Jihad dan Otoritas Ulil 'Amri : Ajaran Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani


Ancaman Ekstrimisme, Penyalahgunaan “Jihad”


Beberapa tahun terakhir ini, masyarakat dunia dibuat ngeri sekaligus geram dengan ulah milisi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang menyebar teror ke se-anteroTimur Tengah.Dalam regional Asia Tenggara, ISIS-Maute sempat mengancam Filipina dan Indonesia juga mengalami gangguan keamanan akibat segelintir simpatisan ISIS. Dalam lingkup yang lebih luas lagi, dunia masih belum bisa bernafas lega tatkala ISIS masih melakukan serangan fisik serta propaganda di media sosial tak berkesudahan. Meski menggadang-gadang nama “Islam” dan bahkan lafadz “Allah” tergambar dalam bendera ISIS, gerakan ini tidak mencerminkan Islam. ISIS tidak segan membantai umat agama lain, padahal Islam menekankan “Laa Iqraaha Fi al-Diin” (Tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam). Kejinya lagi, tak jarang target serangan ISIS adalah aparat pemerintahan yang sah, contohnya adalah personel kepolisian. Sayangnya keberlangsungan eksistensi kaum ekstrimis ini lebih disebabkan oleh kurangnya minat dalam menelaah pembelajaran historis kaum muslimin dan peradabannya, maka mereka sangat mudah tergoda pengkooptasian propaganda para ekstrimis sejenis ISIS. Titik vital dari kesalahan berpikir itu ialah tatkala terjadi pendisintegrasian antara masalah  Jihad fi Sabilillah  dengan otoritas negara.

 
https://www.citizendaily.net/wp-content/uploads/2017/06/ISIS-in-Marawi-918x516.jpg
Keterangan : Seorang "mujahidin" ISIS saat masih menguasai Marawi. "Jihad" model apa yang mereka usung jika sambil mendzalimi kaum Non-Islam ?

Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani 


                 Di Palembang terdapat seorang pemuda yang dikenal sangat tekun menuntut ilmu, kelak ia akan menjadi ulama’ besar yang dimulai dengan keberangkatannya di usia yang masih amat muda ke Mekkah. Dilahirkan pada tahun 1737 M, ia adalah seorang putra dari Ulama keturunan Arab bernama Syaikh Abdurrahman dan bangsawan wanita kesultanan Palembang. Memperoleh pendidikan keagamaan yang baik sejak dini, Abdus Shamad menuntut ilmu kepada setidaknya tiga Ulama terkenal Palembang. Ia diperkirakan telah berangkat ke Mekkah untuk menuntut ilmu sebelum era 1750-an. Sebelum berangkat ke Timur Tengah, Abdus Shamad telah menuntut ilmu kepada beberapa ulama’ Palembang seperti Tuan Faqih Jalaluddin, Hasanuddin bin Jakfar, dan Sayyid Hasan bin Umar Idrus. Melalui bimbingan Sayyid Hasan bin Umar Idrus, Syaikh Abdus Shamad mempelajari Al-Quran dan tajwidnya serta berhasil menghafalnya pada usia 10 tahun. Di tanah Arab ia amat menggemari pelajaran Tauhid dan Tasawuf. Ia juga sangat terpengaruh oleh pemikiran Imam Al-Ghazali dan sangat mahir dalam kajian kitab Ihya’ Ulumuddin. Untuk masalah Tasawuf, Abdus Shamad belajar kepada sederet nama Ulama yang salah satunya adalah Syaikh Muhammad bin Abd Al-Karim Al-Samani Al-Madani. Dengan riwayat pengajaran yang sedemikian itu, Martin Van Bruinessen mengatakan bahwa Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani merupakan Ulama paling terpelajar di sepanjang sejarah Nusantara.


