, Aulia Novemy (Dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP, Univ. Sriwijaya), "Kenalkan Kampung Arab pada Pelaku Sejarah", dalam Sumatera Ekspres 20 September 2015.

Handinoto, "Daendels Dan Perkembangan Arsitektur Di Hindia Belanda Abad 19", Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Irwanto, Dedi, Murni, Supriyanto, Iliran dan Uluan: Dinamika dan Dikotomi Sejarah Kultural Palembang, Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2010.

Irwanto, Dedi, Venesia Dari Timur: Memaknai Produksi Dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang Dari Kolonial Sampai Pascakolonial, Yogyakarta : Penerbit Ombak, 2010.

Lussetyowati, Tutur, “Peninggalan Arsitektur Di Tepian Sungai Musi", dalam Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2012.

Prianto, E., F. Bonneaud, P. Depecker And J-P. Peneau, "Tropical-Humid Architecture In Natural Ventilation Efficient Point Of View : A Reference Of Traditional Architecture In Indonesia, International Journal On Architectural Science, Volume 1, Number 2, P.80-95, 2000.

Author : Arafah Pramasto, Co-Author : Sapta Anugrah

Comments