Jihad yang Sesuai Ajaran Islam


Jauh berbeda dengan oknum-oknum yang mengaku “Ulama” sejenis Abu Bakar Al-Baghdadi (pentolan ISIS), yang tidak segan memprovokasi para pemuda di penjuru dunia untuk melancarkan “Jihad” melawan pemerintahnya sendiri, Syaikh Abdus Shamad sebagai Ulama – dalam arti sesungguhnya – justru memilih untuk merangkul otoritas politik dengan memberi spirit Jihad kepada para penguasa Nusantara yang tengah menghadapi prahara penjajahan VOC-Belanda. Salah satunya ialah dengan mengirimkan surat pada Pangeran Pakunegara / Mangkunegara yang disertai dengan jimat berupa panji-panji. Substansi surat itu berisi persuasi maupun motivasi pada penguasa Jawa itu agar jangan takut bila harus gugur dalam Jihad karena ganjaran yang diterima ialah surga. Selain ganjaran surga, Syaikh Abdus Shamad turut mengibaratkan kebaikan bagi Pangeran Mangkunegara yang teguh melawan penjajahan seperti “sekuntum bunga yang menyebarkan wewangiannya sejak matahari terbit hingga tenggelamsehingga seluruh Mekkah dan Madinah serta negeri-negeri Melayu akan bertanya-tanya tentang keharuman ini”. Namun sayangnya, seruan jihad kepada para penguasa Jawa itu boleh dibilang gagal. Surat itu tidak pernah sampai kepada si alamat. Bersama dua surat lainnya yang disita Belanda, setelah disalin – dan diterjemahkan – aslinya dihancurkan. Ternyata, Syaikh Abdus Shamad tetap mengakui eksistensi politik seorang raja sebagai pemerintah yang sah. Tidak lupa, ia juga menekankan kesadaran akan kecintaan pada tanah air dengan menyebut “negeri-negeri Melayu” dalam suratnya.
http://inpasonline.com/wp-content/uploads/2015/11/syeh-abdus-somad-al-palimbani_.jpg
Lukisan tentang wajah Syaikh Abdus Shamad, Mengharumkan Nusantara dan Islam !
Mesi surat kepada pemimpin Jawa itu tidak sampai kepada orang yang dituju, Syaikh Abdus Shamad tetap bersemangat dalam menerapkan ilmu yang ia miliki dengan tindakan yang semakin nyata. Karena maraknya lalu lintas hubungan laut antara Timur Tengah dan “Negeri Bawah Angin” yakni salah satu sebutan bagi Nusantara dan Asia Tenggara daratan, ia telah beberapa kali pulang-pergi ke daerah asalnya berikut juga dengan mengunjungi beberapa negeri Melayu seperti halnya ke Patani. Dari itulah Syaikh Abdus Shamad mengetahui masalah-masalah konkret yang dihadapi umat Muslim di Nusantara. Selain penetrasi bangsa Barat, wilayah Melayu seperti Patani dan Kedah mengalami ancaman kolonisasi dari wilayah tetangganya yakni Bangsa Siam (Thailand). Syaikh Abdus Shamad menuliskan keprihatinannya pada Muslim Patani bagian akhir Nasihat al-Muslimin. Tulisan Syaikh Abdus Shamad memang menyerukan agar para Ulama yang disebutnya “yang alim-alim dan orang yang shalih-shalih dan yang haji-haji” memberi nasihat bagi raja-raja, orang-orang besar dan kaya agar mendirikan ibadat yang setengahnya adalah “perang Sabilillah.” Redaksi dalam tulisan Syaikh Abdus Shamad bukanlah kebencian pada identitas agama lain, namun seruan Jihad itu ia kumandangkan dilandaskan oleh kondisi “...mendengar akan kesakitan sanak saudara Muslimin yang di negeri Jawi, yang disakitinya oleh kafir,...dan dibinasakan akan dia oleh orang kafir di bawah angin itu...” Seruan Syaikh Abdus Shamad beberapa abad silam ini bahkan lebih visioner dibandingkan dengan para ekstrimis yang tidak segan menumpahkan darah umat beragama lainnya karena merasa paling “shalih” dan “alim” di masa modern ini. Selain itu ia kembali lagi mengingatkan pentingnya sinergisitas antara Ulama dan Umara’.


Penutup 




Ulama kelahiran Palembang ini kemudian gugur sebagai Syahid saat datang kembali membantu negeri Melayu melawan bangsa Siam pada 19 April 1832 M.  Ada beberapa pelajaran dan makna yang diperoleh dari kajian sederhana ini. Melalui kisah hidupnya dapat dilihat bagaimana Syaikh Abdus Shamad mengajarkan akar nasionalisme yang ia gambarkan dengan tidak melupakan asal tumpah darahnya di  Nusantara, tidak seperti beberapa kelompok-kelompok gerakan Islam yang katanya memiliki cita-cita “Memurnikan Islam” namun sesungguhnya hanya merubah tampilan luar menjadi “Ke-Arab-an”, melihat dengan misjutifikasi bahwa identitas Islam itu mutlak harus mengimitasi “Arab” ;  jika tidak Arab seolah bukan Islam. Selain itu tentu yang terpenting, telah sangat gamblang Syaikh Abdus Shamad menggambarkan tata cara melancarkan Jihad tanpa mengabaikan apalagi menentang otoritas politik, demikianlah ini dapat disebut sebagai “Jihad Otoritatif” dengan izin dari Ulil Amri yang sah.


Oleh : Arafah Pramasto, S.Pd.

https://www.academia.edu/35006546/Jihad_dan_Otoritas_Ulil_Amri_Ajaran_Syaikh_Abdus_Shamad_Al-Palimbani_Dimuat_di_Detik_Sumsel_Online_31_Oktober_2017_ 




Comments